
Ini bab baru ya readers, karena ada kesalahan teknis, aku jadi ganti isinya aja...
Terima kasih π
lanjut like, vote komennya yaa..
.
.
.
.
.
Aku hampir bersamamu hingga ujung waktu. Namun sayangnya hanya hampir.
Perpisahan ini adalah perpisahan menuju pertemuan berikutnya.. Semoga..
.
.
.
πΈπΈπΈ
Di sudut kamar, aku masih bergelung selimut di ranjang sederhana milikku. Kusibak sedikit jendela yang berembun, rintik gerimis yang turun sejak semalam begitu romantis. Cuaca dingin membuatku ingin terus menerus bermalas-malasan. Aku lupa semalam bisa tertidur nyenyak jam berapa setelah menangis semalaman.
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan kosong dan tak bersemangat. Seolah merasakan ada yang tanggal pada diriku.
Lima tahun bukan waktu yang singkat menjalani hari-hari ku bersama Andra. Meskipun aku awalnya sulit menerima, ya semoga saja pada akhirnya aku tidak sulit melupakan.
Tapi aku sekarang mengerti. Bahwa ternyata, apa yang telah kita genggam hari ini belum tentu akan seutuhnya milik kita esok hari. Karena ia bisa terlepas kapan saja tanpa bisa kita berikan kendali.
Perlahan, aku mencoba bangkit dari tempat tidurku tapi kepalaku terasa pusing. Aku tertatih berjalan menuju cermin. Mataku sembab mengerikan. Selalu seperti ini. Aku selalu payah menghadapi perpisahan.
Ku kumpulkan lagi semangat yang sudah berserakan. Meskipun aku terancam telat masuk kantor. Aku tetap memaksakan. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi.
Kini aku telah siap dengan jeans dan t-shirt berpadu blazer favorit ku. Karena memang tidak pernah ada peraturan khusus berpakaian di kantor ku.
"Kamu baik-baik aja kan kak?" Tanya ibu yang sedang menanti sinar matahari pagi di depan teras rumah. Ia masih menggunakan kursi roda sejak kepulangannya dari rumah sakit.
"Duduk dulu, nggak buru-buru kan?" Titahnya.
Ku letakkan kursi rotan mendekati ibu. Aku tau, pasti ibu turut merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
"Jangan bersedih berlarut-larut. Andra mungkin bukan jodohmu kak, Terima kepergiannya dengan baik. Seperti ketika kamu menerima awal kehadirannya dulu," lontar ibu lansung pada pokok permasalahan.
Aku tahu, ini adalah efek kejadian semalam Andra berpamitan pada ibu.
"Andra akan kembali Bu," selorohku. Aku merasakan kembali mata yang mulai berembun.
Ibu menghela berat.
"Tapi ibu ragu. Lepaskan! Cari lagi belahan jiwamu yang lain. Ingat, jangan menutup diri setelah ini."
Aku menunduk membaca nada khawatir pada suara ibu.
Ibu tau pasti soal anaknya. Ia tahu persis. Kalau aku tipe perempuan yang susah pindah ke lain hati. Jadi, ketika aku mencintai seseorang, maka ia akan menetap lama di hatiku. Sulit sekali untuk membuka hati untuk orang baru.
"Semua itu kan butuh proses Bu."
"Iya, ibu tau. Denger ya Kak, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tidak ada kejadian yang terjadi tanpa alasan. Semua sudah atas kehendak-Nya. Ikhlas lah! banyak banyak doa. Semoga di kasih jodoh yang terbaik. Yang bisa bimbing kamu jadi lebih baik. Yang sayang keluarga. Nggak sayang kamu aja," lanjut ibu panjang lebar.
"Iya Bu, yaudah aku berangkat dulu,"
"Di bilangin, malah cepet-cepet berangkat," omel ibu dengan wajah yang sedikit cemberut.
"Habis, ibu ngasih nasihat waktunya mepet begini. Nanti aku ketinggalan kereta,"
"Kereta banyak kok, ketinggalan satu tinggal naik yang berikutnya, iya kan?" Ibu seolah sedang menyindirku.
Tapi apa masih ada kereta berikutnya dalam hidupku?
"Iya, tapi aku nanti kesiangan masuk kantor, ga enak sama bos," jawabku sambil memakai sepatu.
Sebenarnya aku tak ingin lama-lama berbincang soal ini. Rasanya, masih menyakitkan.
"Iya deh, hati-hati yah, berangkat sama Irgi ke stasiun?" Akhirnya ibu mengakhiri pembicaraannya.
"Iya, aku lagi malas bawa motor sendiri," jawabku.
"Yasudah, hati-hati ya."
Aku mencium takzim tangan ibu lalu berjalan menghampiri Irgi yang tengah bersiap. "Gi, hayuk! Gue nebeng."
