Always Remember

Always Remember
Akhir/awal perjuangan?



Selepas sholat magrib aku duduk menemani ibu menonton sinetron kesayangannya. Tapi, aku tidak turut menonton. Karena aku sambil membaca buku karya Noumala Dewi yang berjudul menjadi istri Sholehah.


"Astagfirullah." Tiba-tiba ibu bergumam disaat matanya fokus menatap layar televisi. "Cerita kamu sama Andra kayak senetron di televisi kak," ujarnya.


Aku yang sedang membaca sambil sesekali melihat halaman rumah menunggu kedatangan Khafa, sontak menoleh kepada ibu.


"Sinetron apa sih Bu? Ah, jangan sebut Andra lagi Bu," sergahku.


Ibarat luka, baru saja ia mengering. Eh, tersenggol. Ngilu.


"Iya deh maaf," ucap ibu menenangkan ku.


Beberapakali aku melirik jam dan buku yang aku baca secara bergantian. Sudah hampir jam delapan. Khafa belum juga muncul. Diam-diam aku di dera harapan yang begitu besar akan kehadirannya.


Ya sudahlah, mungkin dia kesini bukan karena aku. Aku saja yang terlalu berharap.


Aku menutup buku dengan kasar lalu beranjak dari tempat duduk. Aku hendak ke kamar dan, tidur saja!


"Assalamualaikum," suara salam dari depan pintu.


Khafa!?


"Waalaikum salam," jawabku sambil sedikit berlari menghampiri pintu lalu membukanya. "Dadang?"


Kok Dadang sih? Kecewa aku tahu!


"Iya Embun, ini saya kesini mau antar----," Dadang berhenti berkata dan menoleh kebelakang. Disana, ada orang yang aku tunggu-tunggu kedatangannya sedang berjalan memasuki halaman rumahku.


"Assalamu'alaikum," ucapnya sambil menaikkan kedua alisnya. Wajahnya begitu manis walaupun hanya mengulum senyum tipis.


"Waalaikumussalam," jawabku. Tanpa sadar aku menjawab salam dengan senyuman termanis juga yang aku punya.


"Yah, alamat jadi obat nyamuk deh," sindir Dadang. "Saya balik ya mas, saya gak sanggup ah, takut terbawa erosi menyaksikan kalian berdua," lanjutnya.


"Emosi kang, bukan erosi," Khafa meralat.


"Ho'oh eta maksud saya," timpal Dadang.


"Jangan pulang kang, sini jadi saksi saya. Sebelum nanti kedatangan keluarga saya kesini," pinta Khafa pada Dadang. "Lagian saya takut khilaf kalo berdua aja kang,"


Dadang menghela napasnya. "Ya udah deh saya temenin, tapi saya disini saja ya," Dadang menunjuk kursi yang ada di teras rumahku.


Khafa melirikku sejenak. "Kalau maunya begitu ya sudah gak apa-apa,"


"Yuk masuk, masa di luar sih kamu Dang," ajakku.


"Gak apa-apa, saya disini aja. Cari angin," alasan Dadang sambil tertawa nyengir.


Khafa mengekor di belakang ku untuk masuk rumah. "Ibu saya mana?" Tanyanya.


"Ibu siapa?" Aku balik bertanya sambil menautkan kedua alis ku.


"Ibu saya, ibu Syarifah,"


"Itu ibu saya. Sejak kapan jadi ibu kamu?! Enak saja ngaku-ngaku." Aku mulai bersungut-sungut.


Khafa tahu nama ibu dari mana coba?


"Sejak hari ini, beliau ibu saya juga," tuturnya sambil duduk di sofa ruang tamu rumahku. Padahal belum di persilahkan. Tidak pernah berubah dari dulu. Masih semenyebalkan ini.


"Ustadz Ammar nyolong start saya ya?"


"Hah? Nyolong start apa sih?" Aku duduk di sofa yang tepat berada di hadapannya.


"Nyolong start saya untuk ngajarin kamu ngaji,"


Aku membuang napas pelan.


"Darimana kamu tahu?"


