
Beberapa saat sebelum aku ujian. Aku sudah tak pernah lagi ke lapangan untuk olah raga. Selain aku sibuk menyiapkan ujian ku di sekolah. Aku juga kehilangan Listy teman untuk pergi ke lapangan. Listy putus sekolah. Setiap aku ajak pergi olah raga ke lapangan ia menolak. Beralasan ini itu. Aku tau. Banyak hal terjadi dalam kehidupan pribadi Listy. Aku tak bisa banyak membantu.
Dani dan teh Nisa sulit sekali aku temui. Sampai beberapa hari aku datangi ke rumahnya aku tak berhasil menemui teh Nisa.
Sampai pada pada suatu hari, di usahaku yang kesekian kalinya. Aku menemuinya di teras rumahnya.
"Embun.. simpan baik-baik buku putih kamu Ama Khafa ya," katanya tenang.
"Kenapa emang teh? Aku boleh nanya kabar Khafa?"
Teh Nisa tersenyum di berondong pertanyaan olehku.
"Ada. Alhamdulillah. Khafa baik-baik aja. Dia di karantina satu bulan terakhir. Kepalanya botak. Di hukum. Kamu tau gara-gara apa?"
Aku menggeleng. Tak bisa membayangkan rambut hitam tebal milik Khafa di musnahkan. Ya Allah..
"Gara-gara terakhir dia ke rumahmu malam itu. Kesalahan fatal. Sebelumnya dia sudah berkali-dihukum membersihkan kamar mandi asrama laki-laki setiap ketauan telah menemuimu."
Aku ingat. Saat itu ayahku berbincang dengan ustadz Joko. Ternyata ini.
"Sampaikan maaf aku sama dia teh," ucapku.
Semua ini salahku. Penyesalan tak dapat ku hadang.
"Khafa tak pernah menganggap mu salah. Dia sadar semua salah dia. Dan dia janji ga akan mengulanginya lagi."
Aku menunduk. Iya, pasti tak akan terulang. Karena saat itu Khafa pamit untuk terakhir kalinya padaku.
"Beruntung. Kesempatan Khafa untuk pergi ke Amerika tidak hilang. Dalam masa karantina Khafa terus belajar English untuk bekal ia komunikasi di negri Adi daya tersebut."
Aku mendonggak. Terkejut.
"Iya. Khafa sudah berangkat dua hari lalu ke Amerika Embun." Lanjut teh Nisa.
Aku bangga sekaligus sakit sekali hati ini rasanya. Kenapa Khafa tidak pernah cerita langsung padaku. Baru saja aku merasa yakin apa arti aku untuknya. Namun seketika ia mematahkannya lagi.
"Maafkan aku juga ya embun. Akhir-akhir ini aku cuek sama kamu. Aku, Dani dan teman-teman dekat Khafa turut di interogasi oleh asatidzah di pondok soal kedekatan kamu dengan Khafa. Sejak saat itu kami memutuskan untuk berhenti menyampaikan informasi tentang Khafa sama kamu. Begitu pun sebaliknya. "
"Maafin aku teh. Maaf. Semua ini salah aku."
Teh Nisa menggeleng. Tetap tersenyum. " Gak apa-apa Embun. Ini kan untuk kebaikanmu, Khafa juga. Semoga kelak kalian dipertemukan lagi pada saat yang tepat ya.."
Aku mengangguk. "Terimakasih teh."
Kemudian aku pamit pada teh Nisa.
Khafa.. Sekarang aku tau semuanya.
Kenapa kamu begitu menjaga jarak denganku saat itu.
Maafkan aku Kha..
Ternyata sesulit itu perjuanganmu setiap kali ketahuan menemuiku.
Air mata yang dari tadi aku tahan di depan teh Nisa akhirnya luruh juga. Aku merasa bersalah. Bukan hanya pada Khafa. Tapi pada teh Nisa, Dani. Dan teman-teman lain yang pernah aku repotkan untuk berkomunikasi dengan Khafa.
Aku pulang dengan memeluk erat buku putih kita.
Khafa.. kenapa kamu gak cerita sama aku? Kenapa aku tak diberitahu soal keberangkatanmu ke Amerika?
Ahhh siapalah aku ini. Aku bukan siapa-siapa mu kan?
