Always Remember

Always Remember
Malam Panjang 1



Setelah kejadian di kamar mandi, rasanya aku ingin menghilangkan diri selamanya, atau aku ingin sekali menenggelamkan diri di tengah lautan samudra dan tidak pernah muncul lagi di permukaan. Aaaaah, Malu!


Kepala ini, tidak hentinya merekam wajah Khafa berdiri di balik pintu dengan wajah kaget. Ia pasti melihat tubuh polosku berdiri. Sulit bagiku untuk tidak meruntuki diri sendiri.


Khafa belum kembali sampai waktu isya tiba. Aku tidak mengerti, itu disebabkan dia sekalian sholat isya atau, menghindari rasa gugupnya kepadaku.


Baiklah, lama juga tidak apa-apa. Biar aku bisa sedikit menetralkan rasa malu ini dulu.


Lama membenamkan diri di bawah bed cover. Perutku terasa lapar dan perih. Aku berusaha berlagak masa bodo pada perasaanku sendiri. Karena laparnya perut sudah tak bisa di tahan lagi. Aku mau makan. Dan aku mau cari sendiri.


Aku berjalan menuruni tangga pergi menuju dapur yang terlihat tanpa sekat ke ruangan televisi. Lalu, menghampiri meja makan yang di atasnya masih tersimpan belanjaan ku dengan Khafa saat pagi tadi ke mini market. Ku raih mie instan siap saji dan membuka Cup-nya. Tapi dimana air panas?


Aku celingak-celinguk mencari letak dispenser. Tidak ada. Sepertinya dia belum beli.


Huh! Sofa di beli, peralatan dapur malah tidak ada sama sekali. Dasar, Paijo, ku!


Masak saja deh! Ya, aku kira itu pilihan terbaik.


Aku mencari dimana dia menyimpan kompor. Bayanganku adalah kompor gas dua tungku seperti yang biasanya ada di rumah-rumah. Tapi, aku tidak menemukannya juga. Aku hanya menemukan benda mirip kompor yang berukuran kecil dengan gas di sampingnya yang lebih mirip botol cat semprot.


Kompor apa bukan sih ini?


Kompor portabel?


Ceklek.


Aku mencoba menekan dan memutar satu tombolnya. Oke, api kecil memang keluar dari tungkunya. Tapi, dimana panci untuk masak air? Akhirnya aku memutuskan kembali mematikan apinya, lalu mencari panci dan air untuk bisa ku masak.


Aku kembali mengitari dapur yang tidak begitu besar ini. Dan menemukan benda berbahan stainless berbentuk tidak konsisten antara panci atau teko, dan agak gosong bagian bawahnya.


Apa sih ini? Katel? Kalau di pikir-pikir ini adalah seperti alat-alat untuk camping kan?


Aku menghela napas kasar, lalu, menggaruk tengkuk yang tidak benar-benar gatal. Aku mulai merasakan pusing untuk membedakan ini dapur atau camping ground.


Aku mencoba menaruh katel itu diatas kompor yang terletak di samping wastafel cuci piring. Kemudian menuangkan air dari botol mineral ke dalam katel tersebut.


Ceklek.


Selesai makan dan mencuci tangan, aku kembali ke kamar dan bersiap untuk tidur dan menenggelamkan diri kembali dalam selimut tebal. Masa bodo dengan sang suami yang belum pulang dan belum menampakkan batang hidungnya. Aku tidak mau peduli. Aku mau tidur cepat. Tapi, Kenapa jadi seribet ini, sih! Seharusnya aku sudah lebih siap.


Ahh!


Aku pusing memikirkannya. Yang pasti, sementara ini, aku akan berpura-pura tidak mengharapkan apa-apa darinya. Aku masih takut kalau aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Untuknya yang terlalu sempurna untukku.


"Assalamualaikum," ucapnya setelah membuka pintu kamar.


Ish, aku kenapa jadi takut begini.


Aliran darah yang semula mengalir biasa, kini tiba-tiba berdesir dan mengalirkan arusnya dengan cepat.


"Waalaikumussalam," gumamku dalam hati. Ingat! Aku sedang menjalankan misi ku untuk kembali berpura-pura tidur. Tujuannya hanya satu. Menyembunyikan rasa malu.


Khafa langsung masuk ke kamar mandi tanpa melihat dulu ke arahku.


Huh! aman aman.


Tidak sampai lima menit ia keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya. Dada dan punggungnya yang begitu menggoda untuk dipeluk, sempat membuyarkan misi ku berpura-pura tidur.


Kenapa Khafa jadi sefulgar itu? Kemarin-kemarin dia selalu berganti pakaian di dalam kamar mandi. Kenapa sekarang?


Ahh! Godaan!


Ku pejamkan mata rapat-rapat tanpa sedikitpun memberikan celah pada pandanganku kepadanya.


.


.


.


.


Bersambung ❤️