
Mari dukung author dengan vote, like, rate 5 and komen terbaik kalian yaa...
happy reading ๐๐๐
๐ธ๐ธ๐ธ
"Teh Nisa makasih ya."
"Iya. Aku pulang ya"
Ini hampir yang ke lima kalinya teh Nisa menjadi kurir komunikasiku dengan Khafa. Sudah hampir 3 bulan aku tak melihatnya. Tak bertemu dengannya. Meskipun aku selalu menanyakan kabar Khafa dari Dani dan Teh Nisa. Tapi aku tak pernah puas dengan cerita mereka. Seperti ada yang mereka tutup-tutupi tentang Khafa.
Pesan Khafa dalam buku tidak pernah banyak. Tidak pernah membuatku merasa punya jawaban tentang kegelisahanku selama ini. Padahal aku selalu menulis banyak untuknya. Aku selalu menggerutu. Kenapa Khafa menulis begitu sedikit. Tidakkah ia mau tahu kabarku? Tentu aku tak benar-benar bertanya seperti itu. Malu. Menyembunyikan apa yang aku rasakan sendiri. Aku harap ia merasakan arti semua yang aku tulis dalam bukunya.
Mungkin kosakata yang ia punya hanya sedikit. Oke, aku paham. Ia tidak sepertiku. Selama ini yang aku baca adalah novel, tabloid, majalah-majalah remaja yang isinya penuh dengan cerpen teenlit. Beda dengan Khafa. Dia tidak pernah tau bagaimana cara menuangkan rasa dalam kata demi kata yang ia tulis dibuku untukku. Kadang aku bosan. Membaca pesan-pesannya.
Tak banyak yang telah aku lewati dengan Khafa. Hubungan tentang kami hanya sebatas ini. Aku mulai berfikir kalau memang mungkin Khafa tidak benar-benar serius menjalani perasaanya kepadaku.
Itu artinya aku mulai ragu bukan? Entahlah dibalik keraguan ini aku masih selalu menyimpan harapan padanya.
Terlalu singkat rasanya ceritaku bersama Khafa. Tidak ada yang spesial yang membuat kalian terpana pada seorang Khafa bukan? Ini mungkin salahku. Salahku telah menjatuhkan hati yang bahkan tidak menganggapku penting.
Hari demi hari aku lewati. Menyibukan diri dengan belajar. Karena saat itu aku kelas IX atau 3 SMP dan dia 2 SMA. Aku harus mempersiapkan kelulusanku. Hampir setiap hari aku habiskan Dengan sekolah dan bimbel.
Meski setiap sabtu dan minggu aku sesekali sempatkan pergi ke lapangan. Tapi aku tak pernah lagi melihatnya. Sesibuk ini kah kamu Khafa? Hanya itu yang selalu terbesit dalam kepalaku.
Aku tanya Dani yang kemungkinan tau persis tentang Khafa. Tapi Dani hanya bilang kalau Khafa sedang sibuk dengan kegiatannya di pondok. Oke, aku tau sekarang posisiku. Embun yang tak pernah berarti dipagi hari. Bahkan hadirnya nyaris tak terlihat. Perih.
Saat buku ku terima dari teh Nisa
sore itu. Aku tak langsung membacanya. Tapi aku sudah sempat membukanya. Ku lihat hanya ada dua baris kalimat yg kutemui disana. Tentunya setelah salam diatasnya. Melihat hanya dua baris kalimat yang ada di dalam sana. jujur, tidak lagi ada debaran hebat seperti biasanya. Hampa. Hanya itu yang kurasa. Tidak adakah kata yang lebih banyak yang ingin ia sampaikan padaku?
Setelah PR sudah ku kerjakan semua. Aku merasa wajib membuka kembali buku yang
Khafa berikan lewat teh Nisa. Dan dua kalimat itu adalah...
Kamu sabar ya... Suatu hari aku pasti datang buat khitbah kamu. Hehehe
Ngerti ga sih? Artinya apa? Aku terus mengulang-ngulang mencoba mengerti maksud dari tulisan Khafa. Ahh, sia-sia. Khitbah apa? Kemudian aku keluar mencari orang yang mungkin tau apa arti dari khitbah. Tapi siapa bahkan aku belum pernah mendengar kata ini keluar dari mulut ayah maupun ibuku. Tapi apa salahnya bertanya.
