
flashback
πΈπΈπΈ
Aku memijat pelan pangkal leher seraya berdiri hendak melangkahkan kaki. Melirik sekilas jam tangan. Dua jam lagi fajar menyingsing.
"Berat ya kepala aku?" Tanya Andra tenang.
Aku mendengus. "Beliin aku salonpas!" Ketusku. Lalu berlalu meninggalkan Andra.
Aku masuk ke kamar untuk beristirahat. Karena semalaman aku sama sekali belum tidur. Pundak ku terasa sangat sakit karena menjadi tumpuan kepala Andra berjam-jam.
Mataku sudah berat sekali. Mungkin sedetik saja kepala ini bersandar pada empuknya bantal pasti aku langsung terlelap. Ku rebahkan diri di spring bed empuk berukuran double.
Perlahan aku membuka mata. Sinar mentari menerobos jendela tepat menyinari wajahku. Membuat aku reflex menutup mata dengan tangan kananku.
"Tutup!" Teriakku setelah samar aku melihat sosok Andra berdiri di depan jendela. Ia bertelanjang dada dengan celana boxer hitamnya. Ia tersenyum kepadaku.
Kepalaku terasa berat dan sulit sekali aku angkat. Udara yang masih dingin membuatku menarik lagi selimut yang menutupi seluruh tubuhku.
"Udah siang." Suara Andra kembali terdengar. Tapi sosoknya tidak aku temukan.
Tanganku meraba sekitar mencari guling yang sekiranya bisa aku peluk. Ku buka mata perlahan.
Aku menutup mulutku tak percaya. Saat menyadari diriku hanya berbalut selimut. Tanpa sehelai baju pun melekat di tubuhku.
Tak mungkin. Rasanya aku tak melakukan apapun. Aku tak bisa mengingatnya sama sekali. Tapi, siapa yang melepaskan semua pakaianku? Andra? Apa iya aku tidak menyadarinya?
Tapi tidak ada orang di villa ini selain Andra. jadi Andra?
Sontak air mataku jatuh berderai. Tubuhku terguncang dengan isakkan yang tak henti-henti. Bukan, bukan ini yang ku mau. Aku menggeleng sendiri. Tidak percaya bahwa Andra telah menodai kesucian ku.
Di tengah tangisanku aku mendengar suara seorang perempuan.
"Andra, kamu bermalam disini sama Embun? Kenapa nggak di ajak langsung ke rumah sih?"
Tak ada jawaban.
"Mama gak mau tau ya, urus cepat pernikahanmu. Jangan sampai mencoreng nama baik keluarga."
Mama?
"Aku gak ngelakuin apa-apa ma sama Embun."
"Kalian itu udah sama-sama dewasa, berpacaran, bermalam dalam satu atap berduaan. Mana mama tau kamu melakukan apa sama Embun. Sekarang mana Embun? Mama mau ketemu."
"Masih tidur mah jangan di ganggu. Kasian dia gak tidur semalaman ngurusin Andra."
"Tuh kan! Semua orang yang tau pasti berfikiran sama dengan mama. Segera lamar dia. Bulan depan kamu langsung nikah. Mama ga mau tau. Dan gak mau sampe denger kabar yang gak enak dari kalian berdua."
"Iya aku paham. Siang ini aku memang mau rencana minta restu koq sama Mama, Papa dan Nenek."
"Ya nggak lah mah. Aku nggak-----" suara Andra terpotong suara perempuan itu.
"Siapa yang tau. Kamu itu sudah dewasa."
Walaupun akhirnya aku menerima bahwa jodohku adalah Andra. Tapi tidak begini caranya. Tidak di hargai karena telah memberikan semuanya sebelum hari pernikahan tiba.
Berat terasa di pundak dan bahuku. Aku mencoba bangkit dan mencari pakaian yang mungkin berserakan. Namun tubuhku seperti ada sosok berat yang menindih. Ku rapalkan zikir sebisaku sambil menghentakkan seluruh tubuhku namun rasanya sulit sekali. Berkali-kali ku coba masih tidak bisa.
Sampai akhirnya aku berteriak dan terbangun dengan napas tersengal.
"Astagfirullah.... " Aku bergumam.
Aku memeriksa seluruh tubuhku. Menepuk-nepuk pipiku. Benarkah ini cuma mimpi?
Aku menyibak selimut yang menutupi diri. Tapi ternyata semua pakaianku masih lengkap seperti sebelum aku pergi tidur. Aku perlahan berjalan untuk memastikan keadaan. Di ambang pintu kamar aku melihat Andra duduk menggunakan polo shirt abu dengan blue jeans. Kontras dengan yang barusan aku lihat. Jadi, aku benar-benar mimpi?
Tapi suara perbincangan antara perempuan yang menyebut dirinya Mama dan suara Andra yang aku dengar, benar-benar jelas dan seakan-akan nyata.
Aku mengusap wajahku, tidak ada air mata. Lalu ku ulangi lagi mengusap dengan kedua tanganku untuk memulihkan seluruh kesadaranku. Kemudian ke dapur untuk mengambil minum.
Alhamdulillah sepertinya benar. Aku hanya mimpi. Aku bersyukur tak henti-henti.
Mungkin saking lelahnya tubuhku. Aku lupa membaca doa sebelum tidur.
"Kamu kok udah bangun?" Aku menoleh pada sosok yang tengah bertanya.
Tiba-tiba aku merasa takut melihatnya.
"Haus!" Jawabku singkat.
Dengan terburu-buru aku melanjutkan langkahku ke dapur dan meneguk air mineral satu gelas hingga tandas. Setidaknya, air bisa meredakan perasaanku yang tak karuan gara-gara mimpi yang aneh itu.
Ketika aku hendak kembali ke kamar, aku masih melihat Andra duduk di sofa ruang inti memainkan ponselnya.
"Aku mau pulang sekarang." Ujarku tiba tiba.
"Iya, memang kita mau pulang sekarang. Aku gak mungkin ketemu keluarga besar dengan wajah penuh luka kayak gini."
Aku tak menjawab. Hanya mengangguk pelan. Lalu meninggalkannya untuk pergi mandi.
Jujur, Aku juga tak mau harus berlama-lama tinggal bersama Andra. Aku takut. Mimpi itu menyadarkan ku bahwa apa yang telah aku lakukan adalah hal yang salah. Meskipun tidak ada yang kami lakukan tapi pasti akan ada fitnah.
Selesai mandi aku lekas mengemas semua barang yang kubawa. Tiba tiba terdengar suara salam dari Andrea.
"Lho, kak mau kemana? Kakak kan mau kita ajak ke acara keluarga di Dago." Tanya gadis cantik yang sudah berbalut dress berwarna Milo.
"Andra bilang gak jadi." Jawabku.
"Hah?" Andrea menyeringai kesal. "Dasar pengecut!"