Always Remember

Always Remember
Hidayah?



Jangan lupa like, love, vote and komen ya sebagai dukungan ❤️


.


.


.


.


.


Tok tok tok..


"Mbun!" Suara Fitri memanggilku. Aku membuka mata perlahan mengumpulkan sedikit kesadaran. Lalu, aku bangkit menyalakan lampu. Masih jam setengah lima pagi. Aku menekan engsel pintu dan membukanya. Fitri muncul di balik pintu dengan senyuman lebarnya. Gigi gingsulnya sampai-sampai terlihat jelas.


"Sholat subuh dulu yuk!" ajaknya.


"Iya, perut gue ko rada mules gini ya Fit?" Aku mengeluh sambil meremas bagian perut yang terasa mulas.


"Yaudah, Poop Sanah!"


"Bukan, mulesnya beda," sergahku. Aku kembali duduk pada tepi ranjang karena merasa tidak enak.


"Yaudah sana mandi, terus sholat dulu ya. Siapa tau ntar enakan selesai mandi."


Setelah selesai mandi dan sholat subuh aku minum teh hangat yang dibuatkan oleh Fitri. Benar sih, perutku enakan.


Lalu, aku berjalan-jalan sebentar dengan Fitri di sekitar rumahnya. Menyaksikan sejenak matahari terbit dari tepi pantai. Namun tak lama, Fitri mengajakku pulang karena belum menyiapkan sarapan untuk mas Wisnu.


"Lho, mas udah pulang? Ngga ada kajian ba'da shubuh toh hari ini?" Tanya Fitri ketika kami sampai di teras rumahnya. Sudah terlihat mas Wisnu disana sedang menyesap secangkir teh manis.


"Tugas ku hari ini di gantikan Khafa, biarlah sekali-kali dia," ungkap mas Wisnu.


Khafa? Ngisi kajian? Ngapain? Ceramah? Orang kaya gitu? Eh tapi, mungkin aja sih.. Kepalaku tiba tiba berisik dengan pertanyaan pertanyaan seputar Khafa.


"Yaudah, aku buat sarapan dulu ya," Fitri pamit ke dapur meninggalkanku dengan mas Wisnu di teras.


"Mbak Embun,"


"Jangan panggil mbak mas, panggil saya nama saja," selorohku.


"Gitu? Yo wis. Ngomong-ngomong kamu sudah kenal lama sama Khafa?"


Deg!


Pertanyaan mas Wisnu seketika membuat aku kikuk.


"Iii ya mas. Waktu saya masih SMP,"


"Lho, bukannya kamu teman SMP Fitri? Bearti kalian seumuran kan?"


"Iya,"


"Di Bogor kan?"


Aku mengangguk.


"Dulu Khafa memang enam tahun mondok di Bogor,"


"Bearti kamu mondok juga, atau gimana?"


Lalu, Mas Wisnu terlihat mengangkat lagi cangkir tehnya kemudian menyesapnya hingga tandas.


"Nggak mas, dulu rumahku dekat dengan tempat Khafa mondok. Terus aku juga suka main-main kesana. Banyak Kaka kelas Khafa yang juga jadi ustadzahnya saya," terangku.


"Terus, Khafa 'nakalin' kamu yo?"


"Nggak mas, Khafa nggak nakal ko. Aku yang suka nakalin dia malahan," jawabku sambil berkelakar.


Mas Wisnu tertawa mendengar jawabanku. Lalu, kami berbincang tentang pekerjaan yang akan segera kami realisasikan dalam waktu secepatnya. Juga, soal solusi pick up kemarin. Setelah sepakat, akhirnya aku rasa cukup. Aku sekalian pamit siang ini akan pulang kembali ke Bogor. Atau paling tidak, aku mau jalan jalan dulu sendiri. Mengobati secara maximal lara hati yang beberapa hari ini ku rasakan.


Ya, aku mau jalan-jalan, belanja, makan sepuasnya disini. Di kota yang tak pernah membuat aku merasa bosan.


Mas Wisnu mengiyakan, lalu kami bercerita lagi banyak hal. Namun sayang, mas Wisnu tidak banyak cerita tentang Khafa. Padahal aku, menunggu.


"Embun, kita sarapan dulu yu bareng-bareng," ajak Fitri yang berdiri di ambang pintu masuk rumahnya.


Sebenarnya aku tidak biasa sarapan pagi. Perutku takut tidak bisa di ajak kompromi seperti kemarin. Tapi karena menghargai Fitri dan mas Wisnu akhirnya aku mau.


Kemudian aku duduk bersama mereka di meja makan. Tapi, ada perasaan tidak enak pada pangkal pahaku. Seperti, basah.


"Fit, aku pamit ke kamar kecil dulu ya," izinku.


