
Embun bilang, dia sayang readers. Jadi, gak jadi Minggu depan.
Warning 21+ ya ⚠️
.
.
.
.
.
Setelah waktu Maghrib lewat, penjaga cottage datang mengetuk pintu membawakan kami makan malam sederhana. Ku dengar, Khafa sempat berbincang akrab dengan orang yang mengantarkan makanan. Sepertinya ia sudah kenal sebelumnya.
Khafa masuk kembali ke ruangan dengan nampan besar di tangannya. Lalu, meletakkan nampan tersebut di atas meja.
"Makan dulu ya." Ia duduk di kursi dan bersiap untuk makan.
"Bapak itu, agen rahasia kamu juga?" tanyaku sambil menyimpan kembali mukena kedalam tas. Meski lapar, aku belum tertarik untuk makan.
"Agen rahasia apa?" balasnya balik bertanya.
"Di kolong langit, kan kamu punya Dadang sebagai agen rahasia, kalau disini, bapak itu?" tanyaku sambil duduk di sampingnya menghadap makanan yang mulai tercium aroma sedapnya.
"Bisa di bilang iya, deh," jawabnya ragu.
"Mmnn..." Aku mencebik seraya mengangguk pelan. Benar saja dugaan ku. Rasanya tempat ini bukan tempat yang asing untuknya. Dari awal kami keluar Bandara, Khafa sudah tidak bingung lagi mencari tujuan. Beda denganku, aku tau Labuan Bajo, Ruteng, Nusa Tenggara Timur itu hanya dalam peta saja. Memang sih, dulu aku sempat bekerja di perusahaan cargo. Tapi, kota ini, belum termasuk di dalamnya.
"Kenapa?" Ia menyelidik ekspresiku.
"Kalau disini ada yang berperan sebagai Dadang, itu berarti disini, ada juga yang berperan sebagai aku?" Aku menatapnya lembut, namun kurasa tatapanku ini cukup untuk membuat dia menilai bahwa aku sedang bertanya serius.
Tapi, dia malah santai saja menanggapinya. Lalu, mengambil satu potongan makanan yang tersaji di atas salah satu piring.
"Masih saja hobby buat kesimpulan sendiri! Ayo A!" Ujarnya sambil membuka mulut. "Aaa!"
Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti, "aaa?" Aku heran. Namun seperti terhipnotis, aku mengikuti saja perintahnya.
Dengan cepat, satu potongan makanan itu ia masukan ke dalam mulutku.
Aku terkesiap dan membulatkan mata, "Eehhhh? Apa ini?" Protesku. Namun, perlahan aku mengunyah juga makanan itu.
"Se'i daging itu, makan lah!" Jawabnya datar tidak lagi melihat padaku.
"Daging apa?" Aku penasaran.
"Daging biyawak! Haaaaaaa," jawabnya sambil bergaya seolah mau menerkam.
Tapi, aku mau kok di terkam beneran. Aihh!
Aku menghentikan kunyahan. Lalu, memukul pelan bahunya. "Iiiiihhh, serius Kha? Gak lucu tau!"
Khafa menoleh karena pukulanku.
"Daging sapi, enak, kan? Ayo makan lagi!"
Aku membulatkan mulutku seraya mengangguk cepat. Lalu, makan malam bersamanya.
Setelah itu kami melakukan sholat isya berjamaah. Khidmat, suara fasih Khafa membaca ayat demi ayat suci Al-Qur'an ketika sholat, selalu berhasil memberikanku rasa hangat yang tidak pernah aku dapatkan dari manapun.
Shalat isya selesai kemudian di susul dengan sholat Sunnah dua rakaat. Sebelumnya, Khafa sempat menjelaskan soal sholat Sunnah dan hapalan doa yang kami laksanakan seusai shalat isya. Tapi, bukannya fokus. Otakku malah melanglang buana pada kegiatan yang akan kami lakukan setelah ini.
"Kamu paham kan?" Pertanyaannya sontak menyadarkanku.
"Hah? Iya Kha, siap!"
Ia menautkan kedua alisnya. "Siap? Siap apa?" tanyanya sambil memicingkan mata.
Nah kan! Salah!
Dalam suatu kondisi yang bernama terkejut, biasanya kita akan reflek menjawab apa yang ada dalam pikiran kita. Benar saja. Akhirnya aku jujur, kan!
