Always Remember

Always Remember
Rencana memperbaiki diri.



Tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku saat ini. Sedih, haru, senang, bahkan aku juga bingung. Semudah ini Khafa mengaduk-ngaduk perasaanku.


Setelah bertahun-tahun aku berada dalam tanda tanya besar. Akhirnya ia menjawab semuanya dengan cara yang tidak pernah aku duga. Memang benar sih, aku akui langkah yang di ambilnya. Menjauh dariku dan membentangkan jarak adalah cara terbaik untuk menghindari hal-hal yang memang belum sepantasnya kami lakukan. Tapi, nyatanya malah aku.


Kalau Khafa berhasil dalan usahanya selama ini. Aku malah sebaliknya. Jadi, apakah aku masih pantas untuknya?


Setelah lembar note pada curriculum Vitae milik Khafa, ternyata masih ada satu lembar lagi. Aku kira, sudah habis.


Lembar terakhir itu, adalah..


Ya, ampun kok bisa? Ternyata dia pelakunya? Khafa! Aku terkejut lagi.


Mataku menatap nanar gambar pada lembaran terakhir itu.


Disana ada sebuah foto, eh bukan! Jadi itu adalah, sobekan kertas majalah yang dulu ku simpan di bawah kolong meja ruang tamu rumahku. Dalam sobekan itu ada fotoku. Foto yang tanpa sepengetahuan ku, masuk ke dalam sebuah audisi gadis sampul suatu majalah. Aku masuk pada seleksi pertama tiga puluh besar. Kalau yang mengirim diam-diam sih Rahma, mungkin ada campur tangan Fitri di dalamnya. Aku tidak tahu pasti.


Yang aku tahu, tiba-tiba suatu hari mereka berdua berlarian mengabariku bahwa aku lolos seleksi tahap awal gadis sampul di majalah yang mereka bawa. Tapi, aku tidak memenuhi audisi selanjutnya. Karena, ya tahu sendirilah, aku ini orang kampung. Ke Jakarta mana bisa sendiri pada umurku yang segitu. Ayah juga tidak pernah mengizinkan ku masuk ke dunia seperti itu. Aku tidak tahu alasannya apa.


Nah jadi, majalah itu sobek. Bagian fotoku hilang. Aku sempat sedih karena itu suatu bukti membanggakan buatku. Aku tidak tahu pelakunya siapa. Ya tapi sekarang aku tahu. Ternyata, Khafa.


Ada sisipan catatan dari Khafa di bawah foto itu.


Maaf saya pernah mencuri ini dari majalah di rumahmu waktu itu. Saya takut, tuh saya kembalikan. Terima kasih ya.


Tidak ada rasa bersalah sekali dia. Takut apa? Aku tersenyum sendiri membacanya.


Padahal aku malah sudah lupa. Kenapa harus di kembalikan? Sudahku ikhlaskan kok.


"Wih! si Buntu nih?" Suara keras Jali membuatku terkesiap. Mungkin ia kaget juga dengan penampilan ku yang baru. Ia berdiri di ambang pintu rumahku. "Kesambet malaikat apaan lu?" Ejeknya.


"Yang nyambet tuh biasanya setan. Bukan malaikat. Sembarangan lo kalo ngomong," jawabku sambil membereskan isi dari amplop coklat itu.


Tak lama kemudian Irgi muncul di belakang Jali.


"Irgi!" Panggil ku.


"Naon?" Sahutnya. Lalu, ia masuk ke rumahku. "Eh Embun? Kapan balik?" Tanyanya dengan raut wajah tak kalah terkejut dari Jali. Ia menghampiriku, lalu duduk di hadapanku. Sedangkan Jali ia berjalan ke dapur untuk membuat kopi.


"Baru aja." Aku kemudian membuka kembali curriculum Vitae milik Khafa. "Gi, Lo inget Khafa?"


"Inget. Kenapa?" Jawabnya santai. Kok dia biasa-biasa saja? Padahal harusnya dia kaget. Karena nama itu kembali aku sebut.


"Ini!" Ku sodorkan lembaran-lembaran CV itu. "Gue mesti gimana nanggapinnya?"


Irgi mengambil CV itu. Kemudian membacanya sambil mengulum senyum. "Kenapa Gi?" Tanyaku sambil memicingkan mata. Senyuman Irgi terlihat aneh.


"Gak apa-apa. Salut aja Ama Khafa. Gak nyangka," Jawabnya. Ia masih membaca satu persatu informasi tentang Khafa. "Lo ketemu dimana Ama dia?" Sambungnya.


"Di Jogja, gue ada kerjaan sama dia,"


"Jauh-juah. Belum lama dia disini juga,"


Kolong langit. Iya benar. Khafa kan yang membangun kolong langit jadi rumah tahfidz. Awalnya aku mengira Andra. Ternyata, lagi-lagi Khafa.


