Always Remember

Always Remember
Walimatul ursy teh Nisa



Matahari Jakarta terasa penat di kepala. Padahal sudah masuk waktu ashar. Aku berjalan memburu waktu. Melewati dua gedung tinggi kantor asuransi. Sebenarnya aku bisa minta antar pak Supri, supir kantor. Tapi Mengingat hari itu adalah hari Jum'at. Waktuku tak banyak. Jalan yang memutar dan kemacetan yang tak terelakan. Dengan naik mobil justru akan menambah waktu yang terbuang.


[Mbak cepetan aku tunggu. ]


Ku buka pesan singkat yang masuk di handphone ku. Aku sudah janjian dengan teller biasa aku ke bank untuk menyetorkan uang setiap Jum'at sore. Karena aku nasabah yang biasa menyetorkan uang dengan nominal tidak sedikit. Kalau aku sampai telat mau tidak mau aku harus membawa uang pulang ke rumah. Ngeri.


Setelah selesai aku kembali ke kantor. Masih ada pak Kenedy di dalam ruangannya. Sedangkan pegawai lain sudah pulang terlebih dahulu. Kecuali pegawai bagian packing dan supir di dalam gudang. Aku merebahkan diri di kursi ruanganku. Lelah.


Waktu menunjukan jam lima sore. Aku masih enggan bersiap pulang. Aku berencana pulang naik kereta ekspres jadwal keberangkatan jam 19.25 dari stasiun Gondangdia.


Krek...


Suara engsel pintu ruangan ku di buka.


"Kau belum pulang?" Tanya pak Kenedy dengan logat bataknya. Ia hanya menampakkan kepala di balik pintu.


"Belum pak. Saya naik kereta 19.25 aja dari Gondangdia. Masih ada satu surat jalan yang belum saya selesaikan untuk pemberangkatan ke Medan nanti malam," Jelasku.


Pak Kenedy mengangguk. "Saya juga belum pulang," katanya dengan mimik yang lucu. Fikirku siapa yang nanya. Ups..


Maaf pak. Bapak baik banget.. baik. Batinku


"Muatan barang surat yang kau buat itu belum selesai naik truk. Kau sudah makan lagi belum?" Sambungnya. Ia masih bergeming di balik pintu.


Makan lagi? Aku lupa bahkan aku belum makan siang. Pekerjaan hari ini sungguh menyita waktu.


Aku menggeleng.


Pak Kenedy kemudian menutup pintu.


Sambil menunggu muatan barang selesai aku iseng membuka aplikasi F berwarna biru.


Ku buka icon friend request yang jumlahnya mencapai puluhan. Aplikasi sosial media ini saat itu masih terbilang baru. Masih jarang sekali peminatnya. Kebanyakan yang mengajukan pertemanan adalah orang-orang yang tidak aku kenal. Bahkan dari mancanegara. Aku tidak begitu tertarik dengan dunia Maya.


Tiba-tiba aku ingat kata Andra waktu itu. Buka Facebook.


Aku scroll daftar nama friend request.


Disana ada nama Andra Dewanata. Friend request sejak lima bulan lalu.


Aku konfirmasi friend request nya.


Allahuakbar.... Allahuakbar..~~~


Terdengar suara adzan dari meja komputer teman satu ruanganku. Sudah masuk waktu magrib.


Aku menghela nafas perlahan. Kebiasaan mas Rudi. Ia pulang lupa shutt down PC komputer nya. Ah tapi ada baiknya. Aku jadi mendengar suara adzan.


Aku bergegas mematikan komputer mas Rudi. Kemudian ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Seluruh kepenatan hari ini seolah luruh bersama jatuhnya air wudhu ke wajahku. Selesai berwudhu aku lekas menunaikan kewajiban ku sholat Maghrib.


Perutku sudah mulai berbunyi untuk kesekian kali. Kali ini memang harus di isi. Mungkin nanti saja sekalian aku pulang. Fikirku.


Sebelum kembali ke ruangan ku, aku menyempatkan diri untuk melihat kegiatan di gudang. Dua buah truk Fuso berflat BE tengah terparkir. Yang satu sudah penuh muatan. Sudah siap berangkat ke Medan.


Aku segera ke ruangan ku. Ketika aku membuka pintu, aku melihat satu box nasi Padang berlabel Garuda tersaji di mejaku. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Pasti pak Kenedy yang memesankannya.


Ku hampiri mejaku. Meraih mouse komputer. Sebelum aku membuka program khusus membuat surat jalan. Aku melihat notifikasi di sudut kanan atas sosial media.


Andra Dewanata writes on your wall


(Hi.)