Aku lantas tertunduk meruntuki perbuatanku.
"Siap memberiku keturunan yang akan menjadi generasi Sholeh dan Sholehah?"
Gleg.
"I-iya, eh, ng-gak... Bukan, bukan itu maksudku---," aku tergagap.
Sukses terlihat bodoh!
Kegugupanku, malah memancing senyuman tersungging begitu saja di bibirnya. Lalu, ia dengan santai membuka kopiah yang ia pakai ketika sholat.
"Kalau iya, iya aja. Jawab Insya Allah. Jangan pakai gugup!" singgungnya sambil beranjak dari atas sajadah. Ia lantas melipat menjadi dua lipatan dan menyampirkannya di bagian atas kursi.
Aku menatap kakinya yang melangkah mematikan semua lampu dan menyisakannya satu yang menyala. Setelah itu ia berjalan ke teras.
Udara malam semakin dingin. Angin laut semakin malam semakin terasa menusuk kulit. Setelah aku selesai merapikan mukena, aku mengikutinya duduk di atas kursi rotan, berbincang mulai dari hal-hal berat yang kami rencanakan untuk hidup kami kedepan sampai hal-hal receh yang sebenarnya tidak lucu. Tapi, kami merasa sangat bahagia.
Aku selalu suka suasana malam di pesisir pantai. Meski dingin aku tetap menyerahkan diri pada terpaan angin yang menyapa seluruh tubuhku. Dari kejauhan, aku melihat beberapa kerlip lampu kapal nelayan yang sedang berlayar di tengah gelapnya lautan. Tak ubahnya bintang, cahaya itu juga mampu menenangkan hati dari segala kegundahan.
Malam merangkak naik. Suara jangkrik semakin mendominasi. Remang malam juga semakin terasa sunyi karena tidak adanya televisi atau alat elektronik lainnya. Handphone saja, sinyalnya jelek bahkan seringnya tidak ada sama sekali. Cottage ini benar-benar di design menyatu dengan alam.
"Kha, aku ngantuk, aku tidur ya." Akhirnya aku beralasan karena bosan. Ya.. sebenarnya aku belum ngantuk sama sekali. Tapi, mungkin membenamkan diri pada tebalnya selimut, akan menjadi alternatif terbaik saat ini.
"Ya... Sudah tidur lah!"
Ada gurat kecewa saat mendengar perintahnya itu. Tapi, aku bisa apa.
Aku mengangguk pelan lalu berbalik badan berjalan masuk menuju tempat tidur.
"Tunggu," Khafa menarik tanganku. Lalu membawaku ke dalam pelukannya. "Masa mau tidur aja, kita kan tadi sudah sholat Sunnah," bisiknya di telingaku.
Kehangatan berbeda mulai terasa pada seluruh tubuh saat tangan kokohnya melingkar di perutku. Lalu, menyusuri inci demi inci bagian belakang leherku. Membuatku memejamkan merasakan debar jantung yang mulai tidak normal iramanya.
"Kha, di dalem aja. Masa disini sih?" Ucapku saat menyadari bahwa kami tengah berdiri di ambang pintu.
Khafa menutup pintu dengan sebelah tangannya yang tidak sama sekali ia lepas dalam jemariku. Ia kembali mengeratkan pelukannya setelah pintu benar-benar terkunci. Sejenak aku jatuh dalam dekapan dadanya. Ku kira, hanya aku yang merasakan detak jantung yang menggila. Ternyata detak itu, terasa juga di dadanya. Lalu, aku sedikit mendonggakkan kepala menatap lelaki yang telah menjadi suamiku itu.
"Selamat, berbuka puasa Kha,"
Seulas senyuman tipis muncul di sertai pejaman mata sejenak yang mewakili seluruh keinginannya. Senada, aku juga perlahan memejamkan mata menunggu sentuhan lembut dari bibirnya.
Temaram lampu orange berpijar memberikan efek romantis yang luar biasa. Udara dingin terus mendesak kami terlibat dalam aktivitas intim sebagai suami istri. Tidak mau membuang waktu lagi, ia segera ******* bibirku dengan segala rasa yang ia tahan selama ini. Memainkan peranannya dengan intens dan menuntut. Tubuhnya semakin dekat dan merekat membuang semua jarak.
