
Jangan lupa like, love, vote and komen ya sebagai dukungan ❤️
.
🌸🌸🌸
Fitri (POV)
Sudah sepuluh menit yang lalu aku tiba di rumah. Selesai berbenah diri, Aku dan mas Wisnu duduk-duduk di teras sambil melihat beberapa kali ke depan jalan. Kami menunggu kepulangan Khafa yang pergi menuju pondok pesantren Al Furqon bersama Embun.
Akhirnya, Khafa muncul di pelataran rumah ketika jam dinding menunjukkan hampir jam sembilan malam.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka sampai," syukur mas Wisnu. Kami begitu khawatir pada mereka berdua. Tepatnya pada Embun saja sih sebenarnya. Karena sepupunya itu, sudah biasa pergi-pergi jauh.
Aku segera pergi ke dapur untuk mengambilkan teh hangat untuk mereka. Namun ketika aku kembali ke teras, mereka belum juga turun dari mobil. Aku penasaran dan menghampiri mereka pada akhirnya.
"Hei, kenapa gak turun?" Tanyaku pada Khafa.
"Sstt.." Khafa menyimpan telunjuk kanan dibibirnya. "Embun tidur mbak, kalo aku turun nanti dia bangun," bisiknya.
Aku menyelidik kursi di sebelahnya. Embun memang sedang terlelap berselimut sweater hitam milik Khafa.
"Astagfirullah, bangunin aja suruh dia tidur di kamar! Disini dingin!"
"Sssttt.. jangan keras keras mbak, nanti dia bangun beneran. Kasian,"
Aku menggelengkan kepala melihat polah Khafa. "Kamu cinta yo Kha, sama dia?" Tanyaku penuh selidik. Ini pertama kalinya Khafa bertingkah aneh.
"Apaan sih mbak, tuh mas Wisnu nyariin!"
"Jangan ngalihin pembicaraan, ngaku aja!"
"Nanti aja ngakunya," ia sedikit mengerutkan keningnya tanda mulai risih dengan keberadaan ku.
Aku berdecak. "Nyalain lampunya. Biar kita bisa liat dari jauh. Awas macam-macam yo!" Ancamku, kemudian meninggalkan mereka berdua dan kembali ke teras rumah.
Satu jam kemudian Khafa turun dari mobilnya tanpa membangunkan Embun yang sedang terlelap.
"Mbak, aku numpang ke kamar mandi," izinnya sambil nyelonong masuk ke dalam rumah.
Aku yang sedang membaca buku mengangguk kemudian saling melemparkan senyuman dengan mas Wisnu.
"Gak tahan juga dia mas." Kami berdua tertawa pelan bersama.
.
.
.
.
🌸🌸🌸
.
.
Aku tidak tahu apapun tentangmu... Dan aku tidak menyadari bahwa aku selama ini sedang berlaku seolah tak peduli..
.
.
.
.
.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengumpulkan kembali kesadaranku. Rasanya aku seperti telah tidur begitu lama.
Astagfirullah!
Aku terperanjat saat menyadari diriku masih di dalam mobil dan Khafa tidak ada disampingku. Saking kagetnya, aku menjatuhkan dengan kasar sweater hitam yang menyelimutiku. Aku bergerak mencari sosoknya ke jok belakang, keluar jendela. Tetap tidak ada. Aku meraih Sling bag yang ku simpan di dashboard. Hendak mencoba menghubungi Khafa, entah lah hanya dia yang ada dalam fikiran ku saat ini.
Ku temukan satu kontak dalam phonebook handphone ku. Seingatku nomer ini tidak pernah aktif lagi. Tapi aku mencobanya, karena tidak ada kontak lain yang ku punya selain kontaknya yang itu.
Tut.
Tut.
Nada tersambung. Aktif!
Namun seiring nada sambung berbunyi, suara dering dan getar handphone juga terdengar dari jok belakang. Aku mencari sumber suara itu dengan tidak melepaskan handphone di telingaku.
Benar saja, aku menemukan benda menyala di jok kanan belakang. Ku raih dan ku tatap layarnya.
Bakphia calling....
Aku menatap heran layar handphone tersebut. Lalu, ku matikan sambungan teleponku pada Khafa.
Dering handphone itu ikut mati. Dan memberikan satu notifikasi.
Aku masih tidak mengerti. Ku ulangi sambungan teleponnya.
Tut
Tut.
Handphone yang ku pegang berdering lagi. Dan...
Bakphia calling...
Jadi ini handphone Khafa?
Astagfirullah, nama kontakku di kasih nama 'bakphia' di handphonenya?
Apa tidak ada nama yang lebih bagus?
Aku mematikan sambungan teleponku kemudian memasukan kembali handphone ke dalam slingbag. Sedangkan handphonenya ku buang sembarangan pada jok kemudi tempat ia duduk sebelumnya. Baru saja merasakan kembalinya kekagumanku padanya, Sekarang sudah sebal lagi di buatnya.
Aku menoleh ke kanan jendela mobil, dan baru menyadari sesuatu. Itu kan?
