
Aku tidak pernah tau, bahwa selama ini ada skenario bahagia dalam hidupku. Berjalan perlahan mendekatiku dengan kejutan-kejutan yang tidak hentinya Dia berikan.
Kini, aku baru saja menginjakkan kaki pada sisi jalanan di pesisir pantai. Mengikuti langkah Khafa yang panjang langkah kakinya mungkin, dua kali lipat dariku. Di punggungnya, bertengger tas Carrier berukuran sedang. Tertinggal, aku selalu begini, Khafa selalu begitu. Selalu berjalan di depanku.
Aku?
Jangan ditanya. Aku hanya membawa tas selempang kecil yang beratnya tidak sampai satu kilogram. Isinya, hanya liptint, bedak bayi, parfum, dompet, dan minyak kayu putih. Cuma itu. Bahkan, aku lebih simpel dan tak begitu suka dengan segala hal yang glamour.
Di sepanjang perjalanan aku di manjakan oleh pesona alam yang membuatku tak hentinya mengucap syukur. Keindahan yang ku lihat, rasanya tidak ada diksi apapun yang mampu melukiskan indah ciptaan-Nya.
"Kha, tunggu! Aku gak mau ketinggalan jauh." Aku teriak dibelakangnya sambil mempercepat langkahku agar seiring dengan langkahnya.
Khafa menghentikan langkahnya, lalu menoleh "kamu capek?"
Pertanyaannya sontak memunculkan dengkusan kecil dari hidungku.
Ya iya lah!
"Nggak kok, cuma kamu jalannya kecepetan," aku menjawab dengan harapan ia peka dengan kakiku yang mulai pegal. Padahal, baru hanya beberapa meter berjalan dari kendaraan yang kami tumpangi dari Bandara Komodo ke area Pink beach.
"Jangan manja! Ayo cepat ikuti aku, sebentar lagi sampai kok!" Ujarnya penuh semangat. Lantas, ia meneruskan langkahnya.
Pantang menyerah. Jika tujuannya belum di dapat, Khafa selalu begitu. Tidak mudah tergoda oleh hal-hal lain yang mungkin akan menghambat langkahnya. Sekalipun itu, aku?
"Kha, apa kamu tidak tergiur liat pantai dengan pasir kemerahan di belakang kita?"
"Ada waktunya, kamu fokus ikuti langkah aku dulu!" balasnya tetap tidak menggubris tawaranku. Ia tetap melangkahkan kaki yang menurutku sangat cepat.
"Kayak mau ambil gaji bulanan kamu Kha, langkahnya cepet banget!"
"Bi-a-rin!" Teriaknya menyebalkan.
Tidak lama kemudian, kami sampai pada satu cottage yang berada di bibir pantai. Hampir semua item dan bangunannya terbuat dari kayu dan kaca. Unik dan menyatu dengan alam.
Seorang penjaga cottage membukakan pintu bangunan sederhana itu. Lalu memberikan beberapa kunci yang di jadikan satu, pada Khafa.
Mataku beredar mengelilingi ruangan cottage yg sudah Khafa reservasi sebelumnya.
"Suka gak?" tanya Khafa setelah menyimpan tas Carriernya di salah satu sudut kamar.
Aku manggut-manggut dengan mata yang masih mengambsen satu persatu sudut ruangan.
Khafa membuka sepatu dan jaket yang masih melekat di tubuhnya. Lalu, merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Ku kira, kamu kuat, ternyata capek juga!" celaku sambil melepaskan tas dan menyimpannya di nakas.
Khafa memiringkan badannya menghadap ku. "Sini, dekat dekat aku, katanya gak mau jauh-jauh." Ia menepuk-nepuk tepi ranjang yang ia sisakan untukku.
"Kamu, keluar dulu gih, aku mau ganti baju," pintaku datar. Sebelumnya aku sudah biasa berganti pakaian ketika Khafa tak ada di rumah. Atau ketika ia sedang di ruangan lain yang ada di rumah kami. Tapi disini, tidak ada ruangan lain kecuali kamar mandi.
"Ngapain harus keluar? Toh aku udah tau semuanya," eyelnya mengingatkan ku pada tragedi habis mandi di rumah. Dan sejak saat itu, aku selalu lebih hati-hati.
Aku jadi kehilangan napsu untuk membuka dan mengganti pakaianku. Apa lagi Khafa malah menghujaniku dengan tatapan nakalnya.
"Kamu kok ajak aku kesini sih Kha? Mas Gala mana? Gak jadi ikut dia?" Aku mencoba menetralkan pikiran mesum yang mulai menjalari otaknya.
"Gak jadi!" Jawabnya sambil kembali merebahkan tubuhnya.
"Terus, agenda kamu ke Ruteng gimana? Kita koq malah terdampar disini?"
"Kha,"
Khafa bergeming.
"Kha!"
Ia masih bergeming. Perlahan ku hampiri dirinya. Sudah ku duga. Ia tertidur secepat itu.
Kebiasaan!
*******
Hari mulai petang. Langit masih cerah dengan cahaya matahari yang menyorot tepat ke depan cottage. Beberapa gumpalan awan kecil ikut menghiasi langit sore ini. Indah sekali.
Aku sudah mandi dan menggunakan hot pants sepaha dengan t-shirt putih tanpa lengan. Aku berani memakai baju seperti ini karena cottage yang aku tempati jaraknya lumayan berjauhan dengan cottage lain yang terlihat kosong.