(Hi juga.) Kulihat ia sedang online.


(Bun..)


(Asli ini Embun.)


Tak ku balas.


Andra selalu suka membuat ku marah dengan caranya.


Kemudian masuk 1 tanda pesan pada icon inbox.


Aku belum hiraukan.


Fokus ku tertuju pada surat jalan yang akan ku buat. Karena supir dan uang jalannya sudah ku siap menunggu.


🌸🌸🌸


Malam semakin merangkak naik. Lelah sudah menjadi bagian terakrab dengan ku. Ku lepas blazer coklat tua yang menempel di tubuhku. Ku rebahkan diri diatas kasur ukuran double. Ku lihat adikku sudah tertidur lelap di sampingku.


"Kakak udah pulang?" Kata Eliana. ------adikku. Ia mengucek matanya. "Mandi dulu Sanah ka." Titahnya.


"Iya bentar."


Eliana kembali tidur. Ku tatap Lamat Lamat wajahnya. Ia sudah besar. Sudah lulus SMA. Hanya saja prestasinya tak sebaik aku dulu. Biaya ia sekolah kemarin, seluruhnya aku tanggung. Ia masih belum mendapatkan pekerjaan. Padahal ia sudah mengirimkan lamaran ke beberapa departemen store. Namun belum juga ada panggilan.


"Kak, udah ibu masakin air hangat tuh. Mandi dulu ya. Terus boleh istirahat," kata ibuku di pintu kamar.


Aku beranjak dari posisi ku. Mengambil handuk dan ke kamar mandi.


"Oh iya tadi ada Irgi kesini anterin surat undang. Dari teh Nisa katanya." Ibu memberikan selembar kertas undangan berwarna biru muda.


Teh Nisa? Aku membuka surat itu. Bagian atas tertulis walimatul ursy. Pernikahan akan di adakan di aula pondok pesantren tempat teh Nisa dulu menimba ilmu. Karena sempat aku dengar teh Nisa menjadi pengajar disana.


"Lho kok ini tanggalnya hari Minggu besok Bu?"


"Iya Irgi baru sempet nganterin katanya," jelas ibuku.


Aku kembali menyimpannya. Melanjutkan langkahku ke kamar mandi.


Segar rasanya setelah mandi. Merasakan siraman demi siraman air hangat membasahi tubuhku. Seolah menjadi relaksasi tersendiri.


Dikamar aku pandangi surat undangan dari teh Nisa. Membaca lagi tempat nanti resepsi akan digelar. Hal itu kenapa seolah mengembalikan rasa yang sulit sekali aku jelaskan.


Aku berjalan ke teras rumah. Ibu dan adikku sudah lelap tertidur. Udara dingin menyapa tubuhku. Terasa menyegarkan. Suara jangkrik berlomba lomba bersahutan. Memecah heningnya malam yang kian sepi. Sesekali deru kendaraan bermotor terdengar dari kejauhan.


Langit begitu cerah membentang. Cahaya bulan terang benderang. Membiaskan sinarnya pada tentara malam. Yang bertebaran berkilauan. Seolah ingin menampilkan siapa yang lebih terang.


Nyamuk tak mau kalah penting. Mereka berhamburan mengambil perhatianku. Berkeliaran memburu kakiku yang hanya berbalut celana short. Beterbangan mencari bagian mana yang mungkin bisa mengobati dahaga mereka. Beruntung, Seluruh bagian tubuhku sudah ku baluri lotion anti nyamuk. Jadi aku bisa menikmati malam tanpa gangguannya.


Di atas kursi bambu aku duduk memeluk kakiku sendiri. Mencoba menerka apa yang akan terjadi hari Minggu nanti. Teh Nisa menikah dengan seorang ustadz pengajar di pondok pesantren itu.


Aku kira, aku sudah benar-benar berhenti mengingat Khafa. Nyatanya selembar kertas undangan pernikahan teh Nisa mampu membuat perasaanku yang lama tenggelam muncul kembali ke permukaan.


Tapi Khafa tidak pernah menyuruhku untuk menunggu.


Masih jelas sekali aku ingat tentang kata-kata ayah kepada Khafa saat itu.


"Suatu hari. Kamu sudah lulus, sudah tak ada lagi ikatan. Sudah siap dengan apa yang kamu persiapkan di masa depan. Silahkan kembali."


Sudah berapa tahun berlalu. Tak pernah ada tanda ia akan kembali?


Aku bahkan tak pernah lagi tau kabarnya.


Sayup ku dengar suara burung malam berbunyi penuh harapan. Sebuah harapan yang juga aku rasakan. Tentang sebuah penantian.