
"Assalamualaikum pak!" Sapaku pada pak Udin ---satpam sekolah. Ia baru saja selesai membuka kunci gerbang.
"Waalaikumussalam. Neng mau gantiin saya ya?" Tanya pak Udin tiba-tiba. Ia kemudian mendorong gerbang sekolah.
Aku bingung. "Koq gantiin bapak?"
"Iya abis pagi banget udah datang. Saya aja baru sampe."
"Biasanya malah saya duluan lho pak."
"Masa sih? Wahh kacau atuh reputasi saya bisa rusak kalo gini terus." Pak Udin berkelakar.
"Hahaaa.. ngga apa. Tenang aja. Saya masih jd siswa. Ga akan berubah jadi kaya bapak."
"Em....Bun... Puspa ......"
"Julie," lanjutku.
"Serius namanya Embun?" Pak Udin bingung.
"Iya nama saya Embun."
"Emmmm pantes atuh meuni rajin pisann. Namanya ge Embun. Pasti sebelum subuh juga udah siap ya.." ledeknya.
"Hihii bapak bisa aja. Saya kekelas dulu ya pak." Pamitku.
"Ati ati neng Embun.. masih pagi sepi di kelas. Entar ada yang nemenin."
"Ahh bapak bisa aja." Aku tak menggubris. Aku senang di kelas sendirian. Duduk paling depan. Bersebrangan dengan meja guru. Padahal aku tergolong anak yang tinggi. Sebenarnya lebih cocok duduk di belakang. Tapi aku tidak suka. Dan, teman-teman di kelasku berebut mau di kursi belakang. Yaa.. aku ngalah aja. Lagi pula aku nyaman di depan. Gak mungkin di kosongin juga kan.
Tak lama kemudian Vita datang. Dengan segerombola dari kelas lain.
"Embunnn..!" Dia memelukku. Cepika cepiki. "Gimana kemaren?"
"Kemaren apanya?"
"Itu si Khafa.."
"Oo.. yaudah gtu aja."
"Maksudnya?"
"Yaudah. Gue pulang dia juga pulang. Bubar."
"Lo putus?"
Vita itu taunya aku jadian aja. Terus putus. Ah padahal ga segampang itu faktanya. Jadian, putus? Tau juga ngga rasanya. Di jelasin juga ga bakal paham tuh anak.
Aku mengangguk. Daripada ribet kan cerita. Iyain aja.
"Ihh kenapa? Kemaren gue liat Lo Ama dia fine fine aj."
Aku kira, udah di iyain Vita ga bakal nanya lagi. Ribet.
"Gak apa-apa. Dia mau lulus. Mau balik kampung. Jadi mending putus aja." Jawabku tanpa menoleh ke arah Vita.
Kelas sudah ramai. Sudah jam 7 pagi. Bel sudah berbunyi. Tapi belum ada guru yang masuk kelas. Yang lain santai aja. Aku sudah bosan. Kapan pelajaran akan di mulai.
"Luv, panggil guru yuk!" Ajak ku pada Luvi. Teman sekelas. Iya langsung beranjak.
Aku berjalan melewati jendela kelas lain.
"Sst.. stt.. Embun. " Aku menoleh. Terlihat dua orang cowok nongol di jendela. Aku tak menghiraukan.
"Ape lu!" Jawab Luvi. Bukan padaku tapi pada dua cowok yang nongol itu.
Aku terus berjalan. Luvi mengekor. Kita ke kantor guru. Setelah menemui guru yang kita tuju. Kita balik.
"Embun. Si Rafi manggil-manggil Lo tuh," bisik Luvi di telingaku.
"Cuekin aja," jawabku.
🌸🌸🌸
Lepas ashar. Aku pamit pada ibuku untuk keluar rumah. Entah, rasanya penat di kamar terus. Tapi
Tidak mau nongkrong juga. Di depan rumahku biasanya ramai anak muda. Nyanyi-nyanyi main gitar hingga larut malam. Mereka tergabung dalam organisasi pemuda desa. Ya kalau sedang tidak ada kegiatan ya gitu.. nongkrong.
Kalau ada kegiatan aku pasti ikut. Acara peringatan kemerdekaan republik Indonesia. Atau acara-acara keagamaan. Aku suka berorganisasi.
"Bu, aku keluar sebentar ya."
Ibu sedang asyik dengan kuis favoritnya di televisi.
"Mau kemana?"
"Kolong langit ."
