
Sejatinya, cinta bukanlah derita. Melainkan penyembuh luka.
.
.
.
.
.
.
πΈπΈπΈ
Aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Kalau aku tidak akan pernah meninggalkan ibu setelah aku menikah. Tapi terpaksa janji itu aku langgar. Karena ternyata ibu lebih senang aku menikah dengan Khafa. Ya, tahu sendiri kan? Khafa itu tidak tinggal di kota yang sama denganku.
Aku sudah berbincang soal ini sebelumnya dengan ibu. Menyatakan bahwa resiko terpahit ketika aku menikah dengan Khafa adalah berpisah dengannya. Tapi, ibu tidak masalah. Beliau yakin kalau Khafa adalah seorang anak berbakti. Jadi ibu tidak akan khawatir melepaskan ku pada lelaki Sholeh yang nyaris tanpa cela di matanya.
Bukankah bakti seorang anak kepada orang tua salah satunya adalah membahagiakannya?
Jadi, itu juga yang menjadi alasan kuat aku menerima Khafa secepat ini.
Sudah tiga hari kami tinggal di rumah ibuku. Malam-malamku biasa saja. Khafa sibuk dengan segala macam kegiatan baru rumah tahfidznya. Dan kembali ke rumahku larut malam ketika aku sudah tertidur. Lalu, aku terbangun ketika dia sudah siap untuk sholat subuh. Dua malam berturut-turut masih sama seperti itu. Jadi, ajakannya waktu itu soal momongan memang benar, itu cuma sekedar gurauan.
Huh! Bisa-bisanya.
Akhirnya tiba waktu Khafa harus kembali ke kota asalnya. Lalu, bagaimana dengan aku?
Seperti pagi ini, sehabis subuh Khafa tidak lagi menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Dari masjid dia langsung pergi ke Al Firdaus untuk mengisi jadwal pagi anak-anak mengaji. Padahal hari ini dia sudah bilang kalau dia harus segera kembali ke Jogja.
"Kamu beneran mau secepat ini ikut aku?" Tanya Khafa meyakinkanku. Dia baru saja pulang dari Al Firdaus dan sedikit terkesiap melihat aku sedang berkemas.
"Iya Kha, beneran. Masa bohongan," jawabku sambil melipat satu persatu pakaian ke dalam koper.
Khafa duduk di lantai mensejajarkan wajahnya denganku. "Kamu mau ikut aku atau sedang menghindari sesuatu? Kalau memang urusan kamu belum selesai disini aku tidak akan memaksa mu untuk pergi,"
Urusan apa?
Urusan kerja?
Kan aku sudah meninggalkannya. Demi kamu,
Bukan!
Tapi, demi aku sendiri.
Urusan hati?
Sudahlah.
Untuk hati yang terluka, aku tidak akan membawanya serta. Biar, biarkan itu semua ku lepaskan disini.
Ya, aku akan memilih Jogjakarta sebagai penyembuh luka.
Semoga, bisa.
"A-a-ku," ucapku gugup. Aku masih ragu mengganti saya menjadi aku ketika berinteraksi dengan Khafa.
Tapi, bukankah sudah saatnya aku menerima hubungan aku dengan Khafa adalah hubungan yang lebih dari sekedar aku dan kamu?
Khafa terus menatapku secara mendalam.
"Aku mau ikut kamu, meninggalkan semuanya disini. Walaupun, aku masih mempunyai keinginan untuk membuka toko sepatu disini. Biarlah. Keinginan itu aku tunda dulu. Karena butuh waktu yang banyak untuk merintis sebuah usaha baru."
Khafa menarik sebelah sudut bibirnya sambil mengangguk setelah aku selesai berbicara.
"Ihh, kenapa kamu kayak gitu? Aku salah ngomong ya?"
"Nggak kok. Sudah! sini aku bantu acak-acak. Rapi banget sih ngelipatnya!" Kalimat terakhirnya seperti sebuah sindiran. Khafa mengeluarkan seluruh bajuku yang sudah tertata rapi dalam koper.
"Iiihhhh! Jangan!" Cegahku. Karena menurutku itu sudah sangat rapi.
Terlambat. Dia sudah berhasil menumpahkan seluruh isi koper.
Khafa! Aku geram sekali.
"Udah, cari aja yang mana lagi yang mau di bawa. Biar aku packing sekalian."
Bisa-bisanya dia mau bantu packing. Yang ada juga dia berantakin.
"Tapi ini sudah rapi tadi, kenapa di berantakin lagi!?" protesku semakin geram.
