Always Remember

Always Remember
Yogyakarta part 1 (ceremonial)



"Woy sampe woy!" Teriak salah satu temanku.


Hari semakin gelap. Temaram lampu kota terlihat meneduhkan. Bis perlahan masuk ke jalan Malioboro. Ramai. Banyak becak warna warni. Aku takjub. Banyak sekali pejalan kaki. Pasti mereka adalah turis. Baik dari dalam atau luar negeri. Pedagang kaki lima berjejer dengan rapi. Menjual aneka oleh-oleh khas Yogyakarta. Dari pakaian batik, sendal, sepatu, makanan dan lainnya. Seperti apa yang pernah ku lihat di televisi.


Bis menyusuri jalanan perlahan. Jalan Malioboro ini tegak lurus searah mata angin. Konon yang aku tau jalan ini membujur dari Utara ke Selatan. Ternyata pola itu di perkuat sebagai sumbu imagener antara pantai selatan, keraton Yogyakarta dan gunung Merapi.


Bis berbelok ke area parkiran hotel tempat kami menginap. Dari balik jendela bis. Nertaku beredar menyapu sekitar. Kulihat di atas lobby hotel terpampang nama Oriz-in hotel lengkap dengan alamatnya. Masih di jalan Malioboro. Bangunannya terdiri dari 4 lantai. Bergaya modern klasik. Terkesan mewah.


Setelah bis menemukan posisi parkir. Kami bersiap merapikan barang bawaan. Ahh rasanya antusias sekali. Tak tergambarkan. Kami semua di giring ke lobby hotel. Cek in. Di beri kelompok masing-masing lima orang untuk satu kamar. Tanpa di minta Vita, Dela, Riri dan Nanda menempel ke arahku. Kita harus satu kamar.


Para guru pendamping juga memberikan arahan untuk jadwal esok pagi. Kita harus sudah kumpul jam 8 dengan kostum kebaya untuk perempuan. Dan jas rapi untuk laki-laki. Acara ceremonial perpisahan sekolah akan segera diselenggarakan.


Selesai pembagian kamar kita berjalan menaiki tangga ke lantai 3. Tak ada kata lelah. Semua semangat dan norak. Ku buka pintu kamar berwarna coklat kayu. Dan ku lihat didalamnya ada dua tempat tidur king size dengan sprei berwarna broken white. Di tengah keduanya terdapat sepasang nakas dan lampu tidur yang elegan.


"Gue pengen pipis. " Dela berlari menghampiri pintu yang ada didalam kamar. " Wow bath tub!" Teriaknya dari balik pintu. Norak.


Vita menyusul Dela. "Del lu pipis jangan di dalem situ yah." Ledek Vita. Ia menunjuk ke arah bathtub.


"Ya moal atuhhh. Meuni kitu si Vita mah. Gue ge ga senora eta kaliii.." [ya ngga akan atuh. Gitu banget sih kamu Vita. Gue ga se-norak itu kali.] Ia berdecak. "Udah sana keluar gue mau pipis!" Sambungnya.


Vita keluar dari kamar mandi.


"Eh Vita, tapi kalo gue mandi sambil berendem disitu mah boleh ya pipis didinya." kelakar Dela.


Vita tergelak. "iya boleehhh... Kalo Lo Mao mah mandi di campur Aer pipis Lo sendiri ga apa apa." Vita ngeloyor meninggalkan Dela.


"Vita meuni jorok pisan maneh mah." [Vita jorok banget kamu]


Kami semua bergegas merapikan barang bawaan. Bersih bersih. Ganti baju. Setelah selesai aku keluar menuju balkon kamar.


Takjub.


Aku di buat takjub oleh pemandangan malam di kota ini. Temaram lampu terlihat nan indah dan menenangkan. Bersih. Aku lihat beberapa motor berlalu lalang. Pengendara maupun penumpangnya memakai helm. Tak ada kemacetan. Padahal ini di kota. Aku salut dengan kedisiplinan penduduknya.


Di langit bintang seolah berserakan. Cahayanya menambah syahdu malam ini. Aku terpaku. Tanpa sepatah kata mampu melukiskan rasa takjubku.


Malam semakin larut. Jarum jam semakin merangkak naik. Tak terasa sudah lewat tengah malam. Teman-temanku entah mereka kelelahan. Atau memang tak memiliki sudut pandang sama denganku soal kota ini. Bisa-bisanya mereka tidur pulas pada posisi masing-masing. Aku bahkan tak ingin melewatkan sedetikpun keindahan malam ini.


