
Jika ini hanya mimpi, maka segera bangunkan aku!
.
.
.
.
.
Setelah puas melihat-lihat, aku kembali menghampiri Khafa. Memandangnya saat dia tidur adalah hobby ku saat ini. Garis-garis wajah yang pernah aku cintai hampir sepuluh tahun yang lalu itu tidak banyak berubah. Hanya saja kini ia bukan lagi lelaki yang masih berseragam putih abu. Sudah jauh lebih dewasa. Jelas lah lebih dewasa, aku saja sebentar lagi menginjak umur dua puluh lima. Sudah bukan 'abege' lagi. Tapi entah kenapa, di hadapannya aku selalu merasa menjadi aku yang dulu. Embun seorang remaja berusia belasan yang jatuh cinta untuk pertama kalinya pada lelaki yang bernama Khafa.
Ku baringkan tubuhku di sampingnya. Semenjak kami menikah, mungkin ini baru pertama kalinya. Karena di rumah ku kemarin, aku tidak pernah merasakan suamiku ini tidur di sampingku. Tidak tahu sebab apa. Aku, juga enggan bertanya. Karena ketika bangun ia pasti sudah bersiap untuk pergi ke masjid. Aneh sekali sebenarnya. Apa mungkin, Khafa belum mau terjadi apa-apa antara kita? Lalu, untuk apa kita menikah secepat ini.
Setelah puas memandanginya, lama kelamaan mataku juga ikut ngantuk. Aku tertidur di hadapannya beberapa saat.
.
.
.
.
Duarr!!
"Astagfirullah!" Aku terbangun karena kaget seperti mendengar suara ledakkan.
Di hadapanku Khafa sudah duduk sambil tertawa jahil. "Bangun istriku, ini sudah mau Maghrib," ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Tadi suara ledakan apa'an sih?" Saking kagetnya, aku tidak memperdulikan kata-katanya.
Khafa menunjukkan satu jarum yang tanpa ku sadari ia ambil dari jilbabku. Ah, pantas saja aku terbangun sudah tidak menggunakan hijab. Ternyata jarumnya ia ambil, lalu ia tusuk pada satu balon untuk membangunkanku. Apa tidak ada cara yang lebih romantis selain itu?
Arrrggghh!
"Kalau tidur tuh jangan pake jilbab nanti kamu ketusuk jarumnya. Mau?" Suaranya terdengar tenang dan berwibawa.
"Mau!" sentakku kesal. Siapa yang tidak kesal sedang enak tidur dikagetkan dengan cara seperti itu.
Hah? Mau? Aduh ngelantur kan!
"Nggak maksudnya!" Aku meralatnya saat mengingat aku salah memberi jawaban. Bodoh!
"Mau?" gumamnya sambil menautkan alis. Lalu, dia menemukan bahwa ada arti yang janggal pada jawabanku, "Beneran mau?" tegasnya antusias.
Mesum pasti!
"Ngga mau, sakit!" jawabku polos. Logikanya semua seperti itu kan? Tertusuk, ya sakit. Tertusuk jenis benda apapun itu. Runcing ataupun tumpul.
Aihh, mikir apa sih aku ini?
"Kok tahu sakit? Memang sudah pernah?" Wajahnya berubah serius sepersekian detik ketika memberikan pertanyaan itu kepadaku. Tapi, aku merasa ada rasa tidak enak menyelinap pada raut wajahnya. Sepertinya, ia takut juga aku tersinggung.
Bukan lagi tersinggung, aku merasa seperti sedang mendapatkan pertanyaan tersulit dari seorang dosen ketika berlangsung sidang skripsi. Deg-degan. Takut. Tapi, ... Ah, pertanyaan macam apa sih itu? Membuat aku tambah mumet saja. Belum juga hilang pusing kepalaku karena suara ledakan balon yang mengagetkanku. Di tambah pertanyaan itu.
