
Tidak pacaran, tapi tetap menjaga komitmen. Sejak menerima CV dari Khafa, entah kenapa rasanya aku merasa seperti punya pemilik hati. Tapi, tidak mengikat apalagi mengekang.
Sebenarnya, sulit sekali mendeskripsikan perasaan dan kenyataan yang terjadi antara aku dengannya. Tapi walau bagaimanapun aku harus menuliskannya. Aku tidak mau sedikitpun kehilangan moment bersamanya tanpa diksi apapun. Aku mau namanya selalu ada dalam coretan-coretan ku.
Walaupun sebenarnya, Pantas tidak sih? Selalu itu pertanyaan yang terulang dalam fikiran ku.
Meski sudah sedekat ini, Khafa masih belum berubah. Masih seperti dulu. Tidak pernah ada disisiku. Berbalas pesan saja jarang sekali. Aku tidak berani protes lagi. Nanti seperti waktu itu, Harus halalin dulu.
Ibu sudah di rumah lagi beberapa hari ini. Kondisinya sudah semakin baik setelah ia beberapa kali terapi. Eliana juga sering sekali mendatangi rumah ini dengan anaknya. Aku senang, banyak sekali perubahan dalam hidupku. Allah telah memudahkan jalanku bangkit dari kekecewaan.
"Sekarang jadwal pengajian lagi ya kak?" Tanya ibu kepadaku. Aku sedang mengukur-ukur hijab yang sudah menempel di kepalaku. Karena belum terbiasa. Rasanya aku selalu sedikit kesulitan ketika menyematkan jarum pada bawah dagu.
"Iya bu, Eliana mau kesini?" Jawabku balas bertanya. Aku selesai dengan kostum baru yang kupakai.
Setiap pengajian ibu memang selalu menemaniku. Juga Eliana dan anaknya.
"Assalamualaikum," ucapan salam Eliana. Panjang umur. Baru saja aku menanyakannya.
"Waalaikumussalam," jawabku dengan ibu bersamaan.
"Wah Aunty cantik ya," ujar Eliana menirukan suara Aldan keponakan laki-lakiku.
"Terima kasih anak ganteng. Dari dulu aku emang udah cantik, kok," sombongku sambil mencubit gemas pipi Aldan yang chubby.
"Kak, tadi aku ketemu Dadang tuh di luar, dia ngasihin ini." Eliana memberikan selembar kertas A4 yang terlipat ala accordion fold.
Aku mengambilnya. Lantas, Eliana pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan setelah pengajian.
Hari ini adalah hari pertemuanku yang ketiga dengan ustadz Ammar.
Lho kok ustadz Ammar?
Kan waktu itu bilangnya ustadz Mulyana?
Pasti ada pertanyaan seperti itu kan?
Iya. Jadi, pertama kali aku ke rumah ustadz Mulyana dengan Irgi, jadwal ustadz Mulyana penuh. Ia tidak bisa menambah jadwal mengajar di rumahku. Makanya, ia menawarkan ustadz Ammar untuk menggantikannya. Dan aku menyetujuinya.
Ustadz Ammar adalah keponakan ustadz Mulyana. Anak dari adik laki-lakinya. Ibunya ustadz Ammar adalah seseorang keturunan Arab yang berada di kota ini. Tidak aneh jika wajah ustadz Ammar tidak kalah ganteng dari Khafa.
Ups!
Aku koq malah bandingin ustadz Ammar sama Khafa? Ya, beda lah. Khafa mah ganteng tapi nyebelin!
Sambil menunggu ustadz Ammar, aku membuka surat dari Dadang. Isinya adalah undangan pembukaan rumah tahfidz Al Firdaus. Pada bagian bawah surat terdapat tanda tangan dan nama lengkap Khafa sebagai founder nya.
Aku tersenyum tipis membaca bagian terakhir itu. Sungguh, ia begitu membanggakan buatku.
Aku jadi, kepikiran padanya. Sedang apa ya dia?
Akhirnya aku meraih handphone di nakas. Lalu, mengetikkan sebuah pesan.
Aku.
[Kha, kamu lagi apa?] Delete.
[Kha, aku mau tanya.] Delete.
Aku menimbang kalimat apa yang tepat untuk ku kirim padanya. Sejenak aku hanya mamaku tatapan, memperhatikan kontaknya yang bergambar siluet dirinya di atas gunung berlatar cahaya fajar.
Aku masih berpikir beberapa saat. Kalimat apa ya yang terkesan tidak modus?
Aku.
[Kha, Aku perlu buat balasan CV ta'aruf ku untukmu nggak?] Send.
Ahh! malah modus beneran.
Tapi, Aku tahulah ia tidak pernah suka basa-basi. Jadi aku kirim langsung pesan seperti itu. Seolah-olah aku mengirimkan pesan padanya karena benar-benar ada maksud dan tujuan. Meskipun yaa... Ketahuan modusnya
Satu menit kemudian bunyi notifikasi pesan berbunyi.
