Always Remember

Always Remember
Memperjuangkanmu



"Mas, saya ikut!" teriakku pada mas Wisnu yang di perintahkan Aba untuk pergi sekarang juga ke lokasi bencana.


Mas Wisnu terkesiap. Langkahnya menuju mobil terhenti. Lalu, ia menoleh padaku yang telah berlari meninggalkan Aba, Ummi dan Fitri di ruangan dalam keadaan panik.


Aku maju mendekati Mas Wisnu. "Saya ikut mas, saya mau memastikan sendiri kalau relawan yang gugur itu bukan Khafa," tuturku pelan pada Mas Wisnu. Meski pelan, aku tahu kalau Mas Wisnu membaca keyakinanku. Ya, aku yakin relawan itu bukan Khafa. Paling tidak, aku meyakinkan diriku sendiri dengan ucapanku. Berharap dengan sangat kalau ucapanku adalah doa yang di aminkan oleh ribuan malaikat.


Setelah berpikir sebentar mas Wisnu akhirnya mengangguk menyetujui permintaanku. Aku tahu dari obrolan Mas Wisnu dengan Aba tadi di dalam ruangan. Bahwa lokasi bencana bukan lokasi yang mudah. Tapi, aku bersikukuh untuk ikut. Bagaimanapun aku harus tahu lebih dulu keadaan suamiku. Aku yang paling berhak.


Informasi yang kami dapat selama dalam perjalanan simpang siur. Ada juga yang bilang relawan yang gugur bukan bernama Khafa. Meski kabar itu samar. Sedikitnya mampu menambah keyakinanku bahwa Khafa baik-baik saja.


Setelah menempuh perjalanan satu setengah jam. Kami sampai di suatu tempat yang berdataran tinggi. Mobil kami di stop oleh warga sebelum benar-benar masuk ke lokasi bencana. Awan mendung yang dari Khusnul khatimah tadi menggelayut di langit, kini berjatuhan menjadi tetesan air hujan yang membasahi kembali bumi yang tengah berduka.


Di balik kaca mobil yang sedikit berembun aku melihat beberapa warga yang berlalu lalang membawa segumpal bekal di punggungnya menuju barak-barak pengungsian sementara. Ternyata tidak sesimpel yang ku bayangkan. Suasana cukup genting dan mencekam. Tebing-tebing dataran tinggi bisa kapan saja roboh menyajikan bongkahan tanah yang di sebut longsor. Rasa khawatir yang tadi berhasil aku tekan sedalam-dalamnya. Entah kenapa menyeruak kembali melihat keadaan disini.


Kha, kamu pasti baik-baik saja kan?


Mas Wisnu keluar mobil untuk mencari informasi. Sedangkan aku di suruh menunggu di dalam mobil karena hujan yang semakin banyak berjatuhan.


Berkali-kali aku mengusap kaca mobil demi memperhatikan satu persatu orang yang lewat. Siapa tahu, ada Khafa diantara mereka. Tapi nihil. Sampai Mas Wisnu kembali ke dalam mobil, aku masih belum melihat satupun orang yang aku kenali.


"Lokasi longsor masih jauh dari sini. Aksesnya sulit. Kita tidak bisa memasukinya kecuali dengan motor atau bahkan harus berjalan kaki," ujar Mas Wisnu sambil menghempaskan dirinya ke sandaran jok mobil.


"Biar Mas, saya mau kesana sekarang juga walaupun jalan kaki," jawabku sambil bersiap membuka pintu.


"Jangan!" Teriakkan Mas Wisnu menggoyahkan niatku untuk pergi. "Sabar, saya coba cari informasi dulu. Kita tidak bisa ceroboh. Kalau ada apa-apa---,"


"Tidak ada yang lebih penting selain Khafa saat ini Mas," selaku. Lalu, aku membuka pintu mobil dan keluar membiarkan diri basah oleh tetesan air hujan. Meninggalkan Mas Wisnu di dalam mobilnya.


Tapi, belum sempat aku menutup pintu mobil, seorang bapak paruh baya menghampiriku. Ia meminta kepada mas Wisnu untuk memutar balik arah dan menyimpan mobil jauh dari lokasi bencana. Aku menggangguk pasti saat menangkap raut wajah mas Wisnu yang bimbang meninggalkanku disini.


