
Jangan lupa like, love, vote and komen ya sebagai dukungan ❤️
.
.
.
.
.
🌸🌸🌸
Khafa terlihat gusar ketika Aba memintanya untuk menemui keluarga Alya, ia meminta aku untuk menemaninya. Paling tidak, aku di minta untuk menjadi saksi bahwa keputusan yang ia ambil tidak main-main.
Sepulang dari Bogor, ia sampai ke Jogja jam tujuh pagi. Sedangkan jam 10-nya, keluarga Alya akan datang ke rumah orang tua Khafa yang terletak tidak jauh dari Khusnul khatimah.
"Ana kira Alya cuma kasih CV ta'aruf aja mas, ternyata keluarganya juga datang," ucapnya sambil memutar-mutar bolpoin di jari tangannya. Kami sedang duduk di tangga pelataran masjid Jami Khusnul khatimah.
"Ya sudah, temui dulu aja. Nanti antum bisa pertimbangkan lagi. Kan, sudah biasa di rumah menerima tamu. Mungkin, ini acara makan-makan biasa," jelasku mencoba menenangkan kegusaran yang Khafa rasakan.
"Awalnya ana juga mikirnya gitu, tapi ternyata....," Ia menghela napas sejenak. "Ana gak bisa mas main-main soal nikah. Ana punya kriteria sendiri. Dan Alya terlalu tinggi untuk ana. Dia itu terlalu sempurna," lanjutnya.
"Bukan Alya yang terlalu tinggi, tapi antum yang selalu merendah Kha," kata-kataku rupanya berhasil menohok perasaan Khafa.
Khafa menatapku sejenak. Tapi lantas, ia melanjutkan lagi kegiatannya memutar-mutar bolpoin.
"Padahal, sebenarnya bukannya bagus ya, kamu memilih perempuan cerdas dan Sholehah untuk calon ibu dari anak-anakmu nanti? Seorang ibu itu nantinya akan menjadi madrasah untuk anak-anaknya kan? Kamu kan sudah khatam ilmunya. Kenapa masih galau soal ini?"
"Tetep aja mas semuanya harus pake hati. Kalo hati gak nerima ya susah juga untuk menjatuhkan pilihan," elaknya.
"Tapi antum jangan sampai terus pakai hati lalu mengabaikan logika, semua itu penting. Harus seimbang. Barengi doa. Istikharah jangan tinggal,"
"Iya mas, ana paham. Insyaallah ana lakukan yang terbaik. Yang pasti ana yakin, ana mau melangkah kemana."
Beberapa jam kemudian kami sudah berhadapan dengan keluarga Alya. Khafa duduk di sampingku yang sedang berhadapan langsung dengan ustadz Rahmat, ayahnya Alya.
"Ana dengar antum baru pulang dari Bogor ya Kha?" Tanya pria paruh baya yang tidak lain adalah ayahnya Alya.
"Iya tadz, alhamdulillah, baru saja sampai pagi tadi," Khafa menjawab dengan tenang.
"Benar, itu proyek ke 20 antum bangun rumah tahfidz untuk anak-anak yatim di pelosok?" Tanya ustadz Rahmat penasaran.
Khafa mengangguk lalu menjawab, "itu bukan ana sendiri ustadz, saya ada tim yang lain juga," rendahnya.
"Hebat kamu Kha, ladang amal itu," puji ustadz Rahmat.
"Mantu idaman ini pak, kalau dengan anak yatim saja kamu sayang apalagi sama anak kamu kelak Kha," timpal umi Dariah. Ia adalah ibunya Alya.
"Mau le, jadi mantu ana?" Tembak ustadz Rahmat. Khafa terkesiap, lalu meneguk air putih di hadapannya.
"CV ta'aruf Alya sudah ummi-mu simpan di kamarmu le," bisik Aba di telinga Khafa.
Khafa menghela napasnya berat. "Ana mohon maaf sebelumnya, sebenarnya ana belum ada rencana menikah dalam waktu dekat ini. Karena, ana masih sibuk pergi keluar kota bahkan kadang, ana beberapa Minggu di luar negri. Di rumah, ana hanya menghabiskan waktu satu atau dua hari saja dalam seminggu. Ana khawatir, kalau ana punya istri, istri ana tidak bisa menerima kegiatan ana selama ini."
"Justru itu le, antum harus punya istri. Biar betah di rumah. Biar ada yang ngurus. Insyaallah kalaupun antum pergi, Alya bisa menjaga izzah dan iffahnya sebagai seorang istri. Mohon maaf yo, bukannya ana mempromosikan anak sendiri. Tapi ana yakin itu," tutur ustadz Rahmat dengan mantap.
"Mohon maaf ustadz, ana belum bisa memberi keputusan. Ana rasa, Alya berhak mendapatkan suami yang lebih baik dari ana." Keputusan Khafa pada akhirnya.
