Always Remember

Always Remember
Agen Rahasia



๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Bu, lagi apa?" Sapaku pada ibu yang tengah sibuk menguleni adonan kue di dapur. Ia terlihat sedikit pucat. Tapi mungkin perasaan ku saja. Aku berdiri di depan pintu sambil memperhatikan kegiatannya.


"Bikin cemilan buat yang kerja besok. Kamu udah mandi?" Kata ibu tanpa menghentikan kegiatannya.


"Udah Bu." jawabku sambil menyisir rambut panjangku.


"Tadi Andra langsung pulang di anter Jali."


"Jali?"


Sesampainya di rumah. Andra masuk halaman rumahku untuk menyimpan motor. Aku langsung masuk ke rumah karena kepalaku basah terkena air hujan. Aku basah, apa kabar Andra yang mengendarai motor? Aku tidak sempat memperhatikannya. Padahal aku sempat menahannya untuk tidak langsung pulang.


"Iya, tadi ibu yang minta. Kasian Andra kan bawa motor kamu."


Dasar orang itu.. aku udah bilang ga perlu nganterin aku. Jadi ngeribetin si Jali kan.. eh tapi, Jali pasti seneng nganterin Andra. Dia kan orang pertama yang dukung aku sama Andra.


"Kak, jangan berdiri terus disitu sambil ngelamun. Pamali!" Cerca ibu karena melihatku asyik menyandarkan tubuh pada kusen pintu dapur.


"Pamali kenapa?"


"Anak sekarang dikasih tau nanya terus. Nanti kalo kena akibatnya baru nangis-nangis."


Aku tersenyum mendengar kata-kata ibu. Kemudian menggeser kursi mendekati ibu yang mulai membuat bulatan-bulatan kecil. "Sini aku bantu Bu." Aku ambil alih baskom berisi adonan kue. Kemudian meniru ibu membentuk bulatan-bulatan kecil.


Ibu bergegas mencuci tangan. Kemudian duduk di kursi yang ada di dapur kecil kami. Ku lihat ibu mengatur nafasnya pelan-pelan, sesekali menyeka keringat yang mengalir di dahinya.


"Kak, kamu udah dapat kabar terbaru dari Eliana?" Aku mengehentikan kegiatanku sejenak. Aku sudah menebak isi fikiran ibu. Ia sedang rindu anaknya yang satu itu. Aku menggeleng. "Sudah sebulan terakhir ibu tak mendapat kabar dari dia. Di telpon juga gak nyambung. Coba kamu cari tahu."


Sebenarnya aku juga beberapa hari terakhir terus menghubunginya. Tidak bisa. Ku coba berfikiran positif. Mungkin handphonenya rusak. Atau prasangka baik lainnya. Tapi lain halnya dengan ibu. Ia mampu merasakan perasaan anaknya walau jauh. Aku tak pernah memberitahukan ibu soal keadaan Eliana yang susah sekali di hubungi. Fikirku kalau memang tidak atau ada apa-apa ia pasti akan menghubungi balik.


"Iya Bu, nanti aku coba cek Facebooknya aktif atau nggak." Padahal aku sudah tau Eliana tidak pernah membuka lagi akun Facebooknya.


"Kamu jangan pura-pura cuek dengan adikmu. Walaupun berjauhan kalian harus saling sayang. Saling mendoakan. Saudara kandungmu cuma Eliana."


Aku hanya mengangguk sambil meneruskan kegiatanku.


"Terus kamu sama Andra gimana? Jangan kasih harapan kosong. Kasian kamu harus tegas sama perasaan kamu sendiri. Andra itu baik. Jangan di sakiti."


Aku tau kemana arah ibu bicara. Sama halnya dengan Jali. Ibu berada di pihak Andra. Dan ibu juga pasti tau kemana selama ini hatiku singgah. Ku tatap sejenak wajah ibu. Terlihat lelah dan kuyu.


"Ibu sakit?"


"Ibu nanya koq balik nanya." Ibu menghela nafas kemudian menatapku.


"Mmm iya iya. Aku sama Andra ya jalanin aja."


"Jalanin aja gimana? Kalian bukan anak ABG lagi. Segera fikirkan hal-hal yang serius." Kata ibu dengan dahi yang sedikit berkerut.


"Bu, kalau aku menikah nanti ibu ikut aku ya."


Ibu tersenyum tipis. "Jangan khawatirkan ibu kak, kamu kalau sudah menikah tanggung jawab ibu sudah selesai sebagai orang tua. Jalankan baktimu nanti sebagai seorang istri. Cintai suamimu sepenuh hati."


"Jadi ibu siap aku tinggal kalau suatu saat aku di bawa suamiku?"


Lagi, ibu tersenyum mendengar pertanyaanku. "Insya Allah akan ada jalannya. Kamu kan bisa nanti main-main kesini. Yang penting Kamu harus yakin dulu kemana arah kakimu akan melangkah. Jangan sampai kamu kehilangan dulu baru yakin perasaanmu seperti apa. Inget kak! Penyesalan itu adanya di akhir cerita. Bukan di awal." Jelas ibu dengan nada di penekanan di kalimat terakhir.


Hatiku merasa tercubit mendengarkan ibu. Kemudian melayangkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan dapur dan menghela nafas pendek. "Iya Bu. Insya allah. Ibu doain aku terus ya." Ibu hanya tersenyum kemudian bersiap-siap sholat magrib.