"Lo tau Gi? Kok gak kasih tau gue?"


"Gue baru tau kok pas nyokap sakit. Dia yang bawa nyokap ke Citra Medika,"


"Khafa yang bawa?"


Kejutan apa lagi ini? Sepertinya terlalu banyak yang aku tidak tau. Tapi ya biarlah, seiring berjalan waktu aku pasti tau satu persatu kejutan apa saja yang Khafa lakukan buatku. Loh? Kok buatku.


"Terus Gi, gue mesti gimana itu nanggapinnya?


"Ya, lo mau nerima Khafa apa nggak? Terus dia minta CV Lo nggak? Kalo minta juga, ya Lo bikin. Terus Lo kasih deh ke dia. Jadi Lo kenal dia, dia juga kenal segala sesuatu tentang Lo. Kalo udah, nanti ada proses khitbah atau lamaran. Itu pun kalau Khafa mau. Kalau nggak ya Lo langsung aja tentuin tanggal pernikahan." jelasnya.


Hah?


Lamaran?


Nikah?


Sama Khafa?


Aduh! koq perasaan jadi tidak karuan begini ya?


"Enggak harus di jawab buru-buru kan Gi?"


"Ya, Lo tanya sama Khafa cari cepat calon istri nggak. Jangan sampe ngegantungin dia,"


"Oh gitu, yaudah. Nanti gue tanya lagi lah sama Khafa mau-nya gimana. Sambil gue yakinin dulu mau gue gimana. Lo tau kan Gi, Khafa tuh kaya apa? Rasanya kok gue gak pantes ya gue buat dia," tuturku pada Irgi.


"Iya gue tau. Yaudah lo mulai lah memantaskan diri. Tuh udah berhijab, konsisten deh jangan buka pake. Menutup aurat itu wajib hukumnya. Abis tu, akhlak Lo deh perbaiki. Sholat, ngaji. Semua perbaiki. Laki laki yang baik cuma buat perempuan baik-baik begitupun sebaliknya. Kalo ngerasa bukan orang baik, ya perbaiki. Jangan berhenti belajar."


"Iya Gi, tapi kan Gi, gue gak bisa sendiri. Belajar apa siapa? Ama Lo ya?"


Bukan tanpa alasan aku meminta Irgi untuk aku belajar, walaupun begitu Irgi juga, lulusan pesantren. Pemahaman agamanya sudah pasti jauh lebih baik dariku.


"Yah masa gue? Gue kan kerjain kerjaan Lo juga di pabrik. Masa gue mesti ngajarin ngaji juga sama Lo!" Sergah Irgi sambil menyeringai. Ia keberatan dengan permintaan ku. Dasar!


"Berbagi ilmu Gi, biar pahala Lo makin banyak," rayuku.


"Gue kasih gaji lebihan entar buat Lo Gi," tawarku lagi. Aku berharap ia mau tentunya.


"Gak mau. Lo mending ikut kajian." Gagal! Irgi malah menolak lagi.


"Kemana? Mana sempet gue Irgi!" Elakku.


"Ya kalo Lo gak sempet datang ke kajian, tinggal Lo panggil ustadz Mulyana ke rumah," usul Irgi.


"Emang bisa?"


"Biasanya sih bisa,"


"Buntu, Lo putus ama Andra?" Ujar Jali yang baru saja tiba dari dapur.


"Hemmnn, gak usah nanya dia lagi!" Ku jawab ketus pertanyaannya. Bukannya aku tidak suka. Hanya saja, aku baru merasa perasaanku sedikit lebih baik sekarang.


"Yahh, hilang dah ATM berjalan gue!" Keluhnya sambil menyimpan kopi di meja.


Aku mengerutkan keningku heran. ATM berjalan?


"Jali, Lo bikin kopi satu doang?" Tanya Irgi.


"Iyee! Kenape emang? Mao? Bentar gue bikinin dah," ucap Jali sambil melangkah kembali ke arah dapur.


Aku mengambil kopi yang Jali simpan di atas meja kemudian menyeruputnya.


"Tumben Lo baik Jal, setan apa yang tengah merasukimu? Hahaa," ledekku sambil tergelak. Jali menghentikan langkahnya. "Eh itu kok kopi gue Lo minum?" Protesnya. Ia kesal ketika melihat segelas kopi yang ia buat telah berpindah membasahi kerongkonganku.


"Yah, kan Lo mau bikin lagi. Jadi, ini buat gue," tukasku dengan tangan yang masih memegang cangkir kopi. Kemudian, aku menyeruputnya lagi.


"Dasar buntu! Gue nunggu dinginkan tau! Malah Lo minum." Jali bermuram durja. Tapi setelah itu, ia melanjutkan kembali langkahnya.


