
"Embun. Siang ini Khafa mau kesini." Vita tergopoh-gopoh menghampiriku pagi ini.
"Hah?!" aku membulatkan mata.
Khafa? Kesini? Ngapain? gumamku.
"Iya beneran. Semalem dia ke rumah. Rumah gue. Bukan rumah Pandu," lanjut Vita sambil mengatur nafasnya.
"Ya udah ga apa apa. Ntar gue temuin. Tapi temenin ya," jawabku.
Vita duduk di belakangku. Kemudian pindah jadi satu meja denganku. "Ra, gue duduk Ama Embun dulu ya." Dhira mengiyakan dan bertukar tempat duduk dengan Vita.
"Khafa tuh sebenernya siapanya elo sih Embun? Klo Lo ga cerita ga bakal gue temenin Lo ketemuan Ama dia!"
"Wah.. ngancem nih?"
"Ayolah Embun cerita.."
"Gue bingung mulai cerita darimana."
"Dari Sabang ke Merauke aja."
"Hahaaa.. "
"Buruan Embun.."
"Mau tau banget ya?"
"Embuuuuunn....!!!"
"Iya iyaa.." aku menutup mulutnya yang semakin keras memanggilku. "Gue Ama dia Deket aja. Ga pacaran. Deket juga gitu. Tukeran buku aja. Ga lebih."
"Hahahaha..." Vita tertawa keras. "Mana liat bukunya." pintanya.
"Di rumah."
"Beneran gitu doang?"
"Apanya?"
"Pacarannya."
"Ngga pacaran Vit."
"Terus apa?"
"Ngga tau."
"Ga jelas."
"Emang."
"Siapa?"
"Dia."
"Khafa?"
"Hmmm."
"Oh jadi Lo di PHP in doang?" Vita tersenyum penuh arti.
"Ngga."
"Terus apa?"
"Ngga tau."
"Fix. Ga jelas Lo!"
"Iya emang." Jawabku pelan.
Guru pelajaran terkahir hari ini telah meninggalkan kelas. Jam menunjukan jam dua belas siang. Aku memberanikan diriku melihat ke jendela kelasku. Kelasku ada di lantai tiga. Tidak perlu sulit melihat keluar gerbang sekolah. Semua bisa terlihat dari sini. Dari jendela kelas. Benar saja. Aku melihat tepat di depan ruko fotocopy sebrang gerbang sekolahku ada dua orang lelaki berseragam SMA. Satunya aku tak kenal. Namun yang satu jelas sekali aku kenali.
Lagi. Hatiku berdebar-debar. Sudah h
setahun lebih tak melihatnya. Sekarang dia ada di depan gerbang sekolahku. Selalu saja memberikanku kejutan. Tapi kali ini aku tidak suka. Entah lah.. sudah tak sebahagia dulu melihatnya.
Mau tidak mau. Kelasku bubar.
"Vit, buruan balik!" Ajak ku. Vita malah sibuk membuka tas. Mengeluarkan bedak. Sisir. Aku mendengus. Vita menyemprotkan parfum ke bajuku. "Apa apaan sih Lo?"
"Biar wangi. Bebep udah nunggu kan di depan."
"Apaan sih Lo?" Aku berjalan meninggalkan Vita.
Ku lihat Vita buru-buru merapikan tasnya dan mengejar ku.
"Embun. Ko Lo kaya gini sih? Kasian itu Khafa udah jauh-jauh mau ketemu Lo. Senyum keq. Girang keq dikit."
"Lo ga tau apa-apa vit."
Aku terus berjalan menuruni anak tangga.
"Gue tau. Khafa ninggalin Lo kan waktu itu. Ga ngabarin Lo kan waktu dia ikut pertukaran pelajar ke Amerika. Lo masih ngambek gara-gara itu? Hah? Lo egois embun!"
Aku tak menghiraukan Vita. Terus bejalan tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
Di gerbang sekolah aku termangu. Melihat orang diseberang sana sudah menyadari keberadaan ku dan tersenyum. Tangan kiriku di tarik Vita. Menggiring ku menyebrangi jalan.
Sekolah sudah tampak sepi. Kelasku terakhir bubar. Hanya tinggal satu dua orang yang keluar gerbang kemudian menyetop kendaraan umum didepannya.
Khafa sudah dekat denganku. Menggunakan celana abu seragam sekolah dengan atasan Hoodie berwarna biru tua. Rambut tebalnya sudah tertata rapi seperti biasa. Ahh.. menyesal sekali tidak sempat melihatnya botak. Dalam hati aku tersenyum. Kalau aku sempat lihat ilfeel ga ya aku saat itu.
Jarak kami Hanya kira-kira satu meter. Jelas sekali ia menyapa ku dengan senyuman. Tatapannya yang khas menyeretku kembali pada perasaan itu.
