
Waktu yang kuhabiskan bersamamu adalah waktu terindah yang pernah kulalui.
πΈπΈπΈ
"Mau pada maen voly sama anak-anak santri ya?" Tanya Nina padaku.
"Hah kapan?"
"Sekarang."
"Ihh.. beneran?"
"Iya. Tuh si Dani koordinatornya." Nina menunjukan padaku kalau Dani memang seperti merencanakan sesuatu.
"Ahh dia mah emang temen-temennya Nin. Sering ngobrol," sergahku.
"Ngga. Emang dari kemaren ko dia ngomong. Tarus udah izin juga ke ka Joko."
Ka Joko tuh ustadz juga dipondok. Dia tinggal satu komplek denganku. Dia memang ramah. Tidak terlalu menyeramkan seperti ustadz Mahfud. Friendly tapi tetap berwibawa.
"Gitu?"
Nina mengangguk.
"Siapa aja yang mau tanding?" Tanyaku penasaran.
"Ya kita kita. Lawan anak santri disana."
"Ih gue ngga ah. Mana bisa gue maen voly." Berkali-kali ikut latihan tapi aku tidak pernah mahir maen voly. Yang ada tanganku sakit semua setelahnya.
"Iya lo supporter aja. Lalala yeyeye." Nina menirukan gaya alayer yang pernah ada di acara musik.
"Supporter alay?"
"Iya."
"Ihhh males."
"Lo bawa buku apa'an tuh?" Tanya Nina sambil melihat ke buku yang sedang aku pangku.
"Ini?" Aku menunjukan bukunya pada Nina.
Nina mengangguk.
"Novel."
"Yang putih?"
"Bukan apa-apa ko. Buku tulis biasa."
"Eh Embun. Lo jadian sama Khafa?"
Jadian?
"Hahh??? Lo emang tau Khafa?"
"Ya tau lah.. kan temennya Yahya."
"Lo sendiri jadian ama Yahya?"
"Ngga."
"Kenapa?"
Nina terdiam menimbang jawaban. "Kita ga bisa maksain perasaan seseorang ke kita Embun. Kita perempuan. Ga ada gunanya memperjuangkan," sambung Nina.
"Ah bucin Lo!" Aku tertawa.
Pertandinganpun dimulai. Aku masih belum melihat Khafa. Mataku menyapu seluruh pemandangan dihadapanku. Yang aku tunggu tak kunjung keberadaannya.
Jangan ditanya perasaan ini.
Sedih?
Iyalah.. Seperti kehilangan harapan. Padahal aku sudah menulis dua halaman dibuku putih Khafa. Balasan surat yang Khafa kasih ke aku. Kalau harus aku kasih nanti. Isinya bisa basi.
Aku tak begitu memperhatikan jalannya permainan. Teman-teman yang lain ramai bersorak sorai. Ada yang berperan jadi supporter. Ada yang cuek sibuk dengan olah raga lainnya. Ada juga yang cuma duduk seperti aku. Tak ada semangat.
"Hei Embun," panggil seseorang.
Aku menoleh.
Dia Nisa. Aku tahu, statusnya sama seperti Dani. Dia tinggal satu kampung denganku.Tapi sebelumnya belum pernah ngobrol dengannya. Aku hanya tau namanya.
"Iya teh." Aku agak canggung harus memanggilnya apa. Karna setahuku waktu itu ia berseragam Alliyah. Setingkat putih abu.
"Si Khafa mana yah?" Katanya sambil mencari. "Liat ga?" tanyanya kepadaku.
"Ke aku?" jawabku bingung.
"Terus harus ke siapa?" Teh Nisa malah balik nanya. "Embun, ga usah bingung. Aku udah tau ko.. soal kamu sama Khafa. Khafa yang cerita."
"Khafa cerita? Teteh sekelas sama Khafa?"
Teh Nisa mengangguk. "Dia punya hobbi baru sekarang."
"Apa?"
"Hobi nanyain kamu Embun."
"Hahh?? Terus-terus..." Aku penasaran.
"Terus.. tuh orangnya!!!" Teh Nisa menujuk arah dimana Khafa datang.
"Mana?" Aku reflek mengikuti telunjuk teh Nisa.
"Ciyeeeee....!"
"Ih teteeehhhh," rengekku. Malu.
Aku melihat Khafa berjalan mendekati keberadaanku. Menggunakan celana training strip panjang berwarna dongker dengan atasan kaos abu tua. Ia semakin mendekat.
