
"Kak ini ada titipan. Kata Irgi dari teh Nisa." Ibu menyodorkan paper bag kepada ku.
"Irgi nya mana?" Tanyaku.
"Di belakang. Dia nyampe tadi kebelet. Langsung lari ke belakang."
Aku mengambil paper bag itu.
Dari teh Nisa? Rasanya, aku sudah tak punya urusan dengannya. Tentu saja aku penasaran. Ku buka paper bag itu.
"Embun itu dari Khafa." Mendengar namanya disebut aku berhenti membukanya.
"Kok bisa gi?" Ku simpan bingkisan itu.
"Iya. Katanya kemaren Khafa sempet nitipin itu sama suaminya teh Nisa."
"Kapan?"
"Pas teh Nisa nikahan." Jawab Irgi.
Irgi kemudian pergi ke dapur mengambil makanan yang telah di siapkan ibu.
πΈπΈπΈ
Sudah hampir satu bulan aku membiarkan amplop berwarna biru polos dan kotak berwarna broken white itu tergeletak di nakas. Aku bukan tidak mau membukanya. Malah aku penasaran apa isinya. Sebenarnya, hati kecilku masih berharap dugaan ku selama ini terhadapnya... Salah.
Tapi untuk kenyataan terburuk sebenarnya aku tak sanggup mengetahui kabar sebenarnya tentang Khafa sekarang. Ya, aku tau ini memang bertolak belakang dengan pengakuan ku pada Vita tempo hari di Medan. Biarlah hatiku cukup hanya aku yang tau. Meski aku yakin Vita tau apa yang sebenarnya terjadi dengan hatiku.
Perlahan aku memberanikan diri menyentuhnya. Pintu kamar ku tutup rapat-rapat. Aku berdiri bersender di belakangnya.
Ku buka amplop yang tak memiliki perekat itu.
Dasar, apa dia gak takut di baca orang? Gumamku.
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh..
Waalaikumsalam.. jawabku.
Embun.. kamu apa kabar?
Aku baik Kha.. ku pejamkan mata. Kurasakan lagi bahwa hati kitaaaa.... aku yakin. Masih saling bertaut.
Iya. Aku yakin kamu baik baik aja.
Ku dekap selembar kertas itu. Mataku meremang. Dadaku mulai sesak. Ia seolah tahu apa yang akan aku jawab.
Ku benahi perasaanku yang mulai kacau. Membaca kembali kata demi kata selanjutnya yang sudah Khafa tuliskan.
Aku yakin ketika kamu membaca surat ini. Kamu sudah menjadi perempuan hebat.
Kamu bilang aku hebat? Bahkan aku masih belum bisa menghapus nama mu setelah sekian tahun.
Aku percaya, kamu adalah perempuan yang selalu bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik. Aku turut berduka cita atas kepergian ayah ya. Maafkan aku, saat itu aku masih belum bisa ada untukmu. Allah masih memberikan jeda pada hubungan kita.
Membaca kata ayah, air mataku sulit sekali ku tahan. Jatuh menganak sungai. Aku ingat saat itu ayah pernah menepuk pundak Khafa dengan bangga. Dan saat itu juga aku tau, ayah mempunyai harapan untuknya.
Aku tau Kha aku ngerti. Kamu gak bisa ada saat itu, lalu bagaimana dengan saat ini? Saat aku menerima selembar surat dari mu apa kamu masih terus akan memberi jeda? Dan kamu tau ayah sudah pergi. Aku semakin tak mengerti kenapa kamu masih tega melakukan ini. Tega masih memberikan jeda.
Embun..
Aku sertakan bingkisan kecil bersama surat ini. Bingkisan yang sebenarnya sudah ku persiapkan lama sekali untukmu. Namun Allah baru mengizinkan bingkisan itu sampai ke padamu saat ini. Maafkan aku.
Semoga bingkisan itu selalu menemani hari-hari mu beranjak dewasa. Dan semoga Allah segera menghapus jarak antara kita. Aamiin.
Wassalam.
Aku sudah dewasa Kha.. Mau sampe kapan kamu memberi jeda? Lirihku.
Ku buka kotak broken white berukuran cukup besar itu. Di dalamnya ku lihat ada buku dengan cover pink berjudul kisah cinta Syaidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra juga ada Al-Qur'an berukuran sedang.
Ada sedikit perasaan haru di dadaku saat melihat isi kotak. Jujur aku masih jarang sekali membuka dan membaca Al-Qur'an. Mungkin Khafa mau aku jadi lebih baik.
Benar. Jadi lebih baik. Aku mungkin belum pantas untuk mu Kha... Aku tersenyum getir.
Aku mulai capek berusaha mengerti keadaan Khafa. Rasanya sudah semakin sulit, semakin jauh dari jangkauan.
πΈπΈπΈ
Dering ponsel membuyarkan lamunanku.
Andra calling....
"Halo.."
"Iya. Kamu lagi apa?" Kata Andra di seberang sana.
"Lagi mau tidur."
"Mmmm.. pulang jam brapa tadi? Maaf ya aku ga bisa jemput kamu di stasiun hari ini."
"Iya gpp. Aku emang udah biasa pulang
sendiri kan sebelumnya?"
"Oke. Kamu sekarang lagi dimana?"
"Di rumah Bandung. Besok pulang aku pasti cepet kok nyampe Bogor. Aku bawa motor."
Andra memang lebih sering mengendarai motor sport nya dari pada nyetir. Dia lebih suka jadi anak motor.
"Gak usah cepet-cepet. Yang penting selamat."
"Iya. Yaudah ya kamu istirahat gih."
"Jangan dulu di tutup.."
"Kenapa?"
"Ngggg...."
"Mau aku nyanyiin?" Potong Andra.
"Yaudah aku dengerin ya.."
Terdengar petikan suara gitar yang di hasilkan dari jemari Andra. Alunan nadanya cukup membuatku merasa tenang -----Paling tidak untuk saat ini. Suara Andra terdengar meneduhkan..
There goes my heart beating
'Cause you are the reason
I'm losing my sleep
Please come back now
There goes my mind racing
And you are the reason
That I'm still breathing
I'm hopeless now
I'd climb every mountain
And swim every ocean
Just to be with you
And fix what I've broken
Oh, 'cause I need you to see
That you are the reason
There goes my hand shaking
And you are the reason
My heart keeps bleeding
I need you now
If I could turn back the clock
I'd make sure the light defeated the dark
I'd spend every hour, of every day
Keeping you safe
I'd climb every mountain
And swim every ocean
Just to be with you
And fix what I've broken
'Cause I need you to see
That you are the reason
Bodohnya aku.. di saat-saat Andra syahdu menyanyikan lagu, bayangan Khafa yang malah berlalu lalang dalam fikiran ku.
Sekuat tenaga aku tahan isakkan ini agar tak terdengar oleh Andra di seberang sana.
Maafkan aku Andra maafkan.. aku bahkan membiarkan kekosongan hatiku di isi olehmu. Tanpa berfikir kau akan terluka jika mengetahui yang sebenarnya. Aku membatin.
"Embun.. kamu tidur?"
Aku tak menjawabnya. Menutup mulut dengan tanganku.
"Yaudah. Selamat tidur ya. "
Andra menutup sambungan telfon.