Always Remember

Always Remember
Hari baru



Lulus SMK aku mendaftar kuliah di universitas swasta. Fikirku beasiswa yang aku dapat dari sekolah bisa aku manfaatkan. Lumayan, aku mendapatkan free uang semester selama 2 tahun. Sambil kuliah aku akan mencoba mencari kerja.


Aku iseng mulai mengajukan lamaran via internet. Salah satu teman di karang taruna memberikan informasi tentang ini. Juga aku diberi tahu caranya.


Seminggu berlalu. Aku di belikan handphone oleh ibuku. Katanya untuk modal aku mencari pekerjaan. Agar mudah mendapatkan informasi. Sebenernya ia tidak begitu setuju aku kuliah. Karena merasa tak mampu memberikan biaya untuk kuliah. Tapi aku nekat. Akan ku buktikan aku bisa membiayai kuliahku sendiri.


Mungkin itu akan menjadi hal yang tidak mudah.


Drrrrrrrtt drrrttt...


Sebuah pesan singkat masuk ke handphone ku.


Dgn sdr. Embun Puspa Julie? Sy dr PT. Adi Jaya engineering. Besok ditunggu kedatangannya utk interview. Bertemu dgn pak Sapta bag personalia. Pukul 08.30 tq.


Lamaran yang aku kirim via online ternyata tembus.


🌸🌸🌸


Setelah lulus test dan negosiasi gaji akhirnya aku mulai bekerja keesokan harinya. Memang gaji yang di tawarkan tidak begitu besar. Hanya saja yang aku pertimbangkan adalah insentif setiap bulan. Ada kebijakan perusahaan untuk memberikan sembako setiap bulannya untuk semua pegawai. Aku juga mendapatkan mess dekat kantor jadi aku tidak perlu repot-repot pulang pergi naik kereta. Karena itu menguras banyak tenaga. Aku tak sanggup.


Aku bekerja di bagian accounting. Saat itu aku test dan interview bersama empat orang lainnya sepertinya usia mereka diatasku.


Tak ku sangka secepat ini aku mendapat kan pekerjaan. Aku mulai mengawali hari-hari ku sebagai seorang karyawati.


Kuliah? Aku ambil hanya hari Sabtu dan Minggu. Dan beasiswa yang aku dapatkan dari sekolah tak bisa di gunakan karena syarat dan ketentuan berlaku. Syarat yang paling tidak bisa aku penuhi adalah tak ada jadwal kuliah Sabtu minggu. Sedangkan aku, tak bisa meninggalkan pekerjaan ku. Aku tak bisa hanya mementingkan diriku sendiri. Paling tidak aku harus membuat orang tuaku tenang agar tak membebani mereka terus.


Aku hanya pulang seminggu sekali. Senin sampai Jumat aku tinggal di mess. Sampai di rumah pun aku hanya keluar untuk kuliah. Hampir tak ada waktu untuk hangout dengan teman-teman ku.


Rasanya aku benar-benar sudah keluar dari masa remajaku. Aku habiskan tenaga dan fikiran pada pekerjaan dan kuliah. Namun aku sadar semua harus berimbang. Gajiku setiap bulan hanya habis untuk biaya kuliah dan biaya hidupku sehari-hari. Niatku untuk bisa membantu menafkahi keluarga sama sekali belum bisa terwujud.


Ibuku memang tak pernah meminta. Namun aku sadar aku harus membantu biaya adikku sekolah yang sekarang masih duduk di bangku SMA. Aku merasa ini adalah tanggung jawabku sebagai anak pertama. Setelah kepergian ayahku satu tahun lalu. Hampir semua biaya hidup jatuh ke tanganku.


Suasana kantor membuatku menjadi akrab dengan dunia Maya. Sosial media yang saat itu belum bisa di akses telepon seluler. Membuat aku selalu betah berada di kantor. Tentu saja dengan dalih lembur. Jika harus nya aku keluar kantor jam 5 sore. Aku bisa menghabiskan waktu hingga jam 9 malam. Terkadang aku memang lembur. Karena aku bekerja di kantor pusat. Pekerjaan selalu menumpuk hampir tak pernah surut.


🌸🌸🌸


Waktu kian berlalu. Tak terasa dua tahun aku menjalani ini semua. Menjalani hari dengan begitu begitu saja. Monoton. Aku mulai didera rasa jenuh. Gaji yang tak kunjung cukup untuk kebutuhan membuat ku merasa harus ambil langkah lain.


Akhirnya aku mengundurkan diri dari tempat ku bekerja. Aku akan mencoba mencari kerja yang lebih baik. Aku kembali ke rumah. Menjadi pengangguran selama tiga bulan. Kuliahku, akhirnya aku hentikan juga. Terpaksa.


Berjalan tanpa ada dukungan ternyata cukup melelahkan. Membutuhkan energi khusus untuk menyemangati diri sendiri. Maka dengan apa yang aku alami ini. Beruntung lah kalian yang bisa kuliah dengan dibiayai oleh orang tua. Banyak-banyak bersyukurlah. Jangan sampai kecewakan mereka yang sudah mempertaruhkan seluruh waktunya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kalian. Karena di luar sana banyak sekali yang tidak mempunyai kesempatan baik seperti kalian.