Aku menyeruput lagi secangkir kopi yang masih bertengger di tanganku. Lagi, lagi, dan lagi. Hingga akhirnya, tandas.


"Lo minum kopi apa haus?" Tanya Irgi.


"Dua-duanya," jawabku sambil menyimpan kembali cangkir kosong di atas meja.


"Terus Gi, gimana ustadz Mulyana? Beneran bisa private?" Tanyaku serius. Iya dong, aku serius. Belajar tidak ada kata terlambat bukan?


"Yah katanya sih bisa. Ntar malem gue anter ke rumahnya kalo Lo bener-bener mau,"


"Mau, gue mau." Aku menjawab yakin sambil mengangguk.


"Yaudah, nanti habis isya ya, gue anter ke rumahnya,"


"Okey!" Seru ku semangat.


"Semangat bener yang mau jadi istrinya ustadz," ejek Irgi.


"Ah, kalo Lo ngomong gitu seolah-olah gue mau berubah karena dia," sergahku. Aku merasa memang bukan orang baik. Tapi, aku akan membuktikan kalau aku akan belajar memperbaiki diri. Menepis anggapan siapa saja yang mungkin mengira aku berubah karena ada maunya.


Jali datang dengan dua gelas kopi menghiasi dua tangannya. Ia kembali memposisikan dirinya di tempat semula. "Buntu, mana oleh-olehnya? Kayaknya bakpia enak nih buat temen ngopi." Sindirnya.


"Oh iya sampe lupa." Aku memegang dahi. Lalu menyambar goodie bag yang berisi beberapa oleh-oleh. "Nih!" Aku memberikan lima dus bakpia kepada mereka berdua. Kemudian, aku masuk kamar untuk beristirahat sebentar. "Bagi-bagi!" Teriakku.


"Ini doang?" Jali memang tidak bersyukur. Segitu juga Alhamdulillah harusnya. Tapi, memang sih apa cuma itu doang? Mereka pasti berharap di beri oleh-oleh spesial juga sepertiku. Iya lah spesial, mana ada oleh-oleh CV ta'aruf seperti yang aku dapat dari Khafa.


"Nih! Bagi-bagi ya! ingat jangan berebut! Kasih anak-anak lain yang kerja!" Mata Jali dan Irgi langsung bersinar melihat kantung besar berlogo toko kaos ternama di Malioboro yang menggantung di tanganku. Sedetik kemudian mereka berhamburan berebut untuk mendapatkannya.


Sementara aku, setelah itu bergegas merapikan semua sisa baju kotorku ke dapur.


"Eh Saha iyeu!?" [Siapa ini?] Teriak bi Imah di belakangku ketika aku hendak membuka tabung mesin cuci.


"Ini saya bi," jawabku sambil menoleh kepadanya.


"Ya Allah neng, cantik banget. Bibi meuni kaget. Dikirain siapa," tuturnya sambil menatap kagum padaku. Melihatku yang hendak mencuci, bi Imah segera mendekati ku. "Biarin neng, sama bibi aja," ungkapnya.


"Eh, Iya bi, gak apa-apa," jawabku.


"Neng dari kapan pulang?"


"Alhamdulillah. Belum ada dua jam Bi," Jawabku sambil tersenyum. "Eh iya, Sebentar Bi," kataku sambil berjalan meninggalkan bi Imah di dapur. Tak lama kemudian aku kembali memberikan beberapa daster batik yang telah ku beli untuk bi Imah. "Nih, buat bibi,"


"Alhamdulillah, Neng Embun, makasih banyak yah, tau aja bibi mah baju seragam wajibnya ini." Syukur bi Imah sambil menempelkan satu baju daster itu di dadanya.


"Iya bi, sama-sama. Saya juga banyak terimakasih sama bibi. Bibi udah banyak bantu saya," balasku. Lalu aku berjalan menuju kamar mandi.


"Eh iya neng Embun, kemarin ada tukang bunga pake mobil bak. Kirim tanaman banyak banget. Tuh di depan. Neng emang pesen dari sana?" Aku menghentikan niatku untuk mandi. Lalu berbalik badan menghadap bi Imah.


"Bunga? Pohon bunga yang di depan?" Tanyaku penasaran.


"Iya, dikira bibi mah neng Embun yang pesen. Jadi Ama bibi di terima aja. Terus, mamangnya langsung yang pindahin, yang bawain, yang nanam," jelasnya.


Aku mengerutkan kedua alis ku, berpikir. Apa ini kejutan dari Khafa lagi?


Ah masa bodo. Aku bosan dengan sebuah teka-teki. Biarlah, teka teki itu ada. Aku tidak akan lagi peduli dari siapa itu. Anggap saja, ada yang sedang ingin beramal padaku dengan menanam bunga di halaman rumahku. Lumayan. Jadi pemandangan baru kan?