Aku tak pernah menyangka raga yang selalu aku rindukan itu kini ada di hadapanku. Tapi aku kelu. Tak mampu merangkai aksara demi aksara yang selalu aku tuliskan saat ia tak ada.
"Ekhem.. !" Dehaman Vita menyadarkanku. Juga Khafa. "Gue balik duluan ya.. mules. Ga tahan." Belum sempat aku mengiyakan Vita sudah menyetop angkutan umum dan menaikinya.
"Ihh si Vita malah balik duluan. " Aku mendengus pelan.
"Gak apa. Nanti kamu aku anter balik."
"Gak usah. Nanti kamu ga bisa balik ke pondok karena nyasar."
Khafa tersenyum. "Ga mungkin lah."
"Kamu mau kemana? Ko tiba-tiba ada di sini?"
"Cari kamu."
"Buat apa cari aku?"
"Mau liat aja kamu pake seragam putih abu."
"Udah lama kali."
"Iya. Maaf. Aku baru ada waktu."
Baru ada waktu katanya? Khafa.. bahkan sampai saat ini aku bukan orang penting untukmu.
"Gitu? Yaudah lah. Aku gak apa-apa koq." Terpaksa aku membuang pandanganku. Padahal kehendak hati malah sebaliknya.
"Jangan ngambek. Aku suka."
"Aneh. Orang ngambek malah suka."
"Iya ngga. Yaudah jangan ngambek."
Sayup-sayup ku dengar suara adzan juhur dari masjid sekolah ku.
"Ikut aku ke masjid agung ya. Kita juhur dulu disana. Abis itu aku antar kamu pulang."
Aku terdiam. Tidak menolak atau mengiyakan.
Ia bergegas mencari angkutan umum arah masjid yang ia maksud. Dari mana dia tau Masjid agung di kota tempat tinggalku ini. Padahal aku yang pribumi saja belum pernah sholat disana. Lewat lewat saja seringnya.
Khafa mempersilahkan aku naik angkutan duluan ia mengekor dibelakang ku. Sedangkan temannya duduk di kursi depan di samping supir. Di dalam mobil tak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami. Padahal mobil yang kita tumpangi hanya ada kita berdua. Tak ada penumpang lain. Kita duduk bersebelahan dengan jarak setengah meter. Namun lagi, kita sibuk dengan fikiran kita masing-masing. Juga sebenarnya aku canggung.
Angkutan umum berhenti. Tepat di pintu gerbang masjid.
Benar. Khafa seolah sudah terbiasa datang ke masjid ini. Ia tak bingung lagi mencari tempat wudhu Ikhwan. Malah ia yang menunjukan ku tempat akhwat. Karena Ku tau ia menerka aura kebingungan pada wajahku.
"Kamu udah biasa kesini?" Tanyaku
"Engga juga. Kenapa?"
"Yaudah. Nanti selesai sholat juhur. Kalo kamu selesai duluan tunggu disana ya." Ia menunjuk kursi beton di sudut halaman masjid "jangan kemana-mana."
Aku mengangguk. Ia tersenyum.
Khafa kemudian berlalu menyusul sahabatnya yang sudah terlebih dahulu masuk ke masjid. Kemudian aku mengekornya ke lantai atas masjid. Khusus perempuan.
Selesai sholat aku tak segera turun untuk menemui Khafa. Aku mendekati jendela kaca besar tepat di sampingku. Menarik. Dari sini terlihat jelas tempat yang tadi di janjikan oleh Khafa. Ku pandangi kursi itu dari sini. Tak lama. Aku melihat Khafa menghampiri kursi tersebut. Matanya beredar mencari ku. Sungguh pemandangan indah untukku. Ku biarkan Khafa menungguku. Aku suka melihatnya dari kejauhan. Karena di dekatnya aku tak bisa berlama-lama menatap wajahnya.
Kira-kira waktuku sisa berapa jam lagi ya untuk bisa bersamanya? Atau hanya tinggal hitungan menit? Sudahlah ku fikir aku tak mau membuang waktuku. Tiba tiba sudut hatiku terasa nyeri. Membayangkan ini pertemuan terakhir ku.
Aku turun menemui Khafa. Dan menghampiri nya.
"Maaf."
"Maaf kenapa?"
"Gak apa-apa."
"Kamu kira aku takut kamu kabur ya?"
"Siapa yang mau kabur?"
"Pulang maksudnya."
"Enggak lah."
"Kamu laper?"
"Tadi iya."
"Sekarang enggak?"
Aku mengangguk.
"Kenapa?"
Kenyang liat kamu. Batinku
"Embun. Koq bengong gitu?"
"Ehh enngg... Iyaaa kenapa?"
"Tunggu sini." Khafa berjalan menghampiri temannya yg membawa dua kotak kebab dan dua botol air mineral. Ia mengambilnya dan memberikan satu padaku. Temannya kembali ke gerobak kebab di sebrang masjid.
"Ini makan siang dulu. Kamu abis belajar pasti laper."