Setelah selesai membantu ibu di dapur aku lekas sholat dan menengelamkan tubuhku di kasur. Sempat ku lihat ibu sedang asyik dengan acara kuis favoritnya di televisi. Tiba-tiba aku merasa rindu pada kolong langit. Aku segera mengambil sweater di lemari. Tanganku menjamah satu persatu sweater kesayangan. Kemudian telunjukku berhenti pada satu sweater tebal berwarna abu.


Tanpa fikir panjang aku mengambilnya dengan satu tarikan. Menggenggamnya kemudian aku pamit pada ibu.


"Mau kemana kak?" Tanya ibu.


"Keluar dulu Bu sebentar." Jawabku.


"Jangan pulang malam ya."


"Iya." Kataku sambil menggunakan sweater.


Aku berjalan melewati jalan setapak menuju kolong langit. Suara jangkrik bersahutan membuat malam yang sunyi menjadi ramai. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah perjalanan yang menyeramkan. Tidak, jangan khawatir. Nanti aku tidak benar-benar di kolong langit. Tapi aku akan duduk di pinggir sawah yang berbatasan langsung dengan jalan besar yang biasa dilintasi penduduk sekitar. Hanya saja tidak malam-malam begini. Jadi, sepi masih menjadi hal yang pasti.


Aku melangkah pelan. Kemudian duduk di depan villa yang jarang sekali ada pemiliknya. Hamparan sawah di hadapanku membuat tak ada jarak antara langit dan bumi. Kolong langitku, terlihat jelas dari sini. Ku rekatkan kembali sweater yang aku pakai. Dingin. Mataku menjelajah ke segala arah. Suara kodok bersahutan, menimbulkan rasa yang khas pada kolong langitku. Dari kejauhan cahaya rembulan yang mengintip di balik awan terpantul di atas kolam kecil di bawah bebatuan.


"Hai.. Embun." sapa seseorang mendekati ku. Aku hanya menoleh. Ternyata disini bukan hanya ada aku. "Kamu lagi apa?" Kata lelaki berkacamata tebal itu.


Aku tersenyum tipis melihat sejenak ke arahnya. "Cari angin." Jawabku singkat.


"Saya boleh ikut duduk?"


Gak boleh! Orang lagi pengen sendiri juga.


Ia kemudian duduk di sebelahku. Namanya Dadang, umurnya sekitar 30 tahun. Mungkin lebih. Berkacamata tebal dan bulat. Tingginya tidak jauh berbeda denganku. Sekitar 163 cm. Rambutnya belah dua menyerupai huruf m. Meski terlihat culun, bicaranya nyambung. Wawasannya luas. Tidak membosankan.


"Kamu sejak kapan suka kesini?"


"Semenjak kamu suka kesana." Ia menunjuk kolong langitku.


"Maaf ya, dulu saya suka ngikutin kamu. Sampe akhirnya kamu udah gak pernah kesana lagi."


Aku melongo. Mau ngapain coba nih orang ngikutin aku?


"Saya tau kamu kesana pas lagi galau doang. Sekarang udah gak pernah galau ya. Jadi udah gak pernah kesana lagi?"


"Bisa aja. Ngga ko."


"Kamu tau gak? Tempat itu ada yang mau beli mau di jadiin rumah. Tapi ga jadi. Karena ada yang berani bayar dengan harga dua kali lipat lebih mahal. Dan orang itu di anter Jali. Kamu kenal?"


"Hah?! Jali?" Aku menatap Dadang tak percaya.


"Apa kurang jelas saya nanya?"


"Sejak kapan Jali jadi makelar tanah?"


Dadang menggendikkan bahunya. "teuing." [gak tahu]


"Terus sama pembeli baru mau di bikin rumah juga?" Tanyaku penasaran. Karena kolong langitku terancam hilang.


"Ngga. Dia beli ngga boleh di apa-apain. Udah gitu aja. Malah, lahan sawah di sekitaran sini katanya mau di beli juga. Buat investasi. Sawah daerah sini kan udah nyaris punah banyak di buat kavling. Dia mau melestarikan. Ngga bakal dia apa-apain. Petani juga bakalan dia bebasin menggarap sawah. Yang penting sawah dan tempat itu selamat."


"Kamu tau siapa dia?" Aku makin penasaran.


"Katanya mah bos perkebunan teh di Lembang. Kurang tau namanya."


dering handphone membuyarkan obrolan ku dengan Dadang.


Bos Ken Calling....


"Assalamualaikum Embun.. maaf saya ganggu malam-malam." sapa pak Kenedy di seberang sana.


"waalaikumsalam pak. Gak apa-apa pak. Ada apa pak?"


"Besok tolong kau urus mobil yang kirim barang ke Sentul ya. Kena pemeriksaan dinas perhubungan itu. Surat-surat truknya gak lengkap."


"Oh baik pak. Nanti saya ke kantor dinas perhubungan kota Bogor untuk urus semuanya."


"Oke. Terimakasih ya Embun."


"Sama-sama pak." kemudian pak Kenedy menutup telpon.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


****Jangan lupa dukung terus novel ini dengan caraaa :


โœ“ like


โœ“ vote sebanyak poin yang kalian punya dan kalian ikhlas.


โœ“rate 5


โœ“jadikan novel ini novel favorit kalian yaaa..


โœ“and komen dong pastinya...


hatur nuhun sadayana.. ๐Ÿ™****