Always Remember

Always Remember
Klien aneh!



Matahari pagi di Bandara Adi Sucipto menyapa ku begitu hangat. Banyak orang berlalu lalang di lobby bandara. Aku segera memesan taksi untuk segera sampai ke coffee shop tempatku bertemu dengan pak Wisnu.


Tak menunggu waktu lama taksi yang ku pesan datang. Kemudian melaju melewati jalanan Jogjakarta.


Hai Jogja! aku kembali. Tapi aku sendiri. Tidak seperti pinta ku dulu. Kembali kesini bersama keindahan yang lain yang mampu melengkapi keindahan mu. Mungkin belum waktunya. Tak apa ya.


Tring!


Satu pesan masuk ke handphone ku.


[Mbak, nyuwun ngapunten. Saya ada kecelakaan kecil tadi pagi. Saya tidak bisa menemui mbak sekarang. Namun rekan saya yang menggantikan. Insya Alloh dia lebih tau urusan iki. ]


Aku membuang napas pelan. Semoga urusanku berjalan dengan lancar.


Sesampainya di coffee shop aku tak melihat siapapun yang aku kenal. Tapi aku putuskan untuk mencari meja yang agak jauh dari keramaian. Mengingat urusanku dengan klien membutuhkan ketelitian untuk membahasnya.


Udara di Jogja begitu menyegarkan mata dan fikiran. Aku tak mau menyia-nyiakan. Ku cari tempat di luar ruangan yang cukup nyaman. Sambil menunggu, Ku keluarkan laptop dan berkas-berkas kontrak yang akan aku dan klienku tanda tangani. Ku periksa satu demi satu agar tak ada kesalahan nantinya. Sudah hampir satu jam aku menunggu. Segelas kopi espresso hampir tandas ku minum. Ku lihat dari arah pintu masuk sedan silver masuk parkiran. Hanya mobil itu yang baru masuk setelah kedatangan ku. Walaupun aku terbiasa menunggu tapi lama-lama lelah juga.


Aku putuskan menelpon pak Wisnu.


"Halo siang pak." Sudah hampir jam 11 wajar jika aku menyebut ini siang. "Pak orangnya koq belum sampe ya. Saya sudah cukup lama menunggu."


"Masya Alloh. Ngapunten, tapi ustadz Khafa sudah berangkat dari tadi mbak. Saya jadi nggak enak toh. Belum datang ya?" Kata pak Wisnu dengan logat medoknya.


"Siapa pak?"


"Siapa apanya mbak?"


"Orang yang gantiin bapak yang mau kesini itu siapa?"


"Ustadz Khafa, ini saya kirim nomer handphone nya ya mbak. Sekali lagi saya mohon maaf."


"Ustadz Khafa?"


"Iya mbak."


"Yaudah. Kirim nomer handphone nya ya pak biar saya bisa hubungi dia langsung."


Tut Tut Tut.. sambungan telpon dengan pak Wisnu terputus.


Tak lama pesan kontak masuk dari pak Wisnu. Ustadz Khafa.


Hah? Aku memandangi layar handphone dengan seksama. Ejaan namanya sama. KHAFA. Masa iya? Ga mungkin. Ustadz. Aku tersenyum tipis. Tapi akhirnya ku tekan juga menu dial. Mau sampai kapan aku menunggu.


"Halo assalamualaikum.." teleponku langsung di angkat. Aku terpaku mendengar suara salam itu. Terdengar begitu dekat sekali. Suaranyaaa.. jantungku tiba-tiba berdegup cepat. Ingatanku berlari jauh ke masa lalu. Khafa?


"Di jawab dulu mbak salamnya. Wajib lho."


Aku masih tak bersuara. Aku mencari asal suara itu. Suara yang sama sekali tidak berubah. Hanya saja terdengar lebih berat. Kenapa seolah-olah dekat sekali. Nihil. Aku masih tak melihat siapapun yang aku kenal. Ahh jangan jangan aku berhalusinasi. Tidak! Khafa sudah tak ada dalam ingatanku. Aku memejamkan mataku.


"Mbak, salam saya yo di jawab dulu."


"Waa.... A... Laikum salam pak." Jawabku gugup. "Bapak dimana yah. Saya sudah menunggu lama lho ini." Aku memberanikan diri protes. Abis ngeyel banget minta jawab salam.


"Jangan marah marah gitu mbak, saya suka."


Itu jelas kata-kata Khafa. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok ngeyel yang membuatku penasaran.


"Saya serius. Kalo anda ga datang juga. Saya lebih baik pergi dari sini. Saya datang jauh-jauh lho pak. Ini hal serius. Koq kesannya bapak main-main seperti ini ya?" Akhirnya aku mengomel. Ini cara satu satunya menghilangkan rasa gugupku.


"Masih galak aja mbak." Suara itu semakin dekat. Aku menoleh ke belakang. Di depan pintu masuk coffee shop berdiri seorang lelaki berbadan tegap dengan menggenggam handphone di telinga nya. Nafasku seperti hilang seketika. Membuang muka, berusaha meyakinkan kalau yang ku lihat itu.... Aku menoleh sekali lagi.


"Kamuuuu...?"


