Always Remember

Always Remember
Teka-teki



Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Umurku sudah menginjak 23 tahun. Belum juga ambil keputusan untuk menikah. Padahal adikku saja sudah menikah beberapa bulan lalu. Kemudian ia ikut suaminya tinggal di Makassar. Kalau aku menikah nanti aku tak mungkin meninggalkan ibu.


Aku masih kerja dan hari-hari liburku sering di isi oleh kebersamaan ku dengan Andra. Tak pernah ku sangka. Andra yang dulu ku kenal sebagai mahasiswa teman PKL, sekarang ia benar-benar menjelma bagai malaikat pelindung dalam hidupku. Banyak sekali waktu yang telah ku lewati bersama nya. Ia selalu ada dalam kondisi apapun untukku. Bahkan aku sering merasakan saat-saat dimana Andra mementingkan diriku di banding kepentingan dirinya sendiri.


Tring!


Bunyi notifikasi handphone ku berbunyi.


Satu pesan masuk dari Andra


[Sudah makan siang?]


[Belum] balasku


[Makan dulu. Udah hampir jam satu.]


[Iya. Ini mau.] Kebetulan teteh yang bekerja di kantin kantor baru saja mengantarkan makanan pesananku. Ku kirim foto piring berisi nasi beserta lauknya.


[Oke. Selamat makan.]


Aku makan di meja kerjaku. Setelah makan beberapa suap nasi rasanya aku ingin membuka akun Facebook. Berselancar membuka dunia maya. Mengisi sedikit ke waktu kosong ku.


Seperti biasa, karena jarang sekali aku membuka akun ini ada beberapa notifikasi dan pesan inbox disana. Puluhan Friend request menanti untuk di konfirmasi.


Aku buka icon inbox terlebih dahulu. Beberapa hanya pesan-pesan minta perkenalan kepadaku. Aku abaikan. Dan ada satu pesan yang menarik perhatianku..


[Assalamualaikum Embun. ] dengan tanggal sekitar dua bulan lalu. Berarti sudah lama juga aku tak membuka aplikasi ini.


Akun itu atas nama Khafa Hamizhan.


Tidak. Pasti aku salah lihat. Tak puas melihat itu, jiwa stalker ku muncul. Ku buka bagian profil. Fotonya.. siluet seorang laki-laki gagah berada di atas gunung berlatar cahaya senja. Ku klik bagian album. Dari sekian banyak foto dengan latar pengunungan, camp, bahkan iklan-iklan ada satu foto kegiatan pelatihan camp. Aku melihat jelas itu Khafa. Akunnya.


Kring kring kring... Telpon dimeja ku berbunyi.


"Halo assalamualaikum.. siang mbak."


"Waalaikum salam. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau kirim barang ke beberapa pondok pesantren di Jogja mbak, bisa? Kalo harga cocok saya mau ajukan kontrak."


Biasanya kalau klien mengajukan kontrak. Pengiriman barang akan rutin dalam kurun waktu tertentu. Pembicaraan ku dengan klien akhirnya deal pada harga-harga yang aku tawarkan. Setelah selesai aku segera meminta waktu pak Kenedy untuk meeting.


"Ini pak." Ku serahkan semua data.


Pak Kenedy membuka lembar demi lembar data proyek yang sudah aku siapkan. Kemudian aku kembali ke ruangan ku.


Sudah jam empat sore. Aku bersiap untuk pulang. Karena tidak ada lagi pekerjaan yang harus ku selesai kan hari ini, maka aku putuskan untuk pulang lebih awal.


"Embun sabtu ini kau ke Jogja ya!" Pak Kenedy tiba-tiba masuk ke ruangan ku.


"Eh iya pak," jawabku ragu. "Eh Jogja mana pak?" Aku masih belum nyambung. Padahal ini proyekku.


"Jogjakarta lah kau fikir Jogja ada dimana lagi?"


"Lha kan kita ngga ada kancab disana pak. Mau ngapain ke Jogja?" tanyaku heran.


"Justru itu. Kau harus kesana. Temui klien disana. Karena ini proyek besar."


Aku mengangguk.


"Jadi kau urus-urus lah disana. Nanti kau disana ketemu klien yang mengurus penerimaan barang dan pembayaran biaya pengiriman. Oke ya Embun. Ini Jogja kok, deket. Jd Sabtu pagi kau harus sudah disana. Kau segera cari tiket pesawat dan penginapan ya. Nanti kau di hunbungi klien," jelasnya.


Instruksi pak Kenedy sudah tidak bisa lagi di ganggu gugat. Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.


Telpon di meja ku berdering.


"Halo selamat sore.. "


"Mbak ada paket nih." Terdengar suara Satpam kantor.


Perasaan aku ga pesen apapun. "Yaudah bawa sini aja pak."


Tak sampai lima menit paket itu ada di hadapanku. Dalam paket tidak tertera siapa pengirimnya. Aku segera membuka paket itu. Kotak di dalamnya berwarna putih dengan motif bunga berwarna silver.


