Always Remember

Always Remember
Menepis kenangan



Seandainya bumi bisa ku hentikan rotasinya, aku ingin menghentikan nya disini. Bersamamu.


Embun.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Setelah ku putuskan sambungan video call dengan Andra aku bergegas membuka lebar pintu kamar. Mataku menyapu seluruh ruangan. Aku tidak melihat siapapun. Aku berjalan keluar, pintu depan memang masih terbuka sedikit. Tapi tidak juga menemukan sosok dalam bayangan.


"Nyari siapa mbak yu?" Tanya mbok sum yang muncul dari arah dapur.


"Ah nggak mbok. Tadi saya seperti melihat Khafa disini," terang ku.


"Jam segini mas Khafa udah di masjid mbak. Kan udah mau magrib."


"Oh gitu. Oh iya mbok ini aku titip jaket Khafa ya." Aku memberikan jaket milik Khafa pada Mbok Sum.


Detik kemudian terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Aku pamit masuk ke kamar untuk menunaikan kewajiban ku.


🌸🌸🌸


Tring!


Bunya notifikasi pesan dalam handphone ku berbunyi.


[Embun Lo lagi di Jogja?] Pesan dari Jali.


[Yoi. Sini nyusul.] Balasku.


[Kapan balik?]


[Kenapa emang kangen Lo Ama gue?]


[Kangen? Iye sih. Dikit.]


[Mbun gue kasbon dong. Anak gue sakit.]


[Ya Ampun. Kerjaan gimana? Irgi Minggu ini belom laporan. Lo mau kasbon berapa?]


[500rb. ]


[Ya udah. Ntar gue hubungin Irgi ya. Lo ambil di Irgi aja ntar.]


[Ok. Tengkyu Buntu. 😘 Semoga Deket jodoh Lo karena udah baek Ama gue.]


[Amin. Sama-sama. Cepet sembuh ya ponakan gue. 😘] Balasku menutup pesan Jali.


Aku belum cerita ya, soal kesibukan ibuku yang terbaru. Beliau sudah tak ku ijinkan lagi kerja di luar. Usianya semakin senja. Aku tak tega jika ia harus terus menerus bekerja di bawah aturan orang lain yang kadangkala tak pakai perasaan. Aku, Irgi dan Jali merintis usaha. Ibuku juga turut andil tentunya. Ia hanya mengawasi pekerjaan. Terkadang membuat makan siang para pekerja. Sejauh ini aku sudah mempekerjakan 10 orang. Termasuk Irgi dan Jali. Irgi sebagai pengelola keuangan dan pemasaran. Sedangkan Jali mengurus produksi barang bersama 8 teman lainnya.


Aku membuka pabrik sepatu kecil-kecilan. Menggunakan tempat berukuran 50 mΒ² di samping rumah peninggalan ayah. Tapi saat itu aku tak mempunyai modal cukup untuk memulai usaha. Hingga akhirnya tanpa sepengetahuan ku Andra mentransferkan dana untuk tambahan modal. Aku sempat menolak, takut tak bisa membalas budi atas segala kebaikannya. Tapi Jali terus menerus merayuku. Memelas karena saat itu ia di pecat dari pekerjaan nya dan butuh pekerjaan baru.


Aku juga memikirkan ibu. Ia tak bisa berdiam diri di rumah sendirian. Butuh kesibukan. Kalau tidak sibuk, kesibukan ibu hanyalah menanyaiku soal kapan menikah. Hingga akhirnya aku jengah dan mengalah. Dengan sedikit terpaksa aku menerima tawaran Andra. Dengan syarat ia harus mau menerima uangnya kembali saat aku kembali kan. Andra mengiyakan.


Sudah jam 8 malam mataku tak juga bisa terpejam. Mungkin karena tadi sore aku tidur cukup lama. Aku bangun dari pembaringan kemudian perlahan membuka jendela kayu. Di balik jendela mataku di sambut beberapa kilau bintang. Cerah. Ternyata tetesan hujan juga telah lelah membasahi bumi.


Aku berfikir sejenak. Bagaimana kalau malam ini aku keluar. Iya, ada baiknya mengusir sepi. Benar kata Khafa, jarang jarang aku berada disini. Lagi lagi aku ingat Khafa, dia kan yang bilang mau jadi supir ku selama di Jogja. Jadi apa salahnya aku menghubungi. Baru saja aku hendak mencari kontaknya di register panggilan keluar. Aku langsung terfikir bagaimana kalau istrinya yang mengangkat. Sial! Kenapa sih teman ku di Jogja cuma Khafa?


Aku menghela nafas kasar. Yasudah! Buat apa juga aku mengandalkan laki laki itu. Aku mengambil cardigan kemudian melangkah ke teras homestay. Aku pergi sendiri saja.


"Mau kemana?" Tanyanya.


Aku menoleh. Bagaimana bisa aku tak melihat keberadaan nya.