Lelaki itu semakin dekat berdiri menyilangkan tangan di dada bidangnya. Kemeja berwarna hijau army yang ia gulung sesiku membuat terlihat jelas otot di lengannya.


"Ga usah melongo gitu." Ia menarik kursi di hadapanku. "Hei!"


"Iiii... Iyaa." Gugupku.


Ia melipat tangannya di atas meja. Membuat aku semakin gugup.


Ia menaikan alisnya. Aneh kenapa ia tidak kaget bertemu denganku?


"Lama banget sih! Saya tuh udah nunggu dari satu jam yang lalu tau!"


"Maaf. Tapi kan saya ga nyuruh kamu nunggu." Jawabnya tanpa rasa bersalah. Ish.. andai saja aku bisa memukulnya, sudah ku pukuli lengan kekar itu.


Sambil menetralkan perasaanku, aku langsung pada pokok meeting hari ini. Sebenarnya masih tidak percaya klien ku di Jogja ternyata benar-benar Khafa. Tapi aku berusaha profesional. Siapapun klienku, aku harus tetap menjalani pekerjaan ku sesuai dengan aturan-aturan yang telah di sepakati. Dan tidak mencampur adukan masalah hati ke dalamnya. Bisa kacau.


"Yaudah makasih ya, semoga ke depan nanti berjalan lancar. Senin pagi saya harus udah di Jakarta lagi untuk menyiapkan surat surat truk pertama untuk mengangkut barang dari Tanggerang." Terang ku.


"Ongkos kirimnya insya Allah saya transfer sore ini juga."


"Baik. Sekali lagi terimakasih." Aku bergegas merapikan semua berkas dan laptop. Begitupun Khafa. "Saya pamit ya." Aku berdiri.


"Pamit balik ke Bogor?"


Aku menaikan alisku. Sebenarnya aku juga belum tau mau pamit kemana. Yang pasti bukan ke Bandara lantas balik ke Jakarta. Aku mau jalan-jalan dulu. Tapi, apa pantas aku bilang sama Khafa?


Khafa berdiri merogoh kunci mobil disaku celananya. "Ikut aku!" Ia menarik ujung blazer ku. Ish udah kayak narik apa'an aja.


"Tunggu! Saya mau ke kasir dulu."


"Udah saya bayar." Katanya tanpa menghentikan langkahnya.


"Masuk!" Ia membuka pintu belakang sedan silver di hadapanku.


"Hah? Koq di belakang?"


"Jangan banyak tanya masuk aja. Anggap aja saya supir pribadi kamu hari ini."


Berdua di dalam mobil tapi aku suruh naik di belakang. Dasar aneh! Umpat ku dalam hati.


"Kamu ga ada urusan lain kan disini selain Ama saya?" Tanyanya sambil memperbaiki posisi kaca spion dalam di hadapannya.


"Ada. Saya mau jalan-jalan."


"Sama siapa?"


"Sendiri kan bisa."


"Entar nyasar loh."


"Kamu fikir saya anak SMP?"


Khafa tak menjawab kemudian mulai menjalankan mobilnya. Tanpa sengaja kata-kataku telah membawa fikiran kita masing-masing pada masa itu.


Mobil melaju entah kemana. Tanpa ada sepatah kata pun keluar dari Khafa. Aku pun sungkan untuk memulai percakapan. Hampir setengah jam mobil melaju. Si nekat ini benar-benar mulai membuat ku cemas.


"Kita mau kemana sih?" Ia memarkirkan mobilnya pada parkiran sebuah masjid.


"Sholat Dzuhur dulu ndoro putri." Ia membukakan pintu belakang. "Silahkan."


Aku keluar dengan meninggalkan semua barang bawaan ku di mobil. Masuk ke masjid bergaya modern klasik. Sudah pasti, Khafa hilang masuk ke bagian laki-laki.


Sholat berjamaah segera di mulai. Aku segera mengenakan mukena milik masjid yang tertata rapi di lemari kaca. Pada raka'at pertama aku dibuat haru oleh imam sholat. Ia membaca dengan fasih dan syahdu ayat-ayat Al-Qur'an. Aku hampir menangis mendengarnya. Menyentuh ke bagian dalam hatiku. Belum pernah dalam hidupku mendengar langsung suara imam semerdu itu.


"Masya Alloh imamnya ustadz Khafa yah?" Bisik seorang wanita di sebelahku. Sedangkan teman yang disebelahnya mengangguk. Kemudian menempelkan telunjuknya ke bibir. "Sssstttt..."


Jadi yang aku dengar saat sholat itu Khafa? Tak kusadari rasa bangga padanya kembali menjalari relung hatiku.


Tidak! Ini jelas salah. Buru-buru ku tepis perasaan itu.


Setelah selesai melipat mukena aku kembali ke parkiran.


"Ayah!" Teriak seorang anak laki-laki. Ia berlari melewati ku. Anak laki-laki itu, aku tau. Anak yang waktu itu aku lihat di pernikahan nya teh Nisa. Aku spontan menoleh. Ia di tangkap oleh lelaki gagah yang ia panggil ayah di belakangku. Khafa.


🌸🌸🌸


Like, vote-nya jangan lupa ya readers!