Always Remember

Always Remember
Malam Panjang 3



Menghapus jarak.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Nanti aku yang akan membuatmu lupa. Ayo cerita!"


Aku bangun dari posisiku semula. Kemudian memilih untuk duduk di atas tempat tidur. Melihat aku, Khafa mengikuti ku duduk dan berhadapan denganku.


Aku menundukkan kepala lalu mulai bercerita. "Aku---," tercekat. Aku menunduk, mati di satu kata itu.


Tiba-tiba lengannya mengangkat daguku. Membawa wajahku bertatapan lurus dengannya.


"Kalau memang kamu gak mau cerita, aku gak masalah, masalalu yang buruk sudah sebaiknya di tutup," tuturnya lirih namun dapat menghempaskan segala hal yang memang tidak mampu aku ceritakan.


Gleg.


Aku meneguk salivaku yang tiba-tiba terasa membanjiri bagian dalam mulutku. Aku gugup melihat tatapan Khafa di temaram lampu kamar yang begitu syahdu. Jantungku terasa mau copot. Degup jantung terus memompa dengan cepat saat tangannya merapikan rambutku yang tergerai berantakan. Membawa semuanya terurai ke belakang.


Aku tak bisa lagi mengingat moment apa yang hendak ku ceritakan. Pikiran ku malah tertuju pada rahang tegas yang tersorot lampu tidur dan terlihat keemasan pada kulitnya. Saat ini, aku sedang melihat sisi lain Khafa. Dan membayangkan sentuhan lebih pada diriku darinya.


Merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam tatapanku, Khafa menggeser tubuhnya mempersempit jarak. Semakin dekat, mendekatkan wajahnya kepadaku. Tatapannya begitu lekat dan mampu menerobos dinding-dinding masalalu yang menjadi pengahalangku selama ini.


Aku masih mematung saat jemarinya menyentuh dan mengelus lembut kedua pipiku. Berusaha mengatur napas dan menetralkan debaran yang kian menghebat. Ku rasa, saat ini adalah saat yang tepat untuk memberikan segala rasa yang telah lama ku simpan. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa rindu yang memang sudah bertahun-tahun aku simpan dan ku abadikan.


Rindu yang sempat berdebu karena terabaikan oleh waktu. Kini sudah saatnya, saat rindu itu harus menepi.


Khafa mendekatkan pelan pelan wajahnya kepadaku. Lalu, mencium keningku cukup lama. Aku memejamkan mata merasakan tulusnya rasa yang ia alirkan lewat sentuhannya. Tidak lama kemudian, ia melepaskannya. Aku membuka mata perlahan.


Khafa tersenyum tipis. Mendekatkan kembali wajahnya sampai ke ujung hidungku. Lambat, waktu terasa lambat berjalan. Hanya suara detak jarum jam yang suaranya terdengar seperti mengintimidasi kami untuk segera berlari. Berlari pada sensasi kenikmatan yang belum pernah sama-sama kami rasakan. Dalam pekat malam hanya berduaan. Disini, di rumah yang sama-sama telah kita mimpikan.


Perlahan, Khafa memangkas jarak terakhirnya denganku. Aku merasakan kehangatan pada sekujur tubuh. Ku pejamkan mataku mencoba meredakan Degup jantung yang semakin menggila.


Cup.


Sedih, bahagia, haru membuncah menjadi satu dengan rasa syukur seiring sempurnanya sentuhan bibir nya dengan bibirku. Tangan kirinya melingkar di pinggangku. Dan tangan kanannya memegang pipiku. Sesaat aku hanya bisa memegang dada bidangnya.


Ini memang bukan yang pertama buatku. Tapi, rasanya terasa begitu berbeda saat aku melakukannya dengan Khafa, lelakiku. Dalam ikatan yang sah. Tidak ada yang lebih Indah dari semua ini, menyatukan diri dengan orang yang di cintai dalam ikatan suci. Sehingga setiap kecupan yang ia berikan terasa lebih dari sekedar penyatuan napsu, tapi lebih dari itu, ini adalah suatu ibadah yang terindah. Aku terhanyut dengan pagutan lembut yang ia berikan. Sampai tak kusadari air mata haru kembali menyeluruh.


"Kenapa nangis?" Tanyanya setelah menghentikan pagutannya. Ia menatapku begitu lekat dan menenangkan.


Aku bahagia.


Bisu. Aku tak mampu menjawab apapun dalam keadaan bibir yang basah karenanya. Aku segera memeluk erat dada yang selama ini aku butuhkan. Menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya. Lebih dari sekedar nyaman. Bahkan degup jantungnya terdengar bagai lantunan melodi cinta yang membuat aku semakin tak mau melepaskan.


Aku sesenggukan. Khafa yang semula mengendurkan pelukannya karena kaget dengan pelukanku yang tiba-tiba, kini ia mulai memeluk ku tak kalah erat. Menciumi puncak kepalaku penuh cinta dan ketulusan. Mengusap-usap punggungku. Terus meredakan tangisanku.


