Always Remember

Always Remember
Luapan emosi



Hai beb!


Readers aku!


temen-temen Nthor kesayangan aku!


bagi votenya doooong.. iya votenya.. sikit sikit gapapa koq. Aku seneng deh.


makasih yaa.. Love u all 😘


.


.


.


.


.


.


.


🌸🌸🌸


"Gak usah jauh-jauh ke laut kalau mau bunuh diri!" Suara itu terdengar lebih mengagetkan daripada deburan ombak yang menghempas tubuhku tadi. Kenapa ia seolah tau perasaan ku? Ia tahu aku mau bunuh diri?


Enak saja! Aku masih mau hidup!


Aku menoleh ke arah sumber suara itu.


Khafa?


Ini dia penebar teka teki dalam hidupku.


Aku membuang napas kasar. Lalu kuseka sisa air mata kegalauanku karena Andra.


"Kamu nyebur kolam renang tinggi dua meter saja bisa mati kalau gak ada siapa-siapa," lanjutnya.


Ia meremehkan ku rupanya.


Aku mendengus seraya memutar bola mata. Kesal sekali aku di buatnya.


"Kamu kira, saya masih gak bisa berenang kayak dulu!?" Ketusku. Aku mengembalikan tatapan ke agungnya pemandangan di hadapanku.


Khafa berdiri di sampingku memberi jarak sekitar satu meter. Dengan ekor mataku aku melihat ia berdiri masih menggunakan pakaian ala pendaki berwarna hijau Army.


Ku rapikan bajuku yang basah terkena deburan ombak. Lantas aku beranjak menjauh meninggalkan orang itu.


Aku mendengus lagi. Ternyata susah juga memakai sendal jepit diatas pasir. Jadi ku putuskan membuka lalu menentengnya dengan tangan kananku.


Sudah sekitar dua puluh meter aku berjalan meninggalkannya. Baru terpikir.


Kenapa aku harus menjauh ya? Bukannya ini kesempatanku untuk tahu semua tentang teka teki yang ada selama ini?


Ku hentikan langkahku sejenak. Memastikan situasi. Mungkin Khafa mengejarku sekarang. Atau jangan-jangan ia ada tepat di belakangku?


.


.


.


.


Sepi.


Dan akhirnya aku menoleh juga. Tebakan ku salah. Khafa masih terdiam di tempatnya. Berdiri mematung menatap punggungku.


Aku memutar balik kemudian mempercepat langkahku kembali mendekatinya.


Rasanya aku ingin memakan hidup-hidup orang yang sedang berada di hadapanku ini.


Bruk!


Ku buang dengan kasar sendal jepit yang ada di tanganku. Lalu aku menatap Khafa dengan tatapan membunuh.


Tanpa basa-basi aku mulai bertanya padanya penuh emosi.


"Maksud kamu apa heh?!" Ku rapikan sejenak rambut yang bermain di wajahku karena terpaan angin. "Maksud kamu apa ngebiarin saya kayak gini?! Maksud kamu apa terus menerus kirim hadiah sama saya? Maksud kamu apa pake jasa cargo tempat saya kerja buat proyek pembangunan pondok pesantren pondok pesantren itu? Kamu sekongkol sama mas Wisnu? Apa gak ada perusahaan cargo lain buat kamu ajak kerja sama? Jakarta itu luas Khafa, ada banyak banget perusahaan cargo disana. Kenapa kamu pake cargo saya?"


Aku mengambil napas sesaat. Sesak rasanya menuturkan banyak pertanyaan untuknya.


"Maksud kamu apa terus menerus membiarkan saya dalam kesalahpahaman? Kamu belum nikah? Fatur bukan anak kamu?"


Khafa masih mematung menatapku dengan tatapan lembutnya.


"Terlalu banyak pertanyaan pertanyaan saya buat kamu. Saya capek cari jawabannya sendiri. Kamu sadar nggak yang kamu lakukan ke saya selama ini itu, sudah lebih dari sekedar menyakiti hati saya?"


Ku tatap ia dengan tajam dengan manik mata yang sudah ku rasakan semakin berembun. Sedih, duka, bahkan bahagia mata ini selalu saja sulit di ajak kompromi. Selalu basah dan memproduksi cairannya.


Khafa masih terdiam dengan seribu jawaban yang masih saja ia simpan. Aku menjeda sejenak, menunggu kata yang mungkin akan keluar dari mulutnya.


"Kamu ga bisa denger saya ya?! Atau masih ada yang saya nggak tau soal kamu selama ini? Jawab Khafa!"


Napasku tersengal mencecar Khafa dengan pertanyaan pertanyaan itu. Sedangkan Khafa masih saja diam seribu bahasa.


"Saya capek menerka-nerka arti dari perlakuan kamu ke saya selama ini. Kalau bukan karena tanggung jawab pekerjaan, saya gak mau ada disini!"


Dari kejauhan aku mendengar suara adzan Ashar berkumandang. Dan aku ingat kalau aku telah berjanji dengan mas Wisnu untuk ke lokasi pondok pesantren.


Khafa yang masih mematung menatapku. Belum juga mengeluarkan suaranya untuk bicara.


Apa dia tiba-tiba jadi tuna wicara?


Akhirnya aku melangkah hendak pergi meninggalkannya. Namun baru saja selangkah, Akhirnya Khafa membuka suara. Membuatku urung untuk melangkah lagi.


"Buku yang dulu saya pernah beri sama kamu, sudah kamu baca?"


Aku memejamkan mata sejenak. Membuang panas di sudut mataku.