Untukmu yang selalu ada di pagi hariku. Terima kasih.


Andra kasih kejutan seperti ini? Ah tidak biasanya. Andra itu biasanya mau kasih apa tidak pernah pake bingkisan dia selalu membawa ku langsung ke pusat-pusat perbelanjaan agar aku memilih langsung. Dan dia dengan sabar menemani. Tapi bisa saja dia sedang romantis kan?


Ku keluarkan isi kotak itu. Sebuah gaun lebar lengkap dengan kerudung lebar berwarna peach. Kata orang-orang sekarang sih itu namanya gamis. Aku menatapnya dengan heran. Ga mungkin dari Andra. Tapi siapa?


Ku telusuri nama kurir yang membawa paket itu. Ternyata paket itu berasal dari sebuah butik di kawasan kelapa gading. Setelah aku telpon butik tersebut, pihak butik tidak memberitahukan siapa yang telah membeli gaun yang ada padaku ini. Alasannya adalah privasi.


Hirup pikuk stasiun Bogor penuh dengan orang yang rata-rata pulang bekerja dari ibu kota. Termasuk aku. Ketika aku berada di pintu keluar stasiun tiba-tiba mataku di tutup oleh sepasang tangan dari belakang. Aroma parfumnnya sudah sangat aku kenali. Sudah ku tebak itu siapa. Kupegang tangannya dan membalikkan badan. "Andra ihh!" ku cubit perut ratanya.


Andra meringis.


"Malu tau. Liat tuh, berapa pasang mata ngeliatin adegan kita," protesku.


"Gak apa-apa. Sama calon istriku koq." Andra menarik tanganku sambil membawaku ke parkiran.


Sudah hampir satu tahun berlalu. Sudah banyak yang berubah. Sikap Andra sudah semakin dewasa. Ia bilang, sudah sering sekali di tanya soal menikah oleh mamanya. Jangan sampai adiknya Andra duluan yang menikah kata mamanya. Beberapa bulan lalu Andra mengajakku ke Bandung. Saat itu Andra naik jabatan menjadi kepala bidang IT di dinas perhubungan kota Bogor.


"Pake sabuknya."


"Iyaa..."


"Kita makan dulu ya." Andra membelokkan mobilnya ke sebuah mall.


"Makan aja ko kesini?" Protes ku. "Sudah beberapa kali aku bilang sama kamu aku ga suka mall. Kamu malah nekat ngajak aku kesini," omelku.


Andra tersenyum. "Iya maaf sayang. Tadinya aku mau ajak kamu beli sesuatu." Ia memutar mobilnya keluar parkiran. "Yaudah maunya kemana?"


"Mau makan kan?"


"Iya.."


"Di kedai nasi goreng pinggir jalan aja."


Andra memarkir mobilnya di pinggir jalan pemuda.


"Silahkan calon istri." Andra membukakan pintu mobil. Padahal aku sudah mau membukanya sendiri.


"Terimakasih."


Kami berjalan memasuki kedai yang tidak begitu ramai. Kemudian menikmati suasana makan malam di tepian jalan.


"Pulang yuk!" Ajakku setelah melihat seporsi nasi goreng seafood Andra telah habis. Kemudian ia menyalakan rokok yg selalu ada di saku kemejanya.


"Sebentar. Abisin dulu makan kamu." Ia mulai menyesap rokoknya.


Tring!


Bunyi notifikasi handphone ku berbunyi.


[Assalamualaikum Mbak, besok take off dari Jakarta jam brapa?]


Pesan dari pak Wisnu klienku di Jogja.


"Oh iya aku besok pagi ke Jogja loh." Aku menepuk keningku.


"Besok?"


"Iya."


"Sama siapa?"


"Sendiri."


"Traveling? Ko gak ngajak?"


"Ketemu klien."


"Hari libur masih aja kerja." Ia membuang puntung rokoknya. Kemudian menginjaknya hingga asapnya tak terlihat.


"Tumben protes. Biasanya juga dukung."


"Aku mau ajak kamu beli sesuatu."


"Apa?"


"Yaudah lah nanti aja. Kamu besok aku anter ke bandara ya. Sekalian aku mau jogging abis itu."


Setelah itu kami bergegas menghampiri mobil.


"Andra?" Suara lembut itu memanggilnya. Andra menoleh ke belakang. Reflek aku pun ikut menoleh. Seorang perempuan keluar dari Honda jazz merah tepat di belakang mobil Andra. Tubuhnya tinggi. Rambutnya lurus tergerai. Kulitnya putih bersih tersorot lampu jalanan. Cantik.


"Hei Kay!" sapa Andra. Ia terlihat kikuk.


Wanita yang di sapa Kay oleh Andra itu menghampiri Andra. Mereka berjabat tangan.


"Kamu apa kabar?" tanyanya.Tangan mereka belum terlepas. Aku bisa melihat dari cara mereka bersitatap. Ada sesuatu yang pernah terjadi diantara mereka. Aku yakin.