
Fajar belum menyingsing namun aku sudah bersiap untuk pergi menuju Bandara. Memang, pesawat yang akan membawaku take off jam 07.10 WIB tapi aku selalu di ajarkan ibu untuk selalu tiba di awal waktu. Katanya lebih baik menunggu dari pada tergesa-gesa memburu waktu. Apalagi keberadaan ku yang sedang di tempat asing.
"Mbak yu, ini tehnya di minum dulu." Mbok Sum menyimpan nampan di hadapanku yang tengah menggunakan sepatu.
Aku menatap Mbok Sum. "Iya Mbok, terima kasih banyak. Aku merepotkan ya disini."
"Ndak Mbak yu. Sama sekali ndak. Mbok Sum malah senang sekali Mbak mau menginap disini."
Aku tersenyum sambil menyesap teh manis yang di siapkan Mbok Sum.
"Nanti, kalo ke Jogja. Mampir kesini lagi yo Mbak. Mas Khafa juga kelihatannya senang sekali kedatangan Mbak yu."
Mendengar kata Mbok Sum hampir saja teh yang tengah ku teguk muncrat ke hadapannya. Kemudian aku terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan Mbak yu."
Aku mengangguk sambil menepuk dadaku pelan.
Apa benar Khafa senang dengan keberadaan ku.
Tring! Bunyi notifikasi pesan berbunyi.
[Sudah siap? Saya di parkiran.]
Pesan dari Khafa.
[Saya bisa pulang sendiri Kha.]
Balasku.
[Saya tau. Tapi saya ngga akan ngebiarin itu.]
Balasnya lagi.
[Kalo saya gak mau?]
[Saya ngga suka penolakan.]
Pesan terakhir khafa membuat aku tak punya pilihan lain. Hingga akhirnya aku mengalah juga pada keinginannya.
Setelah aku pamit pada Mbok Sum. Aku berjalan menuju parkiran. Di sana Khafa sudah berdiri menungguku. Pada raut wajahnya aku tak menemukan senyuman sedikitpun. Malah bisa aku pastikan kalau suasana hatinya tak sebaik semalam.
"Kamu udah mau ngelepas saya pergi aja?" Sindirku sambil berdiri di hadapannya.
"Selagi ada kesempatan kenapa ngga," jawabnya tanpa ekspresi.
"Urusan kita juga kan belum selesai disini."
"Tapi belum tentu kamu balik kesini."
"Jadi, Kamu mau saya balik kesini lagi?"
Khafa menaikkan alisnya. "Karna, untuk membuat kamu tetap tinggal itu gak mungkin."
"Saya cuma lagi menghargai waktu," Imbuhnya sambil memasang seat belt.
"Menghargai waktu?" Aku menatap lekat wajahnya.
"Iya," jawabnya singkat tanpa aku mengerti maknanya.
Aku membuang nafas pelan. Khafa mulai menjalankan mobilnya. Aku hanya menatap kosong jalanan yang masih berembun. Hawa dingin pagi dan AC di dalam mobil menerpa tengkuk. Membuatku berkali-kali merapatkan blazer yang aku kenakan. Aku jadi ingat sweater yang Khafa pinjami semalam. Aku mencari sweater itu di dalam tas.
"Ini Kha, saya balikin yang semalem." Aku menyodorkan sweater yang telah ku lipat rapi dan menyimpan di pangkuannya. Sebelumnya aku sudah berkali-kali mencium sweater itu. Memastikan aroma tubuhku tidak menempel di sweater Khafa. Karena bagaimanapun aku harus menjaga perasaan istrinya.
Tapi aku sempat sangat bodoh semalam. Bukannya benar memastikan aroma yang menempel, aku malah terhipnotis aroma tubuh Khafa yang menempel pada sweaternya. Entahlah, semalaman aku merasakan kehangatan yang berbeda hingga ke dalam hati. Sampai-sampai aku tertidur dengan nyenyak sambil memeluk sweater tebal miliknya. Aku membuang nafas pelan sambil tersenyum menertawakan diriku sendiri mengingat itu.