Ia menuntunku ke pembaringan perlahan. Merebahkan diriku dengan pelan. Tangannya yang sempat ia jadikan bantalan untukku, kini bergerak mengelus puncak kepalaku sambil melafazkan doa.
"Apapun yang kamu rasakan, bertasbihlah," ucapnya lirih tepat di wajahku.
Aku mengangguk lemah sambil memejamkan mata. Perlahan ia membuka semua penyekat yang ada pada diriku. Malu, aku menutup bagian atasku dengan kedua tangan.
"Jangan di tutup, aku sudah mau," ucapnya lagi dengan tatapan teduh yang seakan mangiba. Ia menahan dan membimbing tanganku untuk berada pada kedua bahu lebarnya.
Aku tersipu, Aku tau ia tak ingin lagi memberi jarak pada kerinduan yang seakan tak ada habisnya. Ini bukan sekedar memberikan haknya sebagai suami atau aku sedang menjalankan kewajibanku. Tapi jauh dari itu aku sedang melabuhkan perasaan cintaku pada sang pemilik hati yang sesungguhnya.
Kulingkarkan tanganku pada lehernya. Menikmati setiap sensasi Indra perasa kami yang mulai saling berpagutan. Respon raga ini begitu baik menerima setiap sentuhan lembut yang ia berikan. Sehingga menuntut kenikmatan yang lebih dalam melebihi dalamnya samudera.
Suara deru napas kami saling memburu merasakan sengatan-sengatan gila yang semakin menjanjikan kenikmatan. Membentuk serangkaian nada-nada indah yang membuat kami terpacu untuk segera berlari.
Aku terhanyut, terbawa arus luar biasa deras. Mengimbangi setiap adegan yang ia berikan. Bebas, kita telah bebas dari segala penghalang yang sempat menjadi jeda. Aku melepaskan semua milikku tanpa ada sedikitpun ganjalan yang merusak suasana hati.
Puas menjelajahi semua, kini saatnya ia meminta izin untuk menyempurnakan ibadahnya. Tak mungkin ada penolakan, rasanya aku malah tak ingin lagi berlama-lama. Semua sudah saatnya. Semua sudah waktunya. Rindu ini, harus segera di selesaikan.
Setelah mendapat anggukan kecil dariku, ia kembali melafazkan doa. Lalu, segera melabuhkan segenap miliknya penuh cinta dan kasih sayang. Semua jenis tasbih telah ku sebut dalam hati sebagai bentuk syukur atas nikmat yang luar biasa ini. Tanpa ku sadari air mataku lolos karena rasa yang tak mampu aku jelaskan.
"Sakit?" lirih, ia bertanya ditelingaku saat mendapati tetes air mata membasahi pelipis.
Aku menggeleng lemah menahan rasa, lalu membisikkan kata cinta kepadanya. Perlahan namun pasti, ia melanjutkan kembali pendakiannya denganku.
Sementara itu diluar sana suara serangga malam bersahut-sahutan. Mengiringi indahnya lantunan suara-suara yg diciptakan oleh kami yg tengah bermabuk cinta.
Udara dingin malam seolah tak berarti lagi saat ini. Keringat kami bersatu seiring bersatunya benih-benih cinta yang bertemu di dalam rongga yang akan menjadi tempat tinggal buah cinta pertama kami.
Lunglai. Saat perjalanan pertama telah berakhir pada puncak rasa yang tiada bandingannya. Menarik selimut hingga ke dada menutupi bagian diri yang tidak semestinya terekspose. Dua raga menyerah pada posisinya masing-masing.
"Terima kasih, telah menjaganya untuk aku," bisiknya, kemudian ia mengecup lama keningku.
Aku tersenyum tipis dengan sisa lelah yang masih mendera.
Lega dan bahagia, ternyata seindah ini malam pertama. Semua katakutan, kegundahan akan masa lalu yang menghantui tanggal begitu saja dalam waktu yang begitu singkat.
Khafa membuktikan kepadaku bahwa ia sukses membawaku ke hidup baru yang seharusnya memang telah lama aku pijakkan. Ia juga membuktikan bahwa tidak ada yang lebih indah dari sentuhan, ciuman, pelukan dan penyatuan diri dari dua insan manusia yang telah menikah. Semuanya terasa begitu sempurna.