Always Remember

Always Remember
Sebuah pembuktian



happy reading πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


jangan lupa dukung author dengan cara jadikan novel ini novel favorit, vote, rate 5, like, and sertakan komen terbaik kalian..


Terimakasih buanyak yooo ❀️


🌸🌸🌸


"Jali! Sini deh!" Panggilku pada Jali yang tengah sibuk membuat pola sepatu.


Jali menoleh dan menghentikan pekerjaannya. "Wah penting nih! Ada apaan sih buntu?"


Aku berjalan menuju ruang tamu rumahku. Jali mengekor. Aku duduk di sofa sederhana yang ada di rumahku. "Duduk!".


Jali duduk di hadapanku. "Ade ape sih? Tumben lu serius amat?" Wajahnya nampak kebingungan.


"Sejak kapan Lo jadi makelar tanah?"


"Makelar tanah?"


"Hemmn." Jawabku sambil melipat tangan di dada. Jali terlihat sedang berfikir.


"Bukan makelar tanah Embun. Gue cuma berusaha nyelametin kampung kita. Biar alamnya kagak rusak. Kebon, sawah gak habis di buat rumah."


"Tumben Lo peduli hal begituan. Terus yang di maksud Dadang itu siapa?"


Jali tersenyum mencurigakan.


"Gue serius Rojalii..!" Kataku sambil menatapnya tajam.


"Andra," jawabnya tanpa ekspresi.


Sebuah helaan muncul begitu saja dari bibirku. Menyesali perbuatan Jali.


"Gila Embun, gue kira Andra tuh PNS biasa. Taunya dia-----," ucap Jali tertahan.


"Taunya dia apa? Bos perkebunan teh? Siapa yang peduli Jali. Harta ga pernah ngejamin kita bahagia," potongku semakin geram.


"Udeh deh Buntuu.. intinye Andra tuh baik banget. Lo sadar gak sih. Gue tau Lo masih setengah hati kan Ama die. Padahal Andra beneran sayang Ama Lo. Cinta Ama Lo."


"Tau apa Lo soal cinta hm?" Aku terdiam sejenak. Begitupun Jali.


Sebenarnya Jali benar, aku masih belum yakin kalau Andra benar-benar sayang sama aku. Dan aku juga belum yakin pada perasaanku sendiri. Kalau benar Andra membeli tempat itu karena aku, aku berjanji tidak akan memaafkan Jali. Sudah ku bilang beberapakali, aku tidak mau alasanku berada di samping Andra itu karena perasaan balas budi. "Tolong Jali, Lo jangan buat rumit." Lirihku.


"Rumit apaan sih Buntu?" Jali memutar bola matanya. "Gue tuh cuma bantuin Andra, bantuin Lo. Buat sama-sama ngeyakinin perasaan kalian berdua."


"Dengan cara jadi agen rahasia dia? Di bayar berapa Lo Ama dia heh?!" Tanyaku dengan suara yang lebih keras.


"Sedangkal itu fikiran lo Embun? Gue ga nyangka." Jali tertawa sinis. "Embun Lo paham ga?" Raut wajah Jali terlihat serius. "cinta itu kadang gak cuma butuh pengakuan. Tapi juga pembuktian."


Aku terdiam. Kalah telak mendengar kata-kata Jali. Ia benar. Aku akui. Andra jarang sekali mengungkapkan perasaannya padaku. Sekalipun ia mengungkapkan perasaannya, kadang aku hanya menganggapnya itu hanya sebuah gurauan.


"Dan gue cuma bantu Andra buat ngebuktiin kalo cinta dia sama Lo gak main-main. Dia gak mau kolong langit Lo ilang," sambungnya.


"Andra gak tau tempat itu kalo bukan Lo yang kasih tau. Dan gue ga keberatan tempat itu ilang. Gue gak pernah merasa memilikinya."


"Itu karena gue care sama lo Buntu." Jali menyandarkan punggungnya di sofa.


"Basi tau nggak lo!" Akhirnya aku berdiri hendak meninggalkan Jali dengan rasa kesal yang masih menggebu.


"Bukan gue yang basi. Tapi Lo yang munafik Embun!" Ucap Jali. Ia berdiri kemudian berjalan meninggalkan ku tanpa penjelasan apa-apa lagi. Lalu kembali meneruskan pekerjaannya.


Menurutku, Jali yang kelewatan. Tempat yang bahkan bukan milikku dia bela-belain biar gak jatuh ke tangan orang lain. Iya, aku tau maksud Jali pasti baik. Tapi....


Arrgghh aku mendengus kesal. Aku segera pergi bekerja. Sesuai perintah bos Ken aku akan pergi mengurus surat-surat mobil yang bermasalah. Dan ternyata kantor itu adalah kantor Andra.


Huufftt...aku membuang nafas sambil bergumam kenapa bisa kebetulan seperti ini.


Tapi, Katanya di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah Allah atur. Kita hanya sedang menjalani kemana takdir akan mengalir.


