Always Remember

Always Remember
PKL



Berkas di tanganku sudah siap. Untuk satu persatu di tanda tangani Kepala bidang keuangan. Aku berjalan menyusuri lorong gedung kantor yang sibuk. Pegawai masing-masing dengan pekerjaannya. Hanya ada beberapa disini yang memakai seragam Sekolah. Dengan tiga orang teman ku yang lain. Aku salah satunya.


Kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapangan) ku di mulai. Dengan berbekal ilmu yang ku pelajari di sekolah. Aku PKL di sebuah perusahaan BUMN di kota Bogor yang bergerak di bidang asuransi kepegawaian.


Tok tok tok.


Aku mengetuk pintu ruangan pak Iwan ------Kepala bidang Keuangan----.


"Ya. Masuk." Jawab pak Iwan dari dalam.


Aku masuk dengan hati-hati. Berkas di tanganku lumayan banyak. Aku ngeri semua berkas ini jatuh berhamburan. Ya karena aku orangnya memang sedikit selebor. Selain itu, aku juga menjaga kesopanan.


"Selamat Siang pak.."


"Selamat siang juga emmmm.... " Pak Iwan menyelidik name tag ku.


"Bun pak.." seloroh ku.


"Embun. Nama saya Embun."


"Iya iyaa.. Embun. Bagus namanya. Unik. Apa artinya? Bisa di jelas kan ngga sama saya." Kata pak Iwan yang mulai memeriksa satu per satu berkas yang aku bawa. Kemudian menandatanganinya.


Unik. Unik dari Hongkong. Waktu kecil aku pernah nangis nangis minta ganti nama. Sering di ejek. Nama koq ya embun. Tapi seiring berjalannya waktu aku sadar. Bukan tanpa alasan ayahku memberikan nama itu. Juga bukan tanpa arti. Dan setelah aku tau maksud ayahku memberi nama padaku Embun. Barulah aku sadar. Betapa besar harapan ayah padaku. Untuk selalu bisa menjadi penyejuk hatinya.


Aku tersenyum. "Embun adalah nama pemberian ayahku pak. Aku lahir ba'da subuh. Itu alasan pertama aku dinamai Embun. Katanya pada waktu itu embun membasahi dedaunan. Menyejukkan setiap orang yang memandangnya. Begitu juga harapan ayah saya terhadap saya. Selalu menjadi penyejuk untuk hidupnya. Padahal faktanya. Saya lah yang selalu merasakan kesejukkan dari ayah saya."


Pak Iwan mengangguk angguk. "Good." Katanya.


"Kamu pucat sekali Embun." Sambungnya.


"Saya lagi puasa Sunnah pak."


"Masya Allah. Sudah cantik. Kamu Sholeha juga ya. Insya Allah.. harapan ayahmu terhadap kamu terwujud nak. Penyejuk dalam hidupnya."


"Aamiinn. Terima kasih pak. Bapak berlebihan memuji saya."


Padahal aku puasa bukan semata-mata niat ibadah. Tapi niat irit dan niat diet juga. Hehe.. Astagfirullah.. maafin ya Allah.. aku membatin.


Selanjutnya pak Iwan banyak bertanya-tanya tentangku. Aku menjawab seperlunya. Jujur, aku masih canggung berurusan langsung dengan orang-orang 'besar' seperti pak Iwan. Kadang aku tak mengerti istilah-istilah apa yang ia katakan. Mungkin ini karena awal aku ada di lingkungan perkantoran.


Setelah selesai pekerjaan ku dengan pak Iwan aku kembali ke ruangan biasa aku bekerja. Di sana aku bekerja membantu tugas Bu Diah untuk input data. Tidak begitu sulit menurutku. Hanya saja butuh ketelitian dan kesabaran karena banyaknya data yang harus di input.


Di sebelahku ada seorang cowok yang sepertinya lebih muda dari pegawai kebanyakan. Dengan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam.


"Andra tolong perbaiki PC ibu ya. itu ko programnya error' terus." kata Bu Diah.


Jadi ternyata Namanya Andra. Ia seorang mahasiswa tingkat 3 yang sedang PKL juga. Ku perhatikan ia dengan ekor mataku. Sedang serius mengotak ngatik program komputer.