"Makasih ya Kha." Aku menatapnya penuh arti. Arti apa itu bahkan aku sendiri tak mampu mendefinisikan.
Khafa hanya sejenak melihatku sambil tersenyum tipis. Senyuman yang mungkin tidak akan pernah aku lihat lagi. Aku masih intens menatapnya yang sedang dalam kemudi. Merekam jengkal demi jengkal wajahnya yang menurutku sama sekali tidak membosankan. Rahangnya yang tegas membuat hatiku berdesir. Untuk terakhir kalinya aku membiarkan perasaan ini mengalir. Perasaan perasaan yang selama berada di sampingnya sekuat tenaga aku tepis.
Padahal kita sudah tidak terpisah jarak. Lengannya bisa jelas ku lihat memegang kendali kendaraan yang ia bawa. Bahkan jika aku gapaipun aku bisa saja. Iya, sudah sedekat itu. Tapi nyatanya tetap saja kita masih terpisah. Terpisah kesempatan yang mungkin tidak akan datang kembali seperti dulu. Belum lagi, perpisahan yang sudah di depan mata yang siap membersamai.
"Ekhem.." Khafa berdehem memecah lamunanku. Aku terhenyak seperti orang yang baru terbangun dari ketidaksadaran. Dengan cepat ku perbaiki posisi dudukku.
"Maaf," ucapku. Maaf itu sebenarnya bukan untuk Khafa tapi untuk sendiri karena telah lupa diri.
"Makasih ya udah ada buat saya selama disini," kataku sebelum aku keluar dalam mobilnya.
"Sudah seharusnya," jawabnya.
Ku tatap lagi ia sejenak. Waktu memang tak bisa di undur namun sedikit harapan untuk bisa ku ulur. Menghentikan perputarannya juga tak mungkin. Tapi membuat jalannya sedemikian lambat mungkin bisa menjadi pilihan.
"Kamu mau sampe kapan ngelamun trs kayak gitu liatin saya?" tanyanya sambil mengamati manik mataku. Kita sudah sampai di lobby bandara.
Pertanyaan terakhir Khafa itu membuat aku benar-benar tersadar. Ah, kenapa sih kali ini seolah malah Khafa yang lebih realistis? Aku lekas tersenyum kemudian menundukkan kepala. "Maaf."
"Saya yang seharusnya minta maaf, saya ga bisa antar kamu sampe ke dalem," ungkapnya sambil membuka pintu mobilnya. Kemudian ia berjalan membukakan pintu mobilnya untukku.
"Ya sudah. Sekali lagi saya terima kasih. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya aja. Semoga pekerjaan kita berjalan dengan lancar."
Bicara apa sih aku barusan? Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku aja? Bodohnya Embun. Kalau seperti itu kan seolah-olah aku masih selalu ingin di hubungi sama dia. Aku menundukkan kepala, memejamkan mata meruntuki diriku sendiri.
Khafa hanya mengangguk lalu menunduk sesaat kemudian menatapku. Memakaikan sweater yang tadi aku kembalikan kepadanya. "Jangan sampe kamu kedinginan," katanya. Dan anehnya tubuh ini seolah tak ada daya dan upaya untuk menolak. Aku berdiri mematung kemudian menatapnya. "Saya pamit. Assalamualaikum." Akhirnya kata itu kembali terulang.
Ia berlalu masuk kembali kedalam mobilnya. Meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan pertanyaan yang memenuhi lingkup otakku.
Pada akhirnya mau tidak mau suka tidak suka kata perpisahan memang harus ada. Meskipun pada sebagian besar manusia tidak menyukainya. Karena di dalamnya selalu ada derai yang menyertainya.
"Waalaikumsalam," lirihku.
Aku segera membalikkan badan melangkah gontai menuju bandara. Menghampiri layar pengumuman berisi jadwal penerbangan. Hanya sekitar 30 menit lagi pesawat take off menuju Jakarta. Meninggalkan kota gudeg dengan sekelumit ceritanya. Kemudian segera untuk melangitkan kenangannya.
πΈπΈπΈ