Ini orang ga pernah ganti baju? Sudah beberapa kali bertemu denganku dengan pakaian yang sama.
"Assalamualaikum." Dia tak pernah lepas dari kata salam.
"Waalaikum salam," jawabku dan teh Nisa.
"Nisa, ngapain disini?" Tanya Khafa ke teh Nisa.
"Ihh pake nanya," kata teh Nisa ke Khafa. Sepertinya mereka memang dekat. "Tuh ada yang udah nunggu antum dari tadi!"
Teh Nisa senyum-senyum ke padaku.
"Orang penting emang gini Nisa, selalu ada yang nunggu. Iya ngga?"
Khafa menaikkan sebelah alisnya.
"Hahhh? Apa? Aku ga nunggu kamu!" Sentakku.
"Ciyeee marah!" ejek Khafa. "Maaf," lanjutnya sambil memandang ku.
Khafa memasukan kedua tangannya ke saku celana.
"Khafa!" Mata teh Nisa membulat sempurna. Seperti mengingatkan sesuatu pada Khafa.
"Apa Nisaaa..," katanya sambil senyum kepadaku.
Sesaat kemudian kita larut dalam pertandingan. Ikut serta menjadi supporter amatiran. Iya, Khafa tidak ikut bermain. Padahal, beberapa kali temannya mengajak untuk berganti pemain.
Aku sungguh menikmati saat-saat ini. Melihat tawanya walaupun sesekali mengejekku. Melihat matanya yang tak pernah berhenti memberiku kenyamanan.
Tapi sayang nyatanya waktu malah terasa cepat bergerak. Aku lihat langit mulai gelap. Awan mulai berkumpul siap menjatuhkan bulir-bulir airnya. Dan benar saja, tetesannya mulai membasahi wajahku.
"Yaaaahhh ujan..." Aku mendonggakkan wajah dan tanganku ke langit.
"Seharusnya Alhamdulillah Embun, hujan ini ciptaan Allah. Coba deh berdoa saat hujan turun, pasti di kabulin," tutur Khafa.
"Masa?" Aku hanya melihatnya sejenak. Kemudian menaruh buku yang aku pegang diatas kepalaku. "Aku suka hujan. Tapi bukan hujan seperti ini, karna hujan yang seperti ini hanya membuat aku sakit."
"Kamu ga bakal sakit." Khafa menurunkan buku yang aku buat untuk menghalangi kepalaku dari tetesan hujan.
"Tapi aku ---"
"Kalaupun iya, bukan karna hujan ini Embun."
"Karna apa?"
"Karena perkataanmu sendiri," jawab Khafa di sertai turun hujan yang begitu deras.
Semua orang berlarian. Entah kemana. Mungkin nekat pulang. Khafa menarik tanganku dengan cepat. Membawaku lari menghindari hujan. Memasukan buku yang aku bawa kedalam kaosnya.
"Khafa!" Ia tak menggubris. Terus menarik pergelangan tanganku. "Mau bawa aku kemana?"
"Udah jangan berisik ikut aku!"
"Tapi ini udah mau magrib."
"Aku tau."
Hujan semakin deras.
"Khafa mau ngapain kesini?"
"Tunggu aku disini!"
"Khafa jangan tinggalin aku. Aku takut."
"Sebentar aja."
Khafa pergi meninggalkanku dalam sebuah ruangan terbuka yang bisa disebut gudang. Ada banyak besi tua berserakan. Sayup-sayup aku dengar suara Adzan magrib menyatu dengan suara gemuruh hujan. Apa maksud Khafa membawaku kesini. Dan ia malah menghilang.
Hari sudah gelap. Hujan belum juga reda. Mungkin saat ini Listy dan teman-temanku yang lain sudah sampai rumah masing-masing. Aku bingung, takut ibuku mengkhawatirkanku.
Hujan telah berhasil membuatku kedinginan. Aku menggigil. Bibirku tidak berenti gemerutuk.
"Maaf aku bawa kamu kesini." Tiba-tiba Khafa muncul disampingku. Membawa segelas teh hangat, payung dan mantel.
"Minum!"
Aku menggeleng. "Aku mau pulang Kha," lirihku.
"Iya. Minum dulu." Akhirnya aku meminum teh hangat yang Khafa bawa. "Aku bawa kamu kesini biar kamu ga kehujanan."
"Tapi kata kamu hujan itu berkah ga akan membuatku sakit."
"Iya. Tapi liat baju kamu!" Khafa menunjukkan bajuku. Aku melihat diriku sendiri. Memakai kaos putih sedikit tipis dan celana olah raga seragam sekolah yang belum aku ganti.
