
Bukan suami yang sempurna
tapi, istri yang pandai menutup cela.
.
.
.
.
.
"Dek, bangun. Subuhan dulu yuk!" bisiknya lembut di telingaku.
Aku mengernyitkan dahi ketika bangun dalam keadaan polos sambil memeluknya yang juga...
"Iiihhh...." segera ku lepas pelukanku. Lalu, menarik diri dan menggulungnya dengan selimut. Aku malu, saat menyadari hanya aku sendiri yang masih dalam keadaan polos memeluk Khafa yang bertelanjang dada.
Setelah pertarungan semalam sepertinya, aku langsung terlelap kelelahan dalam kenyamanan dada bidangnya. Habis, suruh siapa senyaman itu!
"Masih bisa bangun sendiri? Ayo mandi! kita sholat Subuh!" ajaknya sambil beranjak dari tempat tidur.
"Bisa, tapi...," Malu. Aku segera menggeleng cepat. "Curang kamu!"
Meski telah melewati malam berdua tanpa jarak sama sekali. Tetap saja kalau dalam kesadaran sepenuhnya. Ya.. malu.
Khafa malah memperhatikanku sambil tersenyum jahil. "Mau lagi?"
Ish! Iya, mau!
Melihatnya bertelanjang dada dalam keadaan normal nyatanya membuat otakku kembali di susupi pikiran aktivitas semalam.
"Belum bisa move on ya dari peristiwa semalam?"
Iya!
Aku menyeringai memprotes pertanyaannya.
"Habis subuh ya, sekarang kita sholat subuh dulu, kenikmatan dunia jangan sampai buat kita terlena. Kewajiban harus tetap terlaksana. Oke?"
Aku meringis bangun dari pembaringan. Lalu, ku raih satu bantal di sampingku dan ku lemparkan ke wajahnya. "Siapa yang mau lagi? Aku mau mandi, tahu!"
Ia menangkap dan menyimpannya kembali pada posisinya semula. Tatapannya berubah khawatir memandangku. Tak lama kemudian, ia bergegas membantuku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena waktu subuh sudah mendesak kami untuk segera melaksanakan ibadah selanjutnya.
Jam berlalu....
"Kha,"
"Iya, kenapa?"
"Kha, ih!" ucapku di belakangnya. Ini pertama kalinya aku menaiki motor dan berboncengan dengannya.
"Iya, kenapa?" ulangnya.
"Gak apa-apa, aku izin meluk ya," candaku sambil melingkarkan tangan ke pinggangnya. Dan menciumi bahunya.
"Ihh, pake izin segala. Lupa yah kalo kita semalam sudah...," Ku cubit perutnya. "Aww! Sakit dek!"
"Habisnya, bahas semalam terus. Aku malu tahu!"
"Malu tapi mau lagi kan?" Ah, bukannya jera. Malah semakin jadi ejekannya. Membuatku semakin malu dan mau, kan?
Khafa mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan pesisir yang tidak begitu ramai. Babarapa wisatawan berlalu lalang di antara kami. Tak peduli. Pemandangan terindah yang menarik menurut ku saat ini hanya, suamiku.
"Kha, itu ustadz Ammar?" tanyaku pada Khafa yang sedang memarkir motor bebek milik penjaga cottage yang kami tinggali sementara di Labuan Bajo.
"Iya, dia anggota komunitas amal Al-Firdaus juga. Kenapa?"
"Gak apa-apa, kaget aja. Nah tuh ada mas Gala juga," timpalku ketika menangkap sosok yang tengah sibuk mengatur tumpukan sembako. Tumpukan sembako itu, hendak di bagikan pada warga sekitar dalam rangka pembukaan rumah tahfidz Al-Firdaus di pesisir pantai kawasan Labuan Bajo.
Kami bergabung dengan mereka. Seperti yang aku lihat di Al-Firdaus Sebelumnya, Khafa dan teman-temannya selalu di sambut hangat oleh warga sekitar. Menyenangkan. Wajar saja kalau memang dia tidak bisa meninggalkan misinya ini. Berbagi, memang langkah terbaik untuk meraih kebahagiaan. Dan aku sangat bersyukur, aku menjadi salah satu bagian didalamnya.
Meski sebelumnya aku sudah pernah merasakan, kali ini beda. Aku tidak pernah terpisahkan lagi dengannya. Khafa selalu menggenggam erat jemariku. Dan hanya beberapa kali melepaskannya. Lalu, mencariku lagi. Seperti dua kutub magnet yang tarik-menarik, aku dan dia sulit sekali terpisahkan.
"Aku mau ajak kamu ke pantai, kali ini bukan mau mempersilahkan mu bunuh diri. Tapi, untuk membuktikan pada samudera kalau aku sedang bahagia," ujarnya ketika acara belum sepenuhnya selesai. Khafa undur diri terlebih dahulu dari semua tim-nya. Lalu, ia membawaku mendekati tempat dimana ia memarkirkan motor.
"Lebay kamu Kha!" balasku sambil menepuk pundaknya.
"Biarin, pokoknya kamu ikut!"
