
Selesai acara ceremonial perpisahan kami bubar menuju kamar. Jam di tangan menunjukkan jam 3 sore. Tidak ada jadwal khusus hari ini. Guru-guru tahu bahwa kami sudah lelah. Nyanyi, nangis, foto-foto, salam-salaman.
Kami berebut kamar mandi. Seperti biasa Riri selalu duluan. Nanda baru kemudian aku. Vita dan Dela, mereka selalu saling mempersilahkan. Sampai akhirnya tidak ada yang mandi dari mereka berdua.
"Eh jalan-jalan yuk keluar!" Ajak Dela.
"Yuk!" Jawab aku, Nanda, Vita dan Riri berbarengan.
"Eh izin dulu deh sama pak Asep. " Usulku.
Mereka mengiyakan.
Tanpa fikir lagi, jam 4 sore kami keluar menyusuri jalan Malioboro. Sepanjang mata memandang kami di manjakan oleh para pedagang kaki lima yang menjual aneka ragam oleh-oleh. Sebenarnya aku penasaran pada boneka Jogja. Boneka Jogja adalah boneka sepasang pengantin dengan baju adat Yogyakarta terbuat dari kayu. Namun saat ini jenisnya sudah banyak. Tidak hanya terbuat dari kayu.
Ku ajak mereka semua masuk ke sebuah toko yang menjual boneka tersebut. Aku melihat didalam lemari kaca. Waw keren.. ada beberapa yang menjual. Dari ukuran besar hingga yang kecil. Namun boneka dengan detail tinggi harganya lumayan. Jika aku belikan, maka uang saku ku langsung tandas. Atau bahkan tidak cukup.
Ku lihat Dela sedang memilih-milih baju batik. Dengan bahasa sekenanya. Ia saling tawar-menawar dengan pedagang. Lucu. Dela berbicara dengan logat Sunda dan penjual berbicara dengan bahasa Indonesia yang meddok. Itulah Indonesiaku. Aku hanya menonton mereka berdua. Dan Akhirnya Dela membeli celana panjang batik dewasa sebanyak 3 piece dengan harga seratus ribu rupiah. Lumayan bukan?
Kita melanjutkan perjalanan. Tak terasa kita sudah ada di penghujung jalan Malioboro di bagian selatan. Matahari mulai turun ke peraduan. Menambah syahdu kondisi di kota ini.
"Eh kita jalan kemana lagi nih? Naek itu yuk." Vita menunjuk becak warna warni.
"Ke alun-alun kidul yuk!" Usulku.
"Let's go lah!" Seru Vita semangat.
"Gas keuuunnn!" Dela menimpali.
Dua Becak berlampu warna warni kami sewa itu berlima. Becak melaju tanpa hambatan. Tanpa ada kemacetan. Sambil menikmati jalanan kota yang begitu indah dan sejuk. Senyum mengembang di bibir kami tak pernah surut. Sungguh mengasyikkan.
Hanya sekitar 15 menit akhirnya kami sampai di alun-alun kidul. Kami turun dari becak dan membayar tarif yang telah disepakati. Dua puluh ribu dua becak.
Alun-alun terlihat Ramai. Tapi tentunya tidak sesak. Mataku tertuju pada dua pohon beringin yang menjadi icon tempat ini. Katanya jika kita berjalan dari pohon satu ke pohon yang berada di seberangnya secara lurus maka permintaan kita akan terkabul. Atau di sebut juga laku masangin.
"Eh ke pohon beringin itu yuk!" Ajak ku pada teman-teman. Sebelum mereka mengiyakan aku sudah berjalan mendahului. Tak peduli mereka ikut atau tidak. Eh ternyata mereka mengekor dari belakang. Sudah pasti. Karena disini aku kaptennya.
"Eh ini kan pohon beringin yang katanya bisa ngabulin permintaan kita kalo kita jalan nutup mata bisa nyampe lurus ke pohon beringin yang disana ya. Coba yuk!"
Disana ada beberapa orang yang meminjamkan kain penutup mata. Vita mencoba untuk yang pertama kali. Raut wajahnya menjadi absurd.
"Eh lu pada jangan ninggalin gue ya." Ancamnya.
Dia malah ketakutan kita tinggal. Haha
Ku lihat Vita berjalan kemana-mana. Nyasarrr.. mana kenceng banget.
"Vit stop Vit. Arek kamana maneh teh?" [mau kemana kamu tu] Teriak Dela sambil mengejar Vita.
Aku tergelak. Begitupun Riri dan Nanda.
"Nih liatin! Gantian gue mah bisa pasti." Dela sombong. Ia menerka nerka langkah yang akan ia ambil. Kemudian aku pakaikan dia kain penutup mata.
"Satu... Dua... Tiga.. go!" Ucap ku.
Dela mulai melangkah. Pelan sekali. Ia seperti menghitung langkahnya. Sepuluh langkah pertama ia aman. Langkahnya masih dalam koridor yang lurus. Kemudian ada seorang ibu menabraknya. Ibu tersebut terlihat minta maaf. Dela melanjutkan langkahnya. Langkahnya mulai ngaco.
