
Hai readers semua.. semoga sehat selaluπ
Omong-omong.. mohon maaf lahir dan batin yaa π
Terimakasih atas dukungannya selama ini. Dukung terus dan jangan bosan dukung lagi dan lagi dengan cara vote, like, rate 5 dan sertakan komen terbaik kalian.
Terimakasih lagi dan lagi π·π·π·
πΈπΈπΈ
Terkadang orang yang selalu menyenangkan hadirnya untuk orang lain adalah orang yang sering kali memendam luka dalam hidupnya.
Entah berapa jam kita melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sampai akhirnya aku tiba di sebuah bangunan yang terletak di area perkebunan teh.
Andra memasuki halaman villa yang di sekelilingnya penuh dengan tanaman bunga. Ada kolam berbentuk persegi panjang dengan pancuran di bagian sisinya.
"Capek?" Katanya setelah membuka helm. Ia berjalan mengajakku melewati jalan kecil berkerikil yang di apit oleh rumput Jepang di bagian kanan dan kirinya.
"Dikit," jawabku bohong. Padahal sebenarnya, banyak.
Selama perjalanan aku sebenarnya merasakan sedikit penyesalan karena meminta Andra pergi ke Bandung dengan mengendarai motor. Ia memang beberapa kali mengajakku untuk beristirahat. Tetap saja, Ternyata capek juga. Duduk tegak ketika di bonceng dengan jarak yang cukup jauh itu membuat punggungku terasa sakit.
Di tengah perjalanan aku terpaksa menjadikan punggung Andra sebagai sandaran. Aku tahu, Andra sih sebenarnya merasa enak-enak saja.
"Koq kita kesini sih?" Aku masih melihat-lihat pemandangan sekitar.
Ini bukan pertama kalinya aku di ajak ke Bandung untuk bertemu keluarga Andra. Dan tempat ini, bukanlah kediaman orang tuanya.
"Kamu emang udah siap nginap di rumah orang tuaku?"
"Belum."
"Berarti nanti siap ya?"
Aku menatapnya sejenak. "Kalo nggak ada pilihan lain."
"Ihh.." jawabnya.
Aku mengikuti Andra memasuki villa. Sejenak aku merasakan udara khas pegunungan masuk ke dalam ruangan. Sejuk. Andra memintaku untuk tidur di kamar utama. Kamar yang berukuran dua kali lipat dengan kamar di rumahku.
Aku bergegas masuk untuk sekedar merebahkan diri sejenak. Kemudian lekas menunaikan sholat.
Kelelahan selama di perjalanan tidak membuat aku terdorong untuk mengistirahatkan raga berlama-lama. Selepas merapikan alat sholat aku membuka tirai jendela kamar untuk melihat pemandangan di samping villa.
Di sana aku melihat Andra duduk sendiri di gazebo sederhana sambil menghisap sebatang rokok yang ada di tangannya. Tatapannya kosong ke arah perkebunan teh. Aku keluar untuk menemuinya.
Aku takjub pada pemandangan yang memanjakan mataku. Hamparan kebun teh menyerupai permadani raksasa berwarna hijau. Daunnya berkilauan saat sinar matahari dan angin menyentuhnya.
Seharusnya pemandangan seindah ini tidak membuat tatapan Andra begitu kosong.
"Mau kopi?" Tawarku. Ia terlihat sedikit kaget dan membuang puntung rokok di tangannya. Menginjaknya hingga hilang kepulan asap pada ujungnya.
"Memang kamu bisa bikin kopi buatku?"
Aku menaikkan pundak. "Cuma tuang serbuk kopi, gula dan air panas kan ke dalam gelas?"
Andra tersenyum. "Nanti aku buatkan kopi buatmu ya."
"Kamu mau tanggung jawab kalo aku jadi suka kopi terus aku jadi insomnia kayak kamu?"
Andra berdiri meraih tanganku. Mengajakku berjalan mengelilingi perkebunan teh.
"Kopi buatanku ngga akan bikin kamu insomnia gara-gara kadar kafeinnya yang tinggi. Tapi... Karena rasanya yang ga bakal bisa kamu lupain."
"Kalo gitu, kenapa ga jadi barista aja sekalian? Pelanggan mu pasti bakal banyak."