Aku duduk membelakangi ranjang sambil memeluk lutut di depan pintu yang sengaja aku buka lebar. Menikmati suasana dan pemandangan menakjubkan dihadapanku. Menunggu Khafa yang pulas tertidur di atas ranjang. Rasanya tidak membosankan.
Rupanya benar, menunggu seberapa lamapun bukan hal berat jika dengan rasa cinta. Apalagi, yang di tunggu, memang cinta.
Menit berlalu...
Sepasang tangan kekar melingkari leherku ketika aku terpaku merasakan desau angin yang berkali-kali menerpa wajahku. Tentu saja aku sudah tak asing lagi dengan pemiliknya.
"Sudah mandi?" bisikannya begitu menenangkan. Aku terhipnotis saat merasakan Khafa menciumi rambut yang ku cepol kebelakang.
Aku mengangguk lantas membalas tatapan Khafa.
"Jangan meluk lutut, meluk aku aja, ya," katanya pelan sambil menurunkan tangannya menuju pinggangku.
Khafa menenggelamkan wajahnya pada tengkuk leherku.
Khafa bergeming. Ia malah betah menaruh dagunya di pundakku.
Aku geli. Tapi, aku merasakan kehangatan pada sekujur tubuhku. Begitu pun Khafa, ia terlihat begitu nyaman dengan posisi ini.
"Kha, kamu lebih suka pantai atau gunung?" tanyaku tanpa sedikitpun merubah posisi.
"Lebih suka kamu," jawabnya enteng.
"Aku serius,"
"Aku dua rius,"
"Ish, nyebelin!" Aku menyerah pada akhirnya.
"Tapi, kamu suka kan?"
"Suka?" Aku menoleh mempertegas tatapannya.
Kemudian, Khafa mengangkat dagunya mensejajarkan wajahnya denganku. Ia menaikkan alisnya sebagai jawaban.
"Nggak lah! Aku gak pernah suka sama kamu!" Sergahku tanpa melepaskan tatapanku.
"Lalu, alasan apa yang menjadikan kamu yakin untuk mau jadi istriku?" Ia bertanya sambil memandangku penuh rasa ingin tahu.
"Aku mencintaimu," ucapku seraya membalas tatapan teduhnya.
Ia tersenyum tipis. "Aku mencintaimu," balasnya.
Lah kok gak pake 'juga'?
"Yang aku tahu, harusnya kamu tuh jawab. Aku juga mencintaimu, Embun. Kan enak di dengar. Kamu malah mengulang ucapanku. Nyebelin! Merusak suasana aja ih," cerocosku tanpa jeda.
"Aku gak butuh kata 'juga' dalam kalimat ku. Aku mencintaimu, tanpa harus ada kata itu. Jadi, kapan pun kamu berhenti mencintaiku. Aku tetap cinta kamu,"
Aku tersenyum haru mendengar alasannya. Gombalannya terdengar tulus jauh dari kata modus.
"Satu lagi," lanjutnya sambil menyisipkan anak rambutku ke telinga.
"Apa?"
Hening.
.
.
.
.
.
"Anna uhhibuki Fillah, dek."
Aku membuang napas sambil tersenyum kaku. "Aku gak ngerti.... Kak,"
"Artinya aku mencintaimu karena Allah,"
"Oohh.. iya, kamu juga harus tau kalau aku gak akan berhenti mencintaimu," balasku.
"Kamu bohong," ia menjeda kalimatnya. Padahal aku mau segera dengar kelanjutannya sebelum aku menyergah tuduhannya itu. "Suatu saat, kamu akan lebih mencintai anak-anak kita di bandingkan sama aku. Gak apa-apa, aku siap kok. Aku siap memberikanmu banyak cinta agar kamu tidak pernah kehabisan stoknya."
"Ku pegang janjimu!"
"Memang itu terdengar seperti sebuah janji?" Ia tersenyum sambil memainkkan bibir bawahku dengan jemarinya.
"Anggap saja begitu," balasku lantas aku menutup rapat bibirku.
Lama kami beradu pandang dalam jarak wajah yang begitu dekat. Membiarkan semburat merah yang mulai di telan gelap malam. Desauan angin semakin kencang menggoyangkan jendela-jendela kamar. Namun, tidak ada yang lebih menarik saat ini selain sorot matanya. Menyelami rasa yang semakin lama semakin lelah berlayar pada luasnya samudera. Tidak ada pilihan yang lebih baik selain melabuhkan perasaan pada sebuah penyatuan yang telah diridhoi-Nya.
Sudahi! Ini masih belum tepat waktunya. Suara adzan terdengar begitu merdu dari kejauhan. Kami segera menyudahinya. Lantas, beranjak ke kamar mandi untuk sama-sama menyucikan diri.
"Kamu mau kemana?" tanyanya saat aku mengekornya ke kamar mandi.
"Wudhu lah, aku mau sholat juga!"
Khafa menaikkan sebelah alisnya. "Memang, kamu sudah suci?"
"Belum, makanya aku mau wudhu biar suci!"
"Maksudku....,"
"Iya udah iya Kha, aku paham kok maksud kamu," selaku membenarkan pikirannya. "ya sudah ya aku wudhu dulu," lanjutku tersenyum malu.
Khafa mengangguk seraya membalas senyumanku dengan manis.
********
Kata Embun, Lanjut Minggu depan, ya?