
Hari kedua ku di kota yang merupakan ibu kota dari Sumatra Utara. Medan.
Setelah seharian di ajak jalan-jalan oleh bang Togar kemudian aku kembali ke kantor cabang yang berada di jalan Sudirman. Memastikan laporan selesai semua untuk di kirim ke pak Kenedy. Bagaimanapun prioritas ku disini adalah pekerjaan. Meskipun pak Kenedy memberikan aku kelonggaran. Memberikan waktu dan uang saku untuk berjalan-jalan.
Aku kembali ke hotel tempat aku bermalam selama di Medan.
Tring.
Notifikasi ponsel ku berbunyi.
Satu chat dari Andra.
[Bun...]
Aku mendengus pelan. Lagi lagi Andra memanggil ku seperti itu.
[Kamu kenapa sih suka banget bikin aku kesel?]
[Aku bisa nelpon kamu sekarang?] Andra seolah tak peduli dengan kekesalanku. Ia seperti menganggap aku tak pernah benar-benar marah.
Tidak aku jawab.
Kemudian reff lagu my boo milik Alicia key terdengar dari ponsel ku.
Andra calling....
Aku menutup telinga ku.
Tak kunjung berhenti. Sampai tiga kali panggilan.
Notifikasi chat kembali terdengar.
Satu chat dari Andra.
[Iya maafin aku.. kamu udah tidur ya?]
[Belum.] balasku
Reff lagu my boo terdengar lagi.
Andra calling...
"Halo.... "
"Iya..?" Jawabku
"Maafin aku ya." Katanya.
"Kamu kenapa sih sering banget panggil aku kaya gitu?"
"Iya. Maaf."
"Jawab! Kenapa? Aku ngga suka. Namaku Embun.. Andra."
"Iya iya. Tadinya aku ngerep kamu jawab iya ayah... Hehehee."
"Andraaaaa. ----"
"Kamu lagi dimana?"
"Aku lagi di Medan."
"Di Medan? Kerja?"
"Iya. "
"Sampe kapan?"
"Besok pulang."
"Aku jemput di bandara ya."
Aku termenung.
"Boleh?"
"Oke."
"Kamu sama siapa?"
"Apanya?"
"Ke Medan nya."
"Sendiri."
Hening...
"Embun."
"Iya."
"Kamu kerja naik kereta tiap hari?"
"Iya."
"Aku pernah manggil kamu. Tapi keretaku terlanjur jalan."
Jadii.. yang manggil aku waktu itu Andra.
"Ohh yang waktu itu?"
"Iya. Mungkin ada lima bulan lalu. Sampe kantor aku langsung cari nama kamu di sosial media Facebook. Ketemu deh. Tapi kamu approve nya lama."
"Iya aku jarang buka aplikasi itu."
"Aku juga. Tapi yang aku fikir waktu itu ya cuma itu lewat itu aku bisa nemuin kamu."
"Buat apa kamu cari aku?"
Hening.
"Kangen makan soto bareng."
Aku tersenyum tipis. Menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal. Fikiranku entah dimana. Terasa kosong dan hampa.
"Halo..."
"Embun..."
Hening.
"Kamu tidur? Yaudah... aku tutup yah..."
"Iya.. "
"Besok kabarin kalo udah landing." Kata Andra menutup.
πΈπΈπΈ
Pagi pagi sekali aku kembali di jemput bang Togar. Kepalaku terasa berat sekali. Namun aku memaksa kan diri untuk pulang karena esok pagi aku harus kembali bekerja di kantor Jakarta.
Travel bag, ransel laptop dan satu goodie bag oleh-oleh yang telah ku beli sudah siap ku bawa. Ibu adalah orang yang paling tak sabar menanti kepulangan ku. Aku take off dari bandara Kualanamu pukul 6.30 WIB.
Hanya sekitar tiga jam kemudian aku tiba di bandara Soekarno Hatta. Aku sudah memberi tahu Andra soal keberangkatanku sejak dari Medan. Tapi berkali-kali aku mengedarkan pandanganku ke arah parkiran. Aku belum juga melihat sosoknya.