"Aku dengan segala kekurangan ku menerimamu dengan segala kekuranganmu," bisiknya tepat di telingaku. "Menangis lah! Setelah ini. Ayo kita tersenyum bersama!"


Dalam derai tangisku, aku seperti sedang mencurahkan segala keresahanku tanpa bercerita apa-apa. Lelah rasanya. Namun, aku merasa terlepas dari satu beban. Beban yang membuatku berat dalam melangkah selama ini.


Akhirnya tangisanku mereda dan perlahan mengendurkan pelukannya. Aku kembali menatap sorot mata teduh milik Khafa. Beberapa saat kami beradu pandang. Sama-sama menenggelamkan perasaan kami berdua. Saling menempatkan diri pada dalamnya relung hati kami masing-masing. Tak ada yang lain.


Khafa tersenyum tipis. Aku akui, ia telah berhasil menyeretku kembali dalam indahnya mahligai cinta yang ia bangun. Dan aku, sangat bersyukur.


Untuk kedua kalinya. Bibir Khafa kembali ******* bibirku dengan lekat. Aku terkesiap, saat merasa bagian diriku ikut terbang dan sebagian lagi menantikan kenikmatan selanjutnya. Kali ini ia begitu mahir memainkan peranannya. Aku terhipnotis menyeimbangi permainannya yang mulai menggelora. Hingga akhirnya aku kesulitan untuk bernapas. Seolah napasku habis terhirup oleh Khafa yang kini sudah tepat berada di atasku. Ia mulai turun mengecup leherku dengan lembut. Mencumbu inci demi inci tengkuk leherku.


"Kha, ahh, udah Kha.. aku lagi dapet tau," pintaku di sela napas yang memburu.


Khafa menghentikan aktivitasnya. Lalu memandang dan mengelus keningku berkali-kali.


"Maaf," ucapku kaku.


"Pe-Ha-Pe kamu!" serunya.


Cup.


Aku tersenyum, kembali memeluknya. Kami berhadapan beradu pandang. Ah, rasanya tidak puas-puas memandanginnya seperti ini.


"Kha," panggilku lembut setelah lama menstabilkan deru napas yang tersisa.


"Hmn," jawabnya.


"Aku mau tanya deh, sejak kapan kamu suka sama aku?"


"Aku tertarik sama kamu sejak kamu manjat pager asrama laki-laki waktu itu, waktu kamu nyari ustadz Hafizh kalo gak salah," jawabnya sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.


"Ih.. itu kan masih SD akunya,"


"Iya, aku kelas dua stanawiyah," yakinnya tanpa mengingat-ngingat.


"Itu kan aku masih kecil, kamu kok suka sama anak kecil?" Aku menautkan alisku.


"Bukan suka, aku cuma tertarik. Gemas. Ada anak perempuan sampai berani manjat pagar asrama laki-laki, gak ada akhlak banget,"


Aku pukul dada bidangnya.


"Jahat kamu, perempuan gak ada akhlak itu jadi istri kamu lho sekarang!" seruku mengingatkan.


"Iya, tau, nanti aku service otaknya biar berakhlak baik, kalo suka manjatnya biarin aja, gak usah diilangin biar bisa manjatin aku."


"Kha, ih, kamu kok jadi mesum gitu,"


"Gimana gak mesum? Puasa melulu,"


"Iihhh siapa suruh kemarin-kemarin pura-pura terus!" selorohku.


"Bukan pura-pura, aku takut kamu belum siap, dan gak mau jadi bayang-bayang orang lain di mata kamu," alasannya membuka mataku kalau cintanya bukan sekedar hawa napsu.


"Nggak lah, ngaco aja. Kha, aku kangen banget sama kamu," jujurku sambil menenggelamkan lagi kepalaku didalam pelukannya.


"Apalagi, aku. Bangetnya banyak. Kangen banget, banget, banget, banget, bangeeeeettt," ia tak mau kalah.


Tapi iya sih, benar juga. Selama ini yang banyak berjuang sepertinya dia.


Aku menengadah kan kepalaku menatap wajahnya.


Cup.


Aku mengecupnya duluan.


Ia bersambut dan kami kembali berciuman penuh gelora dan kasih sayang. Berkali-kali, berulang-ulang.


"Jangan lepasin pelukan ku sampe subuh. Jangan bergerak. Aku mau kasih pelajaran sama kamu. Karena sudah Pe-Ha-Pe in aku," rajuknya saat bibirnya tak lagi bertautan denganku.


"Lama-lama aku gak bisa napas tau!"


"Nanti aku kasih napas buatan."


"Ah modus. Padahal icip-icip."


"He-he, iya. Abis enak, manis, kayak kurma azwa,"


"Mau lagi?"


"Mau, mau, mau,"


"Berapa kali?"


"Berjuta-juta kali,"


"Capek tahu,"


"Biarin!"


Lalu, kami kembali menikmati malam dalam suasana senyap dengan posisi saling mendekap.


------------------------------------------------------


Jangan lupa vote ya gaes..