"Silahkan silahkan.." jawab Fitri.


Ternyata dugaanku benar. Aku datang bulan. Karena celana Chino yang aku pakai berwarna cream, jadi, terlihat jelas jika ada bercak darah menempel. Pantas saja sejak kemarin emosiku naik turun. Ternyata, banjir.


Aku diam terpaku di kamar mandi. Mulai berfikir keras, bajuku sudah tidak ada lagi. Bagaimana ini? Aku harus cari toko baju terdekat untuk membelinya. Tapi, tidak mungkin keluar dengan keadaan seperti ini.


Entahlah berapa lama aku mengurung diri di kamar mandi. Mau keluar juga aku malu. Tidak enak juga dengan mas Wisnu. Hingga akhirnya terdengar suara ketukan pintu.


"Embun Lo ngapain lama-lama di kamar mandi?" Suara Fitri di balik pintu. Aku membuka sedikit pintunya.


"Fit, gue tembus!"


"Astagfirullah, pantesan Lo tadi mules."


"Ho'oh," jawabku sambil mengangguk dan memberikan raut wajah memelas. "Gue ga ada baju lagi Fit, rencana kan siang ini gue pulang. Paling nggak ntar gue belanja dulu di Malioboro. Tapi malah gini," keluhku.


"Udah tenang, gue banyak kok baju. Tunggu sebentar ya,"


Fitri lantas menghilang memasuki kamarnya. Tak lama ia kembali.


"Kalo baju ini, baju gue, udah gue pake beberapa kali. Tapi kalo underwear-nya baru kok, gue selalu sedia yang baru. Dan ini pembalutnya."


Fitri memberikan semuanya padaku.


"Ya Allah fit maaf ya, gue ngerepotin Lo mulu deh?" Ucapku merasa tidak enak. Tapi aku lansung mengambilnya dan masuk kembali ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai, aku keluar dengan menggunakan gamis Fitri yang berwarna maroon, dengan kombinasi warna pink.


Ya ampun, nggak banget!


Aku tidak pernah suka baju dengan warna-warna feminim. Ah tapi, tidak ada pilihan lain. Baju ini terlihat menggantung di atas mata kakiku, karena aku lebih tinggi dari Fitri. Ah, aneh sekali pokoknya.


Fitri memandangku dari atas sampai bawah sambil mengulum senyum.


"Ngapa sih Lo? Aneh ya gue pake baju gini?"


Aku mengerutkan dahi tak percaya diri.


"Khafa pasti kaget deh liat Lo kayak gini,"


Halah! Kok Khafa sih?


"Lo ada sesuatu ya sama Khafa?" Fitri mendelik menatapku penuh selidik.


"Hah? Apaan sih? Nggak ada Fit, dulu sih iya. Sekarang nggak,"


"Nggak kenapa? Khafa masih lajang kok, Sholeh lagi. Atau, apa Lo udah punya calon lain?"


Calon?


Kalau aku bilang tidak, bagaimana kalau Fitri nanti bilang sama Khafa, sedangkan aku pernah dengan bangga memamerkan cincin tunanganku pada Khafa di inbox Facebook waktu itu. Kalau bilang punya, punya dari mana? Andra bakal kembali?


Andra lagi.


"Gak tau ah fit, udah jangan ngomongin itu! Makasih ya bajunya. Gue ngerepotin Mulu deh,"


"Gak 'pa 'pa, Sudah kewajiban kita sesama muslim saling membantu dalam hal kebaikan. Tapi maaf ya, gue ga ada baju model model kayak Lo, baju gue hampir semuanya gamis."


"Hemm? Yaudah deh, yang penting bersih. Nanti di Malioboro gue cari baju yang menurut gue nyaman. Dan baju Lo gue balikin ya,"


"Gak usah biarin, buat Lo aja," Fitri memandangku dari atas sampai bawah dengan senyuman yang tak henti-henti ia munculkan.


"Kenapa sih? Gue aneh ya? Kliatan gendut ya?"


"Nggak ko, tunggu bentar ya," Fitri kembali ke kamarnya meninggalkan ku yang kini berada di kamar.


Tidak lama kemudian ia kembali dengan sehelai jilbab segiempat berwarna senada dengan gamis yang ku pakai.


"Kayaknya lebih bagus Lo pake hijab deh sekalian, jadi gak aneh kliatannya," kata Fitri sambil melipat jilbab segiempat menjadi lipatan segitiga. "Sekalian tepatin janji Lo sama Fatur kemaren ya,"


"Hah? Malu ah!"


"Ih kok malu sih? Gak apa-apa, sini gue pakein!"


"Sini gue pake sendiri aja! gue bisa. Gini gini gue sering pake jilbab kok kalo lagi pengajian karang taruna di kampung gue!"