Ibuku mengangguk. Ia tahu maksudku kolong langit. Tempat baru di daerah dekat rumahku. Mirip lapangan. Namun banyak sekali batu-batu besar berjajar. Aku paling suka merebahkan badan ku diatas batu besar itu. Rasanya tidak ada penghalang antara bumi dan langit. Itu lah asal muasal tempat itu ku beri nama kolong langit.
Aku hampir tak punya kawan perempuan di rumah. Tetanggaku rata-rata laki-laki. Karena di daerah baru ku ini. Perempuan seusiaku rata-rata sudah dinikahkan. Jadi lah aku tak punya teman.
Aku berjalan sendiri. Angin lembut menyambutku perlahan. Aku memejamkan mataku sejenak. Merasakan setiap helaan semilir angin yang menerbangkan rambutku perlahan.
Sepi. Tak ada orang satupun disini. Mungkin hanya aku yang berminat ke tempat ini. Ahh andai saja mereka tahu keajaiban disini. Aku yakin pasti mereka berbondong-bondong kesini. Tak usah lah.
Aku senang sendiri. Tak perlu kawan. Tak apa. Aku menaiki batu yang teramat besar. Lebarnya hampir seukuran ranjang tempat tidurku. Merebahkan diri di atasnya. Menatap langit. Diterpa angin lembut. Memberikan ketenangan tersendiri untukku.
Sebelah kananku ada kolam air hujan yang sangat bening. Di bawah batu. Dangkal. Ada beberapa ikan mujaer di dalamnya. Entah siapa yang iseng menaruhnya. Aku juga senang memperhatikan mereka. Berenang tanpa beban. Tanpa fikiran.
Ku rogoh kantongku mengambil walkman. Mendengar kan lagu yang mulai mengalun
Â
Â
Aku yang memikirkan
Namun aku tak banyak berharap
Kau membuat waktuku
Tersita dengan angan tentangmu
Mencoba lupakan
Mengapa... Begini...
Oh..
Mungkin aku bermimpi
Menginginkan dirimu
Untuk ada disini
menemaniku
Oh..
Mungkinkah kau yang jadi
Kekasih sejatiku
semoga tak sekedar harapku
Mencoba lupakan
Tapiku tak bisa
Mengapa... Begini..
Oh..
Mungkin aku bermimpi
Menginginkan dirimu
Untuk ada disini
menemaniku
Oh..
Mungkinkah kau yang jadi
Kekasih sejatiku
semoga tak sekedar harapku
Bila
Tak menjadi milikku
Aku takkan menyesal
Telah jatuh hati
Oh..
Mungkin aku bermimpi
Menginginkan dirimu
Untuk ada disini
menemaniku
Oh..
Mungkinkah kau yang jadi
Kekasih sejatiku
semoga tak sekedar harapku
Aku menyanyi mengikuti lagu. Teriak-teriak.
Tenang, aku disini tak akan di sebut orang gila. Tak ada orang yang mau ke tempat ini. Fikirnya untuk apa.
Seiring lagu ku dengarkan. Seolah ada kenangan yang sedang berputar di memory otak ku.
Matahari mulai merosot turun. Jelass sekali. Kali ini aku harus lihat. Seiring tenggelam. Langit mulai meremang. Menyiratkan jutaan pesan yang tak tersampaikan. Namun sangat sangat menenangkan.
Bunga-bunga di sekitaran mulai menguncup. Senja semakin temaram. Burung-burung terbang berkelompok pulang ke peraduan.
"Buntuuuu... Magrib ngapain Lo disituu! Balik!"
Aku menoleh malas ke asal teriakan itu. Ia sedang berkacak pinggang.
"Bentar!"
"Elahh... emak lu nyariin buntu.. gue yg kena suruh ngaprak dah."
Ia Jali. Sepupuku. Logat Betawi banget. Emang produk sana asli. Nyasar kesini karena kena gusuran.
"Apaan enaknya si disini?" Ia malah ikut-ikutan merangkak naik ke batu tempat aku semedi.
"Lo rasain aja sendiri."
"Wizzz.. keren bangettt... !" Netranya menjelajah apa yang aku lihat selama ini. Ia malah bukan sedang duduk sepertiku. Ia berdiri di atas batu.
"Bun Lo tau dari mana tempat ini. Kan yg tinggal disini gue duluan," lanjutnya.
"Sejak gue pindah kesini kan gue langsung ngaprak cari spot buat semedi. Emang Lo apa? Kluyuran ga jelas terus."
Ia melihat ku dengan wajah sinis. "Iye deh iyeee..."
Dari kejauhan suara azdan berkumandang di Masjid-masjid desa.
"Magrib Bun. Balik yuk!" Jali melompat turun dari batu.
"Yuk." Aku pun sama.