Always Remember

Always Remember
Kronologi



Flashback


Author


"Astagfirullah Wak!" Seru Irgi. Ia kaget melihat kakak kandung dari ibunya itu terpejam duduk di depan pintu kamar mandi rumahnya.


Dengan sigap, ia membopong tubuh Syarifah ke sofa. Kemudian ia mencari minyak kayu putih yang mungkin bisa membangunkan Syarifah dari ketidaksadarannya.


Namun, sudah lima menit ia berusaha belum ada tanda-tanda Syarifah akan tersadar. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Syarifah.


"Gi," panggil Jali. Niatnya terhenti saat melihat Irgi sedang menolong Syarifah. "Gi, uwak kenapa?" Tanya Jali tak kalah kaget.


"Jatoh kayaknya Jal di depan kamar mandi. Gue nemuin uwak udah pingsan disana," tutur Irgi.


"Astagfirullah," gumam Jali.


"Gue panggilin mantri Yusuf dulu ya Jal, tolong tunggu disini!"


Irgi berlari ke rumah mantri Yusuf yang rumahnya hanya beberapa meter dari rumah Syarifah. Ia adalah tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas desa, di kampung ia dikenal dengan sebutan mantri.


Lima belas menit kemudian ia kembali di ikuti Yusuf dibelakangnya.


Syarifah sudah tersadar dan mengerjapkan matanya lemah, ia ditemani dua orang tetangga depan rumah yang mendengar bahwa ia tak sadarkan diri.


Kemudian, dengan alat kesehatan seadanya, Yusuf memeriksa Syarifah dengan teliti.


"Gimana pak?" Tanya Irgi khawatir.


"Tekanan darahnya tinggi 195/90, Sebaiknya segera di larikan ke IGD, kalau terlambat bisa kena serangan stroke," jelas Yusuf.


Irgi berlari keluar mencari pertolongan. Ia butuh kendaraan ambulan atau paling tidak mobil pribadi untuk membawa Syarifah ke rumah sakit.


Di sisi ujung halaman luar rumah Syarifah, berdiri seorang laki-laki berkacamata tebal. Ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Irgi berlari menuju rumah tetangga sebelah yang mempunyai kendaraan bermobil. Ia berniat untuk meminjamnya.


"Gi, ada apa?" Tanya laki-laki itu.


"Eh Dang, saya mau ke pak Ismail. Ada gak ya di rumah," tutur Irgi.


"Mau ngapain ke pak Ismail? Tumben,"


"Mau pinjam mobil, bawa ibunya Embun ke rumah sakit," tuturnya lagi.


"Astagfirullah, Embun-nya lagi gak ada di rumah ya?"


"Iya Dang, dia lagi di Bandung."


"Tunggu sebentar di rumah Gi, Insyaallah saya bisa bantu."


Dadang berlari sekencangnya menuju satu tempat.


Sedangkan Irgi sedikit bingung namun ia kembali ke rumah dengan harapan Dadang benar-benar dapat memberikan pertolongan.


Kini Dadang tiba di satu tempat itu, ia memanggil seorang lelaki dengan bahu lebar yang sedang mengecat tembok bangunan berbentuk gazebo yang begitu besar.


"Mas, mas Khafa!" Teriak Dadang. Ia memegang dadanya yang naik turun karena susah payah mengatur nafas.


Khafa menghentikan gerakan tangannya. Lantas menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Sini mas, ada berita penting!" Sambungnya dengan suara nyaris hilang. Tangannya melambai ke arah Khafa.


Namun, Khafa bisa mendengarnya dengan jelas. Ia melangkah melewati kolam kecil yang berada di tempat yang ternyata adalah kolong langit. Tempat favorit Embun.


"Ada apa kang Dadang?" Tanya Khafa, ia tahu kalau Dadang itu lebih tua darinya empat tahun. Maka, untuk membalas perlakuan baik Dadang kepadanya, Khafa memanggil sebutan akang pada Dadang.


"Ibunya Embun jatuh pinsan mas, sekarang Irgi sedang bingung cari mobil buat bawa ke rumah sakit. Boleh saya-------"


Belum selesai Dadang memberi keterangan, Khafa menyimpan sembarangan kuas yang ia pegang kemudian berlari mengambil kunci mobil. "Ikut saya kang!"


Dadang mengekor Khafa menghampiri mobilnya yang terparkir di jalanan. Jalan yang menghadap langsung area persawahan.


Karena jaraknya hanya sekitar seratus meter, tidak sampai dua menit mereka telah sampai di depan rumah Syarifah.


Dadang keluar dari mobil kemudian masuk mencari Irgi. Sedangkan Khafa menunggu di dalam mobil.


"Gi, hayuk bawa! Mobil udah di depan."


"Alhamdulillah, makasih ya Dang."


Dengan di bantu Jali, Syarifah di bopong masuk ke dalam mobil.


"Jal, tolong urus kerjaan dulu ya. Gue ke rumah sakit." Pesan Irgi pada Jali kemudian ia menutup pintu.


Khafa mulai menjalankan mobilnya, "kita mau ke RS mana?" Tanyanya ragu. Ia sesekali melirik spion dalam mobil melihat Syarifah.


Tidak pernah ia sangka. Kini, ibu dari tambatan hatinya itu berada sedekat ini. Sayangnya, ia bertemu dalam kondisi yang tidak begitu baik.


Khafa tidak menjawab apapun. Karena ia sudah tahu kemana harus membawa Syarifah.


Diam-diam Irgi memperhatikan Khafa dari posisinya. Ia merasa tidak asing pada lelaki yang sedang dalam kemudi itu.


