Always Remember

Always Remember
Packing



Hari demi hari berganti. Minggu demi Minggu berlalu. Bulan, tahun terus berjalan. Aku berhasil move on. Tanpa mengingat ingat seseorang yang bernama Khafa.


Kegiatanku padat. Sekolah, kumpul bareng temen-temen. Nongkrong di kolong langit. PKL. Hingga pada akhir aku menyusun laporan untuk syarat kelulusanku.


Hari hariku hanya mengerjakan tugas. Di bimbing guru-guru yang killer seantero Indonesia. Membuatku tak bisa main-main mengerjakan ini semua.


Aku tenggelam pada kesibukanku. Hingga akhirnya kelulusanku tiba. Sekolahku membuat acara perpisahan 3 hari 3 malam ke kota Yogyakarta.


Kota impian.


Ini untuk pertama kalinya aku kesana. Dan kalian pasti tahu kenapa aku memimpikan kota itu. Selain daya tarik wisatanya yang selalu membuat aku terpukau juga ada satu nama yang membuat aku selalu ingin menjejaki kaki disana.


Khafa. Tak terasa. Sudah 2 tahun aku tak menyebut namanya. Aku tidak tahu persis sekarang ia ada dimana. Tak pernah lagi mendengar kabarnya. Aku tak berharap menemukan apapun disana. Aku tak berharap menemukannya disana. Tidak. Aku hanya penasaran. Bagaimana keadaan kota itu. Kota yang telah melahirkan manusia bernama Khafa. Makhluk alim yang pernah membuat hari-hari ku indah.


Malam ini aku packing. Beberapa baju ganti aku bawa. Termasuk arahan sekolah yang mewajibkan ku membawa seragam olah raga. Seragam batik dan baju kebaya simple untuk malam perpisahan. Aku telah jauh jauh hari memesan ke tempat make up kawan ibuku. Kebaya warna biru tua dan plisket berwarna senada.


Bukan hal mudah untuk ku bisa menabung agar bisa ikut serta perpisahan ke Yogyakarta. Karena sekolah telah menyewa satu hotel lengkap dengan gedung untuk acara ceremonial promnite. Biayanya cukup besar untuk kelas ekonomi menengah kebawah seperti keluargaku. Iya, semenjak keluargaku pindah ekonomi kita tak kunjung membaik. Bahkan ada fase fase sulit yang kami rasakan.


Aku tidak pernah malu dengan kondisi apapun yang tengah keluarga kami alami. Beberapa kali aku membantu ibuku berjualan di sekolah. Aku titip makanan ke kantin sekolah. Hasilnya lumayan. Aku tabung setiap harinya hingga terkumpul uang untuk aku ikut tour ke Yogyakarta. Bahkan tersisa untuk uang saku selama disana. Aku bangga. Ketika hasil jerih payahku ada hasilnya.


"Jangan lupa bawa minyak kayu putih kak." Ibu mengagetkan ku.


"Eh iya Bu. Tadi dimana ya aku taro minyak kayu putih?" Aku mencari di sekitar meja belajarku. Ternyata ada di nakas tempat aku biasa menyimpan obat-obatan. Ibu yang menemukan. Kemudian diberikan padaku. Segera aku simpan di small pocket tas ransel ku.


Ku cek lagi list barang-barang yang harus aku bawa. Alat tulis. Aku belum mencentangnya. Satu buku kosong dan bolpoint segera aku cari di lemari belajar yang paling bawah.


Kubuka pintu lemari itu. Pemandangan yang pertama aku lihat adalah buku putih. Rencana mencari buku kosong ku gagal. Aku malah meraih buku putih itu. Ku buka. Dan ku lihat-lihat kembali. Tak aku baca. Karena aku nyaris hapal semua tulisan dia yang sedikit.


Kha.. kamu apa kabar? Batinku.


"Kak udah selesai?" Lagi. Ibu mengagetkanku. Aku berhamburan menyembunyikan buku yang aku pegang.


"Uudah Bu. Ini lagi cari buku kosong untuk nulis-nulis disana barangkali dibutuhkan." Jelasku. Kikuk.


"Mmmm.. iya hayu atuh segera selesaikan. Udah larut. Nanti besok pagi malah telat lho."


"Iya Bu." Aku ambil buku kosong yang sebenarnya sudah aku liat dari tadi.


Ibu pergi tidur meninggalkanku. Sudah jam 10 malam. Aku segera ke kamar mandi untuk kembali bersih-bersih. Dan pergi tidur.


🌸🌸🌸


Kokok ayam mulai bersahutan sejak semalam aku tak bisa tidur nyenyak. Aku mendengar suara tahrim di masjid dekat rumah sudah mulai menggema. Sebentar lagi adzan subuh.


Aku segera mengambil handuk. Kemudian mandi. Ahhh air seperti air es. Dingin. Tapi aku semangat. Ini bukan halangan.