"Bu, ibu tau arti khitbah?" Tanyaku pada ibuku yang sedang menonton televisi.
"Khitbah?" Ibuku menatap heran ke arahku. "Melamar deh kalo ga salah. Kenapa? Ada yang mau khitbah kamu?"
"Ihh ngga nanya doang. SMP aja belum lulus bu. Lamar-lamaran." Kataku sambil menepuk jidat.
Aku kembali ke kamar. Paling tidak, benar atau salah aku tau maksud dari tulisan Khafa. Jadi maksudnya apa? Kalian yang baca ngerti ga maksud Khafa. Ya, aku fikir sih bener. Kita belum saatnya pacar-pacaran. Atau memang tak ada kamus pacaran dalam hidup khafa? Dan aku juga tak mengharapkan itu. Aku cuma ingin tau kabar dia selalu. Tapi mungkin aku salah. Lagi-lagi mungkin harapanku tak sampai hanya disitu. Tapi setelah tau arti khitbah sebenarnya aku kini mengerti. Khafa bukan lelaki biasa.
Sebenarnya ada rasa kecewa menyusup ke dalam hati. Sejauh itu Khafa mikir tentang hubungan kita? Padahal aku mah boro-boro mikir sejauh itu. Aku hanya mencoba mengeja rasa. Rasa sama dia. Ah iya, aku ini bodoh? Tidak paham perasaan sendiri. Tidak mengerti sama sekali perasaan ini harus dibawa kemana. Terus Khafa ngerti? Kenapa udah mikir sejauh itu?
Rasanya mendengar istilah khitbah. Aku malah takut. Aku ga mau nikah muda. Tiba-tiba aku bergidik ngeri membayangkannya.
Kemudian ingatanku melanglang buana pada kata-kata Listy soal Khafa. Yang menyatakan bahwa Khafa beda dari santri lainnya. Kesayangan para Ustadz dan Ustadzah pembimbingnya. Dan mungkin kini menjadi kesayanganku juga. Ishh..
Tapi Khafa seolah memberi harapan kosong untukku. Memberiku tujuan tanpa mengajakku melangkah bersama. Ia terlalu berat memberiku sebuah angan. Sedangkan aku hanya siswi SMP yang mengerti saja belum apa tujuan dua orang yang saling mencintai. Saling mencintai? Ihh.. saat itu aku merasa kata itu kata terabsurd yang pernah aku katakan.
Malam itu aku hanya terlentang membintang diatas kasur kesayanganku. Dan bayangan Khafa berlalu lalang di benakku.
Tok tok tok..
Suara mengetuk pintu. "Assalamualaikum!"
Tok tok tok..
Bunyinya semakin keras. Setahuku ibu ada di depan televisi. Sedang menonton sinetron kesayangannya. Tapi kenapa tidak ada yang membukakan pintu. Akhirnya dengan malas aku beranjak juga membukakan pintu. Sempat berhenti di depan pintu kamarku. Mencari kemana penghuni rumah. Kenapa disini hanya ada aku? Oh ternyata ibu ku ikut tertidur ketika menemani adikku tidur. Tanpa berfikir panjang aku membuka engsel pintu rumahku.
"Waalai......" aku terkejut dihadapanku sudah ada laki-laki yg sejak tadi berkeliaran di benakku. "Kumsalam." Lanjutku
"Lama banget bukanya. Waktuku ngga banyak! Ijinin aku masuk!" Katanya sambil nyelonong melewatiku.
"Hah!?" Ucapku. Ini orang sakit? Maen nyelonong aja. Aku hanya bisa bergumam dalam hati.
"Ibu mana? Bilang! Calon mantu datang."
"Kha, iihhh.. " tolong jangan buat aku ilfeel. Gumamku.
"Aku serius."
"Ibu tidur sama adikku."
"Ayahmu deh kalo gitu. Mana?"
"Belum pulang." Jawabku kemudian duduk di sofa. Tanpa mempersilahkan Khafa duduk. Aku masih bingung dengan kedatangan Khafa. Ya dia selalu muncul tiba-tiba. Kali ini mirip preman mau rampok.
"Aku ga kamu persilahkan duduk nih? Yaudah aku pulang."
