Always Remember

Always Remember
Kesalahan



Hujan, di Kota Bandung.


Senyuman Andra merekah tak henti-henti saat ia di vonis tak bersalah dan bebas saat itu juga. Aku ikut lega dan berucap syukur berkali-kali. Sebelumnya aku sempat mencari-cari, barangkali ada sanak saudara Andra mendampingi sidang terakhirnya. Tapi ternyata tidak. Ia, hanya di temani sang kuasa hukum dan seseorang yang tidak aku kenal.


Akhirnya setelah Andra mengikuti proses hukum selama sebulan lebih, ia benar-benar lega dengan hasilnya. Meskipun sebenarnya Andra bisa saja membuat urusan ini menjadi lebih simpel. Tapi ia tidak melakukannya. Ia yakin dan akan membuktikan kalau ia memang tak bersalah dengan cara yang baik.


Laki-laki itu berhamburan menghampiriku. Sorot matanya hangat sekali menyapaku. Wajahnya terlihat begitu lelah. Aku tersenyum membalas tatapannya.


"Pulang sama aku ya," pintanya. Tanpa menunggu jawabanku Andra sudah menggandeng tanganku berjalan menuju parkiran.


Cuaca Bandung beberapa hari belakangan ini sering sekali hujan. Hawa dingin mulai terasa. Langit yang mendung siap menguyur kota dengan deras. Aku merasakan tetes air hujan mengenai kepalaku. Andra membuka pintu mobil dan memintaku untuk segera masuk.


Tidak sampai satu menit, hujan sudah turun dengan deras. Kita sudah sama-sama duduk di dalam mobil Andra. Bukannya buru-buru menyalakan mobilnya, ia malah terpaku menatapku.


"Embun...." Ia memanggilku pelan. Aku menoleh dan membalas tatapan lembutnya. "Maafin aku ya," lanjutnya.


"Jangan bilang maaf terus," sergahku.


"Terus kalo bilang kangen boleh?" Tanyanya tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun dariku.


"Buat kamu hari ini semua boleh pokoknya. Yang penting itu buat kamu seneng," balasku dengan senyuman termanis yang ku punya. Aku harap hanya itu yang mampu menghibur Andra. Lebih dari itu, aku berharap ia bahagia mulai saat ini.


Andra mendekatkan dirinya padaku, "beneran?" pungkasnya.


Aku hanya menaikkan kedua alis. "Tentu," jawabku.


"Kalo gitu, ini juga harusnya boleh ya."


Jantungku berdebar kencang saat Andra semakin dekat. Ada desir halus ketika hembusan nafasnya mengenai kulit wajahku.


Aku memejamkan mata saat Andra semakin mengikis jarak. Pasrah saat hidung mancungnya menyentuh hidungku.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Ngapain merem-merem? Minta di cium?"


Mendengar itu aku refleks membuka mata. Andra memundurkan wajahnya beberapa senti. Namun hangat nafasnya masih terasa ke wajahku.


"Aku ngga me-----"


Aku membelalakan mata saat Andra mendaratkan bibirnya menyentuh bibirku tanpa aba-aba. Memberikan ciuman yang membuatku hampir gila. Aku meremas sekuat tenaga kemeja putih yang ia dikenakan. Jantungku berdegup tidak karuan menerima serangan Andra yang selalu tiba-tiba.


Aku hanya mampu membiarkan Andra ******* bibirku. Bahkan bisa-bisanya aku terhanyut oleh keadaan. Membalas sesekali ciuman lembut yang ia berikan. Tanpa peduli hal yang ku lakukan adalah kesalahan. Aku telah menikmatinya.


Hei, ternyata selemah ini imanku.


Andra melepaskan ciumannya, tanpa menjauhkan wajahnya dari wajahku. Perlahan aku melepaskan tanganku yang semula meremas kuat kemeja Andra hingga terlihat kusut. Begitupun Andra, ia melepaskan genggamannya di kepalaku. Merapikan rambutku yang ku biarkan tergerai. Lalu, membawa ibu jarinya menyusuri bibirku yang mungkin sudah memerah karenanya.


"I love you," ucapnya.


Aku menatap dalam pada iris coklat tua Andra. Selama hampir lima tahun bersamanya tatapannya tidak pernah berubah. Rasanya masih sama, tulus dan mendalam. Ku fikir sudah saatnya aku mengatakan hal yang sama untuknya.


"I love you too, calon suamiku."


Ia tersenyum penuh cinta mendengar kata-kata yang ku ucapkan. Kemudian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Di tengah perjalanan handphone Andra berbunyi. Aku segera mengambilkannya.


