Always Remember

Always Remember
Ikrar Suci



Malam semakin larut. Namun, berkali-kali aku mencoba memejamkan mata rasanya sulit sekali terlelap. Hanya terpejam sebentar tapi tak lama aku terbangun lagi. Selalu seperti itu. Berulang-ulang. Ku lirik jam dinding, jarum pendeknya menunjuk pada angka dua dini hari. Aku bergegas bangun dan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Biasanya aku malas sekali untuk melaksanakan qiyamul lail. Tapi kali ini aku aku akan mulai membiasakan diri melaksanakannya. Rasanya aku hanya perlu berkeluh kesah pada Allah Al samii Sang maha mendengar.


Hening.


Ku tunaikan Sholat dengan penuh rasa khidmat. Hingga seluruh jiwa di jalari rasa nikmat.


Setelah selasai melaksanakan sholat Sunnah tahajud empat rakaat, kuangkat kedua tanganku sedada. Merapalkan segala dzikir dan tasbih yang aku bisa. Aku memohon ketenangan hati menghadapi hari esok. Di mudahkan dan dilancarkan segalanya. Menumpahkan segala risau di dadaku. Kekhawatiran yang aku rasa. Kemudian aku melaksanakan sholat witir tiga rakaat.


Jam berdetak cepat. Sampai akhirnya tiba pada waktunya. Aku menatap takjub pantulan diriku sendiri pada cermin. Aku menggunakan kebaya syar'i berwarna broken white, Dengan hijab do dan mahkota sederhana bertengger indah di kepalaku. Wajahku, tak luput dari make up flawless dari Wedding Organizer yang telah ibu pilihkan untukku.


Tidak lama, dua adik perempuan Khafa yang bernama Aisyah dan Annisa masuk ke kamarku. Mereka bergantian akan di make up juga. Annisa berusia enam belas sedangkan Aisyah adiknya berusia dua tahun di bawahnya.


"Mbak Embun cantik banget!" Puji Annisa. Aku tersenyum menyambut mereka.


"Sini sini," kataku sambil menepuk tepi tempat tidur. Mereka menurut.


"Mbak, kalau mas Kha, pergi-pergi mbak sama kita ya," tiba-tiba Aisyah memulai pembicaraan.


"Nggak lah dek, mas Kha kalo udah nikah gak mungkin pergi-pergi lagi, kan kemarin bilang sama Aba kalo dia mau serius di Khusnul khatimah," Annisa menyangkal anggapan adiknya.


"Ahh, gak mungkin. Mas Kha masih banyak urusannya di luar kota," eyel Aisyah.


Aku tersenyum memperhatikan obrolan mereka berdua di atas ranjang ku.


"Eh mbak Mbun, mas Kha kan banyak yang suka tahu!" Seru Aisyah.


"Masa sih, emang iya?" Tanyaku sambil melihat binar mata mereka berdua.


"Iya, Banyak yang nanya nanya loh sama kita, tapi mas Kha nggak pernah tanggapi. Alasannya belum siap nikah. Nah ini? Apa? Giliran sama Mbak Embun dia langsung siap."


"Iya bener. Aku heran loh kak, mas Kha tuh selalu sembunyikan apa-apa dari Aba dari ummi. Iya kan?" Timpal Annisa.


"Iya, bener. Termasuk Mbak Embun nih. Mbak Embun tuh rahasia terbesar yang mas Kha simpan selama ini,"


"Ummi kan awalnya tidak setuju," seloroh Aisyah.


"Adek!" Annisa membulatkan matanya.


"Bohong Mbak, nggak ko. Ummi setuju setuju aja," ralat Annisa sambil mencubit kecil adiknya.


"Aww! Sakit mbak Ann!"


"Udah, nggak apa-apa. Yang penting semua segera berjalan dengan lancar. Insya Allah, aku akan belajar jadi kakak yang baik untuk kalian." Janjiku kepada kedua gadis cantik itu.


"Siap Mbak!" Seru mereka berdua.


Sudah jam sepuluh pagi. Sampai detik ini aku belum melihat sosok Khafa. Ia berada di samping kamarku dalam sebuah hotel. Ia telah memesan dua kamar hotel yang berbeda untuk kami. Mungkin maksudnya agar kami tidak merasa canggung ketika mempersiapkan kostum seperti ini.


"Subhanallah, cantik," puji ibu penuh haru. Aku hanya bisa tersenyum tipis menyembunyikan segala kegugupanku.