"Segini rapi, gimana berantakannya?" Dia bergumam sambil mengerutkan dahinya.
Aku jadi malu kan, ketika ada beberapa pakaian dalam juga ikut berantakan. Dengan cepat aku mengambil dan menyembunyikannya.
"Nyembunyiin apa itu?" Khafa menatapku penuh selidik.
"Bukan apa-apa, cepet rapihin lagi!" Jawabku tanpa sedikitpun bergerak. Jika aku bangun, semua yang ku sembunyikan di bawah gamisku, ya, terburai sudah.
"Hayo, jangan nyembunyiin apapun sama suami sendiri ya!"
"Iya nggak, suami! Buruan masukin lagi pakaiannya. Kalo begitu kapan beresnya?"
Mendengarku menyebutnya suami, ia sempat menatapku sambil tersenyum tipis. Namun tidak lama, ia kembali melipat pakaian dengan apik.
Aku memperhatikan caranya satu persatu melipat pakaian. Tidak menyangka ada laki-laki yang setelaten itu melipat baju. Koper yang tadi penuh setelah ku masukan pakaian, sekarang malah masih banyak ruang kosong tersisa. Masih bisa masuk baju setengahnya lagi.
"Waw! Bakat kamu melipat pakaian Kha?" Tanyaku kagum sambil melihat koper dan wajahnya bergantian.
"Panggil aku mas, gini-gini aku lebih tua dua tahun dari kamu lho," protesnya tanpa menghiraukan aku yang sedang kagum pada kemahirannya melipat pakaian.
"Gak mau." Aku cemberut menolaknya.
"Ya sudah, aku gak maksa. Senyamannya kamu aja,"
Sejak kami resmi menikah, aku merasakan perbedaan yang signifikan pada sifat Khafa. Dia lebih lunak dan tidak pernah memaksa. Apa saja hal yang dia minta padaku. Aku bisa dengan mudah menolaknya. Padahal setahuku dia itu tak pernah suka penolakan. Tapi sekarang, dia lebih suka mengalah dan tidak memaksakan kehendak.
"Kita nanti, mampir ke rumah mama dulu ya?" pintanya setelah semua sudah selesai. Kami juga sudah bersiap dan berpamitan pada ibu dan Eliana yang baru saja datang.
*****
Setelah beristirahat sebentar untuk sholat Dzuhur, Khafa mengajakku untuk makan siang. Dia menghentikan mobilnya di sebuah resto kawasan Margonda yang tidak begitu ramai. Ada seberkas kenangan manis yang berputar kembali di benakku saat melihat pintu masuknya. Tapi entah kenapa kenangan itu sekarang malah terasa pahit dan menyakitkan.
"Yuk, kita makan dulu." Tanpa kusadari dia sudah membukakan pintu untuk mengajakku segera keluar dari mobilnya.
"Bisa pindah resto aja nggak?" Pintaku sedikit gelagapan.
"Kenapa memangnya?"
"Nggak apa-apa sih," jawabku ragu-ragu dan sebisa mungkin memberikan ekspresi wajah biasa-biasa saja. Aku tidak mau sampai Khafa tahu sejarah resto ini. Ya, karena aku ingat betul resto ini adalah resto tempat terjadinya prosesi romantis Andra ketika melamarku waktu itu.
"Ya sudah kalau kamu maunya---,"
Aku menahan tangannya yang akan menutup kembali pintu mobil. "Yaudah, kita makan disini aja,"
Keputusanku untuk menyetujui ajakan Khafa makan siang disini adalah bukan tanpa alasan. Iya, Aku ingin memanfaatkan kesempatan ini sebagai Terapy untuk mengganti seluruh kenangan Andra dengan kenangan indah yang baru bersama Khafa.
Aku telah turun dan berjalan mendahului Khafa masuk ke dalam area restoran yang nampak tidak begitu ramai. Sebuah musik mengalun ketika aku memasuki Resto yang memiliki fasilitas live music itu. Dan menempati table yang telah ku pilihkan sendiri.
"Mau makan apa?" Tanya Khafa setelah membaca buku menu sekilas.
"Ikut kamu saja," jawabku sesingkat-singkatnya.
Tidak lama kemudian datang segelas lemon tea hangat dan seporsi nasi lengkap dengan ayam kremes yang telah Khafa pesankan untukku. Menu yang sama, telah tersaji juga di hadapannya.
"Ayo Makan! Jangan lupa baca doa dulu."
Aku hanya merespon anggukan kecil perintahnya lalu mulai menyesap lemon tea yang rasanya semakin menyeretku pada masa itu.
