Always Remember

Always Remember
Ia kembali (lagi)



.


.


Caramu memperlakukanku, membuat aku seperti masuk pada ruang baru.


.


.


🌸🌸🌸


"Mbun, ikut gue yuk!" Ajak Fitri padaku. Aku tengah membuka file pada laptop kesayanganku. Pekerjaan harus tetap berjalan bukan dalam keadaan apapun. Lagi pula, kontrak yang sudah di sepakati disini dengan mas Wisnu harus segera aku kirim ke Putri. Ia yang akan menghandle semuanya dari Jakarta.


"Ikut kemana Fit?" Tanyaku tanpa melihat ke arahnya. Tanggung, satu file lagi sedang ku kirim.


"Ke Khusnul khatimah," jawabnya.


Done! Kerjaan selesai.


"Tempat apa'an tuh?" Aku menatap Fitri penuh tanda tanya.


"Pondok pesantren, aku mau ada perlu sekalian antar mas Wisnu ada jam ngajar jam 9."


"Lama gak? Gue kan mau balik habis ini. Tolong bantu gue cariin transportasi disini buat anter ke Bandara ya?"


"Nggak lama paling, satu jam, habis itu Lo bisa langsung balik. Biar nanti kita anter sekalian,"


"Ih gak usah, gue balik sendiri aja." Ku bereskan semua barang-barang ku. Dan mengemas satu persatu ke dalam tas.


"Yakin? Kalo ternyata ada yang ngebet mau nganterin gimana?" Tanya Fitri sambil memicingkan matanya.


"Khafa? Bilangin lah gak usah repot-repot, Gitu!"


"Yakin ga bakal nyesel?" Sindirnya.


Aku mengerutkan dahi. "Nggak!"


"Nggak salah lagi kan?" Ejeknya. Fitri lalu membalikkan badan dan berjalan ke luar teras. Mas Wisnu sudah siap untuk berangkat. "Mbun! Ayok!"


"Yaudah deh gue ikut," keputusanku pada akhirnya.


Tidak ada salahnya juga kan?


"Nah gitu dong!"


Lima belas menit kemudian mobil yang di kendarai mas Wisnu sampai pada satu gerbang besar. Di gapura bagian atasnya tertulis Khusnul Khatimah boarding school.


Sebuah area pondok pesantren yang aku taksir luasnya kira-kira 2 ha (hektare). Kanan kirinya berdiri dua bangunan kokoh ruang kelas bertingkat. Menjorok kedalam ada satu bangunan seperti aula. Pandanganku terpaku pada satu pohon tabebuya kuning yang sedang mekar di depan Masjid megah berwarna biru, indah sekali. Dan tepat di hadapan mobil yang mas Wisnu parkir, ada lapangan yang cukup luas.


Disana, aku melihat sekelompok santri laki-laki sedang bermain bola. Tapi, satu pemainnya terlihat tidak asing bagiku. Ia mempunyai postur lebih besar dari santri lainnya.


"Embun, kita udah sampe mau turun atau-----,"


"Gue tunggu disini aja ah Fit, Lo gak lama kan?"


Fitri terlihat menimbang jawaban. "Mmmm, gitu? Gak lama sih, yaudah kita tinggal ya,"


"Iya,"


Fitri memelukku dengan erat, "takut gue lama. Lo bakal balik kesini kan? Jangan lupa hubungin gue ya nanti,"


Aku membalas pelukan Fitri. "Lho?"


"Iya, nanti Khafa kesini ya. Lo balik sama dia. Jangan sendirian ah,"


Aku menghembuskan napas pelan lalu melepaskan pelukan Fitri.


"Udah gak apa-apa, hati-hati ya. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam."


Fitri dan mas Wisnu turun meninggalkan ku di dalam mobil. Ku lihat, mereka berjalan terpisah. Fitri berjalan menuju gedung yang ku kira itu adalah aula. Sedangkan Mas Wisnu ku lihat menghampiri seseorang yang sedang bermain bola di tengah lapangan dengan santrinya. Lalu mereka berbincang, tak lama kemudian mereka berpisah. Mas Wisnu pergi ke ruang kelas, sedangkan seseorang itu pergi ke luar gerbang. Entah mau kemana.


Peristiwa ini, seperti de Javu. Aku seperti kembali ke beberapa tahun silam. Saat Khafa tengah bermain bola dengan teman-temannya. Dan aku hanya jadi penonton setia yang memandanginya dari sisi lapangan.


Aku terdiam di dalam mobil selama hampir setengah jam. Ku raih handphone ku dari dalam tas untuk mengusir sedikit rasa bosan. Namun di dalam handphone tidak ada notifikasi apapun. Aku mencoba membuka sosial media dan mengetikkan passwordnya.


