
"Kamuuuu!!!!!!" Aku berlari keluar menghampiri tempat motor ku terparkir. Kurogoh saku celana jeans mencari kunci motor. Tak ada. Membuka Sling bag juga tak ada. Aku membuang nafas. Aku mengernyitkan dahi. Sebenarnya aku itu sedang kesulitan menahan malu. Pipiku pasti sudah semerah tomat.
"Cari ini?" Teriak Andra di pintu rumahnya. Aku menoleh malas. Andra menggantungkan kunci motorku di jari telunjuknya. Wajahnya tidak sedikitpun merasa bersalah. Ia berjalan menghampiriku. "Maaf yang, aku janji gak bakal gitu lagi."
Yang.. yang pala lu peyang.
Sebenarnya aku tidak begitu suka Andra memanggilku dengan sebutan 'yang' atau 'sayang' geli. Tapi tidak ada pilihan lain dari pada ia memanggilku dengan sebutan 'bun'.
Andra menatapku. Seandainya iris coklat tua itu tidak menenangkan perasaanku. Sudah ku jawil telinganya.
Ia meraih tanganku. "Aku janji ga bakal kaya gitu lagi sebelum kita halal." Ia membalikkan badan membawaku kembali ke rumahnya.
Aku tertunduk. Kembali pada ingatan yang belum sepenuhnya menguap. Tentu saja. Tak akan semudah itu. Baru kemarin ada yang mengucap kata yang sama. Perihal halalnya dua insan manusia yang jatuh cinta. Siapa lagi.. Khafa. Padahal pada terbangnya pesawat dari Jogja ke Jakarta aku sudah berusaha melangitkan semua tentangnya. Nyatanya, kenangan lebih berat daripada beban pesawat terbang beserta isinya.
Ada segelintir resah yang mengalir. Bagaimana tidak aku masih bisa mengingat ingat Khafa bahkan disaat aku bersama Andra. Hatiku bagaikan menaiki wahana tornado. Sebentar-sebentar mengingat Khafa sebentar-sebentar hatiku di buat berdetak karena Andra. Seandainya ada bahu untuk bersandar rasanya aku hanya butuh itu. Karena kedua laki laki yang sedang berurusan denganku sama-sama belum bisa menggantikan bahu ayah tempat ketika dulu aku bersandar. Iya ayah, ia adalah laki-laki pertama yang membuat aku nyaman. Betapa rindunya aku pada sosok itu.
"Yang.."
Bodoamat!
"Kamu masih marah?" Andra menatapku.
Aku masih tak menjawab.
"Ahh aku kira kamu udah jadi Embun yang dewasa."
"Maksud kamu!?" Aku membelalakkan mata.
"Ternyata kamu masih anak kecil." Katanya pelan sambil mendekatkan lagi wajah ya padaku.
"Ihhh. Enak aja." Ku cubit kecil lengannya.
"Adududuuhhh!" Andra meringis. "Ampun... ampun." Lalu ku lepaskan cubitannya.
"Sakit tau!" Ia mencucu. Lucu. "Kamu udah sarapan belum?"
"Baru minum susu aja."
"Tuh kan masih kecil." Ia terkekeh. "Bi Eeng!" Teriak Andra. Bi Eeng datang dari arah dapur. "Bibi nuju naon? Bisa tolong beliin bubur nasi yang di depan komplek ga?"
"Iya a." Jawab bi Eeng.
"Beliin 2 bungkus ya. Kalo bibi mau sok aja beli." Kata Andra sambil memberikan selembar uang berwarna biru. Bi Eeng bergegas membeli bubur.
"Kamu tunggu disini ya.. aku ganti baju dulu."
"Hmmm." Jawabku malas.
Beberapa menit kemudian bi Eeng kembali membawa 2 cup bubur. Menyajikannya di meja makan. Melihatnya kerepotan, aku segera menghampiri bi Eeng sambil mengisi waktu menunggu Andra berganti pakaian.
"Bi, sini aku bantu." Kataku seraya mengambil bungkus bubur di hadapannya.
"Biar aja neng sama bibi. Neng duduk aja." Katanya sambil membawa 2 gelas air putih di tangannya.
"Gak apa-apa bi, aku iseng." Aku berjalan mengikuti bi Eeng. Membuka bungkusan yang ia bawa.
Tak lama Andra muncul dengan blue jeans dan t'shirt hitamnya. Kemudian duduk di hadapanku. Sedangkan bi Eeng melanjutkan pekerjaannya dibelakang.
Aku terpaku melihat cara Andra memakan bubur. Mengaduk-ngaduknya terlebih dahulu kemudian memakannya. Cara yang sama yang selalu di lakukan ayah. Seketika hatiku meremang melihat pemandangan itu. Ia telah membuatku rindu pada sosok yang hadirnya sudah benar-benar sudah tidak ada.
Semenjak kepergiannya hidupku berubah drastis. Bahu membahu bersama ibu mencukupi kebutuhan keluarga. Memang, semenjak ayah di PHK tubuhnya tidak sekuat dulu. Mungkin ia merasakan syok luar biasa karena perubahan dalam hidupnya. Begitupun aku. Masa remajaku tidak ku isi seperti remaja-remaja lainnya. Apapun ku lakukan demi aku dan adikku tidak putus sekolah. Sampai akhirnya ayah benar-benar tiada. Dan tak lagi bisa menyaksikan bagaimana aku melewati hari hingga sampai saat ini.
