Always Remember

Always Remember
Riuh beradu



Mendung menggelayuti langit Jakarta ketika aku sampai di stasiun Sudirman. Duduk di kursi peron menunggu jadwal kereta terakhir tujuan Bogor. Jangan ditanya, stasiun masih ramai oleh lalu lalang penumpang yang rata-rata hendak pulang.


Satu dua rintik hujan mulai turun. Ku dekap ransel yang setia menemaniku sejak dari Jogja. Kini, ku gendong di depan. Tak lama, suara deru mesin kereta terdengar sejenak kemudian muncul. Aku lekas naik ketika pintu otomatis terbuka. Kemudian duduk di samping jendela. Suara gemuruh hujan mulai terdengar jelas ketika kereta masuk stasiun Manggarai. Alirannya jatuh pada jendela-jendela kereta.


Aku menghela nafas dan mengeluarkan handphone untuk mengusir rasa jemu.


[Embun, Lo besok cuti?] Pesan dari Putri. Pegawai baru yang merupakan adik Reina.


[Iya, berkas buat besok udah gue beresin. Lo ambil aja semua ada di atas meja gue.]


[Ok. Thanks ya Embun.]


Aku mengambil headset dan menghubungkannya pada handphone lalu ku pasang di kedua telingaku. Mendengarkan playlist MP3 yang waktu di kantor baru saja di isi oleh mas Rudy.


Satu lagu 'tak kan terganti' milik marcell menggema di kepalaku. Aku memijat pelipisku dan tertawa lirih. Perpaduan yang sangat cocok antara lagu itu dengan rinai hujan yang turun. Membuat hatiku ngilu dan merindu. Lega namun ada yang hampa. Wajahku menengadah ke langit-langit kereta. Tak perduli berapa orang yang sedang menatapku. Ku tepis tetes air mata yg perlahan turun dari ujung mataku.


Air mataku jatuh bukan karena merasa kisah ku dengan Khafa sudah berakhir ketika langkah kaki sampai di Jakarta, tapi karena lagu yang seolah mewakili perasaan ku.


Ahh apa bedanya?


Aku tersenyum getir. Kemudian menatap layar handphone membuka menu galery. Ku geser satu demi satu foto terbaru yang aku tangkap di hutan Pinus Pengger. Lagi lagi aku tersenyum, lebih getir dari sebelumnya. Ketika mendapati foto candid yang terdapat Khafa berdiri menatap pemandangan. Ku tatap lekat-lekat wajahnya. Dalam ekspresinya aku menerka bahwa banyak rahasia di dalamnya.


🌸🌸🌸


"Kak, bangun kak!" Suara lembut ibu membangunkanku. Mataku mengerjap-ngerjap sambil ku kucek sudutnya dengan kedua jariku


"Irgi tuh di depan." kata ibu sambil berjalan ke ruang tamu rumahku. Aku mengekor dari belakang.


"Mbun, nih!" Kata Irgi seraya memberikan amplop coklat kepadaku.


"Apa'an nih?" Tanyaku seraya mengambilnya.


"Dih Pura-pura. Itu uang Andra. Balikin gih!"


"Alhamdulillah. Oke Gi. Makasih ya."


"Ok!" Irgi kembali ke tempat ia bekerja. Sedangkan aku lekas mengambil handuk dan pergi mandi.


Sepulangnya aku dari Jogja, aku menerima semua laporan keuangan dari Irgi. Penjualan yang terus meningkat membuat keuntungan juga semakin bertambah. Itu tidak lepas dari kerja keras Irgi dan teman-teman. Ibu juga tentunya. Aku senang mendengar nya, meskipun selama usaha berlangsung aku belum pernah menikmati hasilnya. Tidak apa-apa. Yang penting uang Andra bisa aku ganti terlebih dahulu. Kalau sudah selesai, aku mau semuanya hanya untuk ibu. Kebahagiannya.


Andra sudah dua hari ia tak mengabari. Biasanya selalu saja mengirimkan pesan-pesan gombal yang terkadang membuatku senyum senyum sendiri. Dia itu romantis, walaupun terkadang arti keromantisannya berbeda dengan yang ku inginkan.


Aku ingat-ingat lagi kapan terakhir aku komunikasi dengannya. Ah iya, video call saat di Jogja. Jangan-jangan orang itu benar sakit. Aku bergegas mencari handphone ku di kamar dan menghubunginya.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Terdengar suara operator.


Kemudian aku ulangi sampai 3 kali namun masih sama.


Setelah lengkap dengan jeans dan t-shirt putih favoritku aku berjalan mengambil kunci motor kemudian pamit pada ibu. Ku putuskan untuk pergi ke rumah Andra. Sekalian membawa uangnya untuk di kembalikan. Hanya sekitar lima belas menit aku sampai di depan rumah tingkat bergaya minimalis milik Andra. Andra baru sekitar empat bulan menempati rumah barunya. Karena ukuran rumah orang tuanya dulu terlalu besar untuknya.


Aku melihat dua mobil terparkir di halaman rumah Andra. Satu Fortuner hitam milik Andra dan satu adalah Honda jazz merah. Mobil itu, seperti mobil perempuan yang disapa Andra waktu itu. Aku tak peduli. Ku tekan bel di atas tembok pagar rumah Andra. Tak menunggu lama Bi Eeng asisten rumah tangga Andra keluar.