Khafa terima kasih atas kebahagian dan kesedihan yang pernah kamu berikan bersamaan. Pengalaman yang sulit terlupakan. Entah sampai kapan. Terima kasih juga kau telah berkorban.
Khafa. Selamat tinggal.
Bahkan saat itu hanya buku putih yang aku punya. Mungkin untuk mengenang mu suatu saat. Tidak ada foto. Tidak ada nomer telpon. Tidak ada alamat. Tidak ada. Tidak ada apapun.
Tidak ada jejak sama sekali yang kau tinggalkan.
Biarlah. Cukup, cukup jejakmu dihati ku saja yang bisa aku simpan. Bahkan tulisan terakhirku pada buku putih itu. Tak sempat kau baca. Biar. Tak apa. Aku akan baik-baik saja.
Pedih rasanya menuliskan kata terakhir itu. Kenyataannya aku sedang menyeka lagi dan lagi air yang timbul dari ujung netraku.
🌸🌸🌸
"Yah.. aku boleh nanya?" Akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara.
Ayah diruang televisi. Sedang serius membaca koran.
"Nanya apa?" Ia menurunkan korannya.
"Aku boleh tau? Kan Waktu itu ayah ketemu ustadz Joko. Di depan rumah. Ayah inget?"
Ayah membuka kacamata nya. "Iya. Ayah ingat. Soal Khafa?"
Aku mengangguk. "Ustadz Joko ngomong apa aja yah? Aku boleh tau?"
Ayah menarik nafas perlahan. "Itu. Ustadz Joko nanya bener ga Khafa suka mampir kesini? Ya ayah bilang iya. Kamu temannya. Iya kan?"
Aku mengangguk.
"Ustadz Joko nanya katanya ayah sudah pernah ketemu belum sama Khafa. Ayah bilang belum karena ayah selalu pulang larut malam kalo pas Khafa main."
Aku memperhatikan ayah dengan seksama.
"Terus ustadz Joko bilang juga. Khafa akhir-akhir ini sering sekali melakukan pelanggaran. Dia khawatir prestasi Khafa menurun. Karena para ustadz pembimbing sedang melakukan penilaian khusus pada Khafa yang rencananya akan menjadi salah satu siswa yang akan di kirim ke Amerika. Untuk program pertukaran pelajar. "
Aku mengangguk saja. Tak tahu harus komentar apa.
Ayah mengacak rambutku. "Nak. Ayah bangga sama Khafa. Semoga kalian nanti bertemu lagi ya di waktu yang tepat ya."
Hatiku menghangat.
"Sekarang tugasmu belajar. Jalan kamu masih panjang sayang. Begitu juga Khafa. Kalian saling mendoakan untuk kebaikan kalian masing-masing ya. Ayah yakin kalian akan menjadi orang-orang hebat suatu saat nanti." Lanjut ayah. Ia mengelus bahu ku dengan lembut.
Kata-kata ayah membuat aku sedikit tenang dan optimis. Tidak lagi terbawa perasaan yang berlarut-larut karena kehilangan Khafa.
"Tapi kenapa ayah ga bilang waktu itu sama aku?" Masih ada yang mengganjal dalam benak ku. Pertanyaan-pertanyaan yang tak ku temukan jawabannya dari Khafa.
Ayah tersenyum. "Kan kemarin ayah liat kamu langsung mengurung diri di kamar. Ayah ngerti kamu sedih. Merasa kehilangan. Jadi ayah biarkan dulu sampai perasaanmu sedikit tenang. Karena ayah jelasin saat itupun percuma. Hanya akan menambah kesedihanmu."
Aku diam mendengarkan. Ayah benar. Aku tak mampu mengelak satupun kata ayah saat ini. Ia sangat bijak menghadapi masa-masa remajaku. Aku tak pernah merasa di kekang. Tapi aku tau dengan sendirinya bahwa ayah bukan sedang mengabaikan ku. Ia tetap memperhatikan setiap kejadian yang menimpaku. Ia mempercayakan padaku selama apa yang aku lakukan masih baik-baik saja. Dan kali ini aku yang mengharuskan diriku sendiri untuk meminta keterangan ayah soal ini.
"Yaudah yah. Sekarang aku paham. Makasih ayah."
Ayah mengangguk. Kemudian membuka kembali lembaran demi lembaran koran yang ia baca.
Aku beranjak. Pergi ke kamar dengan perasaan yang sedikit lebih baik.