Irgi bergegas mengambil kunci motor dan memakai helm.
"Etdah, yang galau jam segini baru datang." Putri menyapaku dengan sindiran.
"Bos Ken ada?" Tanyaku pelan.
"Ada. Mau berapa?"
"Putri gue serius!"
Candaan Putri tidak lucu sama sekali.
"Gak ada Embun, dia ke Medan hari ini. Kan tadi gue udah nge-chat lo."
"Emang iya?"
Putri mencebik menanggapi kebodohanku.
Suasana kantor yang hangat tak membuat perasaanku sedikitpun membaik. Candaan demi candaan teman-teman lemparkan kepadaku. Namun rasanya masih sama. Tak bersemangat. Tapi aku selalu berusaha menebarkan senyum pada mereka.
Aku harus selalu bersyukur, dan ingat apa yang di katakan ibu tadi pagi. Membuka diri. Meski tak kan semudah menuliskannya. Tapi aku akan berusaha.
Aku harus tau bahwa berakhirnya hubunganku dengan Andra bukan bearti berakhir juga rotasi bumi. Iya, hidup masih terus berjalan bukan?
"Embun, Jumat Lo di jadwalin ke Jogja ya sama bos Ken," tutur mas Rudy.
"Jogja lagi. Kenapa engga Lo aja sih mas? Bosen ah gue!"
Aku menghempaskan diri pada kursi kerjaku. Lagi lagi aku tak bersemangat.
"Sejak kapan Jogja ngebosenin?" Mas Rudy malah nanya balik dengan wajah terlihat heran.
Sejak tahu kalau klien disana adalah Khafa!
"Gue di suruh bos ke Palembang besok. Sorry, gue gak bisa membelah diri buat bisa ada di dua tempat sekaligus!" Lanjut mas Rudy.
"Ah Lo mah enak ke Palembang, ada kantor cabang disana palingan lo kerja setengah hari sisanya Lo jalan-jalan." Aku menggerutu.
"Lah kan emang proyek yang di Jogja juga dari awal pegangan lo. Kenapa sih tumben ogah-ogahan gitu?" Tanya mas Rudy menyelidik.
Tiba-tiba aku teringat janjiku dengan pak Wisnu beberapa hari lalu. Semua proyeknya memang aku yang mengerjakan. Aku tidak mungkin dengan mudah melepaskan tanggung jawab.
"Yaudah, Jumat gue ke Jogja."
"Nah gitu dong geulis." Ucap mas Rudy dengan logat Sunda yang di buat-buat. "Semangat napa! Mau nikah ko cemberut Mulu gitu."
Aku sontak menatap wajah mas Rudy yang berkata seperti itu dengan wajah polosnya.
"Mas Rudy!" Panggilan Putri membuat mas Rudy tak kalah kaget. Lalu ia melihat bingung ekspresi Putri yang memberi kode.
Aku berbalik badan kemudian menatap Putri dengan sendu. "Gak apa-apa put," ucapku pelan.
Memang pada akhirnya semua yang ku rasa toh harus di nggak apa-apa in kan?
"Aku baik-baik aja kok," lanjutku dengan senyuman palsu.
"Yaudah, kita makan siang aja yuk!" Ajak Putri dengan senyum yang mengembang. "Gue traktir."
Putri menarikku untuk pergi makan siang di sebuah rumah makan sekitar kantorku.
Ku tatap sejenak layar handphone. Lalu menghela.
"Gue yakin ini gak gampang buat lo," kata Putri yang seolah sangat tau perasaan ku.
Aku menatapnya sebentar.
"Lo nunggu dia ngingetin makan kan?" Putri bertanya sambil mengaduk es kelapa jeruk di hadapannya.
Aku diam tak menjawab.
"Laki-laki emang gitu. Mudah melupakan, mudah melepaskan. Karena kebanyakan dari mereka pake logika. Bukan pake perasaan,"
"Andra gak gitu Put, dia beda. Gue yakin ini semua bukan mau dia," selorohku.
"Ya terus lo bisa apa? Nunggu? Saran gue sih, jangan mau! Kalo dia sayang beneran dia gak bakal biarin Lo nunggu Embun."
Sebuah helaan muncul lagi dari mulutku. Putri ada benarnya.
"Iya, enggak. Dia juga udah pamit koq sama nyokap gue," jawabku tanpa menatap Putri.
"Terus dia kapan perginya?"
"Pesawatnya take off jam 1 siang ini."
Putri melihat jam di tangannya. "Terus Lo ga ke bandara buat liat dia pergi?"
Aku terdiam sejenak lalu menyesap sedikit kopi latte dingin pesanan ku.
"Gue gak mau. Nambah sakit hati aja," jawabku lemah.