Pada akhirnya, timbul lagi pertanyaan di benakku soal dosa masa lalu. Apa sudah saatnya aku menanyakannya langsung pada suamiku sendiri? Karena yang sudah-sudah dalam kajianku bersama ustadz Ammar, aku tidak berani menanyakan hal ini. Aku merasa tidak pantas. Aku malu. Atau, aku harus menanyakan hal ini pada dokter? Psikiater? Soal...., Ish aku tidak sanggup menuliskannya disini.
Rasa sesal kembali menyelimuti ruang hati yang mulai menepikan sekelumit laranya.
Arrrggghh!
Ingin marah pada diriku sendiri. Namun saat ini, aku bisa apa. Pilihan terbaik hanya meremas kuat pada bantal yang ada di sampingku kini.
Aku lelah menyesalinya sendiri. Bertanya juga pada siapa? Teman? Sahabat? Sejak masuk dunia kerja. Aku sibuk dengan kegiatanku sendiri. Lagi pula kalau aku menanyakannya pada teman, apa bukan membuka aib sendiri namanya? Aku malah lebih akrab dengan kertas kosong saat itu. Tapi, bahkan pada kertas kosong saja, aku malu untuk menuliskannya.
Tok-tok-tok..
Terdengar suara ketukan pintu.
"Kha, Mbun, sholat Maghrib dulu sayang!" Suara mama dari luar membuyarkan isi kepala yang terjadi antara aku dan Khafa saat ini.
Khafa beranjak dari ranjang meninggalkanku dalam kebekuan. Perlahan aku mengendurkan remasan tanganku pada bantal. Menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya pelan. Tapi aku masih ingin berteriak. Mana mungkin disini aku bisa berteriak. Kecuali hanya di dalam hati. Aku hanya bisa merasakan sudut mataku yang kembali tergenang.
"Iya ma, sebentar ya. Aku siap-siap dulu. Kita sholat berjama'ah ya." Khafa berbicara pada mamanya setelah membuka pintu. Lalu, ia kembali menghampiriku.
"Ekhem," dehamannya membuat aku tersadar kalau ia sudah di hadapanku. "Nggak usah dipikirin pertanyaanku tadi. Ayo, sana mandi duluan! Jangan lupa keramas. Biar...."
"Biar rambutmu wangi," lanjutnya tanpa ekspresi.
Benar biar rambutku wangi? Aku beranjak dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi sambil menarik rambutku sampai ke hidung. Kurang wangi apa? Bahkan wangi Cherry dari vitamin rambut yang ku pakai tadi pagi saja, masih terasa jelas aromanya tanpa aku cium dekat rambutku.
Jadi, maksud Khafa, aku keramas, biar ada anggapan dari mamanya bahwa kita sudah melakukan hal itu?
Ck! Kenapa harus serumit ini sih?
Setelah mandi aku menggunakan handuk kimono yang sudah tersedia. Kepalaku juga telah ku keramas. Menurut sajalah apa kata suami. Meskipun ini hanya berpura-pura. Kemudian aku keluar mencari tas tempat aku menyimpan baju-bajuku. Dan mulai kelimpungan saat tidak menemukan pakaian dalamku di dalamnya. Sungguh, aku lupa menaruhnya dimana.
Tadi pas packing, Khafa gerecokin sih!
"Nih," Khafa muncul di belakangku memberikan sepasang pakaian dalam milikku.
Ya Allah. Kok bisa?
Aku mengambilnya malu-malu.
"Gak, berubah ya dari dulu. Pelupa," ungkapnya sambil berlalu meninggalkanku.
******
"Makan dulu yuk!" Ajak mama setelah kami selesai sholat Maghrib berjamaah. Kami mengikuti ajakan mama, lalu pergi menghampiri meja makan.
"Cukup! M-mas," lontarku saat tangan Khafa menaruh dua centong nasi ke piringku. Sebelumnya ia mengambilkan untuk mamanya terlebih dahulu. Sebenarnya itu harusnya tugas aku. Tapi malah sebaliknya.
Suasana makan begitu lengang. Hanya sesekali mama mengenalkan menu andalan di restorannya. Setelah itu, kami sama-sama sibuk makan dan menikmati hidangan yang begitu nikmat.