🌸🌸🌸


Setelah perjalanan sekitar 30 menit mengendarai motor, aku sampai di gedung tempat dulu aku pernah PKL. Letak bangunan inti tidak ada yang berubah. Motorku menepi di samping motor sport hitam berplat D milik Andra. Sebenarnya ini parkiran khusus karyawan. Tapi karena security mengenaliku, maka motor ku di perbolehkan parkir di jajaran motor karyawan.


Langkahku bergerak menuju pintu belakang kantor. Namun seketika terhenti saat aku bertemu pegawai bagian kearsipan yang masih itu itu saja sejak dulu.


"Pak Syarif!" Sapaku. Wajahnya sudah lebih tua dari terakhir aku bertemu. Mungkin satu atau dua tahun lagi ia pensiun. Ia terlihat sedikit bingung. "Hayoo siapa aku?" Aku memicingkan mata.


Dahi pak Syarif berkerut alis tebalnya bertaut. "Embun ya?"


Aku mengangguk. Ingatan pak Syarif boleh juga fikirku. Jelas saja, dia orang kearsipan. "Apa kabar pak?" Tanyaku seraya mengulurkan tangan.


"Masya Allah.. Alhamdulillah baik." Ia menjabat tanganku. "Pak Andra ada tuh di ruangannya. Mau ke pak Andra kan? Adeeuuhhh. Ga nyangka euy." Sambungnya sambil menepuk-nepuk pundakku.


"Hah?" Sekarang giliran dahiku yang berkerut. Bingung kenapa pak Syarif bisa langsung berfikiran aku akan menemui Andra. "Ko bapak bisa berfikiran saya mau ke pak Andra?" Akhirnya aku mengeluarkan isi kepalaku.


Pak Syarif tak menjawab, ia hanya tersenyum mencurigakan. Kemudian aku pamit untuk masuk ke kantor.


Ku memperbaiki tali ranselku sambil berfikir. Wajar pak Syarif sampai sampai tidak menyangka seperti itu. Aku juga sama sepertinya, terkadang aku merasa bingung kenapa Andra seorang mantan mahasiswa KKM Akhirnya bisa dinas disini. Padahal setahuku, orang tuanya pemilik lahan kebun teh terluas di Lembang. Gajinya yang menjabat sebagai kepala bidang IT disini tentu tidak sebanding dengan penghasilannya mengelola usaha keluarganya. Aku masih tidak mengerti, ambisi apa yang membuat Andra bisa berada disini.


Langkahku terhenti di depan ruangan kearsipan. Ingatanku menguar pada satu moment yang sudah lama terjadi.


Aku masuk kedalam ruangan kearsipan yang sepi. Berjalan melewati sela sela filling cabinet yang tingginya mencapai langit-langit kantor. Dengan berkas di tangan, aku mendapat tugas mencari file arsip bernama Ahmad Majid. Jadi, kode yang tercantum adalah Ma. Karena biasanya penyimpanan arsip itu terbalik Ahmad Majid menjadi Majid ahmad. Kode Ma diambil dari awalan nama Majid.


Mataku beredar mencari deretan map folder warna biru berkode A-Z. Sudah hampir 20 menit arsip yang ku cari belum juga di temukan. Aku kembali berjalan mundur sambil menyisir satu demi satu kode yang menempel pada map folder. Saat aku melihat folder yang aku cari, ternyata letaknya lumayan tinggi. Aku berjingjit untuk bisa mengambilnya. Tapi saat satu map itu berhasil kuraih.....


Bruk!


Belasan map folder berjatuhan. Aku reflek berjongkok menghindari. Pada saat itu juga seseorang berhasil menepis map-map itu dengan punggung kokohnya.


"Andra?" Sejenak mata kita bersitatap. Lalu ia jatuh terduduk. Ia meringis kesakitan saat melindungi tubuhku dari timpaan map-map besar berwarna biru. Aku lekas merapikan arsip- arsip yang berjatuhan.


"Kok kamu ada disini sih?" tanyaku.


"iya,"


"ngapain?"


"Melindungi kamu," jawabnya sambil tersenyum.


"Heiii Embun! Jangan ngelamun disini." aku terkesiap dalam lamunan saat pak Syarif menepuk pundakku.


"Ehh ngga pak.. iya iya.." kataku gugup.


"Ga berubah kamu mah Embun. Dari dulu tukang bengong." Ia berdecak sambil tersenyum.


Aku balas tersenyum dengan perasaan yang seolah-olah mengakui kebiasaanku itu. "Ya udah pak, saya permisi mau ada urusan sama pak Harry." Pamitku pada pak Syarif.


Soal melamun, sebenarnya aku bukan sedang melamun apalagi bengong. Aku hanya sedang menyembunyikan bisingnya kepalaku yang selalu dengan mudah memutar-mutar setiap kejadian yang pernah terjadi di masa lalu.


🌸🌸🌸