
Sejak saat itu, saat aku merasa kehilangan tanpa tau apa yang telah hilang. Ku sibukkan diri dengan segala hal. Di hari kerja aku Menghabiskan waktu di kantor. Pak Kenedy beberapa kali mengingatkan ku untuk tidak pulang malam. Tapi aku abaikan. Loyalitas di tempat kerja ku tidak ku permainkan. Hingga akhirnya penghasilan ku di kantor lumayan. Pak Kenedy benar-benar menghargai kerja kerasku. Ia tidak pernah tau jika kerja kerasku ini bukan sekedar untuk mengembangkan usahanya tapi juga usaha agar aku melupakannya.
Penghasilan ku hampir seluruhnya aku berikan kepada ibu ku. Ia kini bisa memperbaiki rumah dan juga membelikan kendaraan bermotor untuk ku dan adik ku. Aku biasanya hanya ambil untuk tabungan dan pegangan ku ketika di jalan saja.
Sedangkan hari libur aku ikut kelas semester pendek dan kelas les menjahit untuk menambah keahlian ku. Atau aku pergi ke toko buku. Untuk mencari koleksi buku baru.
Tring...
Notifikasi sebuah grup chat ku sahabat-sahabatku masuk.
Absurd girls
Dela [sepi banget kayak kuburan.]
Riri [hadirrrr...]
Nanda [im here.]
Dela [ngopi ngapa ngopi]
Dela [Embuuuuunn..]
Aku [iyes]
Dela [cageur?] Sehat?
Riri [Embun gue liat Lo waktu itu boncengan Ama cowok. Ciyeee]
Nanda [asik Embun udah ga jomblo]
Riri [ho'oh gue kira siapa, itu cewek naek motor rambutnya ga di iket Ampe terbang²]
Riri [ternyata si Embun.😂]
Aku [Alhamdulillah sehat gue Del, kalo ketemu Lo pasti gue sakit. Sakit jiwa. Hahahaha🤣]
Aku [kapan Ri?]
Dela [Embun kurang asem Lo!] Dia sertakan emoticon tinju.
Riri [udah lama. Ada kali dua bulan lalu. Gue baru inget. Lupa terus mau nanyain.]
Aku mengingat ingat. Mungkin waktu itu aku di bonceng Irgi. Karena setelah itu aku belum pernah lagi di bonceng cowok. Irgi emang sepupu yang sebaya denganku.
Aku [itu sama sepupu gue ri.]
Nanda [jadi Embun masih jomblo dong?]
Aku [😁]emoticon nyengir kuda.
Nanda [nyengir Lo. Yuk meet up yuk!]
Vita [yukk!]
Dela [Vit emang Lo lagi dimana?]
Vita [masih di Medan.]
Dela [gausah pengen ikut kalo gtu.!]
Vita [😭]
Dela [Embun Lo kapan libur?]
Aku [kapan aja buat Lo mah Del. Gue pasrah.]
Dela [gue serius. 😤]
Dela [jangan ngeles Mulu di ajak kumpulnya.]
Nanda [hooh Embun mah PHP Mulu.]
Dela [nonton aja yuk!]
Tok tok tok..
Pak Kenedy membuka pintu.
"Rud, besok kamu ke Medan ya."
Aku ikut menoleh ke arah pak Kenedy. Padahal yang di panggil mas Rudi.
"Ada barang hilang di pengiriman kemarin." Kata pak Kenedy.
"Wah pak saya besok malah mau izin gak masuk. Ada keperluan keluarga. Penting."
"Ah kamu Rud, suruh jalan-jalan ga mau." Pak Kenedy berdecak.
"Embun kamu bisa ke Medan sendiri? Tolong juga kantor cabang baru disana kamu lihat gimana kondisi nya. Susah kali itu mereka di mintai info."
Ini kesempatan ku untuk melepas segala rasa sedihku selama ini. Dengan pergi beberapa hari keluar kota mungkin perasaan ku akan lebih baik.
"Oke pak." Aku mengiyakan.
"Booking lah tiketnya dr sekarang. Untuk penerbangan besok."
Aku mengangguk.
Ku buka kembali ponsel yang tadi sempat ku simpan.
Dela [tuh kan si Embun ngilang]
Aku [besok gue mau ke Medan.]