Akhirnya ku putuskan untuk mencari coffee shop di area bandara. Ketika hampir tiba di antrian coffee shop, tiba-tiba lelaki dengan kemeja putih muncul di hadapanku.
"Yuk!"
Ia mengajakku ke parkiran ke bandara. Mengambil travel bag yang aku jinjing.
"Gak apa-apa biar aku aja." Kataku seraya menarik tas ke belakang.
"Ini.." iya menyodorkan satu gelas macchiato dingin ke padaku. "Ambil." Titahnya.
Ku simpan travel bag di tanganku di lantai. Aku lekas mengambil minuman nya. "Terima kasih." Andra membawakan tasku.
Andra dengan cepat membukakan pintu mobil disampingku. Kemudian berlari menempati posisi nya. Ia menyimpan barang bawaan ku di jok belakang. Sial, ketika aku mencoba memasang seat belt tiba-tiba sulit sekali ditarik. Padahal aku biasa pake mobil kantor aman aman aja memasang seat belt sendiri. Andra dengan cepat memasangkan ke tubuhku. Ketika Andra berada dekat sekali dengan wajahku. Aku menahan nafasku. Padahal ia tidak melihat ke wajahku.
"Kamu sakit?" Andra kembali ke posisi sambil menstarter mobilnya
"Nggg... Ngga kok."
"Tapi wajah kamu pucet. " Mobil mulai maju perlahan keluar parkiran. Andra hanya sesekali melihat ke arahku.
Masa sih..
"Mabuk udara kali." Jawabku asal. Kemudian menyesap kopi yang Andra berikan.
Andra tersenyum. "Ini kan udah di darat Embun."
Iyaa.. tapi perlakuanmu membuat aku berasa masih di udara Andra.
Andra menyalakan radio di mobilnya. Tiba-tiba terdengar lagu Kahitna.
Bilakah dia tahu
Apa yang t'lah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya
Aku melirik dengan sudut mataku Andra mengikuti lantunan lagu itu. Jarinya mengetuk-ngetuk kemudi. Ku dengar suaranya. Empuk.
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang ku rasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba
Bilakah dia mengerti
Apa yang t?lah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang ku rasa
Mungkin kah dia jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba
Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu?
"Lama yah kita ga ketemu." Ia memulai percakapan. Melirik ku sebentar. Kemudian kembali melihat jalanan.
"Kamu apa kabar?" Tanya ku tanpa melihat nya.
"Baik. Sangat baik."
Hening. Hanya suara lagu yang masih terdengar mengalun.
"Kamu? Sibuk apa sekarang?"
"Aku baik. Weekday aku kerja. Weekend aku di rumah. Tahun lalu aku baru aja selesai ambil semester pendek." Jelasku.
Andra tersenyum simpul.
"Kantor mu dimana sih? Kayaknya kita bisa naik kereta bareng yah."
"Lho emang kamu pulang pergi naik kereta setiap hari?"
"Nggak sih.. aku sesekali aja naik kereta. Orang tuaku semua di Bandung. Kadang aku pulang ke rmh di Bogor. Atau aku ke Bandung."
"Di Bogor sama siapa?"
"Berdua sama adikku dia lagi kuliah di IPB."
Perjalanan terasa begitu cepat melewati jalur tol. Andra mengajak aku makan siang dulu sebelum sampai ke rumah. Ia memarkir mobil di depan restauran ayam cepat saji.
"Koq kesini?" Tanyaku.
"Emang mau kemana?"
"Katanya kangen soto mie?"
Kalau tidak salah ingat, Andra semalam mengatakan mau makan soto mie. Ah jangan-jangan aku di modusin.
"Aku baru kemaren makan soto mie." Andra nyengir.
"Terus kenapa semalam bilang kangen makan sama soto mie?"
"Iya yaudah nanti aja makan soto mie nya. Sekarang kesini aja ya."
"Kamu modus ya?"
Andra nyengir lagi. "Alasan itu untuk kita ketemu nanti lagi aja ya."
Aku manyun. "Dasar!"