Always Remember

Always Remember
Pengantin baru?



Aku merasa seperti melayang di udara. Namun, tidak lama kemudian kepalaku seperti mau jatuh ke belakang.


"Astagfirullah!" Aku sontak membuka mata lebar-lebar. Dan yang membuat lebih kaget lagi, wajah Khafa telah sedekat ini. Tangannya yang masih berada di bawah tengkuk lututku dia tarik dengan cepat lalu berdiri. Sepertinya, Khafa telah mengangkat tubuhku barusan. Tapi, dia melakukan pendaratan yang buruk. Tidak profesional!


"Kamu mau ngapain?" Tanyaku heran saat tubuhku sudah mendarat di tempat tidur.


"Ng-gak ngapa-ngapain." Wajah Khafa sudah semerah tomat. Seperti maling jemuran yang tertangkap basah sebelum melakukan aksinya.


Ngapa-ngapain juga tidak apa-apa kok Kha. Kamu suami ku, berhak atas apapun semua tentang diriku.


"Nanti-nanti kalau mau tidur ya di tempat tidur. Jangan di meja," lanjutnya. Lalu, Khafa berjalan meninggalkanku menuju kamar mandi. Mungkin dia sedang menyembunyikan rasa malu.


Sebenarnya, aku sedang lelap-lelapnya tertidur. Tapi niat baik Khafa memindahkanku, membuat aku terbangun dan rasa kantukku jadi hilang. Aku kembali menghampiri notebook yang ku kira masih berantakan. Ternyata, Semua sudah rapi. Notebook ku sudah masuk kembali ke dalam tasnya. Dan tersusun rapi dengan handphone ku di atasnya. Semua ini, pasti Khafa yang telah merapikannya.


Dia juga, pasti membaca email dari Andra. Tidak apa-apa lah. Bukankah ini suatu resep pada hubungan yang baik? Terbuka dan saling percaya. Jadi, aku tidak masalah kalau Khafa membacanya. Toh, dari dulu dia sudah lebih tahu semua tentangku. Bahkan yang aku sendiri tidak tahu.


Ku lirik jam dinding, jam tiga dini hari. Lima menit kemudian, Khafa keluar dari kamar mandi. Sepertinya pura-pura tidur adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


Mataku, ku pejamkan sempurna. Namun kesadaranku jelas masih terasa. Aku tidak benar-benar tidur. Kurasakan Khafa menaiki ranjang memposisikan diri di sampingku. Ah, jantungku berdegup kencang lagi. Bayangan aktifitas itu bermain-main di benakku. Jemariku meremas guling yang aku peluk di balik selimut tebal.


Deru nafas Khafa dihadapan ku terasa, membuat rasaku semakin menggila. Semerbak wangi tubuhnya jelas sekali ku hidu. Ia mengusap lembut puncak kepalaku. Dan terasa, bibirnya menyentuh lama sekali di keningku. Hingga rasa hangat kembali menjalari seluruh tubuhku. Ia mengakhiri kecupannya pada keningku. Aku tidak tau. Sedang apa lagi dia kini. Hening. Lama sekali tak ada sedikitpun pergerakan darinya. Apa dia tidur?


Cup.


Sentuhan bibirnya menyentuh bibirku. Lembut dan tak sedikitpun didasari hawa nafsu. Jadi, sejak tadi hening Khafa memperhatikan aku tidur? Dia tahu tidak ya kalau aku cuma pura-pura tidur?


Tidak lama kemudian Khafa beranjak meninggalkanku tidur sendiri. Setelah yakin bahwa sudah tak ada lagi suaranya. Aku memberanikan diri sedikit membuka mata.


Hei!


Dia malah tidur di sofa.


Huh!


Tapi, perlakuan Khafa membuatku membuka mata. Bahwa, begitu besar ketulusan Khafa kepadaku. Aku sangka, malam ini aku akan benar-benar segera di eksekusi olehnya. Ternyata, tidak. Kalau kata orang cinta itu take and give. Tidak menurut Khafa. Dia hanya kenal memberi tanpa harus menerima. Untuk saat ini, tidak tahu kalau nanti.


Aku terus memandangi dia yang sedang terlelap di sofa. Tidurnya saja sudah membuat aku tenang. Wajahnya polos seperti tak punya dosa. Aku bangga. Allah telah memberiku rezeki berbentuk suami macam Khafa.


Jam 6 pagi, keluarga Khafa sudah kembali kumpul di lobby hotel untuk kembali ke Jogja. Aku menyalami mereka satu persatu.


"Ciye yang abis begadang," goda Fitri.


"Lho, kok Lo tau Fit, emang kedengaran?" Aku membalas godaan Fitri dengan sama gilanya. Seolah-olah aku sudah...


"Tapi aman kan? Kok mata Lo sembab gitu," telisik Fitri.


"Hah? Emang iya?" Aku sibuk mencari seseuatu yang bisa ku jadikan cermin. Sisa menangisku semalam ternyata terdeteksi oleh Fitri.