Andra masih serius melanjutkan ritual makannya. Memasukan sate, kerupuk dan tambahan kecap manis. Sedangkan akuuu...
Ku pejamkan mata sejenak untuk menghilangkan segala ingatanku tentang ayah. Namun sayangnya bayangan tentangnya kembali hadir membuat sudut mataku basah.
Beberapa hari sebelum kepergiannya tiba-tiba sesak nafasnya kembali terasa. Nafasnya tersengal seperti telah melakukan hal yang berat. Tubuhnya lebih kurus dari biasanya. Wajahnya sayu dan terlihat kelelahan. Sudah tak banyak yang ia bisa katakan. Hanya dzikir yang sesekali terdengar dari bibirnya. Aku yang saat itu masih sekolah tak bisa berbuat banyak. Keadaan ekonomi yang sulit membuat keluarga tak bisa membawa ayah ke rumah sakit. Menyaksikannya air mataku jatuh menganak sungai membasahi pipi. Namun segera ku tepis agar tak terlihat ayah dan membuat nafasnya semakin berat.
Kemudian keesokan harinya. Ayah selalu beristirahat dengan tenang dalam tidurnya. Berkali-kali ibu memeriksa nafas dan denyut jantungnya. Sampai akhirnya tubuhnya tak lagi sehangat biasa. Terdengar berulang-ulang ibu memanggil ayahku yang tetap saja tenang dalam tidurnya. Namun tetap, ia tak terbangun dalam tidur panjangnya. Ibu menangis sejadinya. Diikuti oleh isakkanku dan adikku di sampingnya.
Sejak hari itu, aku selalu menyimpan perasaan ku sendiri. Tak ingin berbagi hal menyedihkan dengan siapapun. Karena aku khawatir kesedihan yang ku bagikan akan membuat orang merasakan kesedihan yang juga aku rasakan. Terutama ibu. Di hadapannya aku bertekad aku akan menjadi anak yang kuat. Aku tahu ibuku tak kalah menyedihkannya denganku. Aku sering melihat ia tersedu dalam doa-doa malamnya.
"Hei..." Suara Andra membuyarkan lamunanku. Ku tepis air mata di ujung mataku. "kamu kenapa?" Tanyanya seraya meletakan gelas kosong yang ia pegang. Ia menatapku lembut.
"Hah?" Mataku melihat ke segala arah. Kemudian aku tersenyum mencoba menyembunyikan sedihku. "Gak. Gak apa-apa koq." Lalu aku memasukan satu sendok bubur ke mulutku.
"Gak apa-apa itu berarti apa-apa."
"Beneran gak apa-apa." aku terdiam sejenak. "Cuma lucu aja liat kamu makan bubur. Di aduk-aduk gitu."
"Ekspresi kamu ga kliatan lagi liat sesuatu yg lucu."
Aku menghela nafas. "Mirip almarhum ayahku." Kataku lirih.
"Tuh kan."
"Don't worry. Aku gak apa-apa koq." Aku segera menghabiskan bubur di hadapanku dengan cepat. Berharap ini bisa merubah moodku menjadi lebih baik.
Di hadapanku Andra terus menyelidiki ekspresiku. Menyodorkan segelas air putih untuk segera ku minum.
"Uhuukkk uhuukkk!!" Aku tersedak air yang telah ku minum.
"Kalo mau nangis, nangis aja! Jangan sok kuat."
"Aku mau sok kuat. Biar kuat beneran!"
"Aku percaya. Dan kamu berhasil. Kalau aku jadi kamu. Belum tentu."
Aku menggeleng sambil tersenyum. Setelah beberapa saat di rumah Andra aku pun pulang di antar Andra menggunakan motor matic milikku. Ia bersikukuh mau mengantarku. Padahal aku sudah berusaha menolak.
Rasanya aneh berada di atas motor di bonceng Andra. Aku bisa melihat dengan jelas leher putih Andra dengan rambut-rambut halus menyertainya. Syukurlah hari ini kota Bogor terbebas dari kemacetan. Aku bisa melewatinya tanpa harus lelah menghadapi macet jalanan bersamanya.
Tiba-tiba aku merasakan tetes hujan jatuh ke pipiku. Semakin lama semakin banyak. Udara menjadi lebih dingin. Andra menarik tangan kiri ku ke perutnya. Entah lah, lagi, aku tidak ada upaya untuk menolak. Rasanya, jika tubuh ini terbawa arus apapun seperti nya akan terbawa. Ya, mulai serapuh ini hatiku. Andra mengelus elus punggung tanganku. Aku hanya bisa menenggelamkan kepalaku di punggung kokoh Andra. Mencoba melindungi wajahku dari terpaan hujan. Lebih dari itu aku mencari kenyamanan.
πΈπΈπΈ
catatan author :
Ini tuh pelarian aja, apa emang bener jatuh cinta?
Jangan lupa like, vote, rate and komen ya temen2. πππ