Always Remember

Always Remember
Janji yang ia ingkari



Teman-teman ku bilang saat saat akan mendekati rencana menikah itu ujiannya berat sekali. Dari mulai, mantan minta balikan secara tiba-tiba, emosi calon pasangan meledak-ledak atau kecelakaan sekalipun. Mungkin hal ini juga yang dirasakan Kayla dan Raihan. Atau bahkan aku dan Andra. Meski memang rencana ku belum sematang Kayla dan Raihan.


Tapi aku tau, aku sadar. Kalau Allah tidak akan menurunkan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Di balik itu semua aku juga yakin pasti Allah sedang menyiapkan sesuatu.


Bisa saja kan? Ketika satu saat kita kehilangan satu hal, ternyata Allah telah menyiapkan banyak hal untuk kita. Namun sayang, terkadang kita tidak menyadari dan lupa mensyukuri banyak hal yg telah kita dapatkan.


Begitu lah manusia. Ya, itu aku.


Manusia yang kurang bersyukur itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


🌸🌸🌸


"Embun kamu bisa pegang janji?"


Ku tatap heran iris coklat tua milik Andra yang terlihat gelisah itu. "bukannya kamu yang biasanya janji sama aku?"


Ia menggeleng lalu meraih tanganku ke dalam genggamannya. Dan membelainya dengan lembut. Namun sayang, itu tak menghilangkan rasa khawatir ku padanya.


"Seandainya..., Suatu saat nanti aku gak ada di samping kamu lagi------"


"Kamu ngomong apa sih? Aku gak suka kamu ngomong gitu!" Aku menarik tanganku dan menatap Andra tajam. Saat ini aku merasa takut mendengar kata perpisahan.


"Dengerin aku dulu," Andra kembali menarik kedua tanganku dan menatapku dengan sendu.


"Kalo aku gak ada, kamu janji ya buat selalu inget semua nasihat aku. Jangan pulang malam naik kendaraan umum, jangan telat makan, jangan makan makanan terlalu pedes, jangan.... makan soto mie sendirian," tiba tiba Andra terkekeh.


Aku tau, ia terkekeh karena kata-katanya sendiri. Padahal yang sering mengingatku saat makan soto mie sendirian itu, dia.


"Jangan cemberut gitu. Kamu itu cantik kalo senyum," lanjutnya.


Perasaan ku sungguh tidak enak ketika Andra menatapku dalam dengan tatapan yang semakin menyendu.


"Jadi, aku harus janji sama kamu sementara kamu ingkari janji kamu sendiri?" Aku tertawa lirih, berusaha menetralkan segala firasat buruk yang kurasa semakin kuat di hatiku.


Andra tidak menjawab apapun. Ia hanya menggenggam tanganku dengan erat.


"Permisi a," Andra menoleh sejenak. "itu, semua udah siap di kamar ya," ujar bi Eeng yang muncul dari tangga. "Bibi pulang dulu ya, besok pagi pagi banget bibi kesini lagi," lanjut Bi Eeng.


Andra mengangguk "iya. Hati-hati ya bi," jawabnya.


Setelah itu, Andra menarik ku untuk ikut ke kamarnya. Dua buah koper berukuran sedang dan besar sudah tertata rapi di samping ranjang king size miliknya.


"Duduk," Andra menepuk tepi ranjang itu, mempersilahkan ku duduk disampingnya. Aku menurut sambil menatap heran dua koper itu.


"Aku mau melanjutkan studi ke Amerika," katanya tanpa memandangku.


Aku tersenyum miring. "Kamu becanda kan?" Tanyaku tak percaya.


Andra menggeleng dengan wajah yang tak sedikitpun menunjukan bahwa ia sedang bercanda.


"Apa ini ada hubungannya sama Kayla?" Aku masih belum bisa mencerna keputusannya.


Andra menggeleng lagi. "Kamu nggak ingat aku pernah bilang mau balik ke Bandung dan lanjutin bisnis keluarga disana?" Andra masih tak berani menatap ku.


Aku mengangguk cepat sambil menahan dada yang mulai terasa sesak.


"Tapi itu Bandung, bukan Amerika," kataku kemudian. Aku tatap nanar wajahnya yang kini sudah memandangku.


"Jadi, kamu serius mau ninggalin aku?"


Ia terdiam menatap ku lalu memejamkan matanya sejenak.