Ya iya lah ikut! Masa di tinggal!
Khafa membawaku ke pantai berpasir pink dengan lautan biru membentang. Tidak banyak yang kami lakukan disini. Hanya duduk berdampingan berjam-jam. Membiarkan angin lembut menerpa wajah kita.
Dengan pembicaraan santai khas kami berdua. Pundaknya selalu jadi tumpuan nyaman untuk bersandar. Tangannya yang terus mengelus pundakku selalu jadi obat dari segala sakit yang aku rasakan. Tatapan teduhnya selalu berhasil menenangkan hati yang dilanda kegundahan. Tidak ada, tidak ada lagi kegundahan. Bersamanya, aku tenang. Semua kurasa sempurna dalam moment sesederhana ini.
"Kha, kenapa sih ga bikin rumah Deket mas Wisnu aja, kan enak. Dekat pantai."
"Rumah kita akses kemanapun lebih mudah. Bandara tidak terlalu jauh, atau kamu mau ke stasiun juga dekat. Kalau dekat mas Wisnu kejauhan. Tapi, kalau kamu mau kita bisa tinggal dekat Khusnul khatimah, kan?"
Aku menggeleng. "Aku mau di rumah kita aja,"
"Kenapa?"
"Biar gampang kalau mau kabur, bandara dan stasiun dekat," kataku lalu aku tergelak. Aku bercanda, mana mungkin lah aku kabur.
Khafa memutar bola mata lantas, menepuk keningnya sendiri mendengar alasanku.
"Pulang yuk!" Karena hari semakin sore aku mengajaknya kembali ke penginapan kami.
"Ke rumah?"
Aku mengernyit, "Pake apa?"
"Menghilang!"
"Kalau bisa, mau?"
"Mau, asal sama kamu." Aku tersenyum sambil memandangnya penuh cinta.
Cup!
Ia mengecup bibirku. Refleks, Aku membulatkan mata karena terkejut.
"Ini tempat umum lho, Kha," protes ku.
Khafa mengedarkan pandangannya ke seluruh area pantai. "Sepi, tidak ada yang memperhatikan kita kok, lagi ya,"
Baru saja Khafa hendak memajukan bibirnya, aku segera menarik tubuhku untuk mundur.
"Di rumah aja Kha!" usulku. Ya, meski kami sudah halal, bukan berarti harus bermesraan di depan umum juga kan? Apalagi aku jenis orang yang tidak suka mengumbar hal pribadi di depan umum.
"Kelamaan, di penginapan ya," tawarnya.
"Iya itu maksudku,"
"Ya sudah, ayo!" Ujarnya bersemangat, lalu memberikan punggungnya padaku.
"Apa?" tanyaku heran. Punggungnya? Untuk apa? Gendong?
Ia menoleh tanpa membalikkan badan. "Aku gendong," tawarnya sambil menaikkan alis.
Aku mencebik meragukan kemampuannya. Bagaimana pun berat badanku lumayan banyak untuk mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Emang kuat? Bobotku 55 kilo gram lho Kha!"
"Hmn, ayo lah! Aku tahu kakimu sakit!"
Jelas sakit lah! Perlakuan mu juga!
"Aku gak mau jatuh atau tiba-tiba kejedot lagi!"
"Ini beda, ayo!"
Setelah berfikir sejenak, akhirnya aku menerima juga tawarannya. Anggap saja, ini pelajaran untuknya karena semalam sudah....
Hmmnn.. sudah membuatku lelah!
Aku melingkarkan tanganku ke lehernya kemudian naik ke punggung kokohnya. Lalu, ia berjalan menapaki pasir dan perlahan meninggalkan matahari terbenam ke dalam luasnya samudera.
"Kha, berat mana aku sama tas pendakian mu itu?" tanyaku. Ia berjalan terus tanpa sedikitpun merasa keberatan atas beban yang ia bawa di pundaknya.
"Berat kamu lah," jawabnya singkat, jelas dan menyakitkan.
"Nyebelin,"
"Habis, kok mau di samakan dengan tasku, ha-ha-ha," ejeknya.
******
Bulan berlalu. Aku sudah banyak melewatkan hari-hariku bersamanya. Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaannya yang bahkan aku baru tahu. Sebelumnya aku tahu kalau suamiku itu, mudah sekali tertidur tapi ia juga mudah terbangun jika waktu sholat tiba. Aku juga tahu, kalau dia begitu mandiri. Tidak pernah merepotkan ku dengan hal-hal yang sekiranya akan menguras tenagaku. Lama-lama aku malah bosan. Aku merasa terlalu di manjakannya. Hingga akhirnya aku meminta izin padanya untuk bisa mengelola outlet miliknya. Karena ia sekarang fokus dengan Khusnul khatimah. Syukurlah, aku di izinkan. Dengan satu syarat, aku tidak boleh meninggalkan kewajibanku sebagai istri dan tetap menuntut ilmu. Aku menyetujuinya.