"Assalamualaikum," salam Fitri ketika memasuki kamarku. Aku menjawabnya bersamaan dengan ibu. Fitri tersenyum lalu membawa tangannya untuk salim kepada ibu.


"Fitri apa kabar?" Tanya ibu sambil mengusap lembut tangan Fitri.


"Alhamdulillah baik Bu," jawabnya.


"Fit," sapaku.


"Masya Alloh, Embun, masih kayak mimpi tau nggak buat gue," ujarnya sambil menatap ku dengan haru.


"Apalagi buat gue Fit, ini kayak khayalan."


"Ye, masa iya khayalan. Sini gue cubit!" Canda Fitri.


"Jangan!"


"Tapi bener deh, gak nyangka aja sama keajaiban cinta kalian. Ya memang sih, semua gak luput dari doa-doa. Makanya Allah selalu punya cara indah untuk mempertemukan dua insan yang berjodoh,"


"Makasih ya Fit, berkat Lo juga semua bisa lancar,"


"Nggak Mbun, semua sudah takdir Allah. Yaudah yuk turun. Khafa juga udah siap tuh."


Jantungkuku mulai merasakan debaran yang cepat. Perlahan, Aku di tuntun Eliana untuk turun ke ballroom hotel ini. Lalu duduk mensejajarkan diri dengan keseluruhan dari gabungan dua keluarga. Mataku sempat menangkap satu persatu orang di sekitar ku, namun aku tak menemukan dimana sosok mama Khafa.


Debaran ku semakin ku rasakan menggila saat menangkap sosok yang sedikit jauh dari hadapanku, sosok itu adalah sosok yang tak lama lagi mempunyai status sebagai suamiku. Ia menggunakan pakaian pengantin lengkap dengan pecinya yang berwarna senada.


Bayangan ayah terlintas di benakku.


Seandainya ayah melihat prosesi ini? Ayah melihat siapa yang akan menjadi suamiku. Ayah pasti bangga juga. Iya kan ayah? Aku tahu besar sekali harapan ayah untuk menjadi kan Khafa menantunya. Menggantikan perannya untuk bertanggung jawab atas hidup dan matiku.


Air mata ku kini lolos dalam bayangan ayah dan lantunan ayat suci yang masih Khafa bacakan. Rasa syukur tak henti hentinya aku ucapkan seiring Khafa berkata,


"Fa bi ayyi ala i rabbikumā tukażżibān."


Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Setelah itu prosesi ijab kabul dimulai. Khafa menggenggam erat tangan Om Yandi, adik dari ayahku. Setelah kata-kata ijab di lantunkan oleh Om Yandi, Khafa langsung menjawabnya dengan sempurna. Tak ada sedikitpun kata yang terbata apalagi terlewat. Ia terlihat sudah sangat siap.


Dan kata sah dari para saksi terdengar sesaat setelah itu. Menandakan bahwa bergantinya status ku. Resmi menjadi istri dari seorang lelaki bernama Muhammad Khafa Hamidzan.


Selesai doa dilantunkan. Khafa menatap ke arahku. Kemudian ia beranjak melangkah mendekati ku. Hatiku semakin membuncah melihat ia semakin dekat. Degup jantung semakin tak kenal jarak saat ia juga mulai menghapus jaraknya denganku.


Tepat di hadapanku ia berdiri dengan mata yang basah. Begitupun air mataku yang semakin sulit aku bendung lelehannya. Tangan dinginnya meraih tanganku yang juga sudah sedingin es. aku mencium punggung tangannya dengan takzim. Lalu, Ia menuntunku berdiri. Ia tatap mataku begitu dalam. Begitu bebas, tanpa takut ada dosa yang menghalangi. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat ia meneteskan air mata.


"Kenapa kamu nangis?" Tanyaku di sela isakkan.


"Aku bersyukur," jawabnya. 'Saya' yang biasa ia bahasakan kini jelas berganti aku.


Khafa semakin mengikis jarak. Lalu dengan ringan, ia menghapus air mata yang basah di pipiku dengan ibu jarinya. Ia tersenyum dengan haru. Setelah itu ia memegang ubun-ubunku dan mendekatkan wajahnya kepadaku seraya memejamkan mata. Sebuah doa ia gumamkan dari mulutnya.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.” [ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.]


Air mataku kembali meleleh mendengarnya. Setelah selesai membacakan doa, Khafa membuka matanya kembali dan menemukan air mataku yang deras lagi berjatuhan. Dan tanpa sadar, aku merasakan kembali tangannya menyentuh pipiku.