"Saya bukan Fatimah Az-Zahra, Khafa. Kamu harus tau itu!"


"Dan saya bukan Ali bin Abi Thalib, yang berhasil mencintai Fatimah Az-Zahra dalam diamnya," Ungkapannya membuat perasaanku sulit aku definisikan.


"Saya tidak mampu selalu ada untuk kamu saat itu, bahkan mungkin sampai saat ini. Jadi saya berharap apa yang saya lakukan selama ini, bisa melindungimu. Saya nggak berharap apapun,"


Ternyata kamu memang tidak berharap apapun Kha, cuma aku nya saja yang terlalu berharap apa-apa sama kamu.


"Saya.. cuma mau kamu bahagia,


dengan siapapun itu,"


Susah payah aku menelan salivaku. Ku pejamkan kembali mataku sesaat. Lolos juga satu tetes air mata dari sana. Sakit sekali rasanya mendengar kata bahagia.


Bahagia dengan siapa?


Sebuah helaan meluncur dari bibirku. Berharap meredakan sesak yang ku rasakan.


Jauh dari dugaanku, jawaban Khafa tidak sedikitpun memberikan kepuasan padaku. Ku lanjutkan kembali langkahku ke rumah mas Wisnu.


Ketika kakiku mulai menjejaki aspal aku baru sadar kalau sendal ku tinggalkan di pasir tadi. Bodohnya aku!


Aku terus berjalan meski tertatih. Karena aku tidak mungkin kembali untuk sekedar mengambil sendal. Gengsi!


Astagfirullah, semakin lama semakin perih dan sakit. Aspal yang tidak mulus dan cuaca yang terik membuat kerikil kerikil tajam yang aku injak terasa panas dan menusuk nusuk kakiku. Perjalanan ku pulang ke rumah mas Wisnu terasa berat dan lama.


Aku tak kuat menahan sakit di kakiku dan juga sakit di hatiku. Aku jatuh berjongkok di pinggir jalan kemudian menangis sejadi-jadinya.


Kenapa jadi begini hari hariku? Biasanya Andra selalu ada untukku. Tidak pernah aku merasakan sesulit ini selama bersamanya.


Bukan, bukan Andra.


"Ayaaahh..!" Rintihku.


Mungkin aku telah lama melupakan ayah. Selama ini aku terhanyut dalam buaian kasih sayang Andra. Jadi, aku diberi ujian seperti ini. "Maafin aku yah." Aku bergumam disela tangisanku. Aku butuh pundak ayah. Aku butuh sosok ayah. Aku terisak lagi.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil Jeep Wrangler hijau army berhenti di hadapanku. Senada sekali dengan yang mengendarai. Aku segera menyapu sisa-sisa air mata di wajahku dengan kasar.


"Naik!" Titahnya dari kursi kemudi.


Naik! Naik Mbah mu! Kaki sakit begini gendong kek ala bridal style kayak di film film Korea.


Aku tidak memperdulikannya dan tetap pada posisiku. Ia seperti sibuk dengan sesuatu di tangannya. Hingga akhirnya ia turun dan membukakan pintu mobilnya untuk ku.


Aku bangun perlahan sambil meringis kesakitan. Tanpa ku duga ia menjulurkan tangannya yang sudah berbalut sarung tangan hitam.


"Aku bantu," ucapnya.


Sebenarnya ingin sekali aku menolak tapi aku kalah karena rasa sakit di kakiku tidak main-main. Dan pijakan pintu mobil yang agak tinggi membuat ku sulit menaikinya sendiri.


Dengan ragu, aku menumpu beban pada tangan kekarnya begitu erat hingga akhirnya aku bisa duduk di dalam mobil.


Beberapa saat kemudian aku sampai di rumah mas Wisnu. Dari depan nampak sepi. Khafa membantuku untuk sampai bisa beristirahat diruang tamu rumahnya.


"Mas Wisnu sama Fitri kemana? Koq mereka gak kelihatan?" Tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.


"Pergi," jawabnya dengan wajah datar andalannya. Ia lantas keluar menghampiri tas Carrier yang tergeletak di teras kemudian memasukkannya ke dalam mobil.


Aku masih duduk di sofa sederhana yang berada di ruang utama. Seluruh tubuhku mulai terasa gatal. Mungkin karena baju yang aku pakai tersiram air laut dan kering di badan.


Khafa kembali menghampiriku. "Kalau mau mandi kamar mandinya disana," ia menunjuk ke arah samping kamar yang aku tempati. "Di dalam sudah ada alat mandi yang mbak Fitri siapkan untukmu."


Aku menuruti kata-katanya. Aku sudah tidak sabar ingin mengguyur tubuhku dengan air. Mungkin jiwa dan ragaku akan terasa lebih baik setelah itu.


Tertatih, aku berjalan menuju kamar mandi. Begitu aku membuka pintu, aku di sapa oleh sebuah cermin yang menempel di dinding kamar mandi. Lalu aku lekas menutup pintunya.


Perlahan aku mulai membuka kemejaku dan melihat pantulan diriku sendiri di cermin.


Bayangan Andra datang lagi. Noda itu, masih terlihat sisanya. Padahal sudah hampir satu Minggu berlalu. Sudut hatiku terasa sakit lagi. Aku berjalan gontai menuju kran shower di pojokan kamar mandi kemudian memutar pelan krannya. Sehingga mulai terasa dinginnya air mengguyur kepalaku lalu mengalir membasahi seluruh tubuhku. Laiknya tetesan hujan. Air yang jatuh dari kran shower aku harap mampu membawa segala kenanganku bersama Andra.