Andra tersenyum dengan senyumnya yg khas. Membuatku nyaman berada di sampingnya.
"Den.." mereka menyapa serentak ketika aku dan Andra melewati mereka. Andra hanya menganggukkan kepalanya kemudian melemparkan senyuman.
Den? Tanyaku dalam hati.
"Capek nggak? Aku mau ajak kamu kesana." Ia menunjuk sebuah bukit yang lumayan tinggi.
"Capek. Tapi aku mau."
Ia menaikkan alisnya.
"Yaudah yuk!"
Aku mengangguk semangat.
"Kamu ko malah ngeliatin aku kayak gtu sih?" Kataku di tengah perjalanan. Aku membungkuk, meredakan lutut yang mulai pegal.
"Nih." Ia memberikanku sapu tangan dari saku celananya. "Hidungmu basah."
"Hah?" Aku segera menyeka hidung dengan tangan. Kadang aku benci pada respon tubuhku sendiri ketika lelah. Yang pertama mengeluarkan keringat adalah ujung hidung dan atas bibirku.
"Pake ini." Ia menyentuh wajahku dengan sapu tangannya. Menyeka dengan lembut sisa keringat yang masih menempel.
Aku mendorong tangannya pelan. Kemudian melanjutkan perjalanan.
Dengan napas tersengal akhirnya aku berhasil menaiki jalan pintas bukit. Dengan bimbingan Andra tentunya. Sesekali aku menepis keringat yang muncul di pelipis.
Tapi, lelahku benar-benar terbayar ketika aku berada di atas bukit. Pemandangan yang begitu indah telah tersaji.
Di saat aku takjub melihat pemandangan. Andra malah sibuk menatapku.
Ketika aku menoleh ke belakang, "Itu kok?" Aku menunjuk bingung. Ada jalan besar dan beberapa mobil dan motor terparkir. Itu berarti ada akses mudah mencapai bukit ini.
Andra menyeringai. "Biar kamu kuat." Bisiknya.
"Iiihhh...!" Aku mendengus pelan. "Aku mau duduk ah capek." Ia mengikuti ku dan duduk bersisian.
Hening beberapa saat aku mengatur nafas. Sedangkan Andra tidak sedikitpun menampakan kelelahan.
"Embun.."
"Andra.."
Kami menoleh dan memanggil berbarengan. Lalu tertawa bersama. Hari ini aku menyadari bahwa semenjak aku berniat bahwa aku akan belajar menyayanginya dengan tulus itu lambat laun benar terjadi.
Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, Andra menjelaskan setiap petak lahan perkebunan tehnya. Ia bahkan memberi tahu ku nama setiap pegawai yang bekerja sebagai pemetik teh disana. Lengkap dengan sifatnya, gaya bicaranya, alamat rumahnya berapa jumlah anaknya.
Aku heran dia bisa sehapal itu. Padahal keseharian dia di Bogor.
Ketika sedang asik mengobrol tiba-tiba ada tiga orang berbadan besar menarik kerah baju Andra dari belakang. Tanpa persiapan apapun untuk melawan, Andra di hantam dengan kasar. Satu pukulan keras pada bagian perut berhasil membuat Andra terhuyung ke belakang.
Aku menjerit histeris. Tidak tau harus berbuat apa. Pukulan berlanjut pada bagian wajah Andra berkali-kali. Hingga terlihat tetes darah di sudut bibir dan pelipisnya.
Andra bangkit dan melawan. Namun karena lawan yang tak seimbang, baru saja ia mendaratkan satu pukulan, lawannya yang lain di belakang segera meraih tangan Andra dan menahannya ke belakang. Kemudian Andra kembali di hantam hingga ia terkulai.
Aku menangis, perih menyaksikannya. Ku coba meminta pada ketiga orang itu menyudahi aksinya. Namun Andra terus mengisyaratkan aku agar menjauh.
Setelah puas tiga makhluk keji itu mengeroyok Andra, mereka pergi tanpa sedikitpun rasa bersalah. Aku segera menghampiri Andra. Meraihnya ke dalam pangkuan.
Sambil terisak perlahan ku seka tetes darah yang ada di hidungnya.
"Gak apa-apa yang.. aku gak apa-apa."
Bodoh. Udah babak belur begini ia masih bilang gak apa-apa.