Seorang lelaki bertubuh gempal tersenyum dari kejauhan padaku. Dia seperti sedang mengingat-ngingat siapa diriku. Lalu, perlahan menghampiriku juga.
"Hei, Embun ya?" sapanya kepadaku. Dia mengulurkan tangannya hendak memberi salam.
"I-iya, Mas David, apa kabar?" Aku balik menyapanya dengan senyuman kaku dan menerima salamnya dengan bersalaman.
Khafa menghentikan suapannya lalu, melirikku dengan tatapan tajam. Namun tidak lama kemudian dia melanjutkan kegiatan makannya.
"Baik. Andra bukannya di USA ya? Saya kira dia lagi honeymoon sama kamu," tutur mas David sambil melepaskan tangannya dariku.
"Iya mas, tapi gak sama saya, dia lanjut study disana," jelasku pada mas David.
Khafa menutup sendok dan garpunya lalu meneguk hingga tandas air putih di hadapannya.
"Wah, jadi, lamaran waktu itu kelanjutannya gimana?"
Khafa menoleh pada mas David dan tersenyum percaya diri. Dia memberi salam pada mas David dan, "saya Khafa mas, suaminya Embun," tuturnya penuh percaya diri.
"Wah, gila, maaf ya bro, saya sampe lupa tanya sama siapa Embun kesini. Selamat ya buat kalian berdua!" seru mas David dengan gaya santainya sambil menyambut uluran tangan Khafa. "Oke deh saya tinggal dulu ya, selamat menikmati hidangan dan suasananya," pamit mas David kepada kami berdua. Lalu kami mengangguk dan tersenyum kecil kepadanya.
Khafa kembali duduk dan memandangku penuh arti. Aku memilih menghindar dari tatapannya dan meraih sendok untuk mulai menyantap makan siangku. Sebenarnya aku juga tak enak hati di hampiri mas David seperti itu.
Suasana di cafe and resto kembali terasa cozy-nya dengan alunan musik yang masih menggema. Aku mencoba terus menikmati makanan tanpa bicara sedikitpun. Khafa juga tampak sibuk dengan handphonenya tanpa memberi sepatah katapun kepadaku. Aku tidak tahu apa yang sedang dalam pikirannya. Yang pasti aku sendiri sebenarnya tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.
Suasana beku yang kembali tercipta membuat aku jadi meresapi lagu sendu yang tengah di nyanyikan seorang penyanyi laki-laki di mini stage. Lagi-lagi, ini membuat ingatanku tentang Andra kembali terulang.
Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura pura lupa
Mendengar lirik demi lirik yang dinyanyikan itu membuat aku merasa seolah Andra yang sedang bernyanyi. Dan memaksa hati untuk kembali merasakan lara yang belum sepenuhnya bertepi.
Sulit sekali rasanya untuk melanjutkan suapan berikutnya. Menelan sesendok nasi saja rasanya bagaikan menelan sesuatu yang besar dan berduri. Ku raih kembali segelas lemon tea yang sudah semakin kecut. Aku tidak tahu lemon tea ini memang less sugar atau menyeleraskan rasanya dengan perasaanku. Yang pasti, sudah tidak sesegar dulu ketika aku menikmati untuk pertama kalinya disini. Tapi kemudian aku tetap meneguknya hingga tandas. Meskipun setelah itu tidak mengurangi sedikitpun rasa sesak di dadaku.
Khafa meraih tanganku dalam genggamannya. Begitu erat dan mendalam. Sepertinya dia menyadari bahwa dia telah salah mimilih tempat untuk mengajakku makan siang. Aku hanya bisa menunduk masih mengeja lara yang tidak juga kunjung pergi.
Khafa beranjak dari kursi tanpa melepaskan genggamannya. Lalu mengajakku melanjutkan perjalanan.
Kita sudah sama-sama berada di dalam mobil. Khafa sudah memasang seat belt-nya kembali. Namun dia belum melajukan mobilnya.
"Maafin aku ya, aku udah salah pilih tempat. Seandainya aku tahu. Aku gak bakal---"
Aku menggelengkan kepala lemah. "Kamu gak salah. Aku yang harusnya dari awal menolak," potongku dengan nada bersalah.
Mobil melaju kembali membelah kemacetan ibu kota. Panasnya udara tidak sama sekali mampu mencairkan kebekuan yang kembali terjadi antara aku dan Khafa saat ini.
πΈπΈπΈ
catatan :
Lirik lagu mahen 'pura-pura lupa'.