"Khafaaaa..!" Teriakku sarkas. Khafa sudah membalikkan badan hendak keluar. Sayangnya ia tidak menggubris teriakkanku. Aku menarik ujung Hoodie yg di kenakannya. Reflek. Khafa melihatku. Bukannya kesal. Ia malah tersenyum penuh kemenangan.
"Lepas." Perintahnya tanpa menyentuh tanganku.
Tentu saja langsung ku lepaskan.
"Kamu ga mau aku pergi ya?" Itu bukan pertanyaan tentunya. Tapi ejekan.
Tentu saja. Gumamku.
"Ya abis gitu doang balik. Ngambekan. Duduk dulu lah." Aku masuk. Khafa mengekor.
Khafa duduk tepat dihadapanku. Berjarak meja di tengah tempat menyimpan hidangan jika ada tamu datang. Tapi dia bukan tamu. Aku tidak menghidangkannya apa-apa.
"Aku------"
"Aku ngga haus." Potong Khafa. Seolah ia tahu aku hendak mengambilkan minum untuknya. Padahal aku cuma cari alasan menjeda tatapannya yang selalu berhasil membuat jantungku seakan mau keluar. "Duduk!"
"Ko aku yang di suruh duduk sekarang? Inikan rumahku." Nada bicaraku mulai meninggi. Ini orang ngeselin. Selalu bikin emosi kalo ketemu. Aku duduk diposisiku semula.
"Maksudnya... sini duduk deket aku." Lanjutnya. Matanya kembali memancarkan kenyamanan. Suaranya menenangkan. Namun didalam sini aliran darah seolah semakin cepat mengalir. Jantung berdegup kencang. Ngeri. Ngeri sekali debarannya terdengar olehnya.
"Iiihh ga mauu.. aku disini aja." Kemudian aku duduk di kursi berhadapan dengannya dengan pembatas meja dikaki kami. Lebih baik tak berdekatan kan. Bukan apa. Jika terlalu dekat. Aku takut tak mampu menetralisir perasaan absurdku.
"Hmmmn.." jawabku malas.
"Hhhmm apa?"
"Iya udah ada di aku. Dan aku ngga ngerti apa maksud kalimatmu."
"Belajar yang rajin. Suatu hari kamu paham artinya."
"Jadi aku ga perlu tau artinya sekarang?"
"Ga perlu."
"Kenapa?"
"Karena nanti kamu bakal paham sendiri."
"Kapan?"
"Nanti."
"Disaat kamu udah ga ada lagi buat aku?"
"Kamu doa'in aku pergi?"
"Khafaaa!"
"Apa?"
Dari setiap ujung pembicaraan kita berdua selalu berakhir kekesalan. Saat itu Khafa pamit pulang. Dia memang tidak pernah lama menemui ku. Kalau bukan hanya sekedar mengambil buku. Khafa hanya beberapa saat duduk mengobrol denganku. Atau bahkan tak pernah ada pembicaraan panjang diantara kita. Tak jarang kita hanya saling memelototi satu sama lain. Dan tersenyumย pada akhirnya. Entahlah aku selalu suka moment itu.
Namun belum sampai saat Khafa pamit. Aku mendengar suara ayahku di depan rumah. Seperti sedang berbincang dengan seseorang.
Ku buka pintu rumah. Benar saja ada ayah disana. Dengan ustadz Joko. Hah? Ustadz Joko?
Aku kembali menutup pintu. Sedikit menggebrak. Panik.
"Khafa didepan ada ustad Joko." Aku pelan Memberi tahu Khafa.
"Hah? ngapain?" Khafa tak kalah panik.
Kita berdua membuka sedikit jendela melihat ke luar. Namun ku lihat hanya ada ayah sedang melepas sepatunya.
" Assalamualaikum.." ayah membuka pintu. Kami berhamburan membenahi posisi.
Segera ku cium punggung tangan ayah. Begitu juga Khafa.
"Khafa yah?" Tanya ayahku.
Ayah memang sudah tahu soal Khafa denganku. Sebelumnya memang sudah beberapa kali ibu ceritakan. Namun baru kali ini ayah bertemu langsung dengan Khafa.ย
Mendengar kedatangan ayah. Ibu segera menemui ayahku. Memberinya segelas kopi dan segelas teh manis untuk Khafa.