Vita [yang bener lo?]
Aku [serius. Ntar ketemuan ya. Ajak gue jalan-jalan.]
Vita [acara apa?]
Aku [mau nge-cek barang di kantor cabang.]
Vita [aseekk.. kabar-kabarin ya ntar.]
Dela [ikuuuuttt]
Aku bergegas membooking tiket pesawat untuk besok.
Kemudian aku menyempatkan diri membuka sosial media yang tak pernah aku buka sudah beberapa hari ini.
Aku membuka bagian inbox. Dan ada dua pesan dari Andra Dewanata.
[0812666xxx]
[nomer hpku.]
Aku kemudian menyimpannya dikontak handphone ku.
Mungkin, Tidak ada salahnya membuka hati.
🌸🌸🌸
"Embuuuuunn...!" Vita berjingkrak-jingkrak memanggilku di Bandara Kualanamu.
Sudah dua tuhun lebih aku tidak bertemu dengannya. Karena setelah lulus Vita memutuskan kuliah di Medan mengikuti jejak Kakaknya.
Kita berhamburan saling menghampiri.
"Repot repot amat si Lo jemput gue?" Ucapku.
"Ya nggak lah. Gue kan di jemput supir kantor." Aku melepaskan pelukannya. Meraih travel bag berukuran sedang yang ku bawa sebagai bekal.
"Jadi abis ini langsung ke kantor? Soalnya besok gue ga bisa kemana-mana. Gue ada kerjaan."
"Iya. " Jawabku tersenyum. "Lo ikut gue aja dulu ya. Gue kerja dulu. Ngecek barang abis itu kita jalan." Aku bergegas mencari bang Togar ------supir yang di utus pak Kenedy untuk menjemput ku.
"Ah.. ga enak Vita masa gue ikut kerja Ama Lo."
"Gak apa-apa. Temen-temen gue enak ko. Kantor gue bebas. Gue juga cuma ngecek barang doang sama liat kondisi kantor cabang."
"Beneran gak apa-apa?" Tanya Vita memastikan.
Aku mengangguk cepat. "Tuh dia bang Togar!" Aku berjalan menghampiri bang Togar. Ia sudah sering ke kantor Jakarta untuk mengawal barang. Jadi aku sudah kenal sebelumnya.
Aku berhasil menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat. Barang yang hilang menurut pak Kenedy ternyata ada pada supir truk yang baru saja sampai ketika aku datang. Supir tersebut handphone nya hilang di perjalanan. Maklum biasanya supir seperti ini sering singgah di beberapa tempat. Alhamdulillah aku lega sekali Allah telah memudahkan urusanku.
"Embun hapenya bunyi tuh." Vita memberitahu. Ia ku biarkan duduk menungguku di ruang tamu kantor. Selama aku bekerja tas dan barang bawaan lainnya aku titipkan padanya.
Ku ambil ponsel ku.
Boss Ken calling.....
"Halo Embun.. kau sudah sampe?" Kata pak Kenedy di seberang sana.
"Iya pak. Sudah dari jam sepuluh tadi. Laporan sudah saya kirim lewat e-Mail ya pak."
"Bagaimana disana aman?"
"Aman pak. Barang sudah mulai naik pick up ke lokasi. "
" Iya.. yasudah kau hati-hati ya. Nanti saya transfer sedikit untuk kau jalan-jalan disana."
Ahh sedikit? Kenapa nggak banyak aja sih pak? Hehe.. Batinku.
"Baik pak. Terima kasih."
"Ya." Pak Kenedy menutup telfonnya.
Aku lihat beberapa pesan masuk ke ponsel ku. Dan yang menarik perhatianku adalah...
[Kamu apa kabar?] Pesan dari Andra.
Sebelumnya aku sudah mengirim pesan singkat memberi tahu kontak ku.
Aku tersenyum tipis. [Baik.] Balasku
Andra [Bisa aku telpon sekarang?]
Aku [Nanti ya. Aku masih kerja.].
Ku masukan ponsel ke dalam tasku.
"Yuk Vit, kita mau kemana?"
"Makan yuk gue laper."
Sampai di kafe aku memesan segelas kopi espresso. Sedangkan Vita memesan semangkuk mie Aceh dan segelas lemon tea.
"Embun Lo gak makan?"