"Gak apa-apa, mas, setelah mas Wisnu menyimpan mobil mas bisa balik kesini."


Setelah mendengarku, akhirnya mas Wisnu berlalu memutar balik mobil dan menyimpannya entah dimana. Kami terpisah.


Hujan semakin deras. Aku mengikuti bapak paruh baya tadi yang sedang berjalan meninggalkan aku dan mas Wisnu. "Pak! maaf, apa bapak tahu ada relawan yang meninggal saat mengevakuasi korban?"


Bapak itu menoleh, lalu mengangguk. "Iyo mbak, dua orang. Mereka masih tertimbun reruntuhan tanah longsor. Tim evakuasi yang lain masih berupaya menyelamatkan. Karena lokasinya berada di kedalaman jurang, sudah tiga jam yang lalu jenazah mereka belum juga bisa di evakuasi," jelas bapak itu.


Keterangan bapak itu membuat sendi-sendiku terasa ngilu. Aku tiba-tiba lemas nyaris kehilangan tenaga.


"Bapak tahu siapa nama relawan yang tertimbun itu?" tanyaku lemah sambil menepis air hujan yang mulai membasahi wajahku.


"Tidak tahu Mbak, yang saya dengar dari saksi mata, orangnya tinggi besar. Memakai kaos berwarna hitam," tambahnya.


Kaos hitam? Semalam Khafa dan teman-temannya juga memakai kaos berwarna hitam. Kaos tersebut adalah kaos dengan logo yang sama dengan komunitas relawan dimana mereka di naungi.


"Kalau boleh saya tahu, mbak ini sedang cari sanak keluarga atau?"


"Saya cari suami saya pak, dia relawan yang membantu evakuasi bencana disini sejak semalam," tuturku cepat.


"Astagfirullah, semoga...," Ku perhatikan dengan seksama perkataan sang bapak yang terjeda sesaat, "...semoga relawan yang jd korban bukan suaminya, ya. Mari mbak saya bantu cari suaminya. Disana ada barak pengungsian dan tenda relawan. Yang saya tahu ada beberapa mobil relawan juga yang terparkir disana."


Dengan perasaan yang tak tergambarkan aku menoleh mengikuti arah telunjuk bapak itu.


"Kalau boleh saya tahu nama Mbak siapa?"


"Nama saya Embun pak, terima kasih pak, saya coba ke posko relawan dulu," pamitku pada bapak berkoko coklat itu.


Tergopoh, aku berlari menuju tempat yang di tunjukan oleh bapak itu. Beberapa kali aku hampir jatuh tersandung gamis dan jalanan yang begitu licin. Aku terus berjalan cepat dengan sisa tenaga yang ku punya. Mataku tak henti beredar melihat satu persatu orang. Dari jarak sekitar sepuluh meter ku lihat ada sebuah bangunan mirip puskesmas desa.


Udara semakin dingin. Bajuku basah kuyup karena air hujan. Tanpa ku rasa, aku telah menggigil karenanya. Tapi, semua itu aku abaikan. Yang terpenting saat ini hanya Khafa. Aku harus segera tahu bagaimana keadaannya.


Sampai di posko relawan aku hanya melihat satu orang pria yang sedang sibuk menulis sesuatu. Aku tidak tahu persisnya. Seumur hidupku, aku baru merasakan ada di tengah hidup pikuk keadaan seperti ini. Wajah-wajah takut, sedih, dan khawatir tergambar jelas pada setiap orang yang ada disini. Mereka kehilangan harta benda dan orang tersayang sekalipun.


"Maaf mbak, tidak bisa. Lokasi berbahaya, kalau memang mbak butuh informasi bisa saya bantu."


Aku membuang napas, "suami saya itu..." Kalimatku terhenti saat dari kejauhan, aku melihat beberapa orang menggotong tandu dan membawanya ke gedung yang ku pikir itu puskesmas. Tapi ternyata itu hanyalah balai warga yang di gunakan untuk mengevakuasi sementara korban bencana.