Khafa.
[Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.]
Duh, salah. Harusnya aku salam dulu. Aku meruntuki sendiri kelakuanku. Betapa bodohnya!
Aku.
[Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh. Jawab pertanyaan ku yang tadi!]
Berlagak marah. Cuma itu yang bisa menetralkan rasa malu ku.
Khafa.
[Sabar.]
Cuma itu?
Khafa tidak pernah berubah. Ia masih irit bicara. Apalagi, dalam hal membalas pesan. Dulu dalam buku putih, juga begitu. Terkadang ujung-ujungnya hanya membuatku gemas.
Aku.
[Sabar juga ada batasnya. Ayo jawab!]
Aku tidak melepaskan tatapanku sedikit pun pada layar handphone. Tentu saja aku menunggu balasan Khafa berikutnya.
Khafa.
[Kalau masih ada batasnya, berarti belum sabar.]
Kalah lagi kan! Nekat sih!
Aku membuang napas kasar. Kalau ia sekarang ada di hadapanku. Mungkin sudah kupukul dia. Itupun kalau berani.
Ku ulangi pesanku.
[Aku perlu buat balasan CV ta'aruf ku untukmu nggak?]
Es dawet calling...
Kalau dia bisa bilang aku bakphia, kenapa tidak bisa aku memberi namanya es dawet di kontakku. Dia itu memang es dawet kan? Dingin dan manis.
"Apa?" Akhirnya ku angkat juga telponnya.
"Assalamualaikum," ucapnya tanpa beban. Padahal aku sudah membuat tanda seru beberapa kali dalam pesanku. Apa tidak terasa marahnya?
"Kok salam lagi? Kan tadi udah!" Kataku dengan nada ketus.
"Jawab dulu."
"Iya, iya. Waalaikumsalam!"
"Nah gitu."
"Jawab!"
"Gak perlu,"
"Kok gak perlu? Mau ngapain nelpon?"
"Gak perlu buat CV balasan buatku."
"Ooh, kirain apa," aku menjeda sejenak kalimatku. Lantas kembali bertanya. "Kenapa?"
Ia berdeham. Lalu ia bertanya, "Apa CV itu tidak cukup menjawab semua 'kenapa'mu kepadaku?"
Hening.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Karena memang aku tahu maksudnya. Hanya saja, aku mau mendengarkan pengakuan langsung darinya. Kalau dia, sudah tahu semuanya tentang ku.
Tidak lama, terdengar suara kekehan kecil di ujung handphone ku. "Kamu modus doang ya?" Ejeknya.
"Enggak!" Selorohku mengelak.
Makanya, peka dong Kha!
"Hmmn, bilang aja kangen," tohoknya santai.
Sayup aku mendengar suara salam dari ustadz Ammar di halaman rumahku. Lalu, terdengar sambutan dari ibu.
"Ihh, kata siapa? Nggak kok." Aku mengelak lagi. "Ya sudah ya, aku mau keluar dulu,"
"Mau kemana? Jangan jauh-jauh. Nanti aku gak bisa mencarimu. Ciyeee," candanya. Aku tahu ia sedang berkelakar garing.
"Gak lucu! Assalamualaikum!" Ku tutup sambungan teleponnya dengan kesal.
Kemudian, aku keluar dari kamar untuk menemui ustadz Ammar dan segera memulai tahsin dan kajian. Ustadz Ammar begitu sabar mengajariku membaca Al Qur'an. Ia kadang tertawa mendengar lidahku yang begitu kaku dalam membaca Al Qur'an.
Sanpai tidak terasa sudah hampir satu jam berlalu. Tahsinku dengan ustadz Ammar juga sudah selesai. Biasanya setelah ini kami ngobrol-ngobrol hangat dulu seputar ilmu agama dan pemahamannya.
"Ustadz, saya mau tanya. Bagaimana cara memperbaiki diri, agar diri seorang wanita pantas bersanding dengan orang yang baik? Misalnya sama ustadz gitu," Tanya Eliana sambil melirikku dengan senyum jahilnya.
Aku tahu, Eliana hanya mewakili pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Karena tidak mungkin aku bertanya sendiri. Malu. Ustadz Ammar masih muda dan belum menikah. Aku jadi canggung untuk bertanya.
Seakan mengerti maksud Eliana, Ustadz Ammar tersenyum manis sambil melemparkan tatapannya kepadaku.
"Sejatinya, masa sendiri adalah masa yang paling baik untuk belajar mempersiapkan diri sebelum menikah." Ustadz Ammar memulai penjelasannya sambil terus mengembangkan senyuman khasnya.
Kami dengan khidmat mendengarkannya.