"Bentar dah gue pengen ngopi dulu. Pening kali bah." Jawabku meniru logat orang Batak.
Vita tergelak.
Panjang lebar aku berbincang dengan Vita. Dulu, Vita selalu menjadi bagian dari hari-hariku. Teman meluapkan segala kegundahan ketika di kelas. Vita mengerti sekali sifat ku yang kadang tertutup. Namun ia tidak pernah berhenti untuk memaksaku cerita. Dan akhirnya Vita lah yang menjadi tempat ternyaman aku cerita.
Banyak sekali cerita yang sudah di lewati antara kita. Vita sudah lama tidak pulang ke Bogor. Begitupun aku sudah sibuk dengan aktivitas ku.
"Embun, gue boleh nanya?" Tiba-tiba Vita bertanya. Wajahnya berubah menjadi serius.
"Lah koq make nanya dulu mau nanya? Ngomong aja." Aku mulai menyesap kopi.
"Lo masih kontekan Ama Khafa?"
Aku tertegun. Baru saja aku merasa lupa.
"Tuh kan. Lo bengong gitu."
Aku tersenyum miris.
"Belum lama gue ketemu dia Vit. Setelah yang terakhir itu gue ketemu dia pas barengan waktu kita masih sekolah itu."
"Terus..."
"Iya dia kan ngilang dulu itu. Tapi ya biarin lah fikir gue mungkin dia memang ngasih jarak Buat hubungan kita. Buat mastiin perasaan kita masing-masing."
"Tapi Lo masih sayang kan sama dia?"
"Dulu sih gue nggak paham ya soal gue sayang apa nggak sama dia. Tapi nggak tau kenapa selama ini gue nggak pernah bisa punya perasaan sama siapapun kaya perasaan gue Ama dia. "
"Terus Lo kemaren ketemu Ama dia gimana?"
"Dia Ama istrinya." Kataku pelan. Rasanya tak sanggup membuat pernyataan itu.
"Ko bisa tau dia istrinya?Lo dikenalin?"
"Boro-boro dikenalin. Dia liat gue aja ngga." Jawabku
"Terus Lo tau darimana kalo itu istrinya?" Vita makin penasaran.
Aku ceritakan semua kejadian yang terjadi saat itu.
"Embun? Gimana kalo perempuan itu ternyata adeknya? Atau Sepupunya? Sodaranya? Kan banyak kemungkinan Embun."
"Mukanya mirip Vit. Ama gue mah nggak. Bearti memang perempuan itu jodohnya."
"Terus kalo gue mirip Ama Abang gue atau gue mirip si pandu sepupu gue itu.. berarti dia jodoh gue gitu?"
Aku menggeleng. "Tapi Vit, kalo dia belum nikah dan perasaan dia masih kaya dulu ke gue. Dia pasti udah nyari gue Vit."
"Nah itu dia."
"Itu dia apa?"
"Si pandu waktu itu pernah cerita sama gue. Kalo dia pernah ditelpon Khafa nanyain alamat Lo."
"Hah?"
"Tapi pandu nggak kasih karena dia juga nggak tau. Mau Nanya Ama gue waktu itu gue udah disini. Dan belum punya nomer gue. "
"Itu kapan?"
"Setahunan yang lalu."
"Itulah Vit, dari dulu tuh susah banget kayaknya hubungan gue ama dia. Cape sendiri gue. Udah lah.. gue udah Nerima ko kenyataan terburuk kalo dia udah punya istri. Dan gue gak mau ngelibatkan siapapun lagi untuk hubungan sama dia."
"Dari dulu Lo gitu Embun. Lain di mulut lain di hati. Gue yakin di hati Lo masih ada Khafa."
Hening sejenak.
"Tapi yaudah lah. Mungkin cerita Lo sama Khafa cukup sampe disitu. Ga baik juga terus-terusan ga bisa move on dari masalalu. Seenggaknya Lo mesti kasih ruang buat masa depan Lo."
Aku tertunduk. Mungkin Vita benar. Tapi toh kenyataan sulit membenarkan isi hatiku.
Dan perbincangan aku dengan Vita pun berakhir. Aku bergegas ke penginapan yang sudah di booking oleh orang kantor cabang. Sedangkan Vita kembali pulang ke rumahnya.