Always Remember

Always Remember
Buku putih



Melihatmu dari kejauhan


Hanya memberiku bulir bulir kerinduan yang seolah keteguk sendiri


Seperti halnya aku menyukai senja yang tak bisa aku jelaskan alasannya.


Pun denganmu


Aku tak tau alasanku mengagumimu


🌸🌸🌸


Sore ini aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan. Dari jarak kira-kira dua puluh meter. Kita sibuk dengan kegiatan kita masing-masing. Sesekali kita bertemu pandang. Dan ia tersenyum padaku. Mungkin baginya cukup melihatku dari kejauhan seperti ini. Tapi tidak bagiku. Aku ingin ia disini sepuluh menit saja. Aku hanya ingin tau pasti apa perasaannya padaku.


Aku berjalan ke sisi lapangan. Setelah sekitar tiga puluh menit aku bermain voly. Aku menyerah. Aku tak mahir permainan ini. Kedua tanganku lebam memerah. Perih sekali rasanya. Punggungku sudah basah oleh keringat. Aku butuh angin.


Aku masih berjalan mencari tempatku biasa mendapatkan yang aku mau. Semilir angin dengan view senja yang merona. Aku tau Khafa masih sesekali mencuri pandangnya ke arahku dengan ekor matanya. Aku pura pura tak peduli. Aku duduk diantara bunga bunga butter daisy yang selalu berbunga pada musim apapun. Hujan ataupun kemarau ia selalu mekar. Selagi tanah itu subur. Kupetik satu bunga dan ku putar putar dengan jariku.


Aku melihat lagi ke arah Khafa bermain bola. Dan aku hanya mandanginya. Dari sini aku merasakan hangat di dadaku. Khafa yang sedekat ini pun aku tak dapat menyentuhnya.


Jauh maupun dekat jarak antara kita


Aku harap kau bisa mengikisnya


Memberi apa yang aku pinta


Bukan apa-apa


Mungkin hanya sebuah rasa


Hati yang terpaut


Sudah cukup membuat asa terajut


Namun disisi lain akal sehatku


Aku mau kamu terus disisiku


Aku senang tahu kalau ternyata Khafa sesekali mencuri pandang kearahku. Tapi aku ragu tentang perasaannya padaku. Seandainya aku bisa menjadi apapun didunia ini, aku mau menjadi apa saja yang bisa selalu ia sentuh.


Hari semakin gelap.


"Embun balik udah mau magrib."


Ku lihat Listy sudah di hadapanku.


"Ahhh lo lagi."


"Mau nya Khafa?"


"Ish... kalo iya kenapa?"


"Udah buruan balik." Listy menarik tanganku.


Semangatku hanya tinggal beberapa persen saat ini. Aku berjalan malas.


"Embun!!!"


Aku menoleh. Kulihat Dani berlari kecil ke arahku.


"Ini titipan dari Khafa." Dani memberiku buku. Buku tulis yang bersampul putih bersih.


"Buat gue?"


"Iyaaa... siapa lagi?" Aku ambil dan ku buka. "Jangan dibaca disini. Pesan Khafa baca di rumah aja."


"Oo.. oke." Aku kembali berjalan.


"Embun, gue boleh nanya?"


"Nanya apa?"


"Khafa nyatain?"


Aku mengerutkan dahi heran. "Nyatain?"


"Iyaaa.. kemaren bukannya udah ketemu ya?"


"Ohh.. iya. Tapi ga ada apa-apa ko. Ga nyatain. Kita ngobrol biasa aja."


"Tapi dia ko nanyain soal lo mulu ke gue. Katanya ga bisa tidur akhir-akhir ini."


"Banyak nyamuk kali di asrama Dan. Makanya dia jadi ga bisa tidur," jawabku enteng.


"Ihhh. Dia mikirin lo mulu Embun."


"Hah?"


Aku terdiam.


"Becanda lo Dan?"


"Seriusan Embun. Kemaren gue nginep di asrama tuh nemenin dia. Soalnya Aji temen sekamarnya pulang. Gue kaya di tawan brooo.. hahaaa." Bahasa Dani sudah seperti anak gaul pada umumnya, karena di sekolah ia menggunakan bahasa Indonesia. Jadi logat Sunda yang meliuk-liuk sudah sedikit berkurang.


"Dani Ga jelas gitu. Kenapa?" Tanyaku pada Listy.


"Iya gue ga boleh kemana-mana ama dia. Suruh cerita tentang lo terus. Semaleman," tuturnya kemudian.


"Ih Dani lo cerita apa aja?" tanyaku curiga.


"Gue cerita yang gue tau tentang lo doang. Gue ga tau banyak tentang lo kan. Gue bilang kalo Embun jarang keluar rumah. Udah itu aja." jelasnya.


"Gue keluar rumah. Nih gue lg di luar."


"Maksud gue lo kan ga pernah gabung sama kita-kita kalo malem."


"Eimmm.. yaudah gue balik kesini ya Dan. Makasih," kataku dipersimpangan jalan. Aku dan Listy ke kanan menuju pulang. Sedangkan Dani ke kiri.


"Oke." Balas Dani sambil mengacungkan jempolnya.