Belum di jawab pertanyaan ku, ibu muncul dari ruang televisi.


"Eh ada mas Khafa?" Tanya ibu. Rona bahagia terlihat jelas sekali ketika ia melihat siapa yang datang.


"Ehh, iya Bu. Ibu sudah sehat?" Khafa bangun dari tempat duduknya lalu menyalami ibu.


"Alhamdulillah, duduk lagi mas. Kak, ambilkan minum untuk Khafa dulu dong." Ibu mempersilahkan. Aku bergegas mengambil dua gelas air putih. Kemudian memberikannya satu untuk Dadang dan satu untuk Khafa.


Setelah bertukar kabar Khafa memulai obrolan seriusnya. Aku tiba-tiba jadi gemetaran dan hanya bisa menundukkan kepala.


"Bu, saya kesini bukan untuk sekedar silaturahmi. Saya kesini sudah disertai dengan niat yang kuat untuk memenuhi janji saya pada almarhum ayah untuk melamar Embun. Mohon maaf sebelumnya saya kesini datang sendiri. Karena posisi keluarga ayah saya semua di Yogyakarta. Jadi kalaupun ia mendampingi saya kesini, saya maunya hanya pada saat acara pernikahan kami saja,"


Pernikahan kami? Percaya diri sekali ia akan di terima olehku.


Tapi seiring dengan itu, degup jantungku ikut bergemuruh mendengar penuturannya. Khafa ternyata secepat ini membuktikan kata-katanya menghalalkan ku.


"Ibu sih terserah kamu sama Embun saja. Kalau memang kalian sudah sama-sama siap, ya silahkan segerakan pernikahan itu,"


"Saya tahu Bu, ini terkesan cepat dan mendadak. Saya juga tahu saat ini Embun bukan lagi Embun yang dulu. Tapi, Insya Allah saya terima. Saya mencintai Embun karena Allah. Saya tidak mau terlambat lagi. Walaupun saya tahu ini hanya cara Allah yang menjeda hubungan kita. Dan sekarang sudah saatnya. Saya sudah pikirkan ini jauh-jauh hari bahkan sebelum saya bertemu Embun belum lama ini. Hanya saja, ada hal yang saya ingin tanyakan pada Embun sebelumnya,"


Perlahan aku mengangkat kepalaku. Memberanikan diri menatapnya.


"Kamu mau menjadi pendamping hidup saya dan menemani saya melengkapi mimpi-mimpi saya yang belum seluruhnya terwujud?" Tanya Khafa kepadaku dengan tegas.


Terjadi kebekuan sejenak. Tidak ku sadari aku telah meremas-remas ujung hijabku karena gugup. Masih tidak mempercayai bahwa Allah telah secepat ini mengembalikan Khafa tertulis dalam catatan takdir hidupku.


Padahal, aku masih merasa banyak cela pada diriku yang harus aku perbaiki. Aku masih belum pantas untuk mendampingi lelaki sesempurna dia.


Tapi, apakah ada kesempatan untuk ku menolak? Sementara ibu sudah terlihat raut haru bahagianya ketika Khafa menembakku dengan kata-kata seperti itu.


"Sebenarnya saya masih merasa tidak pantas buatmu. Tapi, jika kamu sudah mantap memilih saya untuk menjadi pendamping hidup kamu, saya tidak bisa menolak. Karena yang saya tahu, kamu itu tidak suka penolakan, benarkan?"


Khafa mengangguk. Namun sesaat setelah itu ia sedikit terkesiap mendengar kataku soal penolakan. Aku terdiam sejenak. Lalu, melanjutkan kata-kataku.


"Soal mimpi-mimpimu. Silahkan! Saya tidak akan melarang kamu berkarya. Membantu sesama, menebarkan kebaikan juga membangun rumah tahfidz di seluruh pelosok Indonesia. Itu semua misi mulia. Saya justru bangga sekali kamu seperti itu. Meskipun saya belum punya dasar apapun untuk menjadi istri seorang petualang sepertimu. Saya akan mencoba terus belajar menjadi yang terbaik dengan bimbinganmu." Setelah memberikan penuturan itu, aku kembali menundukkan kepala untuk menyembunyikan kegugupanku. Meskipun tanganku sudah dingin dan sedikit basah.