"Semoga Allah memberkahi pernikahan kita," ucapnya lagi dengan lirih. Lalu, ia mencium keningku lama.


Selanjutnya kami menyelesaikan acara adat dan sungkeman. Setelah menyelesaikan rentetan acara tersebut kami kembali ke kamar hotel untuk berganti pakaian dan sholat Dzuhur. Khafa masih kembali ke kamarnya dan aku ke kamarku.


Setelah Dzuhur, kami melanjutkan resepsi pernikahan yang singkat. Tamu yang tumpah begitu banyak nyaris tak berhenti membuat kita tak sempat untuk sekedar saling bertegur sapa. Namun senyuman sesekali saling kami lemparkan. Ucapan selamat dan doa tak henti-hentinya di ucapkan para saudara dan tamu undangan. Terasa sekali aura bahagia di antara kami semua.


Sahabat Khafa di pondok yang dulu sekampung denganku juga berdatangan. Teh Nisa, Dani, Listy mereka semua tersenyum bahagia menyaksikan kami sampai ke pelaminan. Begitupun ustadz Mahfudz, ustadz Joko, dan banyak lainnya pengajar Khafa dulu berdatangan. Dan memeluk bangga pada Khafa.


Dari kejauhan, aku melihat teman-temanku. Riri, Vita, Nanda dan Dela. Mereka menyalami Khafa tanpa berjabat tangan. Vita sesekali mengucapkan keterkejutannya kepada Khafa. Khafa hanya membalas hamdalah sambil menatapku penuh cinta.


Mereka semua memelukku. Tak terkecuali, Dela.


"Embun? Andra, dia kuliah lagi. Lo tau? Bukannya Lo udah?" Bisik Dela di sela pelukannya. Membuat perasaanku tak karuan.


Aku menggelengkan kepala tegas. "Semua udah berakhir Del," jawabku sambil mencuri pandang pada Khafa. Walau bagaimanapun ia tak boleh tau isi percakapan ku dengan Dela.


Dela memejamkan matanya sejenak. Ia sepertinya tahu banyak tentang perasaan Andra kepadaku. "Jahat Lo Mbun, tega!" Wajah Dela berubah seketika saat mengatakan itu. Jelas sudah, bahwa ia, kecewa kepadaku. Ia beranjak meninggalkanku menyusul Nanda dan Riri yang sudah duluan menuju hidangan persamaan.


"Del, Dela! Bukan gitu. Ta--,"


"Kenapa?" Tanya Khafa tiba-tiba.


"Eh, ngga, gak apa-apa." Jawabku sambil tersenyum kaku menyembunyikan yang terjadi.


Sejak saat itu perasaanku kembali kacau. Ada rasa bersalah menyelinap pada sudut hatiku. Tentu saja itu adalah rasa bersalahku pada Andra.


Waktu bergerak begitu cepat. Dua jam telah berlalu. Sebelum waktu Ashar tiba, resepsi pernikahan kami harus sudah selesai. Itu memang permintaan Khafa. Alasannya simple. Ia tidak mau melewatkan waktu Ashar.


Hingga kini tiba saatnya aku berganti pakaian di kamar hotel. Khafa masih berada di kamar sebelah kamarku. Setelah aku selesai menanggalkan pakaian pengantin aku segera mandi dan menunaikan sholat ashar.


"Assalamualaikum." Pintu kamar yang sedikit terbuka menunjukan ada wajah mama Khafa di balik pintu. Eliana yang sedang bersamaku di kamar membukakan pintu lebar-lebar.


"Waalaikumussalam, silahkan masuk," jawab Eliana.


"Mama?" Aku berjalan menghampiri mama kemudian mencium punggung tangan Mama.


"Alhamdulillah, sudah sah nduk, kamu sah jadi anak mama juga. Jazakillah ya sayang." Mama mencium kedua pipiku penuh kasih sayang.


Mama sudah ku lihat kehadirannya saat resepsi tadi. Tapi aku belum banyak berbincang dengannya karena begitu banyaknya tamu yang datang. Sekarang mama di kamar ku berbincang dengan ibu dan adikku. Sambil sesekali ia melemparkan pujian dan senyuman untukku. Sungguh, aku begitu sayang padanya.


Setelah mama pamit keluar dari kamarku.


Aku berbaur dengan semua anggota keluarga Khafa lainnya.