"Terus berbenah diri sambil terus meningkatkan taqwa, bersabar, berikhtiar. Satu lagi, kita harus terus meningkatkan kwalitas diri demi menjemput jodoh impian. Terus tanamkan keyakinan pada takdir Allah Subhana wa ta'ala. Bahwa Ia telah menyiapkan jodoh tebaik untuk kita. Seperti pada firman Allah pada Al Qur'an surat An-Nur ayat 26, yaitu : Wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji pula. Dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik pula. Jelas dalam firman tersebut bahwa Allah memberikan jodoh berdasarkan akhlak dari hamba Nya tersebut, sebab itulah senantiasa ada nasehat bahwa setiap orang hendaknya memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan Nya agar kelak mendapat jodoh yang baik pula," jelasnya panjang lebar.
Aku terhenyak mendengar perkataan ustadz Ammar pada penjelasan itu. Apa aku pantas untuk Khafa?
Ku tundukkan kepalaku dalam-dalam.
Hatiku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang amblas. Aku merasa diri ini kotor sekali untuk orang yang begitu menjaga kesuciannya. Bahkan pada, orang yang ia cintai sejak lama.
Aku teringat sarung tangan yang selalu Khafa gunakan untuk menghindari kontak langsung padaku. Ternyata dia sampai seperti itu. Sedangkan aku? Apa saja yang sudah kulakukan bersama Andra?
Astagfirullah, terlalu percaya diri aku ini. Jangankan untuk menjadi istrinya, aku baca Al Qur'an saja masih kaku.
Aku menarik napasku perlahan sambil mengangkat kepalaku kembali memperhatikan ustadz Ammar. Tapi ternyata, saking khusyuk nya aku menyesali perbuatanku dalam hati, aku sampai tidak sadar bahwa ustadz Ammar sedang memperhatikanku. Ia nampak gelagapan ketika tertangkap basah juga sedang menatapku. Ia langsung meraih air minum yang telah di siapkan oleh Eliana lalu meneguknya.
Aku mencari keberadaan Eliana, ia kemana? Kalau ibu, setelah tahsin tadi langsung pamit untuk istirahat.
Tidak lama, ustadz Ammar pamit pulang. Aku bahkan tidak sadar kalau ia ternyata sudah menutup kajiannya. Selalu begitu, aku memang terkadang lebih asyik sendiri bermain pada pikiran-pikiranku sendiri. Hingga tanpa sadar, aku banyak melewati kejadian yang justru sedang berjalan di hadapanku.
"Lho, ustadz Ammar mana?" Tanya Eliana kepadaku. Ia baru saja muncul dari arah kamar ibu.
"Balik, enak aja aku di tinggal sendiri!" Protesku.
"Yaahh, tadi aku liat Dede Al dulu bangun dia pengen mimik." Eliana beralasan.
"Ih, ustadz Ammar ganteng yah kak? Mau deh aku jadi istrinya kak,"
"Husssh! Udah punya suami juga! Masih aja lirik-lirik cowok lain!" Tegasku. Eliana menampakan raut wajah bersalahnya kepadaku. "Ingat! Kakak mu ini belum sama sekali. Kasihlah kesempatan buat aku dulu," lanjutku.
"Huuuuuu, udah ada calon juga! Masih aja ngarep. By the way, gantengan mana kak? Ustadz Ammar apa Khafa?" Tanyanya sambil menaik turunkan kedua alisnya. Ia seolah tanpa beban. Padahal itu sebuah pertanyaan berat buatku.
"Eliana! Dikira mereka apa di banding-bandingin?!" Sentakku. Padahal, diam diam aku juga sudah membandingkan mereka berdua.
"Ustadz Ammar aja kak, yang dekat. Khafa mah jauh kak. Kalo kakak jadi istrinya Khafa pasti tinggal di Jogja. Aku gimana dong?" tutur Eliana dengan wajah menyendu.
Benar juga. Aku bahkan belum berpikir sampai sana. Mungkin Eliana sudah lebih berpengalaman, makanya ia bisa berpikiran begitu.
"Ustadz Ammar ustadz Ammar, seenak jidatmu kalo ngomong. Emang ustadz Ammar mau apa sama aku?" Aku mencoba mengelak kenyataan. Padahal sebenarnya, aku juga merasakan ada tatapan aneh dari kedua manik mata ustadz itu.
"Mau! Tadi aku liat sendiri kok ustadz Ammar ngeliatin kakak, ihh ya ampun, yakin deh aku dia suka sama kakak!"
Mata memang tidak bisa di bohongi. Pikiranku senada dengan pikiran Eliana.
"Kamu hati-hati loh salah mengartikan tatapan orang, kalo kamu yang ada di posisi kakak, itu namanya kamu udah ke Ge eR an duluan sebelum di gombalin. Hahaha." Aku tergelak menepis sangkaan Eliana. Eliana malah mencebikkan bibirnya mengejekku.