
.
.
.
.
.
.
Fatur menatapku dengan tatapan bersahabat, lalu ia tersenyum malu malu. Ia hendak memakai sendal jepit berkarakter spyderman berwarna merah.
"Hai anak ganteng," sapaku.
Ia tersenyum lagi.
"Kamu mau kemana?"
"Kesana!" Fatur menunjuk satu kolam kecil di samping rumah Fitri. Binar matanya begitu polos dan menggemaskan.
"Aku boleh ikut?" Aku bertanya padanya dengan gaya anak seusianya. Bahkan, aku mungkin terlihat bodoh.
"Boleh, ayok!" Seru nya. Ia terlihat lebih supel dan percaya diri dibandingkan anak seusianya yang lain.
"Kita mau ngapain?"
"Aku mau kasih makan ikan." Ia berkata lantas berlari meninggalkan ku.
"Tunggu aku dong." Aku segera menyambar sandal jepit yang ada di teras. Lalu menyusul Fatur ke kolam ikan.
Ia sudah duduk di tepi kolam. "Biasanya aku kasih makan ikan-ikan ini sama ayah," ungkapnya penuh kesedihan. Matanya menatap nanar ikan ikan koi di dalam air.
Bukankah ini kesempatan untukku? Kenapa aku tidak coba tanya langsung saja sama Fatur. Sekarang aku yakin dengan ingatanku. Anak ini adalah anak seorang perempuan yang waktu itu aku lihat di nikahannya teh Nisa. Dan ku lihat juga saat Khafa melambaikan tangannya di jalanan.
Ah tapi untuk apa?
"Emang sudah berapa lama gak ketemu ayah?" Akhirnya ku lontarkan pertanyaan itu.
"Lamaaaaa... banget, ayah pergi terus," jawabnya. "Itu liat! ikannya makan banyak!" Matanya berbinar melihat ikan-ikan berebut makanan yang ia taburkan.
"Iya, ikannya lapar. Persis kayak kamu tadi pas baru datang ya?"
"Hehehe.. iya."
"Fatur, aku boleh tanya siapa nama----------," Belum selesai aku bertanya Fatur sudah berlari mengejar kucing yang mendekati kolam. Ia menggendong dan memangkunya tanpa rasa geli.
"Nama ayahnya?" Suara Fitri mengagetkanku.
"Eh elo Fit, mas Wisnu udah siap?"
Fitri menggelengkan kepalanya. "Santai aja," Fitri duduk denganku di tepian kolam ikan. "Fatur itu anak yatim Embun," aku sontak menatap Fitri menunggu kelanjutan ceritanya. "ayah kandungnya sudah meninggal waktu usianya lima bulan dalam kandungan. Ibunya masih keluarga besar mas Wisnu. Tapi sekarang ia juga sedang sakit sakitan karena punya kelainan paru-paru sejak kecil. Jadi, Fatur kami besarkan sama-sama,"
Fitri menyomot sedikit makanan ikan yang tergeletak lalu menghamburkannya ke dalam kolam.
"Dia itu Deket banget sama Khafa, sepupunya mas Wisnu. Tapi orangnya pergi pergi terus. Belum lama ini katanya dari Bogor tuh. Sekarang sudah di Merbabu dia. Makanya Fatur nanyain terus. Biasanya kalo disini dia berduaan terus sama ayah jadi jadiannya itu." Fitri tergelak di akhir katanya.
Entah kenapa ada sedikit perasaan hangat di rongga hatiku. Jadi benar, Khafa itu belum menikah. Tapi, aku tidak tau lagi harus senang atau sedih mendengarnya. Yang pasti aku sudah tidak sepenasaran dulu.
Kini bocah berusia lima tahunan itu sudah berada di pangkuan Fitri. Kucingnya entah dimana ia lepaskan. "Uma, mbak ini cantik. Tapi kok rambutnya kelihatan. Rambut akhwat kan aurat,"
Jleb! Lontaran polos Fatur berhasil membuatku membatu.
"Sssttt.. gak boleh gitu sayang." Fitri menampakan wajah tidak enak kepadaku. "Maaf ya," ucap nya padaku.
"Beneran Uma, kata ustadzah Salma juga begitu, Fatur sering ko denger ustadzah bilang gitu sama temen-temen Fatur yang akhwat."
Aku memejamkan mata sejenak. Rasanya malu sekali diri ini di tampar oleh anak sekecil Fatur. Aku jadi ingat hadiah hadiah yang pernah Khafa berikan padaku. Aku tak pernah menghiraukan semua itu. Padahal sebenarnya mungkin Khafa mau melindungiku dengan caranya.