Ku tengok sekilas mereka di dalam kamar. Posisi mereka tidur sangat mengerikan. Dua ranjang king size terisi penuh oleh gaya tidur mereka yang absurd. Aku hanya bisa berdecak. Ada satu buah sofa bed lengkap dengan karpet bulu di bawahnya. Ku ambil. Ku bawa karpet ke balkon untuk melapisi kursi kayu. Kurasa cukup empuk. Lebih empuk dibanding kasur di kamarku. Ku rebahkan tubuhku di atasnya. Beratapkan langit cerah oleh kerlip bintang. Sungguh ini adalah kenyamanan yang sempurna.


🌸🌸🌸


"Embuuuuunn...! Lo tidur di luar. Ya Allah..." Riri teriak.


Aku terlonjak. Sedang enak-enak tidur. "Ada apaan?" Reflek aku bertanya.


"Lo kenapa tidur diluar?"


"Teu eling maneh teh. [gak sadar kamu ya?] Dingin Embun. Ntar Lo masuk angin. Cepet masuk!" Perintah Riri.


"Iya udah iya.." aku ngeloyor masuk dengan membawa serta selimut yang menempel di tubuh ku.


"Aya naon si? Jam baraha iyeu?" [ Ada apa sih? Jam berapa ini?] Tanya Nanda disebelah ku.


Aku tak menjawab. Aku lanjutkan aktivitas tidurku yang tadi tertunda.


"Subuh Nan." Jawab Riri yang sudah bersiap ke kamar mandi.


Tanpa membuka mata aku tau Nanda ikut bangun bersiap sholat subuh. Mataku masih terasa berat. Aku tidur lagi.


🌸🌸🌸


Mereka membangunkan ku pukul 7.30. fix kesiangan. Teman-teman sudah rapi dengan kebaya masing-masing. Aku? baru mau bergegas ke kamar mandi. Mandi bebek secepat kilat. Tidak sampai satu menit. Selesai. Hebat bukan?


Setelah ku kenakan kebaya biru lengkap dengan plisketnya, Vita mendandani ku. Aku pasrah. Entahlah bagaimana jadinya. Rambutku, aku biarkan terurai. Hanya di kepang kecil kanan kiri kemudian di ikat ke belakang. Itu pun ide kilat Nanda. Ku kenakan hills berwarna hitam yang telah kupersiapkan.


Kami menuruni anak tangga perlahan. Menuju lantai 1. Bagus. Hanya kami berlima yang belum kumpul di gedung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kami terlambat. Kemunculan kami disertai sorak teman-teman yang sudah hadir lebih dulu. Malu? Ngga biasa aja.


Acara di mulai. Sambutan yang pertama oleh kepala sekolah tentunya. Lama dan membosankan. Kemudian dilanjut oleh perwakilan wali kelas. Setelah itu acara inti di mulai.


Ku lihat Frisca. Dari kursi depan ia pindah ke belakangku. Setahuku ia dekat dengan salah satu guru bahasa Inggris di sekolahku. Ia menarikku.


"Embun siap-siap." Bisiknya.


"Apa?" Aku tak mendengar. Sound di ruangan terasa bising dan menggema. Suara music band lokal yang sedang tampil. Undangan panitia. Mungkin.


Music berganti. Menjadi music Sunda ala-ala hajatan. Seorang lengser keluar dari balik panggung. Menari dengan lincahnya. Ia turun panggung. Entah mau kemana. Ditariknya seorang siswa berprestasi dari beda jurusan seangkatanku.


Oooo. Ini mungkin acara inti. Fikirku.


Hatiku berdebar.


Ahh jangan ge er embun. Di jurusanku pasti aku.


Memang sih setiap semester aku selalu mendapatkan beasiswa dari sekolah bebas uang SPP karena prestasiku. Tapi bisa saja kali ini berbeda.


Lengser datang ke arahku. Benar saja. Aku yang ditariknya. Di bawanya aku ke siswa yang ia tarik tadi. Kemudian para penari di belakang memayungiku layaknya pengantin di acara pernikahan. Aku dilempari pernak pernik kertas berwarna warni. Aku senang sekali. Aku bangga.


Ahh seandainya orang tuaku ada disini.


🌸🌸🌸