Tanpa Khafa sadari ia terus tersenyum tipis sambil mendengarkanku. Aku tidak menemukan kegugupan sama sekali pada raut wajahnya. Ia begitu tenang dan berwibawa.


"Saya tahu, kedatangan saya mungkin bukan pada saat yang tepat. Saya tahu kondisi kamu sekarang seperti apa. Setelah menikah, saya tidak akan meminta hak apapun sebagai suami, sebelum kamu benar-benar siap memberikannya. Lakukanlah seperti biasa apa yang kamu mau lakukan sebelum adanya saya sebagai suami. Saya juga tidak akan melarang semua mimpi yang mungkin masih ingin kamu gapai. Saya mau, kamu bukan hanya menjadi istri saya. Saya mau kamu menjadi partner hidup saya untuk kita bisa saling mendukung dalam hal kebaikan,"


Aku sekilas melihat ibu dengan ekor mataku. Ia beberapa kali mengusap air mata haru pada pipinya menyaksikan kami berdua.


Aku mengangguk menanggapi pernyataan Khafa.


"Kalau gitu, saya boleh tanya lagi?"


Aku mengangguk ringan.


"Kamu mau mahar apa dari saya?"


Mendengar pertanyaan itu, rasa haru menyeruak ke dalam hatiku. Jiwa pemberontak ku memudar. Saat ini, tidak ada lagi Khafa yang menyebalkan. Itu menandakan bahwa ia benar-benar sedang serius.


Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu. Menikah memang sudah menjadi keinginan kuat juga buatku. Tapi soal spesifik seperti ini, aku belum sama sekali mengerti. Aku masih harus banyak belajar.


"Saya serahkan semua sama kamu. Apapun, berapapun mahar yang mau kamu beri sama saya. Saya akan menerima ya dengan ikhlas," jawabku.


"Mas Khafa, tidak usah macam-macam maharnya. Sebaik-baiknya perempuan itu, adalah yang paling murah maharnya," ibu menjawab menambahkan jawabanku. Ia berkata dengan sesekali memandang lembut padaku.


"Iya Bu saya tahu. Dan sebaik-baik laki-laki adalah yang memberi mahar terbaik untuk calon istrinya. Insya Allah saya sudah siapkan mahar terbaik juga untuk Embun. Semoga Allah meridhoi dan memudahkan langkah saya. Dan juga langkah Embun,"


"Aamiin. Lalu, kira-kira kapan kalian berencana melangsungkan pernikahan?"


"Dua Minggu lagi."


Jantungku seperti hendak keluar mendengarnya. Dua Minggu?


"Tapi dua hari sebelum hari H, saya akan kesini lagi untuk mempersiapkan semuanya. Saya sudah membooking hotel di samping outlet saya untuk resepsi pernikahan kita nanti. Selebihnya nanti saya bicarakan di telepon dengan Embun, karena saya harus kembali ke Jogja,"


"Ya sudah lebih cepat lebih baik, ibu pamit istirahat dulu ya. Sudah malam. Silahkan kalau kalian mau berbincang-bincang dulu,"


Aku dan Khafa mengiyakan ibu untuk beristirahat. Dan kini, hanya tinggal kami berdua di ruang tamu.


"Kha, sudah sematang itukah?" Aku keheranan dengan semua rencana Khafa yang begitu matang dalam waktu secepat ini.


"Sudah lama, kamu saja yang terlambat tahu," jawabnya tanpa pikir lagi.


"Kamu nggak pernah mikir kalau ternyata seandainya saya menolak mu?"


"Saya tidak suka berandai-andai. Saya cuma tahu dua kemungkinan dalam jawaban. Ya atau tidak. Jika ya, saya terus maju. Tapi jika tidak, saya terus meminta. Cuma itu," jawabnya begitu percaya diri.


"Egois itu sih! Maksa!" Ketusku.


"Bukan! Itu namanya perjuangan. Paham!"