
Entah kenapa perjalanan pulang dari Jogja ke Jakarta pada kesempatan ini terasa lambat sekali. Aku ingin cepat sampai rumah dan membuka amplop coklat yang di berikan Khafa padaku. Ia bilang ini oleh-oleh spesial buatku.
"Semoga, isi dalam amplop coklat ini cukup menjawab segala pertanyaan 'kenapa'mu untuk saya," begitu ucapannya tadi sebelum aku take off menuju Jakarta.
Setelah melewati perjalanan sekitar tiga jam, Akhirnya, aku sampai di kantor. Ya memang harus ke kantor dulu. Karena supir disana tidak libur. Aku sempat mengurus surat-suratnya dulu untuk pengiriman ke Surabaya dan Jogja. Orang kantor sih tidak ada yang muncul satupun batang hidungnya. Makanya mau tidak mau, aku pulang setelah subuh dari Jogja. Untuk meng-handle nya.
Setelah selesai, aku langsung pulang menuju Bogor.
[Sudah sampai rumah belum?] Pesan masuk dari Khafa ketika aku duduk di kursi kereta.
Berani kirim pesan seperti ini sekarang dia. Tanpa ku sadari aku telah menyunggingkan senyuman yang tak henti-henti ketika membacanya.
Ku balas. [belum.]
[Ingat ya, Buka amplop coklat itu di rumah. Jangan dimana pun.] Balasnya.
Aku tak membalas lagi pesannya.
Hingga satu jam kemudian aku sampai di rumah.
Mataku menatap takjub pada halaman rumahku yang tiba tiba di penuhi tanaman bunga warna-warni. Dan, satu pohon tabebuya kuning berukuran sedang, menghiasi menjadi icon utama disana. Pohon itu, sama persis dengan pohon yang ku lihat di halaman depan masjid Khusnul khatimah. Apa ada kaitannya?
Ah, tidak! Aku tidak peduli. Pikiranku cuma satu sekarang. Amplop coklat dari Khafa. Cuma itu. Setelah ku simpan semua barangku. Aku langsung membuka dengan semangat tas dan mengambil amplop itu.
.
.
.
.
.
Curriculum Vitae Ta'aruf.
Lembar pertama.
Biodata
Nama : Muhammad Khafa Hamidzan.
Tempat, tanggal lahir : Yogyakarta, 10 Agustus 19XX
Agama : Islam
Golongan darah : O
Pekerjaan :
-Owner Rocio.co (toko perlengkapan alat-alat camping dan traveling) yang terdapat di Jakarta, Bogor dan Jogja. Bandung sedang dalam proses.
-Founder rumah tahfidz Al Firdaus
-Pengurus dan pengajar di Khusnul khatimah boarding school. (Cuma belum serius.hehehe)
Skip!
Lalu, aku di buat takjub pada pengalaman pendidikan dia yang pernah mendapat beasiswa kuliah di Arab Saudi selama satu tahun. Tapi tidak ia lanjutkan. Karena ada hal yang terjadi pada keluarganya. Kemudian ia kembali kuliah di Jogja.
Sebenarnya hampir sama dengan yang aku alami, hanya saja pengalaman Khafa dengan ku berbeda level. Ia jauh lebih tinggi.
Pantesan kamu ga ada waktu buat sekedar ngabarin aku Kha.
Lembar ke 2.
Nama orang tua, alamat, dan saudara lengkap ia tuliskan disana.
Ibu kandungnya berada di Jakarta sebagai owner rumah makan khas Jogja. Sedangkan ayahnya tinggal di Jogja sebagai salah satu pendiri Khusnul khatimah boarding school beserta keluarga ibu tiri Khafa juga adik adik tirinya.
Khafa ternyata di besarkan di keluarga yang broken home. Mungkin ini alasan ia dulu betah sekali diam di rumahku. Karena ia merasa seperti berada pada keluarga utuh.
Sejenak mataku memanas membaca satu demi satu informasi tentang dirinya. Ku peluk CV ini dengan hati yang sakit karena merasa bersalah telah salah paham menuduhnya yang tidak-tidak.
Lembar ke 3.
Target hidup :
-Menebarkan kebaikan dengan membangun rumah tahfidz di setiap Daerah seluruh pelosok Indonesia.
-Memiliki keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah hingga bersama menggapai jannah.
-Memiliki keturunan yang akan menjadi generasi Qurani.
-Berusaha untuk tetap bisa berdakwah dengan Lillah.
Hobi dan kegiatan di waktu luang :
-rihlah alam dengan mendaki gunung, membaca, dan berenang.
-membantu ummat dengan menjadi relawan ketika ada bencana.
Makanan favorit : apa saja yang selagi itu halal dan non MSG.