"Kita jalan-jalan yuk!" Ia menarik ujung cardigan yang kukenakan dan membawaku kedalam mobilnya.


"Kamu mau ajak saya kemana?"


"Kemanapun asal kamu mau."


Setelah itu Khafa pamit pada Mbok Sum. Bahwa ia akan mengajakku jalan-jalan karna besok aku harus kembali ke Bogor. Baiklah Khafa, aku akan berdamai dengan keadaan.


Tidak sampai satu jam aku sampai di sebuah hutan Pinus. Aku memperhatikan sekitar. Pemandangan nya sangat menakjubkan.


"Ini namanya Hutan Pinus Pengger," katanya menangkap kebingungan ku. Suasana tidak begitu ramai. Padahal ini weekend.


"Udah tau," kataku yang mulai merasakan hawa dingin khas pegunungan.


"Sok tahu!"


Hening.


"Embun." Khafa memanggilku pelan. Aku hanya menoleh sejenak dan tersenyum. Kemudian kembali menatap gemerlap kota Jogjakarta dari ketinggian. Indah sekali. Khafa melihatku dengan melipat tangan di dada.


"Kamu menggigil?" Tanyanya. Langit begitu cerah. Mungkin karena sore tadi habis hujan hawa dingin jadi begitu terasa. Gigiku memang sedikit gemeretuk. "Sebentar aku ambilkan sweater ku dulu di mobil."


"Ngga usah Kha. Saya udah biasa cuaca dingin. Bogor kalo musim hujan juga begini."


"Tetep aja, jangan sampe kamu sakit." Khafa terus memperhatikan ku yang masih menikmati pemandangan di hadapanku. "Tunggu sebentar disini ya."


Tanpa menunggu jawabanku Khafa bergegas mengambil sweater nya. Ia segera kembali dengan cepat dan menyerahkan nya padaku.


"Sweater nya kegedean Kha," ujarku sambil mengenakan sweater abu milik Khafa.


"Sengaja, saya bawa yang over size biar kalo di pake kamu jadi hangat tanpa aku......" Khafa menghentikan kalimatnya.


"Peluk?"


"Nanti... nunggu halal," jawabnya sambil melepaskan tatapannya dariku.


"Kha, kamu sekarang sama saya. Apa istrimu gak marah?" Tanyaku sambil memicingkan mata. Khafa hanya tersenyum tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku tak mampu mengartikan senyumannya.


Lelah menunggu jawaban pasti dari Khafa, akhirnya aku memutuskan untuk melihat-lihat sekitar. Berjalan menelusuri remang malam dan memotret beberapa yang menurutku bagus. Khafa hanya mengikuti langkahku. Jalanan yang sedikit licin membuat ku terpaksa memegang tangan Khafa yang membantuku agar tidak jatuh.


Langkahku dan Khafa berhenti pada akar pohon yang berbentuk segitiga menyerupai atap rumah. Duduk di dalamnya memandang luas gemerlap hamparan bintang. Bukan di langit. Melainkan kerlap kerlip lampu Kota Jogjakarta yang begitu cantik.


Aku dan Khafa menghabiskan waktu setengah jam lebih tanpa ada suara. Sibuk pada fikiran kita masing-masing. Sampai akhirnya Khafa mengeluarkan suara juga untuk bertanya. "Embun, ibu apa kabar?"


Aku membalas tatapannya. "Alhamdulillah baik."


Pertanyaan itu membuat hatiku seperti ada yang menyubit. Khafa nanyain ibu? Dulu ibu juga sering menanyakan dia. Tapi aku tak mempunyai jawabannya. Sejenak terfikir untuk menanyakan Khafa kemana saja selama ini. Tapi seperti ada yang tertahan di bibirku.


Sudahlah, lagi pula itu kan dulu. Sekarang ibu juga sudah tau bahwa sudah lama sekali hari-hari ku bukan Khafa lagi pemiliknya. Sudah memulai kisah yang baru. Tapi, kenapa aku begitu sedih ya? Bagaimana kalau ini adalah kesempatan terakhir ku bersama Khafa?


Aku menghela nafas perlahan. Kemudian menatap Khafa yang sedang melihat pemandangan di hadapannya. Ya sudah lah, Aku melihatnya saat ini baik baik saja itu adalah hal yang sudah lebih dari cukup untukku. Biarlah segala pertanyaan pertanyaan yang memenuhi isi kepala ku selama ini terkubur dengan sendirinya.


"Kha. Udah malem. Pulang yuk!" Khafa mengangguk seraya melirik jam di tangannya. Tapi sebelum ia beranjak Khafa terdiam menatap ku lekat-lekat. Kemudian matanya sedikit berkaca. Aku menggigit bibir bawahku kecil. Menggenggam erat lengan sweater Khafa yang kebesaran.


Bohong! Bohong kalau aku bilang aku tidak merindukan tatapan itu.


Khafa menghela nafas pendek. Kemudian tersenyum tipis. "Yuk!"