Tok... Tok... Tok..


Bunyi kaca mobil yang di ketuk begitu keras, membuyarkan semua konsentrasiku. Bukan hanya membuyarkan konsentrasi tapi juga membuyarkan niatku untuk mengetikkan password akun media sosial milikku.


Aku membuka jendela kaca mobil dengan terpaksa.


"Apa?!" Sentakku.


"Gak apa-apa, kenapa gak turun?" Tanyanya sambil mengusap keringat yang bermain-main di dahinya.


"Mau ngapain? Ga ada urusan juga saya turun," aku melihat kembali layar handphone di tanganku. Melihat-lihat layarnya tak menentu.


"Kamu gak capek ngambek terus kayak gini sama saya?"


Capek lah! Tapi kamu kan memang harus di beri pelajaran.


Khafa terdengar menghela napas panjang menanti jawaban yang mungkin akan keluar dari mulutku.


"Kenapa kamu pake baju mbak Fitri?"


"Bajuku kotor semua, jadi terpaksa aku pinjem punya Fitri," jawabku tanpa melihat kepadanya.


"Alhamdulillah, bagus itu."


Bagus, bagus Mbah mu! Ku tutup kaca mobil dengan paksa. Tidak peduli dengan Khafa yang sudah meraut wajah kebingungan.


Tapi, kemudian ia membuka pintu kemudi. Menggantikan posisi mas Wisnu.


"Pindah ke depan," titahnya. Lalu, ia menyimpan sebuah map di sampingku.


"Kamu siapa, nyuruh-nyuruh saya?"


"Ya sudah kalau nggak mau." Ia kembali memperbaiki posisi duduknya.


Ga ada usaha buat bujuk aku gitu?


Khafa mulai menstarter mobilnya.


"Iya iya, saya pindah!" Aku membuka pintu kemudian pindah ke kursi depan dan menutup pintunya begitu keras.


Bukannya kesal menanggapiku yang sedang marah. Ia malah, terlihat sedang tersenyum tipis sambil menghela.


"Kamu yakin mau pulang sekarang? Baru juga satu hari kamu disini." Ia bicara tanpa melirikku.


"Iya," jawabku sedatar mungkin.


"Disini, transportasi agak susah. Jadi kamu saya antar aja ya,"


"Terserah,"


"Terserah itu bukan jawaban," ujarnya. Khafa mulai melajukan mobilnya keluar gerbang pondok pesantren.


"Yaudah, iya."


"Nah gitu dong, kamu udah cantik pake kerudung. Jangan judes-judes bikin aku gemes aja,"


Aku?


"Gak usah gombal!" Aku melengos menatap jendela di sebelah kiri ku.


Suasana mobil kembali hening. Aku sadar, aku sedang mengabaikan seseorang disampingku yang sesekali memperhatikan ku dengan lirikkan matanya. Tapi, aku juga bingung harus memulai percakapan dari mana.


Aku mengeluarkan handphone dengan earphonenya. Rasanya mendengarkan musik, saat ini adalah pilihan tepat untuk mengusir rasa bosan.


Sebuah lagu ada band 'haruskah ku mati' mengalun di telingaku. Pertahanan yang perlahan ku bangun, sedikit demi sedikit terkikis bersiap roboh kembali. Bayangan tentang Andra bermain lagi di kepalaku. Teringat kembali usaha-usahanya selama ini. Ia selalu memberikan cinta tanpa kenal kata menerima. Hingga akhirnya ia berhasil mengambil segenap hati yang mulai menjatuhkan rasanya.


Ku pejamkan mata setelah aku menatap kosong jalanan yang aku lewati. Menguatkan hati agar pertahanannya tidak semakin roboh. Namun, pelukan terakhir Andra yang malah kembali ku rasa. Pelukan terakhir yang bermakna bahwa ia tidak benar-benar ingin meninggalkanku.


Merasa gerah dengan situasi sunyi, Khafa menarik paksa earphone yang menggantung di telingaku.


"Kamu apa-apa'an sih?" Protesku.


Ia melirikku sebentar. "Aku bukan supir taxi lho." Tatapan datar Khafa kembali kedepan jalanan.


Oh, Khafa mulai menampakkan sifat aslinya rupanya.


"Kalo earphone saya rusak kamu harus gantiin!" Aku memasukan kembali earphone ke dalam sling bag hitam yang ku pegang. Mengalah.


"Iya, aku bakal ganti sebanyak kamu mau,"


"Lagian ngapain sih?"


"Kamu tau nggak kalo denger musik itu cuma nambah kegalauan kamu?"


Aku mendengus. Lalu, meliriknya dengan tajam. "Tahu darimana kamu kalo saya lagi galau?"


-----------------------------------------------------