Khafa berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali. Pokoknya, semua tentangnya, aku selalu suka. Sebenarnya, masih ada sih beberapa kebiasaannya yang membuatku selalu gemas. Bahkan, malah kesal! Ya, mana ada sih manusia yang sempurna? Tidak ada kan? Tapi, aku sadar, tugasku sebagai istri salah satunya juga menjaga aib suami. Iya, seperti itu ternyata. Bukan suami yang sempurna, tapi istri yang pandai menutup cela. Dan, sebisa mungkin aku akan berusaha.
Oh iya, rumah kami juga sesekali ramai. Fatur, Fitri, mas Wisnu beberapa kali sempat datang ke rumah kami. Bahkan dua Minggu yang lalu ibu dengan Eliana juga sempat datang dan jalan-jalan disini. Sempat terdengar olehku niat baik Khafa untuk mengajak serta ibu tinggal disini. Tapi, ibu menolak. Beliau, sama sekali tidak ingin meninggalkan tempat terakhir yang di laluinya dengan ayah. Akhirnya, drama perpisahan dengan ibu berhasil ku lewati saat itu. Awalnya aku tidak sesedih itu, tapi Khafa juga yang memulai. Lalu, ia menawarkan aku untuk boleh pulang sementara ikut dengan ibu. Ia bilang ia tidak bisa ikut karena kesibukannya yang tidak bisa di tinggalkan. Jelas aku menolak. Mana mungkin aku bisa tanpamu, Kha!
Malam ini, Khafa sibuk dengan pekerjaannya dimeja kerjanya. Dua minggu lagi Aba memutuskan Khafa benar-benar mengambil alih jabatannya. Ia sempat beberapa hari ke Solo untuk menjalani pendidikan tambahan. Akhir-akhir ini ia sibuk bukan kepalang.
Tanpa ku sadari, kesibukannya menelusupkan sedikit perasaan cemburu dalam hatiku. Aku memang sudah menikah dan bersamanya. Tapi aku merasa aku telah memilikinya tapi waktuku selalu terbatas dengannya. Atau mungkin, ini hanya sisi egoisku saja yang sedang bicara?
"Kamu pusing ya?" Aku bertanya saat Khafa masih sibuk mengetik sesuatu pada layar laptopnya.
Ia tersenyum menoleh kepadaku. Tanpa anggukan atau gelengan kepalanya, aku sudah tahu kalau dia memang sedang pusing menghadapi setumpuk pekerjaan dan persiapan ia mengemban amanah baru. Sebenarnya, bisa saja ia biasa saja. Tapi nyatanya Khafa si ambisius ini selalu tidak mau setengah-setengah dalam mengerjakan apapun. Sekali lagi, aku bangga padanya.
Aku berjalan dan berdiri di belakang kursi yang Khafa duduki. Lalu, kulingkarkan tanganku ke lehernya.
"Mau aku pijit gak?"
"Memang bisa?" Ia balik bertanya sambil melirikku.
"Meremehkan ku!" bisikku di telinganya.
Ku cium sejenak pipi kirinya. Lalu jemariku mulai memijat pelan pelipisnya.
"Kamu semangat ya Kha, aku akan berusaha terus mengimbangimu," ujarku mencoba memahami apa yang tengah ia rasakan.
Ia tak merespon apapun ucapanku. Ku lihat, ia memejamkan matanya menikmati setiap pijatan lembut dari jemariku.
"Kha, kalau memang ini berat dan melelahkan, beristirahat lah, " sambungku. Ia membuka mata mendengarku. Melihat itu, aku menghentikan pijatan ku. Ia mendonggakkan kepala memandangku lekat. Aku membalas tatapannya dengan sedikit bingung. Ada yang salah dengan kata-kata ku?
"Demi kamu," ucapnya. Aku menatapnya semakin heran. "Semua tidak ada yang berat kalau kamu selalu ada di sisiku, semua yang ku lakukan ya demi kamu," lanjutnya.
Aku menghela napas pendek. Lalu tersenyum tipis. "Demi kita, demi masa depan kita." Aku memperjelas. Jelas saja, aku tidak mau hanya demi aku. Karena cinta tidak seegois itu.
Ia memejamkan matanya sejenak. Lalu, meraih tanganku ke dalam pelukannya. Tanpa aba-aba lagi ia menggendongku di belakang. Dari pada aku memberontak dan jatuh, jadi aku pasrah saja.
"Kha, kenapa gendong aku di belakang terus sih. Gak romantis banget!" protesku ketika ia melangkah menuju ranjang. Tak lama kemudian kita sampai dan ia mendudukkan diriku di tepi ranjang.
"Kamu berat! Pakai ala bridal gagal terus."
"Ish!"
Khafa duduk di sampingku di tepi ranjang lalu mendekap tubuhku erat seraya berkata, "kita istirahat ya, tapi sebelumnya... aku mau boleh?"
Pipiku memanas saat mendengar bisikannya, namun dengan yakin, aku mengangguk memenuhi permintaannya. Kemudian, ia memulai permainan indahnya kembali untuk kesekian kali.
Sungguh, ia selalu bisa membuatku kesal dan membuatku jatuh cinta dalam waktu yang bersamaan.
-----------------------------------------------