Gundulmu Kha, Alya kurang apa? Di tolak.
Khafa melirikku sejenak. Lalu ia menunduk. Suasana makan sempat lengang beberapa saat. Semua seperti kehabisan kata-kata. Tak habis pikir dengan Khafa yang menolak halus permintaan ustadz Rahmat. Namun lantas suasana kembali hangat dengan perbincangan-perbincangan ringan di antara kami.
Beberapa hari kemudian setelah kedatangan Embun di rumahku, Aku, di panggil oleh Aba di dalam masjid. Kami baru saja selesai menunaikan ibadah sholat Dzuhur.
Aku duduk bersila di hadapannya.
"Wisnu, dengar dengar dari penduduk sekitar Al Furqon, Khafa berduaan dengan perempuan benar? Antum tahu soal ini Nu?" Tanya Aba dengan tatapan menuntut kepadaku.
"Antum yakin Nu, tidak ada hubungan lain selain itu, mereka?" Aba menyelidik.
"Ana ndak tahu Aba, sepertinya sih tidak. Khafa ndak mungkin buat hubungan macam-macam sama perempuan,"
Kecuali hubungan hati. Itu saya tahu, kalau Khafa punya hati utuh untuk Embun.
"Lain kali kalau ada urusan pekerjaan lagi dengan perempuan di luar, antum temani lah bocah itu. Jangan sampai jadi fitnah,"
"Nggeh Ba, ana paham. Kemarin kebetulan ana ada urusan ke Magelang. Jadi Ndak bisa temani Khafa,"
"Yowis Nu, kalo ada apa-apa kabari yo. Khafa suka tiba-tiba buat keputusan sendiri, ana sebenarnya bingung dengan polahnya. Ana maunya dia serius pegang Khusnul khatimah. Tapi dia malah senang sekali bertualang," curhatnya.
"Tapi Ba, Khafa juga bertualang kan menebar kebaikan. Insya Allah, kelak aba juga dapat faedahnya."
Aba mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham. Aba bukan type seorang ayah diktator. Perjalanan hidup yang telah banyak beliau lewati membuat beliau begitu bijaksana.
Setelah pamit pada Aba, aku kembali ke kelas untuk memenuhi tugasku sebagai pengajar. Pikiran ku masih terganggu oleh pertanyaan Aba seputar Khafa yang sempat menjadi buah bibir di sekitar penduduk Al Furqon.
Untuk membuang rasa penasaranku akhirnya aku menelpon Khafa saat itu juga.
"Halo, assalamualaikum Kha,"
"Waalaikumussalam mas bro, pas banget ana memang mau nelpon antum," jawab Khafa dari ujung ponsel.
"Pas, pas gundulmu! Antum dimana?"
"Ana di hotel Amarilys mas bro mau nginep satu malam aja disini yo. Mobil, ana pinjam dulu, besok ana balik insya Allah,"
"Astagfirullah Kha, ngapain di hotel? Jangan bilang kamu sama Embun yo Kha, dosa inget dosa!"
"Tadinya emang mau sama dia kalo gak inget dosa. Tapi dia gak mau mas bro, jadi ana pura pura balik. Padahal pas dia masuk, ana juga cek in," ujarnya. Lalu, ia terkekeh menertawakan hal yang sama sekali tidak lucu menurutku.
"Inget Kha, hati, kalo nggak hati hati bisa menerbangkan logika. Antum inget! Jangan mendekati zina!" cercaku. Aku mulai gemas dengan anak itu.
"Iya iya mas, insya Allah ana tau batasan, ana gak bakal macem-macem. Wallahi, ana masih takut sama Allah mas," jawabnya penuh keyakinan.
"Iya antum bisa, Embun belum tentu. Antum tau kan pria pria seperti kita tuh punya pesona luar biasa! Hahaha----------"
"Mas, ngomong apaan sih ga jelas banget? Udah ah assalamualaikum,"
Tut
Tut
Tut.
"Khafa, Khafa! Masya Allah. Waalaikumussalam,"
Aku menekan tombol dial kembali menelpon Khafa. Setelah terhubung,
"Main tutup aja! Belum selesai ngomong!"
"Maaf, Tadi lagi tanggung soalnya,"
"Astagfirullah Khafa, tadi Aba ngomong, ada yang ngadu soal antum di Al Furqon. Beredar kabar kamu berduaan,"
"Hah?"
"Iyo!" jawabku geram.
"Yah emang berduaan, kan mas gak ada. Udah biarin aja lah, jangan di ambil pusing mas. Ana gak ngapa-ngapain kok. Nanti ana selesaikan sama aba yo kalo balik, assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam,"
Aku menutup telepon kemudian masuk ke kelas. Ini sudah masuk jam pelajaran.