Aku berjalan meninggalkan posko, lalu mengikuti beberapa orang yang membawa tandu berisi jenazah yang tertutup plastik seadanya itu. Langkahku terasa berat karena hujan terus mengguyur semakin deras. Sudut hatiku menjerit. Ingin sekali berkata, aku boleh lihat jenazah itu? Tapi aku tidak sanggup. Air mataku mulai deras mengalir membanjiri wajah yang sudah basah oleh air hujan. Aku merasakan takut kehilangan yang amat sangat. Berkali-kali aku mengusap wajah karena pandanganku semakin kabur.


"Mas, saya boleh tahu siapa korban meninggal di atas tandu itu?" tanyaku pada salah satu orang berjaket hitam dalam rombongan.


"Nanti Mbak," jawab seseorang yang ku tanyai itu acuh. Tapi, itu tak membuat nyaliku ciut untuk terus mencari tahu.


"Tapi, mas. Suami saya juga relawan disini. Saya mau tahu kabarnya. Apa jenazah itu adalah...." Tak sanggup aku teruskan kalimatku. Aku tidak mau berkata apa yang aku takutkan. Sekalipun hanya bertanya, tetap saja rasanya berat. Sekali lagi, aku takut perkataan yang keluar dari mulutku menjadi sebuah doa yang diaminkan oleh semesta. Aku tidak mau.


Beberapa pengangkut jenazah itu tidak sempat menjawab. Hujan terlampau deras. Mereka semua berjalan menuju balai dan menutup pintu kaca dari dalam.


Sedangkan aku, tidak mendapatkan izin untuk masuk. Aku hanya mampu menatap mereka dari pintu kaca yang basah dari luar. Ku lihat satu tangan jenazah dalam tandu itu terkulai penuh tanah, samar ku lihat jam tangan yang melingkar sama persis dengan jam tangan yang milik Khafa. Seluruh sendiku rasanya remuk. Sulit ku percaya.


Aku menangis sejadi-jadinya. Tubuhku merosot ke lantai. Bahkan, tangisanku mengerang kencang berpadu dengan derasnya hujan. Perih aku mengerih. Menangis menepis semua kenangan manis. Haruskah secepat ini berakhir? Aku menggelengkan kepalaku sendiri. Tidak! itu bukan Khafa. Bukan!


Aku berdiri mengumpulkan kembali semua tenaga yang tercecer. Ku buka paksa pintu yang di kunci itu sekuat tenaga. Mengetuk dan memukul kacanya sekencang-kencangnya. Namun tak ada satupun orang yang peduli. Jenazah itu bahkan kini sudah tak terlihat karena dikelilingi oleh sejumlah orang yang mengurusnya. Ku pukul sekali lagi kaca itu hingga timbul suara debaman yang amat keras. Harusnya semua tahu perasaanku, semua dengar suaraku, semua dengar suara pintu yang ku pukul-pukul. Tapi, derasnya hujan menenggelamkan semuanya. Menenggelamkan juga keyakinanku bahwa Khafa baik-baik saja.


Raga ini kembali tersungkur tak mampu lagi berdiri. Hati ini remuk redam. Air mata ini tak bisa lagi terkendali. Deras menyaingi air yang jatuh menggenangi bumi.


"Jangan tinggalkan aku Kha," lirihku seraya terus menggelengkan kepala. Dadaku semakin sesak tak berhenti terisak. Hingga raga ini benar-benar lelah dan menyerah. Bersandar pada daun pintu yang berada di sampingku.


Tanpa ku sadari hujan perlahan berhenti. Meninggalkan sisa-sisa kenangan indah yang tersimpan rapi. Letih rasanya diri ini. Tak boleh kah aku bahagia sekali lagi?


Aku menjerit dalam hati. Terus tersedu dalam keterasingan. Semua orang sibuk dengan dukanya masing-masing. Berlalu lalang menyelematkan diri atau mencari informasi. Mas Wisnu juga aku tidak tahu dimana saat ini. Aku tak sempat memikirkannya lagi. Entah berapa lama aku tergugu di depan pintu balai yang masih terkunci. Berteman gerimis yang menarik paksa aku untuk menerima kenyataan yang sedang terjadi.


Tersadar.


Saat seseorang yang ku cintai berdiri di hadapanku dengan napas yang tersengal. Kuusap Berkali-kali wajahku dengan kedua tangan. Menghapus air mata dan air hujan yang bercampur jadi satu. Berharap genangannya pergi lalu memperjelas pandanganku yang mungkin saja keliru.


