
Aku terkejut sekali ketika melihat klien mas Wisnu adalah Embun sahabat SMP ku dulu. Alhamdulillah, Allah telah menyambung kembali silaturahmi antara aku dengan dia.
Embun tidak banyak berubah. Rambutnya yang panjang, lurus dan hitam masih seperti itu. Jadi bukan hal sulit untuk kembali mengenalinya. Sebaliknya dia padaku malah lupa. Apa aku banyak berubah? Ya sudah lah itu bukan hal penting.
Meski sudah lama tidak bertemu, aku masih hapal betul dengannya. Dia itu sahabatku satu-satunya di Bogor, kami sempat berkomunikasi lewat surat. Tapi tidak lama, karena aku langsung meneruskan sekolah di pondok pesantren.
Embun itu seorang yang ceria. Humoris. Binar matanya selalu menyala kalau ia sedang bahagia. Tapi sebaliknya, jika sedang sedih ia akan terlihat dari matanya. Entah itu karena aku dekat dengannya atau memang Embun selalu tidak bisa menyembunyikan perasaannya pada siapapun.
Satu lagi, kalau dia marah maka ia akan marah sejadinya. Tapi tidak lama, hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mengembalikan moodnya. Ia bahkan akan tiba-tiba minta maaf dengan sendirinya.
Dan tadi pagi, saat pertama aku melihatnya, Sorot mata Embun seakan sedang bersedih, aku yakin si Embun ini pasti sedang galau karena cinta. Memang seperti itu kan biasanya kalau masih lajang?
"Lho, mbak Embun kemana?" Tanya mas Wisnu kepadaku. Ia baru saja mengantar pulang Fatur.
"Tadi pamit mau ke pantai mas,"
"Sendiri?"
"Iya, dia bilang mau sendiri,"
"Mas, kamu koq bisa pas dapat orang cargo Embun gitu? Aku gak nyangka bisa ketemu dia lagi."
Mas Wisnu duduk menemaniku di teras depan rumah.
"Qodarullah, itu orang Jakarta yang rekomendasikan ke Khafa. Aku gak tau apa-apa. Taunya, Khafa minta tolong aku buat urus ini itunya. Yah maklum sontoloyo itu pergi-pergi terus,"
"Alhamdulillah, Aku seneng banget bisa ketemu dia lagi,"
"Sebenarnya, beberapa bulan yang lalu sudah pernah ada kontrak juga sama cargo dia. Jadi Ini kontrak kedua. Yang pertama dulu Khafa langsung yang urus. Cuma yang nerusin aku. Aku juga gak tau, kayaknya ada sesuatu antara Khafa sama Embun. Tadi pagi aku udah kirim pesan sama dia kalo hari ini ada janji sama Embun, tapi belum ada balasan."
Sedang asik berbincang dengan mas Wisnu sebuah Jeep masuk ke pekarangan rumahku.
"Nah tuh dia orangnya datang. Panjang umur," ujar mas Wisnu saat melihat adik sepupunya itu turun dari mobil.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam," jawabku dengan mas Wisnu bersamaan.
"Mas, Embun mana?" Tanya Khafa begitu ia tiba di teras.
Mas Wisnu berdecak. "Masya Alloh Khafa, baru aja nyampe. Mbok ya duduk dulu, istirahat dulu."
Khafa berjalan mendekati mas Wisnu, "Nggak bisa mas, tadi pagi aku dapat pesan dari Dadang temenku di Bogor, katanya dia baru putus," bisiknya.
"Ya terus apa hubungannya sama kamu?"
"Nggak ada sih, aku takut aja dia gimana-gimana. Dia itu kan cengeng,"
Meski berbisik aku yang sedang berada di samping mas Wisnu bisa mendengarnya dengan jelas. "Ciyeeeee tau banget," ejekku.
Sejak kapan Khafa peduli sama perempuan?
"Dia tadi pamit sama Mbak mau ke pantai katanya," tutur ku.
"Hah? Ke pantai? Wah aku ngeri dia nyebur mas. Dia ga bisa berenang!" Khafa terlihat kaget dan khawatir. Lalu ia berjalan keluar teras.
"Astagfirullah! Jangan ngomong sembarangan! Embun gak bakal senekat itu. Ngawur kamu!" Omel mas Wisnu.
Khafa tidak menjawab lagi, ia langsung meluncur menuju mobilnya dan mengeluarkan tas Carrier dari pintu belakang. "Mas titip dulu ya," teriaknya.
"Astagfirullah, dasar anak muda! harus cepet di nikahin itu!" geram mas Wisnu.
"Jadi, Embun yang bikin Khafa selama ini ga pernah terima proposal ta'aruf dari Alya?" tanyaku pada mas Wisnu setelah Khafa sudah benar-benar tak terlihat. Anak muda itu menghilang mencari cinta sejatinya.
"Ngga juga, dia itu ya memang belum mau. Dia sibuk sendiri sama mimpi mimpinya, aku juga gak ngerti. Apa yang jadi tujuan hidupnya."
Tiba tiba dering ponsel ku berbunyi.
"Sebentar mas,"
Aku segera menghampiri dan menerimanya. Setelah selesai aku kembali menghampiri mas Wisnu.
"Mas, mas jadi mau ke Al Furqon?" Tanyaku ragu. Aku takut mengganggu waktu mas Wisnu. Tapi hal genting juga sedang terjadi pada adikku.
"Sudah ada Khafa, biar dia aja." Jawab mas Wisnu sambil menatapku. "Kenapa?"
"Farhan kecelakaan mas di Magelang, mas bisa antar aku kesana?"
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kapan?"
"Barusan. Yaudah sekarang kita kesana."
Mas Wisnu beranjak dari kursinya.
"Tapi mas, apa gak pa pa ninggalin Embun sama Khafa disini berdua?"
"Masya Alloh iya juga, tapi biarlah kita usahakan ba'da isya pulang."
"Iya sih, aku juga percaya sama Khafa, nggak mungkin lah."
Tanpa menunggu waktu lama, Kami langsung pergi menuju Magelang saat itu juga.
🌸🌸🌸
Let's enjoy Embun dan Khafa ya gaes!
Jangan lupa like, komen, and vote-nya. Terimakasih💕