"Maaf ya Embun." Fitri menangkap raut wajah ku yang berubah.
Aku tersenyum tipis.
"Yaudah iya, nanti aku mau pake hijab kayak Uma koq, Fatur mau temenin aku beli baju kayak Uma? Soalnya aku ngga bawa baju banyak main kesini,"
"Ke pasar?"
"Sekarang?"
"Nanti nak, mbaknya kan baru saja sampai disini. Fatur itu kucingnya! Ayo tangkap lagi!" Melihat kucing itu kembali, Fatur berlari lagi mengejarnya. Anak itu suka sekali kucing rupanya.
"Maafin Fatur ya,"
"Gak apa-apa Fit, namanya juga anak kecil,"
"Kamu istirahat dulu gih, insya Allah nanti ba'da Ashar kita ke lokasi sama mas Wisnu."
Di kamar tamu rumah Fitri aku merebahkan diri di ranjang kayu. Semenjak perasaan ku tak beres, aku mulai sering merasa insomnia. Susah tidur, apa lagi kalau malam tiba. Terkadang, kenangan-kenangan indah bersama Andra berputar begitu saja.
Akhirnya aku pamit pada Fitri untuk pergi ke pantai. Mungkin bisa sedikit menenangkan pikiranku untuk sejenak disana.
Pantai dengan rumah Fitri hanya berjarak sekitar dua kilo meter. Aku memilih berjalan kaki untuk sampai kesana. Udara panas di pesisir pantai tidak membuat ku urungkan niat ku untuk pergi.
Hingga akhirnya aku tiba di bibir pantai dengan pasir putih. Langit biru membentang seolah tak berjarak dengan birunya laut. Beberapa karang ikut menghiasi pantai yang sepi. Mungkin karena ini bukan hari libur.
Sejenak aku terpaku merasakan terpaan angin yang menerbangkan rambutku.
Tapi sudut hatiku masih sama. Hampa.
"Aaaaaaaaaarrrrrrrggghhh...!!!!!" Aku berteriak sekuat tenaga. Membuang segala resah yang selama ini membelenggu. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Berharap setelah ini aku tenang.
Aku lelah berpura pura baik baik saja. Padahal nyatanya. Sakit ini tak ada yang tau.
Aku baru benar-benar tersadar sekarang betapa pentingnya kehadiran Andra selama ini dalam hidupku. Aku merasa teramat kehilangan.
Andra, Apa salah jika aku sekarang merindukannya? Aku kira, Andra adalah tempat yang tepat aku menjatuhkan hati. Ternyata aku salah, bertahun-tahun aku bersamanya dan pada akhirnya ia tak bisa menjanjikan bahagia.
Kupeluk diriku sendiri dalam kesendirian. Merasakan lagi bahwa hari-hari yang telah ku lewati dengan Andra adalah percuma.
Aku tergugu sendiri di atas hamparan pasir putih. Nyatanya hal ini sungguh berat. Aku tak sanggup. Aku ingin segera mengakhiri kisah memilukan ini.
Aku larut dalam kesedihan menenggelamkan kepalaku pada sepasang lutut yang aku peluk. Ku biarkan ombak sedikit demi sedikit membasahi bajuku. Entahlah, rasanya saat ini jika aku tenggelam pun tidak masalah.
Byurr!
Aku terkesiap saat tiba-tiba deburan ombak benar-benar membasahi tubuhku. Semakin sore ombak semakin kencang.
"Gak usah jauh-jauh ke laut kalau mau bunuh diri!" Suara itu terdengar lebih mengagetkan daripada deburan ombak tadi. Kenapa ia seolah tau perasaan ku? Ia tahu aku mau bunuh diri?
Enak saja! Aku masih mau hidup!
Aku menoleh ke arah sumber suara itu.
Khafa?
"Kamu nyebur kolam renang tinggi dua meter saja bisa mati kalau gak ada siapa-siapa,"
Ia meremehkan ku rupanya.
Aku mendengus seraya memutar bola mata.
"Kamu kira, saya masih gak bisa berenang kayak dulu?" Aku mengembalikan tatapan ke agungnya pemandangan di hadapanku.
Khafa berdiri di sampingku memberi jarak sekitar satu meter. Ia masih menggunakan pakaian ala pendaki berwarna hijau Armi.
.
.
.
.
.
.
-----------------------------------------------------
please, give me vote and like 😬😬😭😍😘