Kesibukanku saat ini membuat ku terasa jauh dengan teman-teman sekelas ku. Karena selama tiga bulan waktu ku habiskan disini. Teman-temanku sama. Mereka sibuk juga sepertiku. Tapi sepertinya aku lebih beruntung. Dan aku patut bersyukur. Disaat teman-temanku mengeluarkan uang lebih untuk biaya PKL. Aku malah mendapatkan gaji setiap bulannya.


🌸🌸🌸


"Embun, makan siang bareng yuk!" Aku menoleh. Andra menyandarkan tubuhnya ke pintu Mushola. Iya menatapku yang sedang merapikan mukena.


"Aku bawa bekal kak. Kalo ga di makan kasian ibuku sudah capek-capek bikin."


Rasanya sulit sekali menolak. Aku akhirnya ikut juga. Kebetulan Rifa teman satu sekolahku tidak masuk hari ini. Yang dua lagi jangan di tanya. Rasty dan Deva. Palingan mereka makan bareng tanpa mengajakku. Karena aku lebih sering puasa Senin Kamis jadi mereka anggap mungkin aku sedang puasa. Makanya ga diajak makan siang bareng mereka.


"Kamu mau pesen sotonya?"


Aku menggeleng.


Warung soto ini tepat berada disamping kantor. Tidak begitu ramai. Karena memang tempatnya kecil. Ada satu meja panjang dengan dua kursi panjang terletak berhadapan. Pegawai kantoran mungkin mencari makan siang di tempat yang lebih besar dan nyaman selain disini. Terbukti dengan hanya ada kita berdua disini yang hendak makan. Jadi aku tidak sungkan mengeluarkan isi bekal yang telah ibu siapkan untukku.


"Yaudah aku pesenin kamu es kelapa jeruk aja ya." Andra beranjak menghampiri gerobak es kelapa yang ada di sebelah gerobak soto yang kami datangi.


Aku membuka segera isi bekal ompreng berwarna ungu tua yang ada di hadapanku. Isinya nasi, tumis buncis berbaur tempe, ikan tongkol goreng dan sebungkus sambal. Semua rapi di masukan kedalam satu ompreng. Juga sebotol air Putih disisi kirinya.


Tanpa ku sadari ternyata ada yang memperhatikan aku membuka bekal. Siapa lagi kalau bukan orang yang ada di hadapanku.


Dua porsi soto mie Bogor segera tersaji di dapan kami. Dengan asap kuah yang masih mengepul. Yang satu terlihat lebih sedikit. Mungkin kak di Andra hanya memesan setengah porsi untukku. Juga tanpa mie. Tepat sekali.


"Kok pesen dua. Aku kan ada ini." Kataku sambil menunjuk bekal.


"Gapapa. Cuma setengah ko. Di makan ya." Ia mendekatkan mangkuk soto kepadaku.


Akhirnya aku tak mampu menolak. Ku bubuhi kuah soto itu dengan sambal 3 sendok.


"Kamu suka pedes ya?"


"Aku mengangguk.


"Tapi jangan terlalu pedes juga. Ntar kontraksi perutmu."


"Gak bakal." Eyel ku.


"Aku mau bekalmu ya." Ia menyendok bekal ku. Lagi dan lagi. "Enak masakan ibumu."


"Iya. " Jawabku.


"Nanti kapan-kapan ajak aku makan bareng di rumahmu ya."


"Boleh. Tapi jangan sering-sering ya."


"Emang kenapa?"


"Rugi ntar aku. Makannya banyak!" aku memelototinya.


Andra tergelak.


Dan kami berdua makan semua yang ada di meja hingga tandas tak tersisa.


Setelah selesai makan siang. Kami balik ke kantor untuk lanjutkan pekerjaan kami masing-masing. Pekerjaanku tentunya lebih simpel di banding pekerjaan yang di berikan kepada kak Andra. Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang ia kerjakan. Setahu ku Andra kuliah di salah satu universitas di Depok dengan jurusan IT. Hemm.. pantas saja dia selalu berpindah-pindah ruangan untuk mengecek PC komputer pegawai. Entah lah aku tak paham dengan pekerjaannya.


"Bun... Balik bareng aku yuk!" Andra tiba-tiba muncul di pantry. Hampir gelas yang aku bawa jatuh. Kaget.


"Manggil nama orang tuh yang lengkap." Mataku membulat. Ga enak banget di panggil Bun. Berasa udah emak emak.