Rumah Fitri.
Ya Allah, karena malam, suasana jadi tidak aku kenali atau memang kesadaranku yang memang belum kumpul seluruhnya. Jadi, aku begitu bingung dengan apa yang aku lihat.
Setelah menyadari semuanya akhirnya aku membuka pintu mobilnya dengan kasar.
Bukkkk!
"Astagfirullah!"
Bunyi suara pintu terdengar menabrak tubuh Khafa lumayan keras. Hingga akupun ikut terkesiap mendengarnya. Namun tanpa rasa bersalah, aku turun dari mobil.
Siapa suruh diam di depan pintu!
Khafa terlihat sedang sibuk mengusap bagian tubuhnya, terutama bagian kepala karena terkena ujung pintu mobil. Sukurin! Anggap saja ini pembalasan pertama atas jatuhku tadi siang. Tunggu pembalasanku selanjutnya!
"Masya Allah, sakit lho ini. Gak ada niat buat minta maaf apa?"
Brukk! Suara pintu kembali ia tutup.
Aku menghentikan langkahku. Memutar posisi badan ke hadapan Khafa.
"Maap. Gak sengaja!"
Aku memberikan raut wajah seketus mungkin padanya. Lalu, kembali membalikkan tubuh memunggungi Khafa. Barjalan menghampiri Fitri dan mas Wisnu di teras rumahnya. Ku tinggalkan Khafa yang masih meringis kesakitan.
"Assalamualaikum! Fit, mas Wisnu," sapaku pada mereka.
"Maaf ya, tadi kita tinggal. Ada keperluan mendadak." Ujar mas Wisnu.
Aku menarik salah satu sudut bibirku. "Gak aneh mas, mas Wisnu emang selalu dadakan kayak gtu," candaku. Namun aku sebenarnya serius. Hanya, aku merasa tidak enak saja marah pada mereka yang sudah baik padaku.
Aku duduk di samping Fitri sambil memangku Sling bag milikku.
"Iya beneran. Maaf ya. Kan yang punya kerjaan juga sudah ada. Jadi ya biar dia aja,"
"Maksud mas Wisnu?"
"Lho emang kamu belum tau? Kalau kerjaan ini memang kerjaan Khafa? Cuma dia aja yang loncat sana sini. Jadi pekerjaan yang di Jogja aku yang kerjain," tutur mas Wisnu sambil sesekali melempar tatapannya pada Khafa yang sedang sibuk dengan mobilnya.
Aku mengangguk pelan seakan sudah paham betul soal ini. Padahal, aku masih menerka-nerka.
"Terus mas, gimana caranya mas Wisnu bisa pake cargo Almas Putra?"
"Oh itu, memang orang Jakarta yang kasih rekomendasi sama Khafa. Bukannya cargo kamu memang bagus ya? Iklannya dimana-mana."
Sebenarnya memang betul kata mas Wisnu. Diam-diam aku merasakan rasa bersalah karena sudah nuduh yang tidak-tidak sama Khafa. Eh tapi siapa suruh irit banget ngomong. Wajarlah aku terus berprasangka sendiri.
"Iya sih mas. Tapi aku kadang gak bisa Nerima aja sama banyak kebetulan ini, jadi aku nyangka yang nggak-nggak deh sama dia,"
"Jangan pernah berprasangka buruk sama takdir Allah Embun." Kali ini, Fitri ikut mengeluarkan suara.
"Sebenernya Khafa pernah nolak megang kerjaan disini. Dia tau ada kamu di Almas Putra. Tapi karena kita ga bisa nolak rekomendasi cargo dari Jakarta, ya sudah akhirnya kami terima. Kan ini proyek amal. Jadi mereka yang tentukan semuanya. Kita hanya menerima dan membayar biaya pengirimannya sendiri. Di banding cargo lain, Almas Putra harganya memang paling bagus. Yah jadi, kenapa harus cari yang lain?"
Dari sekian banyak penuturan mas Wisnu, cuma satu yang menarik perhatianku. Kenapa Khafa waktu itu sempat menolak karena ada aku? Bukannya dia harusnya senang? Dia gak mau ketemu aku lagi?
Aku menghela napas sejenak dengan spekulasi yang aku buat sendiri. Tidak, aku tidak boleh cepat menarik kesimpulan sendiri sekarang.
Aduh Kha, kamu terlalu banyak kenapa-nya tau gak buat aku!
"Ya sudah, sudah malem ini. Kita istirahat dulu yuk!" tutup mas Wisnu.
"Kok Lo pucet sih Mbun?" Tanya Fitri sambil memperhatikan wajahku. Kami beranjak dari teras.
"Hah? Masa sih?" Aku memegang pipiku dengan tangan kanan.
Jelas saja pucat. Abis off road jiwa dan raga. Dan ini semua, pertama kalinya dalam hidupku.
"Mas! Aku balik dulu ya," teriak Khafa dari depan mobilnya. Lalu mas Wisnu menghampirinya.
Tanpa memperdulikan mereka aku masuk ke dalam rumah dengan Fitri.