"Rencananya, habis ini kalian mau tinggal dimana?" tanya mama sambil menatap aku dan Khafa bergantian. Ia baru saja selesai makan.
"Rumahku yang di samping rumah mama sudah selesai kok. Aku mau langsung tinggal disana saja. Paling nanti kita beli barang yang belum lengkap saja. Soalnya aku belum sempat belanja ini itu ma," terang Khafa. Ada perasaan lapang di hatiku ketika mendengarnya.
Mama mengangguk. "Iya, nanti itu sedikit-sedikit saja. Tidak usah buru-buru. Nah, nanti kalau sudah punya momongan, kalian sering-sering kesini ya,"
Uhuk!
Momongan?
Nyicil saja belum.
Khafa segera mengambilkan ku air putih untuk ku minum.
"Mama gak sabar pengen gendong cucu," tutur mama lagi, manik matanya terlihat sekali penuh harap.
"Insya Allah ma, do'ain ya, biar Allah segera percaya sama kita untuk di amanati seorang anak," jawab Khafa tulus dari dalam hatinya.
Mengingat peristiwa tadi, aku jadi merasa aneh. Aku tau, besar keinginan Khafa mengabulkan permintaan mamanya. Dan yang aku tahu, Khafa begitu suka pada anak kecil. Terbukti saat aku melihat langsung sikapnya selama ini. Saat dia bersama Fatur, atau bahkan pada anak-anak di rumah tahfidz contohnya. Ia begitu mudah dekat dan sangat penyayang pada anak-anak. Tapi, kenapa denganku malah seolah selalu bergurau soal momongan?
Apa karena masih adanya juga keraguan dalam hatiku?
Setelah makan, kami berbincang hangat bertiga di ruang santai sambil menonton televisi. Sampai akhirnya mama pamit untuk beristirahat terlebih dulu di kamarnya. Tinggallah kami berduaan di atas sofa. Khafa tengah sibuk denga handphonenya.
Semenjak kejadian di kamar, aku jadi kembali canggung dengannya. Aku selalu bingung memulai pembicaraan apa yang akan ku bahas terlebih dahulu. Aku takut, ujung-ujungnya aku malah mati kutu di ajak bicara seperti tadi.
"Mau ikut aku ke Rocio gak?" tawarnya sambil memasukkan handphone ke sakunya. Pantas saja dia terlihat rapi, ternyata, mau pergi. Sedangkan aku, sudah memakai piyama bersiap untuk tidur.
"Kenapa gak bilang daritadi? Males ganti baju." Aku kecewa dan beralasan untuk menolaknya.
"Gak apa-apa aku tinggal? Gak lama kok, cuma mau liat laporan bulanan,"
Aku mengangguk setelah mendengar alasannya keluar untuk sebab yang jelas. Bukan apa, sendiri di tempat yang baru itu bukan hal mudah. Kemana harus ku buang rasa bosan kalau aku tidak ada teman.
"Beneran yah gak lama-lama,"
"Iya, tapi kalau mau ikut ayo, aku tunggu kamu ganti baju," tawarnya lagi meyakinkanku. Mungkin saja aku berubah pikiran.
Aku menggeleng pasti. Lalu, tersenyum. "Aku nunggu kamu disini aja," jawabku kemudian. Pasti dan tidak akan berubah pikiran.
Khafa pergi dengan langkah cepat. Dan disertai dengan harapanku untuk cepat juga kembali.
Beberapa saat berlalu, aku menunggunya di kamar sambil membaca buku Sirah Nabawiyah yang tersimpan di nakas. Hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Khafa belum juga kembali. Akhirnya aku menutup buku yang belum selesai ku baca itu. Lalu meraih handphone yang sudah berkali-kali aku lihat notifikasinya. Tidak juga ada satu pun pesan darinya.
Tiba-tiba, hatiku terasa seperti ada yang amblas. Khafa, secuek ini padaku?
Tidak mau ambil pusing. Aku menarik selimut dengan kecewa. Kemudian, menenggelamkan diri di dalamnya.