Andra, apa kamu lupa komitmen yang kamu buat sama aku selama ini?


"Okey, aku gak akan peduli seberapa jauh kamu pergi." Suaraku mulai sumbang menahan tangis. Aku mencoba menyelami sorot matanya yang penuh tanda tanya. Aku berusaha tegar menghadapi kenyataan kalau memang Andra harus pergi. Aku tak punya hak untuk menahannya. "Berapa lama?" Lanjutku akhirnya.


"Cuma dua tahun." Andra menjawab datar.


Aku tersenyum getir. "Cuma kamu bilang? Dua tahun cuma?"


Ini bukan soal waktu. Tapi soal komitmen yang telah kita buat. Semudah itu kah?


Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan hal ini pada Andra. Tapi hatiku tak mengizinkan. Biarlah, aku menunggu dia yang membahasnya terlebih dahulu.


"Maafkan aku," ucap Andra, lalu ia menunduk di hadapanku. Maaf yang menyakitkan untukku. "Setelah dua tahun, aku janji----"


"Gak usah buat janji lagi! Untuk apa? Untuk kamu ingkari lagi? Untuk kasih harapan palsu lagi sama aku? Aku lelah Andra, aku lelah selama ini belajar untuk mencintai kamu. Usahaku ternyata itu sekarang sia-sia. Di saat aku berhasil mencintaimu. Kamu malah mundur dan ninggalin aku."


Iya, kamu malah menorehkan luka.


"Maafkan aku karena aku udah ingkar janji," lanjutnya dengan terbata. Aku tau dalam maafnya ia terisak pelan. Kalau memang ini tidak mudah untuk Andra, lalu kenapa ia lakukan?


Aku membuka cincin yang pernah ia sematkan di jari manisku. "Dua tahun bukan waktu yang sebentar kamu gantung aku dalam penantian. Aku tak akan sanggup menunggumu."


Ku raih tangannya dan menyimpan cincin di telapak tangannya. Tak ada penolakan darinya. Bahkan tangan itu begitu lemah tak berdaya.


"Terimakasih," ucapku pelan.


Aku beranjak pergi dari sisinya. Namun dengan cepat Andra menahan langkahku. Ia genggam kuat pergelangan tanganku.


"Tolong jangan begini,"


Aku berbalik badan dan mendonggakkan kepala menatap tajam mata Andra yang kini sudah ikut berdiri.


"Jangan begini gimana maksud kamu hmn?"


"Jangan pergi," pintanya lirih.


"Jelas-jelas kamu yang mau pergi..." Kata-kataku tercekat saat Andra menarik ku kedalam pelukannya. Selalu begitu.


Ia tenggelamkan kepalanya di bahuku. Isakkan tangisnya terdengar dan membuatku seketika leleh dalam pelukannya.


"Aku sayang banget sama kamu." Mendengar itu, Tangiskupun pecah seketika. Tanpa aku sadari air mataku telah membasahi kemeja Andra.


Ia memelukku sangat erat. Seolah tak mau melepaskan. Tanganku yang sedari tadi menggantung di kedua sisi badan, perlahan membalas pelukannya.


Setelah lama dalam pelukan, kini kami saling tatap. Ia mencium keningku cukup lama lalu kembali menatapku. Untuk pertama kalinya aku melihat Andra sesedih itu. Aku melihat banyak luka di manik matanya. Andra menjatuhkan kembali air matanya tepat pada kedua pipiku yang juga sudah basah mendonggak menatapnya.


Namun aku tak mengerti kesakitan ini. Luka apa yang tengah ia rahasiakan? Hingga nyerinya tembus pada hatiku.


"Aku menyesal saat kita di villa malam itu tidak melakukannya," tuturnya dengan suara yang mulai berat. Ia tak sedikitpun melonggarkan pelukannya.


"Maksud kamu?" Dahi ku berkerut semakin heran.


Andra mendekatkan wajahnya kepadaku. Mengusap pelan kedua pipiku dengan tangan kanannya.


"Iya kalo aku melakukan nya malam itu, besoknya pasti kita sudah menikah," lanjutnya sambil mengeratkan pelukannya.


"Andra, kamu gak bakal ngelakuin itu sekarang kan?"


-----------------------------------------------------


jangan lupa dukungannya yaπŸ™


like


vote


and komen nya..


Author lagi kekurangan semangat nih 🀧🀧