Lima belas menit kemudian mereka sampai di ruang IGD RS Citra Medika. Syarifah langsung mendapatkan penanganan pertama hingga perawatan selanjutnya di ruang rawat inap.


"Sudah di bayar mas semua biaya awalnya sama mas yang disana," jelas perempuan di dalam loket pembayaran ketika Irgi hendak membayarkan biaya awal rumah sakit. Sebelumnya ia sibuk menemani Syarifah di ruang perawatan.


Irgi menoleh pada lelaki yang di maksud perempuan itu. Sudah ia duga. Khafa.


"Kayaknya saya gak asing sama antum," mulai Irgi. Kini ia sudah berada di hadapan Khafa.


Khafa tersenyum lalu menyodorkan tangannya hendak bersalaman dengan Irgi.


"Khafa kan?" Irgi menyambut tangan Khafa. "Masya Allah." Irgi nampak terkejut lalu mengayun-ayunkan tangannya.


"Na'am. Antum sehat Gi?"


Mereka melepaskan salamannya.


"Alhamdulillah saya sehat wal'afiat seperti yang antum lihat, eh Dadang kemana?" Tanya Irgi sambil Mengedarkan pandangannya.


"Lagi ke depan cari air minum."


Irgi mengangguk.


"Gimana ibu? udah masuk ruang perawatan?" Tanya Khafa khawatir


"Sudah Alhamdulillah." Jawaban Irgi membuat Khafa sedikit lega.


"Sudah bisa kita jenguk?"


"Sepertinya belum. Kita duduk disana dulu yuk, sambil menunggu kapan Ibu Embun bisa di jenguk," ajak Irgi. Kemudian duduk di kursi ruang tunggu. "Atau antum mau balik, gak apa-apa. Biar saya disini aja sendiri," tawar Irgi merasa tidak enak.


"Oh enggak, saya disini dulu boleh? Kalau nanti Embun datang, saya pergi," tuturnya.


Irgi sedikit berfikir soal penuturan Khafa barusan.


"Saya belum mau Embun tahu saya ada disini," sambung Khafa. Seolah ia tau apa yang ada dalam fikiran Irgi


"Kalo memang tidak merepotkan, silahkan saja," jawab Irgi kemudian.


"Nggak lah. Sekalian silaturahmi," balas Khafa.


"Saya masih gak percaya kalo antum ternyata teman Dadang,"


"Qodarullah Gi,"


Irgi balas mengangguk. "Sekarang antum tinggal dimana?"


"Saya di Yogyakarta, kadang di Jakarta karena Mama disana. Sisanya saya keliling aja, lagi ada pembangunan rumah tahfidz di beberapa tempat," jelas Khafa.


"Masya Alloh, jadi mimpi antum tercapai? Dulu saya ingat mimpi itu pernah ustadz Joko sampaikan di pidato beliau waktu acara penglepasan angkatan antum," kenang Irgi sambil menatap bangga pada Khafa.


"Wah, saya malah nggak ingat Gi,"


Kemudian percakapan mereka mengalir membahas kenangan saat di pondok dulu, meski mereka berbeda angkatan namun Irgi dan Khafa terlihat begitu akrab.


Dulu, Irgi sempat menjadi informan untuk Khafa, meski tidak banyak. Karena Khafa selalu di sibukkan dengan kegiatannya sebagai santri yang berprestasi.


"Waktu itu Embun sempat lihat antum di nikahannya teh Nisa, tapi dia bilang antum sama anak istri. Emang bener?"


"Dia lihat saya?" Khafa menatap serius pada Irgi.


"Iya, terus dia nangis nangis minta pulang sama saya,"


Khafa terkekeh, "masih cengeng aja dia." Lalu ia terdiam sejenak. "Saya kira, dia itu mulai salah paham waktu kita ketemu di Jogja. Tapi saya biarkan saja dia salah paham. Karena saya tahu bahwa dia udah nggak sendiri. Saya takut, kalo saya menjelaskan saat itu juga. Hadirnya saya malah jadi dilema buat dia."


Khafa menghela nafas pelan kemudian melanjutkan kata-katanya, "tapi walaupun begitu nggak bikin saya benar-benar pengen hilang dari hidupnya Embun. Jujur Gi, antum juga tahu kan? Embun itu yang pertama buat saya. Dulu, saya pernah janji untuk kembali pada almarhum ayah Embun. Tapi ternyata kenyataanya tidak segampang itu. Saya masih punya mimpi yang belum bisa saya wujudkan. Saya juga takut kalau saya kembali pada saat yang belum tepat, Embun akan bosan nunggu saya," jelasnya.


"Jadi sebenarnya kalian itu sama-sama salah paham ya?"


Khafa tersenyum miring. "Salah paham yang disengaja. Saya juga yakin lah, kalo memang jodoh gak akan kemana kok. Pasrah saja."


Irgi mengangguk-angguk seraya berkata, "iya antum bener."


Jeda sejenak kemudian Irgi melanjutkan Obrolannya "Omong-omong antum masih suka naik gunung? Waktu itu saya sempat lihat postingan Abi foto di Merbabu sama antum."


"Alhamdulillah, kalau ada kesempatan saya selalu sempatkan untuk naik. Hiburan lah Gi," jawab Khafa santai.


"Ah yang bener? Hiburan atau pelarian nih?"


Pertanyaan Irgi sukses membuat Khafa kembali terkekeh. Lalu ia menyenggol pelan bahu Irgi "bisa aja antum," jawabnya.