"Diminum Khafa." Titah ayahku padanya. Kemudian ayah bertanya-tanya pada Khafa. Lebih mirip interogasi sih menurutku. Tapi Khafa tidak sama sekali terlihat gugup. Iya menjawab dengan tenang pertanyaan-pertanyaan yg di berikan ayahku. Bahkan sesekali mereka tertawa bersama.
Terlihat jelas sekali. Saat sedang berbicara dengan ayahku Khafa terlihat supel. Lebih dewasa dari anak SMA lainnya.
"Embun Bisa tinggalkan ayah dengan Khafa bicara empat mata?"
Ada perasaan tak enak menerpaku. Namun aku tak memperlihatkannya. Aku mengangguk dan masuk kamar.
Ku tutup pintu kamar pelan. Ku sandarkan punggung ini di balik pintu. Nguping. Aku penasaran sekali apa yang akan mereka bicarakan.
Samar terdengar.
"Khafa.. saya minta ini kali terakhir kamu temui embun ya."
Deg.
Hening.
Hatiku hancur.
"Ini untuk kebaikanmu. Kebaikan embun juga tentunya."
Kembali hening. Tak ada jawaban dari Khafa.
"Suatu hari. Kamu sudah lulus, sudah tak ada lagi ikatan. Sudah siap dengan apa yang kamu persiapkan di masa depan. Silahkan kembali." Lanjut ayahku.
Aku masih tak mendengar jawaban Khafa saat itu. Mungkin ia hanya mengangguk mengiyakan kata-kata ayahku.
Disana. Dibalik pintu kamarku saat itu. Aku yang malah tak kuasa menahan kesedihan. Air mata tak lagi meminta izin untuk keluar. Mengalir menganak sungai membasahi pipi. Rasanya baru saja aku menikmati bahagia sejenak. Namun sekarang sudah tidak lagi. Hari ini mungkin hari terakhir aku melihatnya. Ingin rasanya aku membuka pintu dan berhamburan mencari Khafa. Tapi tak mungkin.
"Aku izin pamit pak.." samar terdengar suara Khafa. Ku seka air mata sembarangan. Tidak. Khafa tidak boleh melihat kesedihanku.
Tok tok tok.. ketukan pintu kamarku. Entah siapa yang mengetuk. Belum ku buka. Aku masih sibuk membenahi wajahku yang sudah tentu absurd.
Tok tok tok.. "Embun.." suara Khafa. Riuh rendah hati ini berirama.
Ku buka perlahan pintu. Benar. Kakiku enggan melangkah.
"Aku pamit. " Katanya lirih.
Aku benci kata itu. Seandainya saja aku tidak mendengar pembicaraan mereka. Mungkin aku akan mengartikan pamitnya Khafa untuk sementara. Aku Tak mampu mengiyakan. Tak juga membantah. Hanya tetesnya yang menjawab. Air mata yang tadi ku seka. Jatuh lagi.
Di depan pintu kamarku. Kulihat binar yang tak kalah pedih. Bedanya ia tak sedikitpun menampakan linangnya. Namun jelas ku rasakan.
Pada akhirnya aku pun mengangguk. Penolakan jenis apapun percuma. Apa yang akan kami pertahankan. Tak ada. Hah? Cinta? Terlalu dini.
Khafa beranjak. Mencium takzim punggung tangan ayahku. Ayahku mengelus bahu Khafa lembut. Aku tau. Ayah suka pada Khafa. Bahkan pada tatapnya ada sorot bangga terhadap Khafa.
Kemudian ia menyalami ibuku. Yang saat itu seolah tau kesedihan kami.
Lagi. Khafa menatapku penuh arti. Seperti mengatakan selamat tinggal tapi masih ingin tetap tinggal.
Sedangkan aku. Aku kembali menutup pintu kamarku. Menenggelamkan wajah di balik bantal kesayanganku. Kalau di ingat-ingat, saat itu aku persis anak kecil yang marah ketika tak di beri jajan. Namun sakitnya jauh lebih sakit daripada itu. Jelas.
Tapi mulai saat itu aku tahu persis. Bahwa aku memang memiliki arti khusus untuknya. Khafa. Tatapnya tak akan pernah terlupa.