Aku mengambilnya.
"Makasih."
"Jangan lupa doa."
"Iya."
"Abisin."
"Hmmm." Satu gigit kebab sudah masuk ke mulutku. "Ko kamu ga makan?"
"Ini mau." Ia mengulum senyum sambil memperhatikan aku makan.
"Abisin ya. Makan ga boleh sambil ngomong."
"Hemmn.."
Beberapa menit kemudian kebab yang ada di tangan Khafa habis.
"Kamu laper?"
"Iya." Jawabnya setelah makan. Khafa tidak pernah berubah. Kalau bicara tanpa basa basi.
"Embun. Maafin aku ya." Khafa memulai pembicaraan. Padahal kebab di tanganku masih setengah.
Aku berhenti mengunyah kebab yang ada di mulutku. Perasaan ku mulai tak karuan. Ada segelintir resah yang mulai mengalir. Rasanya aku enggan menelan makanan. Pasti ada sesuatu yang tidak mengenakan setelah ini.
"Kamu nyari aku cuma mau minta maaf?"
"Dengerin aku dulu."
Ku simpan sisa kebab yang sedang aku makan. Kemudian aku minum.
Aku menatapnya serius.
"Maaf aku pergi kemaren ga bilang kamu. Karena sebelumnya aku juga belum yakin mau pergi. English ku kacau. Saat itu yang harusnya pergi itu Fira. Tapi saat waktunya tiba. Fira jatuh sakit. Jadi aku menggantikannya. "
Fira. Iya Fira aku sempat dengar soal Fira dari Listy.
"Qadarullah akhirnya aku berangkat juga. Dengan bekal English yang kacau itu. Tapi Alhamdulillah aku bisa melewati nya. Disana aku banyak belajar," lanjutnya.
"Tapi ustadz Joko memang udah milih kamu untuk pergi Kha jauh-jauh hari, kamu tau itu kan? Ayah juga tau itu. Kenapa sih kamu ga bilang sama aku?"
"Embun.." ia menatapku dalam.
"Aku gak mau membuat mu sedih karena apa yang belum benar-benar terjadi sama aku."
"Jadi kamu nunggu itu benar-benar terjadi?"
"Kamu gimana? Apa kabar?" ia mengalihkan pembicaraan.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik." Ketus ku
Saat itu aku memakai seragam SMA tanpa hijab menutupi rambutku.
"Alhamdulillah."
"Dan aku udah tau semuanya kha.." lanjutku. Ragu.
"Soal apa?" Ia heran.
"Soal kamu. Di botakin."
"Oh itu. Aku sengaja. Bosan aku waktu itu sama model rambut. Jadi minta botakin aja." Katanya. Bohong.
"Bohong dosa."
"Aku tau."
"Terus kenapa kamu masih lakuin?"
Hening.
Arman berjalan menghampiri kami. "Yuk! Kita jalan. Udah hampir jam 2." Ajaknya. Katanya izin mereka keluar hanya sampai sebelum waktu ashar tiba. Mereka berdua izin ke Gramedia untuk membeli buku. Jam segini mereka masih disini. Belum macet fikirku.
"Aku pulang aja." Kataku.
"Aku antar." Khafa terlihat tidak main-main.
"Ga usah. Jauh. Kamu ga bakal keburu kalo nganter aku dulu."
"Gak apa-apa."
"Kha.. kamu mau di hukum lagi?" Lirihku.
"Aku ga peduli."
"Aku mohon. Sekarang kamu denger kata aku. Gausah anter aku."
"Tapi, gimana aku tahu alamat baru kamu Embun?" Dahinya berkerut. Tanda bahwa ia serius. "Sebentar lagi aku lulus. Aku udah ngga di Bogor. Aku ngga tau lagi kapan bisa ketemu kamu."
Aku tak menjawab. Tidak bisa. Tak juga membalas tatapannya. Mataku memanas. Ku tahan sekuat tenaga agar tak jatuh bulirnya.
"Embun." Nyaris tak terdengar.
"Maafkan aku kha.. ini semua buat kebaikanmu. Aku ga bisa buat kamu berkorban buat aku lebih dari apa yang kamu udah lakukan ke aku kemarin."
"Tapi Embun.. aku mohon. Kasih aku alamat kamu." Aku mengangguk.
Aku bergegas mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin. Ku tulis alamatku. Saat itu hanya alamat yang bisa aku tuliskan. Itupun aku lupa benar atau salah RT RW nya. Aku belum hapal. Kemudian ku cantumkan nomer telpon ayah waktu itu. Ku berikan padanya.
"Aku pulang kha.. terimakasih atas semua."
Tanpa fikir panjang, aku pulang saat itu juga. Meninggalkannya dengan Arman di masjid agung.
Maaf Khafa maaf. Aku tak sanggup jika lagi lagi harus melihatmu pergi lagi.
Ku seka air mata yang tak sanggup lagi aku hadang.