"Kalo Khafa macem-macem, bilang ya. Biar gue jewer telinganya," bisiknya.


"Di macem-macemin juga gak apa-apa," candaku sambil tersenyum jahil.


"Iya sih," jawab Fitri lalu tertawa nyengir.


Lalu, aku menyalami Aba, ummi sarah, Annisa dan Aisyah.


"Di tunggu disana secepatnya ya nduk," harap Aba.


"Insya Allah Aba," jawabku.


"Baik-baik ya nduk," Ucap ummi Sarah ketika aku menyalaminya. Lalu, ummi Sarah mengusap lembut tanganku. Dalam hati aku bersyukur, ummi Sarah tidak seperti yang Eliana katakan padaku.


"Mbak Mbun, beneran ya kita tunggu lho di rumah. Nanti kamar aku sama Mbak berdampingan. Yee!" Aisyah antusias sekali berharap anggota baru di rumahnya.


"Lho, walaupun sebelahan, kamu jangan recokin nduk, mbak Embun kan sama mas mu." Ummi memperingatkan Aisyah.


"Tau nih, si biang rusuh!" Sambar Khafa tepat di sampingku. Padahal dari tadi dia sibuk membantu mas Wisnu mengemas barang.


"Mas Kha, masa aku gak boleh temenan sama mbak Mbun, kan lumayan, aku bisa nemenin mbak Embun kalo mas lagi pergi pergi," rengeknya.


"Iya boleh. Kamu tuh ribet deh, ayok cepat naik mobil!" Annisa memperingatkan dan menarik adiknya kedalam mobil. Namun Aisyah menolaknya. Kemudian berhamburan menyalami dan memelukku.


"Bener ya mbak jangan lama-lama, dadah. Assalamualaikum," pamit Aisyah. Begitupun dengan yang lainnya.


"Waalaikumsalam," jawabku dengan Khafa. Kemudian mereka semua pergi meninggalkan kami berdua.


"Jadi benar kata Aisyah, kamu jarang sekali ada di rumah?"


"Kamu kan tau aku itu petualang. Mana mungkin ada seorang petualang sibuk berpetualang di dalam rumah," jelasnya sambil melipat tangannya di dada.


"Sombong!" Jawabku sambil memutar badan dan melangkah kembali ke dalam hotel.


"Mau kemana?"


"Ke kamar,"


"Udah mau ke kamar lagi aja, memang sudah siap?"


"Siap packing, kita pulang," jawabku sambil berjalan meninggalkannya.


Khafa menarik tangan kiri ku dan membawa ke dalam genggamannya. Membuatku terkesiap dan sontak menghentikan langkah.


"Mulai sekarang jangan pernah jalan duluan atau di belakang. Kita jalan beriringan ya," pintanya. Lalu Khafa membawaku berjalan sambil bergandengan tangan.


"Kayak mau nyebrang jalan aja," tolakku sambil menarik tangan kiri dari genggamannya. Ini kejadian untuk pertama kalinya. Jujur saja, aku malu dan tidak terbiasa.


"Kalau menggenggam tanganmu harus pas nyebrang jalan saja. Aku rela nyebrang terus."


"Udah pinter gombal, ya, sekarang,"


"Gombalin istri sendiri kan nggak dosa,"


Sampai di kamar, aku merapikan semuanya dan pulang ke rumahku. Di perjalanan tidak banyak yang aku bicarakan dengan Khafa hanya beberapa kali bersenda gurau kecil. Selebihnya kami banyak diam.


"Ini kamar kamu?" Khafa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar sederhana yang jauh dari kata sempurna.


"Hemm," jawabku sambil mengemas satu persatu barang-barang yang akan ku bawa.


"Gak kayak kamar perempuan," ujarnya tanpa beban.


"Berantakan?" Aku mendelik sebentar kepadanya.


"Aku gak bilang gitu," jawabnya. Khafa memperhatikan satu frame foto yang menempel di dinding kamarku. Frame itu berisi fotoku ketika SMA.


"Kenyataan," gumamku. Aku tahu diri, aku memang jarang sekali membereskan kamar.


"Cantik,"


"Makasih,"


"Bukan kamu, tapi Framenya." Khafa masih tersenyum sambil menatap fotoku.


Ish!


"Kamu lagi ngapain?"


"Packing."


"Memang mau kemana?"


"Kok malah tanya mau kemana? Memang kamu gak mau ngajak----?"


"Aku gak akan maksa kamu ikut kalau kamu belum siap."


Hah?


Tok-tok-tok. Pintu kamarku di ketuk.


"Ada apa El?" Tanyaku pada Eliana yang muncul di balik pintu.


"Di depan ada tamu mau ketemu sama kakak. Katanya bi Eeng. Gak tahu siapa? Gak kenal."


Deg.


"Bi Eeng?"


Eliana mengangguk kemudian aku keluar menemui tamu yang Eliana bilang Bi Eeng itu. Bi Eeng yang aku kenal hanya asisten rumah tangga Andra.