"Dek," ucapnya. Ia usap air wajahnya yang juga basah.


Aku masih terkesiap tak percaya. Semua ini seperti mimpi. Rasanya, sudah terpisah lama. Aku menatapnya dengan derai air mata tak percaya. Dia, suamiku? Tubuhnya tidak penuh tanah. Namun semua basah. Pakaiannya masih sama dengan semalam. Jam di tangannya? Tidak ada. Lalu, jenazah siapa di dalam itu?


Sedikit memar di keningnya membuat aku memiliki tenaga kembali untuk berdiri.


Hujan berhenti. Tak ada lagi suara gemuruh jatuhannya. Yang ku dengar, kini hanya deru napasnya. Dadanya naik turun mengatur napas. Kuusap wajah lelah itu. Menjelajahi kepala, pipi, dagu dan luka di bawah bibirnya dengan lembut. Memastikan bahwa yang ku lihat ini adalah bukan halusinasi. Ini nyata. Dia Khafa. Suamiku. Dan dia, masih hidup.


Aku kembali terisak. Ku peluk raga itu dengan rasa syukur yang tak pernah aku rasakan sedalam ini.


"Jangan pergi lagi Kha, jangan. Aku gak mau, aku gak mau..." Aku kembali terisak. Tak sanggup aku kehilangannya. Tak akan pernah sanggup.


Ia menciumi puncak kepalaku yang berbalut hijab basah. "Maafin aku, maaf. Aku gak akan pergi, kalau kepergian ku kamu tangisi seperti ini sayang," ucapnya. Lalu, membalas pelukanku erat sekali.


Aku masih tak menghiraukan. Maafnya tidak penting bagiku. Segala macam bentuk langkah yang menurut ia salah, sudah tidak penting lagi. Aku tidak peduli. Yang terpenting adalah raganya kembali. Jiwa dan raganya utuh. Tak kurang satu apapun.


"Pulang Kha, sekarang. Semua nunggu kamu. Semua sayang kamu. Jangan pergi lagi Kha, jangan. Aku janji gak bakal bikin kesel kamu lagi, aku janji selalu ada buat kamu, aku janji akan mengikuti apapun kemauan kamu. Tapi aku janji, aku gak akan izinin kamu pergi sendirian lagi tanpa aku Kha. Aku gak mau Kha, aku gak sanggup. Aku benci sendiri Kha, aku mau selalu bersama kamu Kha, jangan tinggalin aku lagi. Jangan!" Aku berceracau di tengah isakkan ku sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Sesak, ku buang semua di pelukannya. Aku lelah berpura-pura kuat. Kalau bukan karena rasa tanggung jawabku, aku tidak mau. Aku tidak mau berpura-pura. Pura-pura kuat melepaskannya, pura-pura kuat saat mendengar kabar itu, pura-pura kuat meyakinkan diri sendiri kalau Khafa baik-baik saja. Sesungguhnya aku takut. Sangat takut. Takut kehilangannya.


"Berhenti ada dalam bahaya Kha. Aku gak mau kehilangan kamu. Gak mau."


Ia menganggukkan kepala sambil sesekali memejamkan matanya. Mencium lagi puncak kepalaku. Dalam sekali. Aku harap kini dia sadar. Bahwa sekarang ketika dia pergi. Ada aku yang tak pernah rela ia tinggalkan.


Setelah menunggu beberapa jam urusannya selasai, aku pulang bersamanya. Sebenarnya aku sempat di suruh pulang lebih dulu dengan mas Wisnu. Tapi aku menolak. Aku harus pulang bersamanya. Aku akan membuktikan pada Aba dan ummi. Bahwa Khafa baik-baik saja. Ia ada dan akan pulang kembali bersamaku. Tidak akan ku biarkan ia pulang sendiri, atau pulang bersama tim-nya. Aku harus memastikan bahwa Khafa tidak kembali ke lokasi bahaya. Ya, aku terus mengawasinya. Tak peduli lagi anggapan orang lain seperti apa.


Ucapan syukur tak hentinya aku lafalkan. Terima kasih Al-Walliyy, Sang Maha Melindungi. Engkau telah lindungi dia. Suamiku dengan jiwa dan raga tak kurang satu apapun.


*****