🌸🌸🌸


Malamnya aku hanya di kamar. Aku buka lembar pertama buku itu, mungkin ini sudah yang ke dua puluh kali. Ku lihat ada kertas puisiku.


Aku tempel disini ya.. biar ga hilang atau kena razia di asrama, tulisnya.


Itu tulisan Khafa yang aku baca di bawah lipatan kertas. Ternyata ia menyimpan baik kertas ini. Yang bahkan sudah ku anggap hilang. Kubuka lembar berikutnya.


Assalamu'alaikum (tulisannya lagi dengan huruf arab)


"Wa'alaikum salam." Batinku.


Embun, kamu tahu kenapa aku buat buku ini? Aku ada dilingkungan pesantren. Dengan segala aturan yang ketat dan harus aku ikuti. Tapi, ternyata ada hal lain yang juga harus ku ikuti. Hati dan fikiranku. Mereka memaksaku untuk terus mengingatmu, mencarimu dan berlari kepadamu. Jangan tanya kenapa! Karena aku juga ga tau jawabannya.


Wassalamu'alaikum. (dengan arab lagi)


Kubaca berulang-ulang. Memahami setiap detail kata yang ia tuliskan.


Malam ini aku hanya memeluk buku putih dari Khafa.


Benar kata orang kalau jatuh cinta ternyata memang indah. Dan kita akan lupa dibalik keindahannya ada kecewa dan sakit hati yang siap menanti. Tapi kita harus siap menghadapinya. Karena aku merasa perasaan ini mengalir begitu saja. Tak bisa aku cegah. Tak bisa aku hindari. Jadi tidak ada waktu untuk memilih sebuah pilihan mau atau tidak terjebak di dalamnya.


"Embun bangun udah subuh..!"


Aku membuka mata dan tersadar masih memeluk buku putih Khafa. Pagi ini dingin sekali.


"Hujan ya bu?" Kataku sambil bergegas bangun dari tempat tidur.


"Iya.." jawab ibu sambil berjalan keluar dari kamarku.


Aku tinggal di kota yang sering kali turun hujan. Jika pada musimnya datang hujan turun tak pernah memilih waktu. Pagi, siang, sore, malam. Di kota lain mungkin panas atau jarang sekali turun hujan. Lain di kotaku. Sekarang saja pertengahan bulan maret hujan turun dipagi hari.


Aku pergi ke sekolah menembus hujan bersama ayah naik motor. Setelah itu ayahku melanjutkan perjalanannya mencari nafkah.


Sesampainya di sekolah hujan reda. Ku rapikan payung dan mantel yang kugunakan. Kemudian masuk kelas. Aku hampir saja telat. Tidak berapa lama aku datang bel masuk berbunyi.


"Ini orang pada kemana yah? Sepi amat kelas!" Ucap Badrus si ketua kelas.


Kelas nampak sepi. Mungkin karena hujan. Mereka banyak yang telat. Terbukti, setelah bel masuk berbunyi masih banyak teman yang baru datang.


"Embun, lo udah ngerjain PR matematika? Gue nyontek dong nomer lima? Tinggal satu lagi gue." Kata Fitri teman sebangkuku hari ini.


"Hahhhh!!!? PR???" Aku langsung membongkar tas ku. Mencari buku PR Matematika. "Gue lupa fit, gue belom ngerjainnn." Ku buka buku PR dan memegang kepalaku yang tiba-tiba pusing.


"Ish Embun tumben sih lo," gerutu Fitri.


"Gue nyontek ya fit, pliss. Lo cakep dah." Rayuku kepada Fitri.


"Kan gue yang mau nyontek. Kenapa jadi lo." Fitri memegang dahinya.


"Bu Wati datang, bu wati datang!" Badrus berlari ke tempat duduknya.


"Sumpah ya ini, siapa si yang udah manggil bu wati datang!" Kataku kesal.


"Eh lo lupa Bu Wati guru teladan se-Indonesia?" Jawab Fitri.


"Tapi gue----."


"Udah lo pasrah aja."


"BERI SALAM...!!!" Teriak Badrus ketika Bu Wati sudah di dalam kelas.


"ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABARO KATUH!!!" Ucap semua siswa di kelasku.


"Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. Buku PR langsung di kumpulkan di depan ya." Kata Bu Wati tanpa basa basi. Si guru killer ini memang tak pernah lupa memberikan PR sebelum keluar kelas. Dan memintanya ketika masuk kelas. Dan parahnya lagi dia ada di jam pertama hari ini. "Yang tidak mengerjakan PR silahkan tunggu diluar."


Disaat teman-temanku mengumpulkan PR. Aku berbelok ke pintu keluar. Aku keluar bersama Fitri sebelum benar-benar di usir. Dan akhirnya aku bergabung dengan beberapa teman yang terlambat datang. Oke fine. Ini awal yang baik di hari yang baik.


"Hhmmnn.. tau gini gue kesiangan aja sekalian." Aku mengerutu.


"Lagian Lo sih belom ngerjain PR."


"Ketiduran fit," bela ku.


Kemudian Aku bergabung dengan tiga temanku diluar.


Fix, gara-gara Khafa nih, runtukku dalam hati.