Ku lihat ibu tengah memasak di dapur. Menyiapkan segala sesuatu yang akan aku bawa untuk bekal. Padahal sudah aku bilang berkali-kali aku sudah dapat makanan catering dari travel yang akan mendampingi ku ke Yogyakarta bersama sekolah. Tapi ibu tetap mengkhawatirkanku. Ia memasak ayam goreng untuk jaga-jaga aku kekurangan makanan di perjalanan.


Suara adzan subuh terdengar. Ku tunaikan dulu kewajiban ku sebagai anak sholehah. Tak lupa, selesai shalat subuh aku berdoa memohon keselamatan di perjalanan hingga aku pulang nanti. Agar aku bisa kembali ke rumah dengan sehat walafiat. Tidak kurang satu apapun.


Selesai sudah persiapan ku untuk berangkat ke Yogyakarta. Ransel di pundak ku dan satu goodie bag besar di tangan kanan ku.


Setengah enam pagi aku pamit pada ayah dan ibuku. Ku cium takzim punggung tangan mereka. Mereka memeluk erat tubuhku sebelum aku berangkat. Sungguh aku merasa seperti mau pergi merantau.


"Nanti kalo aku sempetin kabarin ke ayah pake hp Dela ya Bu.."


Ibu mengangguk.


Ada satu lagi kesedihan yang ayah dan ibuku rasakan. Ialah ceremonial perpisahan sekolah yang tidak dapat mereka hadiri secara langsung. Padahal ia sangat ingin melihatku menerima hasil akhir belajarku dengan suasana haru berpisah dengan teman-teman. Ahh tapi apa mau dikata. Sejak awal kami sudah sepakat dengan pihak sekolah bahwa acara perpisahan dilangsungkan di luar kota. Agar lebih terasa kenangannya. Mungkin.


🌸🌸🌸


Jam 6.15 WIB. Aku sampai di sekolah. Tak ku sangka kalau mau piknik begini mereka semua jadi rajin. Sepertinya beberapa dari mereka datang sebelum gerbang sekolah di buka. Padahal biasanya kan cuma aku.


Setelah mencari bis yang tertera namaku aku segera menaiki. Dengan teman sekelas yang rata-rata dari mereka semua absurd kalo udah ngumpul.


"Eh eh.. itu kok bis ada ruangan dibelakangnya ya," kata Dela. Ia berjalan memasuki ruangan itu. Ternyata ruangan di dalam bis itu adalah ruangan khusus untuk orang merokok. Enam kursi paling belakang. Dan enam kursi di depannya. Kursi tersebut beurutan.


"Eh kita disini aja yok," ajak Vita.


"Iya iya.. kita disini aja yok ajak anak-anak cowok. Biar bawa gitar. Kita disini bebas mau teriak-teriak kedap suara oyy." Nuri memberi ide. Anak cowok di bis kami hanya ada 5 orang. Itu pun gabungan dari dua kelas.


Aku nurut saja. Masuk ke ruangan kedap suara itu.


Jam 9 Perjalanan pun di mulai. Temanku banyak sekali yang menyesali karena sudah datang pagi pagi buta. Eh taunya berangkatnya siang juga.


Menjelang sore mulai membosankan. Audio yang di putar oleh kernet dan kakak travel mulai tak sesuai selera. Kamipun meminta untuk tak di sambungkan ke ruangan belakang.


Rafi si cowok absurd mulai memainkan gitar. Ia memetik nada lagu Slank 'balikin'.


Mencintai kamu, bisa-bisa membunuh diriku


Bikin patah hati trus langsung dicuekkin


Nuri mulai ikutan nyanyi.


Mencintai kamu, sama saja menggantung leherku


Bikin sakit hati trus langsung ditinggalin


Balikin-balikin hati gue kayak dulu lagi


Elo harus tanggung jawab kalau gue nanti-nanti mati


Balikin-balikin kehidupanku yang seperti dulu lagi


Balikin-balikin kebebasanku yang seperti dulu lagi


Bagian reff semua ikut bernyanyi. Dan di ulang sampai 3 kali.


Semakin lama semakin rusuh dalam ruangan ini. Makanan berserakan. Lagu sudah banyak sekali yang di nyanyikan. Mulai rock, walaupun nyanyinya cuma teriak teriak, sampe lagu dangdut di nyanyikan. Benda apapun yang ada di sekitar yang bisa dipukul maka di pukul. Jadilah suara gendang.


Akhirnya kita lelah juga. Perjalanan terasa panjang dan lama. Teman-teman semua aku lihat tertidur. Aku yang duduk di samping jendela tidak pernah bosan. Malah tak bisa tidur. Sungguh aku tak ingin sedikitpun kehilangan jejak di kota ini. Tertera di jalanan sana tulisan jl. Raya Boyolali - Klaten.