Minuman favorit : air putih dan kopi.
Merokok : tidak.
Tempat tinggal setelah menikah : saya telah membangun rumah sederhana di samping rumah yang pernah kamu datangi. Yaitu rumah yang biasa di jaga oleh mbok Sum. Luasnya memang tidak seberapa namun insyaallah cukup untuk di tinggali keluarga setelah menikah. Rumah itu masih dalam tahap finishing dan selama ini saya tinggal bersama orang tua saya di daerah sekitar Khusnul khatimah.
Kriteria calon istri : yang seperti kamu!
Visi dan Misi berkeluarga :
Keluarga menurut saya adalah madrasah seumur hidup untuk seluruh anggotanya. Jadi bukan hanya ibu yang saya buat patokan madrasah untuk anak-anaknya. Karena suatu saat saya, sebagai kepala keluarga mempunyai peran penting untuk mendidik dan membawa istri dan anak-anaknya menjadi hamba yang taqwa dan bisa berkumpul bukan hanya di dunia melainkan hingga nanti di Jannah-Nya.
Rencana ke depan : terus Menebarkan kebaikan dengan calon istri yang saya dambakan.
Riwayat pengalaman dan Organisasi :
-Ketua Indonesian Disaster Emergency Respons Unit cabang DI. Yogyakarta. (Sebuah lembaga relawan Indonesia) tahun 2013, sampai sekarang saya masih aktif menjadi anggotanya dan masih sesekali mengikuti kegiatannya.
-Guest teacher di Islamic centre greater St. Louis, Amerika.
-Guest teacher di Ashabul Kahfi Islamic centre, Sidney, Australia.
-Ketua Komunitas Pendaki Gunung Yogyakarta.
Kha,.. Aku merasa tidak pantas untukmu.
Lembar berikutnya,
Note :
Gimana baca CV. Ta'aruf saya, tertarik tidak?
Heii!
Kok malah nangis?
Darimana kamu tahu saya nangis!?
Tuhkan bener, kamu kan cengeng!
Yasudah saya minta maaf ya, saya tahu kata maaf saja tidak cukup buat mu. Saya salah, sudah terlalu lama membentang jarak antara kita. Tapi, kamu perlu tahu, bahwa sebenarnya saya tidak pernah benar-benar pergi dalam hidupmu. Saya hanya sedang memantaskan diri untuk suatu hari menjadi imam-mu seumur hidup. Kamu maafin saya tidak?
Nggak!
Pasti bilang nggak, awas ya nanti kamu nyesel lho.
Kamu benar, kamu bukan Fatimah Az-Zahra, dan saya, bukan Ali bin Abi Thalib. Saya gagal mencintaimu dalam diam. Iya, Saya gagal. Ternyata saya tidak bisa melepaskan mu begitu saja. Padahal saya telah berusaha. Namun usaha saya kalah dengan rasa keingintahuan saya tentang kabar terbarumu. Hati saya selalu bilang, "kamu, apa kabar sekarang?"
Pernyataan saya, yang bilang waktu itu kalau saya bahagia melihat kamu bahagia dengan siapapun itu, saya tarik lagi ya. Saya mau kamu bahagia cuma sama saya. Terserah, kalau kamu mau bilang saya egois. Tidak apa-apa.
Oh iya kamu ingat? Waktu itu kamu pernah kasih alamat rumahmu yang baru kan sama saya? Kamu ngerjain saya ya? Pertama kali saya cari kamu, saya nyasar, tahu!
Ya Allah Kha, maafin aku. Aku belum hapal waktu itu.. Yah, nangis lagi nih.
Alhamdulillah ternyata Allah sayang sama saya, saat itu ada ayah. Kamu kasih Nomor telpon ayah sama saya. Akhirnya saya ketemu ayah di Jakarta. Dari beliaulah saya dapat alamat yang benar. Kamu gak tahu kan? Karena memang kita sepakat untuk tidak memberi tahu kamu dulu. Belum waktunya. Saya waktu itu masih kuliah semester awal di Saudi. Masih banyak yang belum bisa saya capai.
Tapi, saya sudah mengucapkan janji. Bahwasanya, saya akan kembali menjaga anaknya. Ah, Bukan hanya menjaga, tapi juga saya ingin menjadikan anaknya menjadi teman hidup saya meraih sisa mimpi-mimpi saya bersama. Tentunya, teman di dunia dan akhirat kelak.
Khafaaaaaa.... kalo aku tidak mau gimana?
Beberapa tahun berselang, saya kehilangan kontak dengan ayah. Nomor telepon ayah tidak bisa di hubungi. Sampai ketika saat Nisa mengundang saya pada acara pernikahannya. Saya tahu dari dia kalau ayahmu ternyata telah tiada.