Ia menerimanya tanpa memakai headset bluetooth yang biasa ia gunakan.


Terdengar perbincangan Andra dengan papanya sangat serius. Perihal pengembangan bisnisnya di Bandung. Sesekali aku mendengar nada penekanan di dalamnya. Karena fokus berbincang, Andra luput memperhatikan laju mobil yang bergerak ke tengah jalan.


"Andra, di depan kamu ada------," teriakkan ku tertahan.


Dari arah yang berlawanan sebuah motor ninja melaju dengan kencang bergerak ke tengah jalan menyalip kendaraan lain. Gerakan Andra membanting stir ke arah kiri jalan terlambat.


Brakkkkkk!!!


Bagian depan mobil Andra menghantam motor ninja itu dengan sangat keras.


Andra menghentikan laju mobilnya. Handphone yang ia genggam jatuh begitu saja. Tangannya bergetar hebat.


Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.


Dari dalam mobil, meski pandangan masih terlihat samar karena rintik hujan yang turun sangat deras, Andra melihat bahwa motor yang bertabrakan dengannya ambruk. Pengemudinya terpental sekitar lima meter dari lokasi motor terjatuh. Beberapa pengemudi lain mulai berkerumun mengelilingi pengendara motor yang terjatuh.


Tubuhku lemas karena merasakan cemas. Juga menangis karena rasa takut.


"Andraa...," Suaraku bergetar.


Andra membuka pintu mobilnya. "Kamu tunggu disini aja ya. Oke?" Ujar Andra dengan wajah sedikit panik. Aku hanya bisa mengangguk.


Andra menutup pintu mobil kemudian menghampiri kerumunan tanpa memperdulikan lagi kemejanya yang mulai basah oleh air hujan.


Tak lama kemudian polisi berdatangan memeriksa. Dengan bantuan beberapa orang, Andra dengan cepat membawa laki-laki itu ke dalam mobilnya. Aku yang melihatnya bersimbah darah hanya terdiam lalu menangis sejadi-jadinya.


Andra dengan buru-buru menyalakan kembali mesin mobilnya. Beberapa polisi yang bertugas mengamankan motor dan memberi garis polisi di lokasi kejadian.


Setelah kami sampai di rumah sakit lelaki itu langsung di tangani di ruang Instalasi Gawat Darurat. Tak sampai sepuluh menit, dokter yang menangani keluar.


"Pasien kritis, harus segera masuk ruang operasi. Ada pihak keluarga disini?"


"Tadi pihak kepolisian sudah menghubungi keluarga. Saya yang bertanggung jawab semua dok, saya mohon langsung diberi tindakan secepatnya," Jawab Andra dengan mata berkaca.


Tidak lama kemudian beberapa orang menghampiriku dan Andra yang masih duduk di depan ruang IGD.


"Andra, sedang apa disini?" Sapa seorang bapak paruh baya. Tubuhnya tegap seperti seorang perwira polisi. Mata Andra terbelalak kaget. Karena ternyata mereka saling mengenali.


"Pak Edy!" Andra berdiri menghampiri.


"Andra?" Seorang wanita di belakang bapak yang menyapa Andra itu juga menyapa. Matanya merah seperti habis menangis. Ia berkerudung, cantik dan lebih tinggi sedikit dari pada aku. Aku merasa familiar dengan wajahnya.


"Kay... La," sapa Andra ragu.


Kayla? Dia berhijab? Tanyaku dalam hati.


"Iya ini aku. Jadi yang kecelakaan sama Raihan itu kamu?" Tanya perempuan itu. Perilakunya jauh berbeda dengan yang sebelumnya ku tahu. Ia lebih sopan dan selalu menjaga jarak. "Embun?" Dia menyebut namaku. Benar, itu Kayla.


Andra mengangguk pelan.


Aku hanya tersenyum tipis lalu menunduk.


"Jadi, Pak Edy ada hubungan keluarga sama Raihan?" Tanya Andra.


Pak Edy menggeleng. "Dia calon menantu saya, tidak sampai seminggu lagi Raihan akan melangsungkan pernikahan dengan Kayla," tuturnya sambil memandang Kayla yang mulai menangis.


___________________________________________


catatan author :


Tidak ada yang baik baik saja dengan pacaran. Ketika terjadi suatu hal yang di larang maka akan terjadi hal lain yang mungkin lebih.


So, say No to PACARAN ya adik adikk... 😪😂


And don't forget selalu bijak berkendara 💕


thanks for reading 💕💕💕 semoga bermanfaat..