Ku rebahkan diri di kamar 3 x 4 yang sudah di ambil alih adikku ini. Menatap hampa langit langit kamar yang sudah tak ada bintang bintang.


🌸🌸🌸


"Kak, tadi handphone nya bunyi." Kata adikku dari dalam kamar. Aku baru saja keluar kamar mandi.


Ku raih handphone di nakas. Kubuka aplikasi mirip bunga berwarna hitam.


1 miss call dari Reina ---rekanku di Jakarta.


Dan 1 chat masuk.


[Ada lowongan kerja buat Lo nih.]


[Iya Rei, dimana?] Balasku


[Daerah Jakarta pusat. Forwarding company.]


[Kirim lamaran via apa?]


[Langsung aja besok datang ke kantornya. Bawa lamaran. Ketemu sama pak Kenedy.]


[Ok. Tq dear.]


[Sama². Nanti kalo ditanya bilang aja Lo temen gue ya. Pak Kenedy masih sodara gue.]


Ku balas dengan emoticon jempol untuk mengiyakan. Dan emoticon hug and kiss sebagai tanda terima kasih ku.


Selanjutnya Reina memberikan alamat lengkap kantor padaku.


Sampai di stasiun kereta aku langsung membeli tiket. Antrian cukup panjang. Aku harus bersabar mematuhi budaya antri.


**Neng nong neng ~~~~


Kereta dengan tujuan Bogor - Tanah Abang segera masuk di peron 5**.


Pemberitahuan menggema di seluruh area stasiun.


Setelah tiket ku dapat. Aku setengah berlari menuju peron 5 untuk menunggu kereta dengan tujuan Tanah Abang. Ternyata kereta lebih dulu tiba. Hampir saja aku terlambat. Aku tidak begitu tau jadwal keberangkatan kereta tujuan Tanah Abang.


Di peron 2 sudah ada kereta dengan tujuan Jakarta kota. Segera melaju. Aku menunggu dengan sabar. Beberapa orang nekat menerabas. Menembus kereta yang belum ada pintu otomatis nya.


Lebih baik sabar sedikit menunggu kan.. daripada terjadi hal buruk yang tak diinginkan.


Stasiun terlihat ramai oleh penumpang yang hendak naik ataupun turun. Pedagang asongan turut menjadi bagian. Hilir mudik berlalu lalang. Banyak juga penumpang yang diam menunggu dengan tenang. Namun tak sedikit yang sambil bercengkrama dengan teman seperjalanan.


"Embun...!"


Aku terkesiap. Mencari asal suara bariton yang memanggilku.


Kereta dihadapan ku perlahan melaju meninggalkanku. Semakin cepat semakin menghilang. Seiring hilangnya suara yang tadi memanggilku. Aku heran siapa orang yang memanggilku.


Tak terlalu aku hiraukan. Aku berjalan menuju peron 5. Kereta tujuan ku sudah menunggu.


🌸🌸🌸


"Misi pak saya mau ketemu dengan pak Kenedy." Izinku pada seorang security didalam gedung tertutup beton setinggi 3 meter.


Security itu keluar dari pos. "Dari mana mbak?" Ia bertanya.


"Saya Embun pak. Mau melamar pekerjaan." Terangku.


Bapak security yang diseragamnya tertera nama Yanto itu kembali ke pos untuk menelepon. Mungkin menelpon pak Kenedy.


Tak lama ia kembali menghampiriku. "Silahkan masuk mbak. Pak Kenedy sudah menunggu di ruangannya."


Pintu gerbang yang tinggi nya 2 kali orang dewasa itu dibuka. Aku masuk diantar security. Beberapa truk terparkir dibalik pintu gerbang. Diantaranya ada Truk box, truk Fuso dan 2 cold diesel. Juga ada 2 mobil pick up kosong disana.


Beberapa kuli sedang sibuk merapikan barang. Membuat packing. Ada juga yang sibuk menaikkan dan menurunkan barang dari cold diesel ke truk Fuso berplat L.


Ku ketuk pintu ruangan yang tertulis nama Jhon Kennedy. Dalam bayanganku adalah sesesok bapak paruh baya dengan postur tinggi besar berparas bule. Jantungku dag Dig dug.


"Masuk!" Katanya dari dalam.


Aku mendorong pintu. Aroma kopi dan suhu dingin menyapaku seketika. Sosok itu tersenyum. Sosok yang berbanding terbalik dengan ekspektasi ku.


"Kamu kawannya Rei ya?" Tanyanya tanpa basa-basi. Ekspresinya begitu bersahabat.


Aku mengangguk.


"Duduklah!"


Aku duduk didepan mejanya. Ku keluarkan surat lamaran ku.


"Namamuuu... Embun?" ia bertanya heran.


"Iya pak. Embun Puspa Julie." terang ku.


ia mengangguk angguk tanda paham.


"Sini berikan sama saya lamaran mu."


Aku memberikan amplop coklat itu. Kemudian ia membuka lembaran demi lembaran surat lamaran ku. Setelah ia memberikan tawaran gaji yang cukup menggiurkan. Aku menyetujuinya.


"Reina sudah bercerita tentangmu. Aku terima lamaran mu. Kapan kamu siap bekerja?"


Aneh. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu.


"Secepatnya pak. Saya siap."