"Biarin oy biarin jangan ada yang ngejar." Kata Vita. Ia senang sekali menjahili Dela.
Kami serius memperhatikan Dela. Fix dia nyasar jauh. Dan kita masih di tempat awal ia melangkah. Dela membuka kain penutup matanya. Ia bingung dengan posisi ia sekarang. Nyasar. Hampir nabrak gerobak tukang bakso. Kami semua tergelak. Terpingkal-pingkal. Kesombongan nya tak terbukti.
Ia membawa lima bungkus bakso yang telah ia beli. Mentraktir kami. Contoh yang baik bukan? Sudah di zholimi malah mentraktir. Sungguh, perilaku buruk tidak seharusnya di balas dengan keburukan. Eh tapi ga ada niat jahat ko. Hanya untuk seru-seruan. Maaf ya Del.. batinku
Aku tak mau kalah. Ingin mencoba juga. Ku ambil kain penutup mata yang ada pada Dela.
Entah apa yang merasuki ku saat itu, ketika ku kenakan kain penutup mata. Dalam lubuk hatiku aku berkata.
Rab.. kalo dikasih kesempatan sekali aja. Aku mau ketemu Khafa disini. Aku yakin ia berada di kota ini.
Aku mulai melangkah. Terus melangkah penuh keyakinan. Tanganku meraba udara. Mencegah ada orang yang ku tabrak maksudnya.
Buggghh!!
Aku di tabrak orang dari samping.
Aku terjatuh. Karena yang menabrakku cukup kencang. Sepertinya ia berlari. Atau mungkin akunya yang lemah. Jadi mudah terjatuh.
"Del, Lo jangan becanda.! Gue sakit. " Ucapku. Aku mengira bahwa Dela yang balas menjahiliku.
Hening. Tak ada yang menjawab.
Aku tak segera membuka kain hitam penutup mataku. Jangan jangan yang menabrakku....
Ahh masa iya permohonan ku langsung terkabul. Batinku. Tapi mungkin saja iya. Aku mengerling sendiri. Gila.
Aku segera membuka mataku. Masih dalam posisi terduduk.
Nothing.
Kanan, kiri, depan, belakang tak ada orang yang aku kenali. Aku mendengus. Membuang nafas ku sembarangan. Kenapa aku ini? Barusan sempat berharap apa?
Keesokkan harinya kami bersiap bersama sekolah menuju candi Borobudur dan Prambanan. Semua berjalan dengan lancar. Pengalaman yang amat berharga. Aku berjanji pada diriku sendiri. Aku pasti kembali ke kota ini.
Seharian jalan-jalan membuat waktu cepat sekali berjalan. Kegilaan demi kegilaan kami lewati hari ini. Foto bergaya narsis. Kejar-kejaran mengelilingi candi Borobudur. Dan banyak lagi. Seru. Lelah saat itu tak terasa.
Aku dan rombongan sekolah ku melewati senja di dalam bis. Kemudian kembali ke hotel jam 7 malam. Aku langsung mandi dan istirahat di kasur king size di dalam kamar hotel. Begitu juga dengan ke empat temanku.
πΈπΈπΈ
Kicau burung merdu bersahutan. Terbang dari pohon satu ke pohon lainnya. Di sepanjang jalan Malioboro aku masih bisa melihat dan merasakan teduhnya pohon asam. Ini pagi terakhir yang aku lewati di kota ini. Kota yang bersemboyan Hamemayu Hayuning Bawana. Yang berarti memperindah keindahan dunia.
Semoga suatu hari aku bisa kembali kesini bersama keindahan yang lain dalam hidup ku. Lirihku
Aku dan teman-temanku berkeliaran lagi ke jalan Malioboro. Berburu oleh-oleh untuk di bawa pulang. Kalau tidak aral melintang malam ini Rombongan kami bertolak pulang ke Bogor.
Jam 9 kami masih harus kumpul di lobby hotel. Untuk selanjutnya mengunjungi keraton Ngayogyakarta. Kemudian mengunjungi rumah pembuatan batik dan kerajinan perak.
Padatnya kegiatan hari terakhir di kota ini membuat waktu cepat sekali berlalu. Sampai akhirnya tiba di penghujung hari. Rombongan sekolahku sudah cek out sejak kami menyelesaikan kegiatan terakhir kami di rumah kerajinan perak.
Sebelum benar-benar bertolak untuk pulang ke Bogor. Bus berhenti di parkiran Malioboro. Masih hendak memberikan kesempatan untuk mereka yang belum puas belanja oleh-oleh.
Aku membeli beberapa kotak bakpia pathok untuk di bawa pulang. Masih hangat. Ibu pasti senang menerimanya. Aku juga membeli boneka Jogja ukuran kecil. Yang paling murah. Untuk kenang kenangan ku sendiri.
Aku terpaku. Menikmati malam terakhir ku di Yogyakarta dengan begitu sendu. Duduk di kursi trotoar dijalanan Malioboro. Indah sekali.
Dalam hati aku pamit pada seseorang yang membuatku selama berada disini merasaaaa...
Entah.