"Assalamualaikum Bi.." sapaku.


"Waalaikumsalam. Neng Embun. Apa kabar neng? Meuni baru kesini lagi.."


Aku tersenyum simpul. "Iya bi, saya sibuk. Andra ada bi?"


"Meuni sok sibuk kitu ih. Ada. Lagi kurang sehat. Lagi ada tamu juga tuh." Katanya sambil membukakan pintu pagar.


"Perempuan ya bi?"


"Iya. Katanya Temen si Aa waktu kuliah." Jawab bi Eeng yang menyebut Andra dengan panggilan Aa.


"Kalo Andrea ada?"


"Gak ada. Neng Andrea mah pulang kemaren ke Lembang."


"Udah lama perempuan itu datang bi?"


Bi Eeng mengangguk. "Dari semalam kayaknya." Ia menyimpan telunjuknya di bibir. "Sssstt.."


Dari semalam? Ngapain aja mereka di dalam berdua semalaman.


"Kenapa bi?"


"Andra nya juga yah bi?" Kataku lemah.


"Dulu sih mereka lumayan akrab. Ga tau atuh pacaran apa ngga nya mah. Bibi mah ga ngerti."


"Gitu yah bi," kataku sedikit cemberut.


"Ih ya udah atuh mau sampe kapan ngobrol disini. Hayuk masuk!"


"Ah gak usah deh bi. Saya takut ganggu mereka."


"Eh jangan gitu. Nanti bibi yang di marahin si Aa kalo neng ga jadi masuk."


Aku berpikir sejenak.


"Udah hayuk!" ajak Bi Eeng.


Sesaat kemudian aku melihat Andra menggunakan kaos oblong dengan celana boxer pendeknya. Perempuan itupun keluar beriringan dengannya. Benar kata Bi Eeng mereka terlihat sangat akrab. Tangannya saling mengait. Tepatnya, tangan perempuan itu yang sengaja mengaitkan ke lengan Andra. Menyadari keberadaanku Andra segera melepaskan tangannya dari perempuan itu.


"Udah bi, saya pulang aja ya." Aku segera menstater motor.


"Embun!" Suara Andra memanggilku.


"Tuh kan neng. Hayuk ih!" Ajak Bi Eeng. Aku tersenyum kikuk.


Andra berlari kecil menghampiriku. "Mau kemana?"


"Pulang."


"Koq pulang?"


"Takut ganggu kamu," ucapku pelan.


"Ciye cemburu sama aku," ejeknya.


"Ihh. Ngga." Aku mencebik.


Andra mematikan mesin motorku dan mengambil kuncinya. Kemudian mengajakku menghampiri temannya.


Yakin cuma temannya?


"Kay, kenalin ini Embun."


"Embun?" Tanya Kayla sambil tersenyum. Aku mengulurkan tangan. Kemudian di sambut oleh Kayla. Kami bersalaman.


"Aku Kayla." Ia melepaskan tangannya. "Yaudah aku pulang dulu ya. Cepet sembuh ya dear," sambungnya sambil memukul lembut bahu Andra. Kemudian ia pergi meninggalkan kami.


Andra membalikkan badan seraya menarik tanganku untuk mengikuti ia masuk ke dalam rumahnya. "Jadi dia yang buat kamu gak bisa di hubungi?" tanyaku datar.


"Menurut mu?" Andra duduk di sofa.


"Iya."


"Perempuan emang paling pintar menduga-duga," katanya sambil menyesap kopi hitam yang sudah ada di meja.


"Tuh kan bener. Kamu masih sakit?" Tanpa di persilahkan, aku duduk disampingnya dengan jarak sekitar setengah meter. Diam-diam aku menyembunyikan rasa sejenis cemburu.


Huh!


"Tadi iya. Sekarang ngga." Ia menatapku dengan senyuman manis terukir di bibirnya.


"Hmm.. pasti karena abis di jenguk cewek cantik ya."


"Itu tau."


"Yaudah, aku kesini cuma mau balikin uang kamu." Aku merogoh amplop coklat pada Sling bag. "Nih! Terima kasih!" Ku simpan amplop itu di sofa tanpa meliriknya lagi. Kemudian aku beranjak meninggalkannya. Namun dengan cepat Andra meraih pergelangan tanganku kemudian menarikku. Entahlah aku yang lemah atau Andra yang menarikku dengan kuat hingga aku jatuh menimpa tubuhnya. Jantungku berdebar mendapati hidungku nyaris bersentuhan dengan hidungnya. Sejenak kita saling tatap. Tangan kiri ku masih dalam genggaman tangan kanan di dada Andra. Sedangkan tangan kananku tak sempat membuat pertahanan hingga seluruh tubuhku menempel dengan tubuh Andra.


Tak kalah kaget, aku bisa merasakan nafas Andra menderu menyentuh bibirku. Degup jantungnya nyaris terdengar riuh beradu dengan jantungku. Padahal ini kelakuan dia sendiri. Hanya sepersekian detik.....


Cup!


Bibirnya menyentuh bibirku. Aroma asap rokok pada nafasnya terhidu olehku. Aku memebelalak dan benar-benar beranjak memperbaiki posisi. Aku berdiri, Andra pun memperbaiki duduknya.


"Kamuuuu!!!" Aku berlari keluar.