"Bisa jiplak tau kena air hujan!"
"Iiihhh apaan sih."
"Aku ga mau kamu kaya gitu keliatan orang-orang." Khafa menatapku dingin. "Nih pake!" Khafa memberiku mantel.
"Punya siapa?"
"Jangan banyak tanya. Cepet pake!" Aku tak banyak bicara lagi. Ku pakai mantel yang Khafa berikan.
"Aku antar kamu pulang."
"Masih deras Kha."
"Mau disini terus?"
Aku menggeleng.
"Yaudah ayok!" Khafa berjalan duluan menggunakan payung.
"Khafa tunggu!"
Kita berjalan menembus hujan di kegelapan. Lampu jalanan saat itu mati. Mungkin padam listrik atau rusak semua aku tidak tahu. Tak ada sepatah katapun terucap diantara kita berdua. Sesekali aku melihat ke arahnya. Aku tak tau apa yang ada dalam fikiran Khafa saat itu. Aku tau ini beresiko besar untuknya.
Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan kenapa ia seberani ini. Tapi mungkin Khafa juga tak tau alasannya. Karena disaat yang sama aku juga tak tau alasan mengapa aku tak mampu menolak saat Khafa menarik tanganku.
Wajah Khafa terlihat begitu tenang. Kilat sesekali bersinar menyinari perjalanan kami. Khafa masih setia memayungiku. Padahal dia sendiri sudah kuyup.
"Kha, aku pake mantel. Payungnya pake kamu aja." Aku mendorong tangannya.
"Kamu ga mau pake payung?"
Aku mengangguk.
"Oke." Ia melipat payungnya. "Kita mandi ujan berdua ya."
"Khafa!" Aku menghentikan langkahku.
Khafa benar-benar kehujanan. "Apalagi?" Tanyanya sambil berbalik badan melihatku.
Aku berdecak. Memasang wajah kesal melihat kelakuan Khafa yang tak pernah aku sangka akan seperti ini. Namun Khafa malah meraih pergelangan tanganku, mengajakku segera melanjutkan perjalanan. Jantungku seperti mau keluar dari tempatnya. Aku tak pernah menyangka Khafa berani memegang tanganku.
Diam-diam aku berdoa dalam hati, Tuhan jangan pernah jauhkan ia dalam hidupku.
"Sudah ya jangan protes terus. Nanti kita ga sampe-sampe," katanya tepat di telingaku.
Mungkin agar ia melakukan ini agar aku mendengar jelas kata-katanya. Karena hujan sangat deras. Aku hanya melongo. Khafa sedekat ini. Ia terus membawaku berjalan. Sedangkan aku hanya mengikutinya. Masih tak percaya apa ini nyata.
"Assalamu'alaikum!" kataku setelah sampai di rumah. Aku bergegas membuka mantel yang Khafa beri tadi. Kemudian masuk. Gelap. Ternyata memang mati lampu. Mungkin ada gangguan aliran listrik karna hujan sangat deras.
"Kamu tunggu dulu disini," kataku kepada Khafa. Kemudian aku mencari handuk.
"Waalaikum salam. Ya ampun! Ajak masuk temennya sayang," kata ibuku.
Khafa kemudian menghampiri ibu dan mencium takzim punggung tangan ibu.
"Yuk masuk!"
"Iya bu," jawab Khafa.
"Nih!" Kataku sambil memberikan handuk pada Khafa.
"Gak perlu. Aku langsung pulang ke pondok ya," tuturnya. Ia sesekali mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.
"Masih hujan Kha."
"Dari tadi kita sudah menyatu dengan hujan. Aku akan baik-baik aja Embun."
"Seengganya minum dulu ya."
"Engga. Aku harus segera sampai pondok. Ya?"
Aku menghela nafas pelan. Seharusnya aku bersyukur, Khafa sudah bisa antar aku kesini saja sudah keajaiban luar biasa. Aku tau ia harus menerima resiko besar.
"Maafin aku Kha, aku udah buat repot kamu."
"Ngga apa-apa. Udah aku pamit. Sampein ke ibu ya. Aku ga bisa lama-lama. Assalamualaikum," pamit Khafa padaku.
Kemudian ia pulang sedikit berlari. Aku hanya diam terpaku menyaksikan Khafa menghilang di gelapnya malam. Di derasnya hujan.
Saat ini aku bahagia. Namun aku sedih melihatnya berlalu begitu saja.