Kali ini air mataku deras berjatuhan. Kangen ayah.
Maafkan aku, buat kamu sedih. Sudah! jangan menangis lagi. saya belum bisa menghapus air matamu saat ini.
Waktu itu saya sempat cari kamu di nikahannya teh Nisa. Tapi saya tidak melihat mu. Saya juga buru-buru waktu itu karena pergi kesana membawa Fatur yang sedang kurang sehat waktu itu. Qodarullah, memang harus begitu jalannya.
Waktu terus berlalu lagi. Saya sibuk dengan kesibukkan saya. Saya gak ingat kamu. Bener deh saya gak bohong. Kamu jangan ngira saya cuma mikirin kamu ya. Tidak sama sekali. Tapi, saya juga tidak minat untuk buka hati lagi. Saya belum mau menikah. Saya belum punya apa-apa. Jadi, saya belum berani membuka hati untuk membangun rasa yang sama seperti rasa saya buat kamu. Karena solusi perasaan saya buat kamu itu, ya cuma menikah.
Cepat sekali rasanya waktu berlalu. Saya lulus, saya masih begini saja. Sibuk sendiri dengan hidup yang saya mau. Lalu, tiba saatnya musim media sosial, saya kok kepikiran pertanyaan itu lagi. "Kamu, apa kabar?"
Saya iseng ketik nama kamu di sosial media. Eh, ternyata kamu ada. Namamu, waktu itu hanya satu-satunya yang punya. Dan, tidak bisa juga saya lupa. Saya senang? Sedikit. Lebih tepatnya saya malah takut. Saya takut terlambat. Ketakutan saya, saya kikis. Saya beranikan diri mencari. Saya datang lagi ke rumahmu dengan caraa... Ahh! jangan sebut saya penguntit ya. Saya malu.
Tiba di tempatmu, saya ketemu Dadang. Dia baik. Dia banyak sekali bercerita. Dia tau kamu banyak lho. Termasuk kolong langit. Dia itu secret admire kamu rupanya, kamu ga tau kan? Iya lah, kan secret.
Nggak lucu, Kha!
Lalu, kegiatan saya mengantarkan mu kembali dalam hidup saya. Soal kontrak pekerjaan kita. Itu murni takdir Allah. Ya mungkin jawaban doa-doa saya juga. Saya senang sekali, tapi di saat yang sama saya juga sedih. Kamu tahu karena apa? Karena, saat saya ketemu kamu lagi. Mata kamu sudah beda. Bukan lagi milik saya. Iya kan?
Kamu juga salah paham sama saya. Biarin, saya memang sengaja membiarkan. Toh kamu sudah tidak sendiri. Buat apa saya mengklarifikasi juga tidak ada gunanya kan? Yang ada malah nanti saya jadi dilema buat kamu. Saya tidak mau jadi second choice di hati kamu. Tidak mau! Saya mau jadi satu-satunya.
Tuhkan dia egois!
Kegiatanku berlanjut dengan Dadang. Saya beli dan saya bangun kolong langitmu jadi rumah tahfidz sederhana untuk anak-anak di daerahmu. Tidak apa-apa ya, Kamu jangan ge-er. Ini semua bukan demi kamu. Tapi itu memang termasuk agenda saya bersama tim membangun rumah tahfidz disana. Jadi, tidak pakai uang saya pribadi. Itu termasuk kegiatan rumah tahfidz di pelosok.
Kamu kan orang daerah pelosok ya? Iya, ngaku saja. Kamu itu orang pelosok negeri hujan yang selalu menghujani saya dengan rasa rindu. Hehee, udah bagus belum gombalnya?
Iya jadi, selama ini saya tahu semuanya tentang kamu itu dari Dadang. Sampai saat ibumu sakit, Alhamdulillah saya juga tahu. Ibu tidak berubah sama saya. Ia tetap baik.
Jadi ibu sudah tau keberadaan Khafa selama ini? Ya ampun Bu..
Cuma, anaknya yang sekarang berubah. Bukan lagi anaknya yang dulu. Yang selalu menatap saya dengan nyaman.Kenyamanan itu nyaris hilang. Saya sadar itu. Dan saya tidak menyalahkan mu. Semua salah saya. Waktu saya lihat kamu di pantai puncaknya. Hati kamu, terluka. Dan luka itu, mengoyak juga nama saya yang telah terukir disana. Saya terima kalau hatimu telah terukir nama baru. Meski ukirannya tak sebagus nama saya. Iya kan?
Saya tidak mau lagi membuang waktu. Maka dari itu, izinkan saya menghapus jarak....
🍁🍁🍁